Bab 23. Pesta Kemenangan

3340 Kata
Katakan satu alasan kenapa aku harus tidur dengan tenang setelah ini? Beri aku satu alasan kenapa aku harus melupakan apa yang telah terjadi? Dan beri aku satu alasan penyemangat kenapa aku harus tetap berusaha positif setelah menyaksikan semua yang terjadi. Kenyataannya, tidak bisa. Aku tidak bisa tidur, aku tidak tenang, dan pikiranku penuh dengan pikiran negatif yang sama sekali tidak menguntungkan diriku. Aku terus termenung tanpa arti hingga subuh mendatang. Bahkan pada saat itu terjadi, aku sama sekali tidak merasa kantuk. Rasa lelah itu seketika menguap begitu saja, membuatku merasa enteng berdiam diri menunggu subuh. Aneh tapi nyata, aku lah yang membuktikannya. Ketika hidup sudah dipenuhi dengan masalah dan tidak punya cara untuk keluar dari itu, percayalah semuanya menjadi tidak berarti. Apapun yang dilakukan, apapun yang terasa, semuanya nihil. Hampa. Aku tersadar kala sayup-sayup mendengar suara adzan. Memaksa diri bergerak memulai pagi hari ini seperti biasa. Aku keluar dari kamar menuju ke kamar mandi tamu. Kali ini aku tidak menunggu setelah sarapan dulu baru mandi, akan tetapi aku langsung mandi subuh-subuh. Agar lebih tenang dan lebih segar ketika menunaikan solat dan lanjut membersihkan rumah. Meski terasa hampa, ketika diri sudah duduk di atas sajadah dengan kedua tangan yang sudah menengadah meminta kepada Ya Rabb, rasanya benar-benar terisi sempurna. Aku kembali merasakan hidup, setelah beberapa saat yang lalu seakan mati akibat semua rasa sakit yang dilimpahkan oleh keluargaku sendiri, bahkan kini Adam juga turut andil. Tangan menengadah, mulut berucap, hati meminta doa perlindungan, dan air di mata. Ini sempurna untuk seorang hamba tidak berdaya sepertiku ini. "Hamba lelah, Ya Allah. Tidak cukupkah semua ujian yang Engkau berikan pada Hamba?" Ini selalu aku tanyakan padaNya. Kapan kiranya semua ini berakhir. Aku rindu ketenangan. Aku suka kedamaian. Tapi dalam hidupku penuh berantakkan dan jauh dari doaku yang sesungguhnya. Kadang aku menyerah, kadang aku kuat. "Jangan terlalu lama membiarkan hambaMu ini berharap. Jangan biarkan hambaMu ini menyerah dan tidak mau mengingatmu lagi—karena sudah lelah." "Hamba mohon. Tolong dengar doa hamba. Tolong pertemuan Hamba dengan hidup yang tenang. Hamba rindu, Ya Rabb." Sedikit puas meminta pada Tuhan dan menangis memohon padaNya, aku memutuskan menyudahinya. Aku juga tidak mau membuang banyak waktu sedangkan banyak pekerjaanku yang menunggu di luar, terutama masak. Dengan hadirnya Adam di rumah, sudah pasti Mama menginginkan memasak makanan yang tidak biasa. Yang setidaknya menggambarkan bagaimana terhormatnya keluarga ini. Saat aku beranjak ke dapur, aku sudah melihat Mama dan Erina yang menunggu di depan. Cukup kaget melihat dua orang itu sudah terbangun, biasanya lebih siang dari yang biasanya. Pasti ada sesuatu yang tidak beres. "Ada apa, Ma? Tumben pagi-pagi sudah di dapur. Mama mau coba masak, ya?" Dengan sabar aku mencoba bertanya, melupakan apa yang sudah dia lakukan padaku, apalagi tentang semalam. Dia menampar, menambah luka dan perih baru di pipiku. Tapi kenyataannya, aku tidak boleh terlalu sering berpikir positif. Tidak semua orang bisa mengerti dan mau menanggapi dengan benar. Setiap orang punya ego, entah itu ia gunakan untuk hal positif atau malah sebaliknya. Dan dua orang ini memilih sebaliknya. Erina dan Mama menatapku sewot, melipat tangan di depan d**a dengan angkuh. Aku melihat dengan jelas bagaimana Erina membuang muka masamnya, padahal aku tidak bertanya padanya. Aku bertanya pada Mama, itu pun untuk kepentingan alasan kenapa dia dan Mama ada di depan dapur. Kemungkinan besar ia masih salah paham dengan kejadian semalam. Posisi dan statusnya sebagai calon jodohnya Adam membuatnya jadi sombong seperti ini, menganggap dirinya amat sangat benar dalam segala hal. "Kamu tahu kan ada Adam di rumah ini?" Aku tentu mengangguk. Maksudku, aku tidak mungkin salah lihat atau salah dengar. Adam jelas-jelas sudah lama di rumah ini semalaman, bahkan sempat meminta maaf juga padaku, masa aku akan menolak menyatakan keberadaan Adam di rumah ini? Kan tidak nyambung. "Memangnya kenapa, ma?" Tanyaku. "Sekarang kamu masuk ke dapur, segera masak. Nanti kalau Papa dan Adam keluar dari kamarnya, kamu harus berpura-pura mengatakan kalau Erina lah yang masak untuk kita semua pagi ini. Kamu ngerti?!" Apa?! Mama memintaku memanipulasi kejadian yang sebenarnya? Mama memintaku berbohong, tidak hanya pada Adam saja tapi juga papa. Mungkin Adam akan percaya saja dengan rencana kebohongan ini, tapi papa? Papa sudah lama mengenal rasa masakanku. Bagaimana kalau Papa memprotes setelahnya dan membongkar semuanya. Ah, tidak. Papa tidak akan mungkin mengatakan yang sebenarnya. Palingan dia akan diam dan membiarkan semua ini terjadi. Erina tetaplah Erina, si anak kesayangan. "Kamu ngerti enggak sama yang Mama katakan?!" Mama memaksa dan aku tidak bisa menolak rencana buruknya. "Iya, ma. Abi paham," kataku. "Ya sudah sana cepat masak!" Mama menarikku dan mendorongku. Aku hampir saja tersungkur. Sayup-sayup terdengar suara tawa Erina. Dia pasti sangat senang dan merasa menang melihatku ada di bawah tekanan. Itu adalah kesukaannya. "Jangan lamban!" Mama dan Erina ikut masuk ke dapur. Jangan harap mereka membantu, justru malah sebaliknya. Mereka duduk cantik, memperhatikanku sembari makan buah dengan santainya. Aku sih tidak heran kenapa Erina bisa sejahat itu di usianya yang masih muda. Lihatlah kelakuan Mama, maka begitu juga sifat yang dimiliki Erina. Bak buah jatuh yang tidak jauh dari pohonnya. Memasak sambil dipantau seperti ini nyatanya lebih membuatku gugup. Erina dan Mama memang sedang bersantai, tapi setiap kali aku tidak bergerak sekadar mengistirahatkan tanganku yang masih perih, mereka akan menggebrak meja dan melayangkan tatapan tajam padaku. Aku jadi takut salah bergerak, salah memasukkan bahan-bahan masak, terlebih salah rasa masakan. Ini lebih memacu adrenalin ketimbang berlari sekian kilometer untuk sebuah kejuaraan. Nasi sudah dimasukkan ke rice cooker, lauk juga sudah aku buat—tinggal mematangkannya saja. Sembari menunggu, aku berniat mau sambilan mengerjakan yang lain. Sebenarnya biasanya aku tidak perlu izin dulu, tapi pagi ini cukup berbeda. Kalau aku tidak memberitahu Mama, nanti kiranya aku tidak bertanggungjawab atas janjiku padanya. "Ma, itu Abi sudah buatkan lauknya, tinggal ditunggu matang saja. Tapi Abi mau sambilan sapu dan pel rumah, apa boleh Abi tinggal bentar?" Tanyaku. Kulihat Erina dan Mama saling pandang satu sama lain. Entah apa maksud dari tatapan itu, mereka tidak bersuara. Akan tetapi pada akhirnya mereka mengizinkanku juga. Cukup senang mendengarnya walau ini terbilang sangat sederhana. Setidaknya aku tidak mendengar ucapan ketus atau bahkan bentakan kerasnya ketika berbicara denganku. Segera aku keluar dari area dapur dan mulai membersihkan rumah. Lelahnya membersihkan rumah ketika pagi tidak terlalu lelah ketimbang sore. Tetap saja harus memperhatikan kebersihan dengan baik, harus sampai bersih sebersih bersihnya. Aku teringat dengan baju-baju yang belum aku masukkan ke masing-masing kamar mereka. Untungnya aku sudah selesai menyapu dan mengepel. Tinggal memasukkan baju ini saja, kemudian sarapan, sekiranya pekerjaan pagiku terselesaikan dengan baik. Aku bisa berangkat ke sekolah lebih awal hari ini. Aku tidak bisa membawa semuanya sekaligus. Aku membagi baju-baju ini menjadi dua bagian. Satu bagian untuk Erina, dan satunya lagi untuk Mama dan Papa. Eits, jangan salah. Baju Erina lebih banyak daripada gabungan baju Mama dan Papa. Erina itu suka sekali gonta ganti baju tanpa sebab. Keringat sedikit, ganti. Apek sedikit, ganti. Bahkan melihat sedikit noda di bajunya, dia langsung ganti. Ya dia enak, tidak lelah mencuci dan menggosok bajunya. Tapi aku yang lelah. Ya sudahlah, namanya juga hidup. Kadang lelah, kadang sangat lelah. Memasukkan baju-baju Erina yang sudah rapi ini dengan sangat hati-hati ke dalam lemarinya. Ingat sekali dengan perintah Erina yang selalu menyuruhku mengurutkan bajunya berdasarkan warna pakaiannya. Bahkan dia juga membuat daftar warna di balik pintu lemarinya sendiri. Tidak mau macam-macam, ikuti perintah, maka aman bisa dipegang di tangan. Seusai memasukkan semua baju Erina, aku keluar lagi untuk mengambil baju Mama dan Papa yang belum. Bertepatan ketika aku keluar, Papa keluar bersamaan dengan Adam. Seketika aku langsung menunduk, tidak melakukan apapun sampai akhirnya mereka melewatiku. Benar-benar tanpa suara, tanpa ada percakapan 'hai' atau setidaknya 'selamat pagi, apa tidurmu nyenyak?'. Tidak ada sama sekali. Ya sudahlah, toh aku juga tidak memaksa. Ini juga lebih baik daripada mereka menyapaku. Erina dan Mama lebih garang daripada yang terpikirkan. Dan lagi- lagi aku tidak mau pikir panjang, segera mengambil baju Mama dan Papa, kemudian berlari naik ke kamarnya. Kalau Papa, dia lebih suka menata bajunya sesuai dengan jenisnya. Apakah untuk acara formal atau tidak. Ada beberapa yang harus aku gantung kembali dengan jemuran, dan aku menyetrikanya ulang dengan setrika uap. Semuanya aku pastikan rapi. Sedangkan Mama, dikarenakan kebanyakan bajunya itu gaun-gaun untuk kumpul-kumpul dengan teman-temannya, itu tidak boleh dibiarkan kusut. Sama seperti Papa, tapi semua baju Mama harus aku setrika uap dan digantung rapi sesuai dengan urutan warnanya seperti Erina. Memang ini meribetkan, harus bekerja dua kali. Menggosok baju, kemudian kembali menyetrikanya dengan uap. Aku pernah hanya menyetrikanya dengan uap saja, tidak dengan setrika gosok, tapi hasilnya tidak terlalu maksimal. Bahkan aku pernah dimarahi Mama karena tidak menyetrika uap bajunya. Serba-serbi kesulitan dalam bekerja di rumah ini. Ada banyak peraturan, ada banyak kesulitan, dan aku harus cepat tanggap dengan semua itu. Aku tidak boleh berleha-leha terlalu lama atau nantinya marah akan aku dapatkan. Tidak ada yang mau dimarahi, tidak ada yang mau dibentak, tidak ada yang mau mentalnya rusak hanya karena hal sepele. Memastikan semuanya aman dan terkendali dengan baik di lemari baju Mama dan Papa, beralih ke tempat tidurnya yang belum dirapikan. Sebelum aku turun, aku harus merapikan ini dulu. Ya, aku sangat sadar. Ini semua adalah pekerjaannya seorang pembantu, dan aku menjadi itu. Terima kasih sudah mengingatkan. Aku terima. Saat aku turun ke bawah, ternyata mereka semua sudah ada di meja makan, duduk di kursi masing-masing seperti kemarin. Dan sepertinya aku tidak akan bergabung. Akan sangat aneh rasanya kalau aku duduk tanpa ada masalah sedikitpun, sedangkan kemarin hampir gaduh hanya karena aku. Karena itu lah aku sengaja tidak melihat mereka—terutama Adam yang terus melihatku sejak keluar dari kamar Mama dan Papa. Aku mengabaikan mereka, lanjut ke kamarku. Ya, tujuanku tidak lain dan tidak bukan adalah segera memakai baju sekolah dan keluar dari rumah ini sepagi mungkin seperti yang aku lakukan kemarin. Kali ini aku pastikan aku akan sampai di sekolah dengan tepat waktu. "Toh aku sudah terbiasa tidak makan. Tahan sampai sore pun kayaknya tidak masalah. Ini juga bukan kali pertamanya kok," gumamku. Pakai baju sekolah, ikat rambut, pakai tas dan sepatu, semuanya siap! Aku keluar dari pintu belakang dan—untung jantungku tidak copot. Adam tepat ada di depan pintu belakang, melipat tangannya di depan d**a dengan tatapan mengintimidasi. Ia bahkan masih memakai baju tidur milik Papa yang sudah kekecilan, tapi dia terlihat pantas memakainya. Badannya terlihat bagus kala memakainya, mungkin karena ia rajin berolahraga. Tapi bukan itu fokusnya. Pertanyaannya sekarang adalah kenapa dia bisa ada di sini? Tahu aku mau pergi sepagi mungkin. "Ngapain lo di sini?" Tanyaku gugup, masih berusaha menenangkan diri. "Seharusnya gue yang nanya, ngapain lo pergi sepagi ini? Lo belum sarapan." "Bukan urusan lo!" Dia menghalangi jalanku. Tiap kali aku melangkah ke kanan, dia pun demikian. Ke kiri, dia juga menghalangiku. Tidak mau membiarkanku lewat begitu saja. Akhirnya aku muak, tidak mau mencoba melewatinya lagi. "Bisa enggak sih lo masuk sekarang juga dan gabung dengan mereka. Lo itu harus sarapan atau nanti mereka curiga. Pada ujungnya apa? Gue juga yang disalahkan seperti kemarin." "Gue enggak lapar," akunya. "Gue enggak peduli!" Aku menaikkan nada bicaraku. "Sama sekali tidak peduli, lo tahu?!" Dia terdiam. Aku pikir ini kesempatan bagiku. Aku melangkah hendak pergi, dia menarikku, memegang kedua bahuku. Aku tidak mengerti kenapa Adam seperti ini. Dia tidak takut kalau setelah ini akan terjadi kesalahpahaman lagi. "Bisa lepasin enggak?!" Adam dengan santainya menolak. Menggelengkan kepalanya. "Kenapa lo enggak masuk sekolah kemarin? Gue cari lo." "Gue masuk kok, tanya aja jodoh lo." Membalasnya dengan sarkas, nadanya agak kasar. "Lagian, gue mau masuk atau enggak, bukan urusan lo. Bukan urusan lo untuk peduli atau enggak." "Gue peduli." Sengaja aku tidak mau melihatnya, membuang muka ke arah lain. Ini kondisi yang cukup sulit bagiku. Di satu sisi, ada tekanan dari dalam, takut mereka curiga Adam tidak kunjung masuk dan bersama mereka. Satu sisi lagi, aku harus meladeni Adam. "Gue peduli tentang lo, Abila. Gue khawatir ketika lo enggak masuk sekolah, gue takut lo kenapa-kenapa di jalan. Gue takut lo enggak sarapan, takutnya lo pingsan. Gue takut lo di rumah ini, mereka semua jahat sama lo. Gue takut—" "Anggap gue enggak ada." Aku menyela, jika tidak dia akan mulai membahas banyak hal. "Anggap gue enggak hadir di hidup lo. Lupakan tentang kita yang ngelakuin perjalanan jauh sampai menginap di villa orang tua lo. Lupakan tentang lo yang tahu segalanya tentang gue. Lupakan tentang gue yang masih belum tahu banyak hal dan bersemangat untuk mencoba hal lainnya lagi. Lupakan. Mulai sekarang lo harus mulai untuk tidak mengenal gue. Gue rasa itu tidak sulit. Sebelumnya kita juga tidak saling kenal, kan?" "Itu sulit bagi gue. Kalau memang itu mudah, sudah dari dulu gue lakuin. Gue enggak akan pura-pura bolos sama lo padahal waktunya masih banyak. Gue enggak bakal mau jauh-jauh pakai motor ke puncak kalau bukan karena gue mau lihat lo tersenyum. Gue enggak bakal bersedia jadi ojek lo, tiap pagi ke sini hanya untuk memastikan lo masuk sekolah atau tidak. Gue melakukan itu semua karena lo. Jadi, please, stop suruh gue seakan tidak peduli sama lo. Jauh sebelum lo suruh gue, gue udah berkali-kali menyalahkan diri gue sendiri." Bicaranya yang amat panjang lebar, aku tetap mendengarkan. Aku bisa merasakan kepedulian Adam. Terbukti ketika ia berbisik di balik pintu dan memintaku untuk jangan membencinya. Aku ingin membangun hubungan baik dengan cowok ini, tapi kini keadaan berubah. Dia sudah dijodohkan dengan saudariku sendiri, dan di masa depan dia adalah iparku. Cepat atau lambat perasaan ini harus hilang. "Gue suka sama lo," ujar Adam lagi. Dan pengakuannya ini lagi-lagi membuatku tertawa. "Tapi lo jodoh Erina," kataku. "Gue minta maaf." Lagi-lagi aku terkejut dengan apa yang dia lakukan. Kenapa dia harus meminta maaf kepadaku? Itu bukan salahnya. Itu adalah pilihannya. "Lo enggak perlu minta maaf. Lo enggak salah, lo benar. Lo dan Erina itu cocok, pantas. Kalian berdua punya derajat yang sama. Malah gue senang, kalian akan bahagia di kemudian hari. Perjodohan ini tidak akan membuat kalian susah." Dan sudah banyak waktu yang terbuang, aku tidak mau memperpanjang waktu lagi. Sekuat tenaga aku melepaskan tangan Adam dari bahuku, tetap saja tenaganya lebih kuat dariku. Seakan sia-sia saja kalau aku memberontak, kecuali dia yang mau melepaskan ku. "Ingat satu hal ini, Abi. Gue ngelakuin ini karena terpaksa, bukan karena gue suka dengan Erina. Kalau lo lupa, sampai detik ini gue masih nunggu jawaban dari lo. Gue akan nunggu sampai kapanpun lo mau menjawabnya." Astaga, tidak percaya lagi dengan cowok ini. Tidak habis pikir kenapa dia masih mengingat itu di saat ia sudah dijodohkan. Maksudku, dia menungguku menjawab dirinya tentang dia yang suka denganku. Ini menjadi sulit. Aku memang menyukainya, baru aku sadari akhir-akhir ini. Tapi menjadi tidak mungkin ketika dia yang sudah menjadi jodoh saudariku. Memangnya aku pemakan bangkai saudara sendiri? Tidak. "Kalau gitu, sekarang juga gue jawab kalau gue enggak suka sama lo dan enggak pernah terpikirkan mau pacaran sama lo. Sampai sini jelas, kan?" Adam tidak menjawab, dia diam namun tangannya yang memegang bahuku sedikit melemah. Ini berhasil, aku tahu dengan apa aku bisa melemahkannya. "Lo serius, kan?" Ia bertanya. Aku menjawab, "sangat serius. Gue bukan orang yang pintar bercanda." "Tidak mungkin." Adam menolak sadar, menolak kenyataan. Ya memang aku berbohong, tapi bagaimana mungkin aku bicara jujur di saat seperti ini. "Lo pasti bohong kan? Karena gue udah dijodohkan dengan Erina. Lo merasa harus menyimpan perasaan lo untuk kebahagiaan saudari lo." Dia benar, dan aku tidak mungkin mengaku. "Lo tidak perlu melakukan itu. Kalau lo emang suka gue, detik ini juga gue bakal ngomong sama Papa gue. Toh Papa Erina papanya lo juga. Enggak bakal sulit memutuskan perjodohan dengan Erina." Dia mengeluarkan ponselnya, terburu-buru. Aku tahu dia merasakan hal yang sama denganku. Perasaan resah, gelisah, sakit hati hingga tidak mau mengakui kenyataan yang ada. Jika Adam mau berurusan dengan duniaku, maka bukan seperti ini jalannya. Hidupku terlalu keras. "Gue telpon Papa gue sekarang juga." "Silakan saja. Lakukan semua yang lo suka. Palingan setelah ini gue bakal ditampar lagi, sampai habis." Aku pergi setelahnya, mengabaikan apapun yang dia lakukan. *** Lagi-lagi aku tidak ke sekolah. Aku ke rumah ibu Sekar. Aku menceritakan semua yang terjadi padanya, tanpa terkecuali. Dia mendengarkanku dengan baik, membuatku merasa aman bercerita dengannya. Tidak mungkin bercerita sepanjang hari, aku juga membantunya memasak, mengajar anak-anak, dan bermain dengan mereka. Berada di tengah-tengah keluarga ini membuatku melupakan apa yang sudah terjadi di rumah. Seperti kata ibu Sekar, "seseorang yang datang ke kehidupan kita, pasti akan pergi suatu hari ini. Cepat atau lambat. Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah pergi, tetap tinggal dalam hati. Sebuah rasa. Entah akan membuat benci atau sebaliknya. Itu tidak akan pernah pergi. Akan datang setiap kali kedua mata bertemu." Aku merasa apa yang dia katakan benar. Pada Adam, dia pernah datang dalam hidupku dan sekadar singgah membuatku pernah memeluk rasa bahagia meski hanya sebentar. Kenyataannya dia tidak tercipta untukku, malah untuk saudariku. Dia pergi, tapi rasa itu masih ada. Tiap kali mencoba menatap matanya, ada benci dan cinta. Sejauh manapun aku pergi, sekuat apapun aku mencoba lupa, dia tetap ada. Dalam rasa. Semua petuah, semua nasehat, semua kata-kata yang ibu Sekar katakan padaku, membuatku sadar. Aku menjadi lebih dekat dengan diriku sendiri kala mendengarkannya. Semuanya terasa masuk akal dan masuk ke dalam perasaanku. Seperti petuah terakhir yang dia katakan, "jangan memaksakan diri ada dalam satu keadaan yang merugi. Sebab bukan mereka yang salah, tapi kamu yang salah. Bukan mereka yang sakit, tapi kamu yang terluka. Mereka hidup, sedangkan kamu mati." Dan aku merasakan itu semua. Aku tidak pernah mengatakan kalau aku menyesal bertemu dengan ibu Sekar. Aku amat beruntung. Kalaupun ibu Sekar menjadi salah satu yang akan pergi, akan kucoba melawan takdir Tuhan dan mengejarnya sampai dapat. Karena tanpa dia, aku tidak mengenali diriku sendiri. Tanpa dia, aku tidak bisa merasakan kepedulian yang amat sangat terasa hingga aku begitu merindukannya. Dengan ibu Sekar, aku kuat. Sore harinya, aku diantar pulang oleh suaminya. Setelah sampai, ia pun bertolak pulang. Tidak ada hal aneh sampai akhirnya aku masuk ke dalam rumah, pekarangan sudah penuh dengan mobil-mobil dan motor. Terdengar pula suara musik dari dalam rumah. Apakah ada acara mendadak yang dilakukan di dalam rumah? "Mang, kok tumben rame. Ada acara apa ya, Mang?" Tanyaku. "Neng Erina undang banyak temannya ke rumah. Mamang kurang tahu karena apa, mungkin Neng bisa tanya sendiri padanya nanti," jawab Mamang. "Oh, begitu ya. Oke Mang, makasi ya. Abi masuk dulu. Sempat sedikit mengintip dari luar, mereka masih memakai baju sekolah. Sepertinya sepulang sekolah mereka langsung ke sini tanpa persiapan apapun. Aku tebak, pasti Erina merayakan kemenangannya bisa mendapatkan Adam. Ia menjadi pemenang di antara sekian banyak siswi-siswi yang mengejar Adam. Tentu aku tidak masuk dari pintu depan, melainkan pintu belakang yang terhubung langsung dengan kamarku. Bahkan dari dalam kamarku sendiri, aku mendengar musik berdentum dengan keras. Apakah sebelumnya Erina pernah meminta izin pada Mama atau Papa? Takutnya tidak. Kalau tidak, pasti nanti dia mencari akal busuk dan menjadikan aku sebagai kambing hitamnya. Aku lah yang disalahkan, dan aku pula lah yang harus membereskan semua kekacauan yang mereka buat di sana. "Lebih baik aku tidak keluar. Aku keluar sekarang sama aja artinya dengan aku bersedia menjadi pembantu mereka. Pasti Erina akan memperkenalkanku sebagai pembantunya dan aku akan banyak disuruh melakukan ini itu. Lebih baik aku diam di sini." Cukup lama berdiam diri tanpa melakukan apapun, membuatku mengantuk. Aku ingat kalau aku belum tidur hari ini. Badan juga terasa lelah, tidak bisa diajak bekerjasama dengan baik. Mungkin tidur menjadi pilihan yang lebih baik saat ini daripada menunggu mereka berhenti berpesta yang entah kapan berhentinya. Tidak ada ujungnya. Aku memilih tidur. *** Sangat tega. Erina menyiramku dengan air es ketika aku masih terlelap tidur. Itu bahkan lebih tersiksa tujuh kali lipat dibandingkan disiram dengan air biasa. Dia tidak pernah lembut dalam bersikap, selalu keras dan kasar. Dan alasannya cuman satu, menyuruhku keluar karena tidak ada makanan. Kenapa dia tidak memesannya saja alih-alih membangunkan ku? Memang Erina tidak pernah ditebak setiap kali memperbudak ku. Melewati semua tamu undangan Erina yang mana semuanya adalah teman kelas dan beberapa teman beda kelas, semuanya melihatku dengan pandangan menyedihkan. Mungkin aku terlalu menjijikkan bagi mereka. Entahlah, aku tidak peduli. "Teman-teman, kalau kalian butuh apapun, suruh saja dia. Dia yang akan melayani kalian!" Sudah aku duga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN