Bab 22. Jangan Membenci

3462 Kata
Berusaha tenang di segala hal menyerang ternyata tidak mudah. Aku terlalu mengabaikan kemampuan diriku, menganggap diriku mampu padahal aku tidak berdaya. Sekuat tenaga aku berusaha terlihat baik-baik saja di depan semuanya, tetap saja aku ingin menangis. Maksudku, di depan Mama, Papa, Erina, dan terutama sekali Adam. Atas segala kenyataan mengejutkan yang terjadi, aku sebenarnya masih belum mampu mengakui kebenaran itu. Bagaimana bisa semuanya ini terjadi? Amat sangat mengejutkan aku. Sekarang kami sedang makan malam bersama. Di meja yang sama. Mama di samping Papa, Erina di samping Adam, dan aku berhadapan langsung dengan Adam. Begitu canggung, entah kenapa harus berakhir seperti ini. Dan uniknya, untuk pertama kalinya aku bisa bergabung di meja makan ini ketika ada tamu yang datang—sebagai keluarga. Kalian mungkin akan kaget kalau aku mengatakan Mama lah yang mengajakku makan bersama. Tapi yaps, itu lah kebenarannya. Mama tiba-tiba mengetuk pintu kamarku ketika aku sedang menenangkan diri, dan kala aku keluar dia malah memintaku bergabung dengannya. Anehnya pula, ia memberiku baju, menyuruhku mengganti baju lusuhku dengan baju yang diberikannya itu. Aku yakin itu punya Erina, tidak mungkin memberikanku yang baru. Aku sudah sangat berusaha keras untuk tidak terlalu memikirkan Adam. Aku selalu memutuskan kontak mata dengannya. Setiap kali tanpa sengaja dia menatapku, aku langsung melengos ke arah lain. Bahkan ketika aku tanpa sengaja melihatnya pula, aku pura-pura tidak tahu dan menundukkan kepala. Memainkan tangan, melampiaskannya di sana selagi menunggu makan malam ini dimulai. Jujur, sampai hampir tiga puluh menitan kami belum memulainya, padahal kami sudah siap di kursi masing-masing. Tadi sesaat sebelum kita mulai, orang tua Adam menelpon Papa. Mungkin akan membahas mengenai kedua anak mereka yang bersatu dan mereka para tetua akan menjadi calon besan. Walau aku sakit hati, tapi bukan berarti aku mau menghancurkan hubungan Erina dengan Adam. Mereka dipersatukan pasti dengan maksud baik. Seorang ayah/papa tidak akan menjerumuskan anaknya ke jalan yang sesat, kecuali ayahnya memang punya hati yang busuk, tidak sayang anaknya. Dan papa, bukan orang yang demikian. Dia baik, dan karena itu lah dia menjodohkan Erina dengan sosok laki-laki yang setara dengannya. Berulang kali tanpa sengaja aku melihat tangan Erina yang berusaha mengapit tangan Adam, sengaja menaruhnya di atas meja. Seolah-olah sangat sengaja melakukannya untuk membuatku semakin merasa memanas. Aku berusaha tidak melihatnya, namun cara Erina yang sungguh sangat licik dan pintar memanipulasi. Kalau aku tidak mengangkat pandangan dan melihatnya, dia pasti menendang kakiku. Kebetulan aku dan dia berhadapan. Terpaksa aku melihatnya. Kemudian tidak lama Papa datang dengan ekspresi wajah yang terlihat berseri. Entah apa yang sudah diobrolkannya. Yang aku tahu, Papa tipe orang yang jarang tersenyum. Sekalinya tersenyum pasti itu adalah hal yang istimewa. Ah, aku jadi penasaran, tapi enggan bertanya. Sungkan pada Papa sendiri. "Ayo kita mulai makan malamnya, maaf sudah membuat kalian menunggu," kurasakan papa duduk kembali di kursi miliknya, yang biasa ditepatinya. Aku reflek bangun, Mama pun juga demikian. Aku bingung kenapa dia bangun. Sengaja aku diam, mempersilakannya lebih dulu mau melakukan apa. Dan seketika alisku mengerucut kala melihat Mama mencoba mengambilkan nasi dan lauk untuk Papa. Wah, itu perubahan yang sangat besar. Dari yang malasnya minta ampun, menjadi bergerak tanpa protes. Aku jadi penasaran apa yang sudah membuat Mama jadi tobat seperti ini? Apakah karena pertengkaran tadi pagi atau karena ada Adam di sini? Akan tetapi, aku tidak bisa mengabaikan begitu saja. Aku terus memperhatikan bagaimana cara Mama melayani Papa. Tanganku gatal sekali ingin mengambil alih melihat Mama tidak kunjung mengerti permintaan Papa. Papa maunya lauknya banyak, ditaruh di tepi piring dengan kuah yang dibiarkan berbeda tempatnya. Hanya itu saja Mama tidak kunjung mengerti, terus bertanya pada Papa hingga membuat kami menunggu terlalu lama. Ketika melihat Mama yang hendak memasukkan lauk sekalian kuahnya ke mangkok, aku langsung menginterupsi. "Ma, Papa tidak suka kuahnya dicampur sama isinya," aku mengambil mangkok di tangan Mama, mengambil sendok sayur di tangannya juga. "Papa itu suka kuahnya dipisah, soalnya Papa suka meminum kuahnya secara langsung tanpa dicampur dengan nasi," kataku. Setelah selesai, aku menaruhnya di dekat piring Papa. Lanjut, aku mengambil piring Mama, mengambilkannya nasi sesuai dengan porsi yang bisa dia makan. Sedikit saja, tapi lauknya yang dibanyakin. Aku paling tahu apa-apa yang mereka butuhkan karena sepanjang hidupku sudah aku gunakan untuk melayani mereka. Aku bahkan tidak tahu kalau saat ini aku menjadi pusat perhatian mereka. Mengetahui itu ketika aku hendak mengambil piring Adam setelah aku selesai melayani Erina, akan tetapi pria itu menariknya, enggan memberikanku memperlakukannya sama seperti yang lainnya. Awalnya aku merasa aneh kenapa Adam tidak mau memberikan piringnya, tapi ketika aku mulai melirik ke sekitar, aku paham. Langsung aku duduk, menunduk, dan yang aku tahu kalau aku sudah siap menerima kemarahan Mama sebab aku melihatnya dengan jelas menahan amarahnya. "Maafkan Abi, Ma, Pa. Abi salah." Aku mengakui lebih dulu. Aku pernah mengatakan, siapapun yang salah, seberapa besar pun kesalahan yang dia lakukan, tetapi ketika ia sudah berbesar hati meminta maaf lebih dulu, maka dia lah pemenangnya. Bukan berdasarkan aku akan mengakui pada Mama Papa dan semuanya kalau aku menang sebab aku sudah meminta maaf. Tidak. Ini karena aku lah yang memulainya hingga suasana ini menjadi canggung. Aku harus membayar kesalahan yang pernah aku perbuat. Sesaat aku mendengar helaan napas, sedikit melirik ternyata itu Papa. Dia masih melirikku, dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Cobalah bertahan, Papa. Jangan langsung meledak dan memarahiku di depan calon suami anak Papa. Jagalah image Papa agak tetap terlihat baik, sebagai mertua idaman. "Ya sudah, lupakan." Papa memecahkan suasana canggung ini. Dia mendorong tempat nasi itu untukku, "Abi segera ambil nasi dan laukmu, kemudian kasih kesempatan kepada Erina untuk melayani Adam." Sedikit kecewa mendengar ucapan Papa yang demikian, tapi tidak masalah. Aku dengar, aku tahan dan aku lakukan. Segera aku mengambil nasi dan lauk, hanya sedikit. Aku melihat dengan jelas bagaimana mata Mama mau meloncat tiap kali aku mau mengambil beberapa lauk yang agak mahal. Dia masih melarangku mengambil ini itu di dalam keadaan yang demikian, tapi dia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Setelahnya aku mendorong tempat nasi itu ke depan Erina. "Ini, Erina. Cepat ambilkan jodoh lo makan. Sepertinya dia sudah sangat lapar," ujarku. Jangankan kalian, aku saja sakit hati dengan diriku sendiri saat mengatakan 'jodohmu' dengan gamblang pada Erina. Aku seperti merasa ada yang menyentil hatiku, sedikit terasa nyeri. Sempat ingin menangis, aku tahan sekuat yang aku bisa. "Tentu saja. Dia nunggu gue yang ambilin dia nasinya," aku Erina begitu bersemangat. Meski mata masih berkaca-kaca, aku tetap memperhatikan bagaimana cara Erina melayani setiap keinginan Adam. Sebelas dua belas dengan Mama, Erina tidak setangkas itu. Beberapa butir nasi malah loncat ketika ia mencoba mengambilnya, terlihat berantakan di atas meja. Tidak hanya itu saja, ketika ia mengambilkan Adam lauk, beberapa kali minyaknya terciprat ke sembarang arah. Huh, gatal sekali tanganku ingin melakukannya, ambil alih. Aku sudah lebih dulu ditahan untuk tidak berlebihan. Setelah semua piring siap dengan nasi dan lauk masing-masing, sudah siap memakannya pula, Papa memimpin doa makan kami kali ini. Jujur, baru pertama kali aku merasakan ini dengan keluarga ini. Berdoa, menengadahkan tangan, mendengarkan setiap lantunan ayat suci yang diucapkan oleh Papa, lalu sama-sama meng-aamiin-kannya. Itu benar-benar luar biasa. Kala itu aku sedikit menitikkan air mata, segera kuhapus tidak mau banyak yang melihatnya. "Mari makan." Papa sudah memberi sinyal untuk kami memulai. Pasti ada yang namanya pertama, lalu kedua, ketiga hingga terakhir. Di suapan yang pertama ini, aku memutuskan memperhatikan yang lainnya. Karena apa? Ini adalah momen yang langka. Tidak ada jaminan aku bisa mendapatkan ini lagi di kemudian hari. Tapi sepertinya aku harus menyesali keputusan yang aku buat. Aku kembali melihat sesuatu yang membuat hatiku sakit. Erina menyuapi Adam, dan Adam juga tidak menolak. Terlihat mesra. Seharusnya aku tidak marah apalagi sakit hati. Mereka demikian karena ada status yang sangat jelas di antara mereka berdua. Sedangkan aku? Atas dasar apa aku marah? Tidak ada. Aku tidak punya hubungan apapun dengan Adam yang bisa membelaku kenapa aku bisa begitu kecewa. Aku akui, ternyata aku menyukai Adam. Tapi mana mungkin aku berebutan cowok dengan saudariku sendiri. Aku tidak akan melakukan itu. Aku akan lebih baik mengalah meski hati rasanya sakit. Belati di hati, air di mata. Baru suapan pertama, rasanya aku sudah tidak tahan. Aku tidak bisa bertahan di meja makan ini, makan malam bersama dan melihat semua bukti kekecewaan yang aku rasakan ini. Bertahan pun percuma, sama saja dengan melukai diri sendiri. Sampai akhirnya aku pasrah, tidak lagi mau melanjutkan makan, dan menunduk dalam. Aku menangis dalam diam. "Abi, kenapa makannya tidak dimakan, nak?" Papa bertanya demikian. Aku menggeleng, masih menunduk. "Abi sudah kenyang, Pa." "O begitu." Hanya itu respon Papa, lalu setelahnya tidak ada pertanyaan tambahan lagi. Ah, sudahlah, percuma aku berharap. Aku pikir Papa akan berubah dan memperlakukanku dan dengan Erina, ternyata sama saja. Aku tetap disingkirkan, dinomor terakhir kan. Sabar adalah kunci. Terus menunduk, sengaja menggerai dan mengumpulkan rambutku di bagian depan agar tidak ada yang melihat wajahku, agar tidak ada yang tahu kalau aku sedang menangis saat ini. Aku sudah sangat berusaha agar bahuku tidak bergetar. Lakukan semuanya dengan baik, rapi, dan tersembunyi. "Pa, tadi Papanya Adam bilang apa?" Ah, aku juga penasaran dengan itu. Untungnya Mama bertanya lebih dulu. Toh mau bagaimanapun aku juga tidak akan seberani itu bertanya pada Papa. "Papa Adam tadi bilang kalau Adam tidak perlu terburu-buru pulang. Dia bahkan menyarankan agar Adam menginap di sini dan besoknya pergi ke sekolah bareng dengan Erina." Astaga... Masalah baru. Ini bahkan lebih buruk. "Asik!" Aku mendengar Erina berseru kesenangan. Tentu saja, ini adalah kesempatannya bisa menyombong diri di depan banyak siswa-siswi di sekolah kalau dia lah pemenangnya. Dia yang bisa memiliki Adam, bahkan mendapatkan jackpot dengan perjodohan kedua orang tua. "Menurut kamu gimana, Adam? Kamu mau menginap di sini biar besok kita berangkat ke sekolah bareng?" "Gue ngikut aja, pilih yang terbaik," jawab Adam. Aku mendengar Adam menjawabnya dengan cuek, atau entah apa. Lagi-lagi aku mencoba tidak peduli, walau perasaan terdalam ku memberontak dan ingin tahu lebih. "Oke deh, berarti kamu tidur di sini, ya..." Adam berdehem. Dia setuju, dan itu menjadi bumerang bagiku. Akhirnya dia akan tahu bagaimana aku diperlakukan di rumah ini. Akhirnya dia akan tahu bagaimana siksaan berat yang aku terima dari semua orang di rumah ini. Akhirnya dia akan tahu betapa tidak berharganya aku di dunia ini. Dan akhirnya dia akan tahu betapa sampahnya aku, betapa tidak pantasnya aku. "Kalau gitu, Adam tidur di kamarnya Erina ya. Kebetulan kamar tamu belum dibersihkan." Aku segera bangun, masih dengan rambut yang menutupi wajahku. "Karena Abi enggak ada kerjaan, bagaimana kalau Abi yang membersihkan kamar tamu, Ma?" Aku mencoba memberikan penawaran. Aku tahu Mama sengaja membuat Adam satu kamar dengan Erina, tapi itu sangat tidak beretika. "Oke," jawab Mama singkat. Lampu hijau sudah aku terima dari Mama walau ia terdengar tidak terima. Aku meninggalkan meja makan, hampir berlari ke ruangan cuci baju karena di sana lah aku menyimpan semua barang-barang yang aku gunakan untuk membersihkan rumah. Sesampai di sana, aku meluruh. Aku sudah tidak bisa menahan tangisku dan di sini aku mencoba mengeluarkan semuanya. "Tidak adil," kata itu terus aku gumamkan pelan hingga akhirnya tidak bersuara sama sekali saking dalamnya sakit yang terasa. Tidak tergambarkan. Dan entah sudah berapa lama aku menangis, dan aku juga takut semuanya curiga kenapa aku tidak kunjung keluar, aku berusaha tegar. Aku membasuh wajahku dengan air, mengelapnya sejenak dan keluar dari ruangan ini membawa peralatan kebersihan. Saat melewati meja makan, sejenak aku melakukan kontak mata dengan Adam. Hanya sejenak, mungkin barang satu detik, lalu setelahnya aku lah yang lebih dulu memutuskan kontak mata itu, melengos pergi naik ke lantai atas. Tepatnya ke kamar tamu yang ada di samping kamar Erina. Kamar ini sudah lama tidak digunakan. Baru dibuka dan dibersihkan ketika ada tamu yang mau menginap. Dan aku lah yang selalu melakukannya tanpa bantuan siapapun. Semua pekerjaan aku lakukan sendiri. Satu hal yang aku lakukan pertama kali adalah melepas seprai dan mengumpulkannya di tengah. Setelahnya aku mulai membersihkan debu-debu yang ada di kamar ini, kemudian mengepel lantai. Tidak lupa memberikan pengharum ruangan dan tahap terakhir adalah mengganti seprai dan memasangkan selimut di pinggir ranjang. Setelah semuanya dipastikan bersih, aku tidak punya kepentingan lain lagi di ruangan ini. Aku keluar. Aku tidak langsung turun begitu saja. Aku masuk ke kamar Erina, mengambil baju kotor yang dia gunakan tadi untuk dicuci. Pun begitu juga dengan baju Mama dan Papa. Aku menyempatkan masuk ke kamarnya lalu memutuskan turun ke bawah. Dan yang paling membuatku malas adalah melewati meja makan itu lagi. Tapi ada yang berubah sekarang. Biasanya Mama dan Erina enggan bahkan sangat malas memasukkan kembali semua piring kotor dan semua yang ada di meja makan ke dalam dapur. Tapi kini berbeda. Mereka mau melakukannya. Adalah suatu perubahan yang amat besar, dan amat aneh. Aku tidak mau mengurus itu. Biarlah mereka melakukannya, biar lah mereka tahu bagaimana rasanya jadi seorang Abila. Aku punya urusan lain, kesibukan lain. Masuk ke ruangan cuci, langsung memasukkan semua baju kotor mereka ke dalam mesin cuci, memasukkan deterjen dan pewangi kemudian menyalakan mesinnya. Setelah dipastikan memutar dengan baik, aku melakukan pekerjaanku yang lain. Aku tidak punya waktu untuk beristirahat, banyak kerjaan yang menungguku. Salah satunya menggosok baju mereka. Ada sekitar satu tumpukan besar. Ini lebih baik. Melakukan pekerjaan demi pekerjaan bisa membuatku lupa dengan perasaan kecewa dan rendah yang aku rasakan ketika melihat Adam bersama dengan Erina. Aku sedikit lupa. Di tengah-tengah aku sedang menggosok baju, aku mendengar bunyi pecahan. Sepertinya antara Mama atau Erina menjatuhkan piring. Ah, pasti terjadi kekacauan di sana karena tidak ada yang membantu mereka. Mau menyuruhku pun ego mereka begitu tinggi. Mereka sudah pasti malu menyuruhku, apalagi sekarang ada Adam di sini. Aku tidak peduli. Aku tetap melanjutkan pekerjaanku. Saat mesin cuci sudah berhenti berputar, aku mencabut listrik setrika sebab mau membasuh baju yang baru saja selesai berputar di dalam mesin cuci. Sebenarnya aku tidak perlu mengeluarkan satu per satu baju ini dan membersihkannya dari busa di beda tempat. Aku bisa melakukannya langsung di dalam mesin cuci itu sendiri. Tapi aku tidak suka dengan hasilnya, malah terlihat semakin kotor. Aku lebih baik lelah daripada melihat hasil pekerjaan ku tidak maksimal. Karena itu lah aku membawa semua cucian yang habis diputar ke belakang rumah untuk membilasnya. Karena di sana ada keran dan airnya juga tidak merembes ke mana-mana. Begitu melelahkan memang, aku akui. Ya sudahlah, ini adalah takdir yang harus aku terima. Satu per satu baju aku bilas hingga bersih, tidak tertinggal busa sedikitpun. Setelah semuanya selesai dibilas, aku membawanya masuk lagi. Aku tercegat, Adam di menunggu di depan ruangan cuci. Anehnya, aku kembali merasakan sakit hati dan ingin menangis. Mataku sudah berkaca-kaca. "Sini gue bantu," katanya dan tanpa menunggu lama mengambil bak berisi baju-baju itu. "Ini mau dikeringkan, kan?" Tanyanya. Aku hanya mengangguk. Aku tidak bisu atau malas bicara, aku hanya sedang berusaha menahan diriku agar tidak menangis. Tapi tetap tidak bisa. Air mata ini terus mengalir, dan aku benci seperti ini. "Biar gue aja," aku mengambil baju yang dipegang Adam, menggeser cowok ini menjauh dariku. "Lo mending pergi sini sebelum Papa, Mama atau bahkan Erina melihat lo di sini. Lo itu tamu, bukan pembantu. Jadi bersikap lah selayaknya tamu," ujarku. "Tapi lo juga bukan pembantu. Lo tidak seharusnya melakukan ini semua." Ucapannya membuat tanganku berhenti, tapi sejenak. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Memasukkan satu demi satu baju ke dalam mesin pengering. Aku tidak peduli, aku membiarkan air mataku terus mengalir. Aku juga tidak mengindahkan keberadaan Adam di sini. Aku menganggapnya tidak ada. Aku hancur. Setelah mengeringkan baju hingga benar-benar kering, aku membawanya ke tumpukan baju yang belum selesai aku setrika. Adam masih ada di ruangan ini, mulai membuatku khawatir ada yang melihatnya di sini. "Mending lo pergi dari sini sebelum gue kena marah," ujarku ketus padanya. "Lo belum makan," ia malah mengatakan hal lain. "Apa peduli lo? Gue belum makan kek, sudah kenyang kek, bukan urusan lo," balasku. "Gue peduli sama lo. Gue khawatir sama lo." Refleks aku menoleh padanya, dan salahku adalah tidak meletakkan setrika itu dengan baik hingga jatuh dan mengenai tanganku. Sakit? Pasti. Setelah ini pasti akan melepuh. Namun melihat Adam yang dengan cepat mau melihat tanganku, segera kusembunyikan di belakang tubuhku. "Gue mohon, keluar dari sini," pintaku. "Tapi tangan lo kena setrika." Tatapannya terus mencari-cari tanganku. Aku melihatnya benar-benar khawatir, dan itu membuatku semakin ingin menangis. Tapi tidak bisa. Aku tidak bisa memiliki perasaanku ini. Dia sudah tidak bisa aku anggap milikku. Dia milik Erina, saudariku sendiri. "Keluar," kataku lagi. "Tangan lo kena setrika, Abi!" Adam membentak, suaranya amat keras. Aku langsung teringat dan menoleh. Aku melihat Papa, Mama dan Erina sama-sama menoleh ke sini. Mama dan Erina terlihat murka, bahkan ketika mereka beranjak ke sini dengan langkah yang amat sangat cepat. Seperti tidak sabar mau memukulku. "Adam, cepat pergi dari sini," pintaku. "Enggak," tapi Adam ini terus berusaha menarik tanganku, ingin melihat seberapa parah tanganku yang kena setrika Aku hanya tidak mau Adam melihatku diperlakukan tidak layak. Aku tidak mau Adam merubah persepsinya terhadap keluarga ini. Keluarga ini baik, tapi caranya menyayangiku itu dengan cara yang agak berbeda. Unik. "Ada apa ini?" Tanya Mama. "Tidak—" "Tangan Abi kena setrika. Tangannya melepuh." Adam menyelaku dan memberitahu yang terjadi sebenarnya. Adam bahkan sudah berhasil melihat punggung tangan kananku yang memang sudah memerah. Kulihat Erina menatapku tajam, seperti tatapan Mama. Sedangkan Papa? Dia hanya diam sejenak, lalu berbalik pergi. Kacau, itu pertanda Papa sudah menyerahkan semuanya kepada Mama. Dan satu-satunya kemungkinan yang terjadi setelah ini adalah kemarahan. "Erina, bawa Adam ke kamarnya," ujar Mama. Tanpa basa-basi, Erina menarik Adam. "Yuk aku antar ke kamar. Kamu pasti sudah lelah, mau istirahat," nadanya yang super lembut, selembut sutra ketika berbicara dengan Adam. "Setidaknya kalian obati dulu tangan Abila. Dia mendapatkan ini semua karena menyetrika baju kalian. Tapi kalian malah tidak peduli." Adam memberontak dan ini tidak boleh dia lakukan. Memang, Adam demikian karena peduli denganku, tapi perlawanannya kini berpengaruh padaku. Bukan dia yang disalahkan, tapi aku. Ingat, aku. "Lo butuh bantuan?" Tanya Erina padaku. Aku menggelengkan kepalaku. "Gue baik-baik saja, kok. Ini sudah biasa terjadi. Palingan nanti sembuh," jawabku singkat lalu beralih melanjutkan pekerjaanku. Sungguh, aku berbohong. Dan aku menyesalinya. Setiap kali aku menggerakkan tanganku, terasa amat kaku dan panas. Perih. Tapi itu berhasil membuat Adam pergi dari ruangan ini dengan Erina, hanya tertinggal mama saja yang belum pergi. Aku tahu apa yang akan dia lakukan. Aku mematikan listrik yang mengalir, dan berhadapan dengan Mama. Aku memberikannya kesempatan melakukannya di pipi kiriku. "Pipi kiri saja, ma. Pipi kanan masih sedikit terasa kebas, bekas tamparan yang kemarin," kataku. "Kamu berani memerintah Mama?" Ia benar-benar murka. "Maaf—" Belum saja aku selesai membalas ucapannya, dia sudah lebih dulu menamparku. Tidak di pipi kiri, melainkan pipi kanan yang pernah dia tampar seminggu yang lalu. Dia sengaja menambah rasa sakitnya. Amat sangat pintar dan licik. "Kamu tahu kesalahanmu dimana?" Tanya Mama. Aku mengangguk lagi. "Terima kasih, ma. Abi sudah tahu dan sudah sadar," jawabku. "Bagus." Aku pikir setelahnya Mama akan pergi begitu saja. Tapi tidak. Dia mengambil semua baju, baik yang belum digosok dengan yang sudah digosok ke dalam mesin cuci yang mana aku lupa menguras air kotornya. Alhasil, semuanya jadi kotor lagi dan aku harus bekerja kesekian kali lagi malam ini. Entah kapan ini akan berakhir dan entah kapan aku bisa beristirahat. "Cuci dan setrika semuanya. Harus rapi malam ini juga!" Dan akhirnya Mama keluar setelah meninggalkan 'hadiah' untukku. *** Aku lelah, badanku pegal dan aku mengantuk. Tadi aku sempat melihat jam, ternyata sudah jam 1 pagi dan aku belum selesai mengerjakan semua pekerjaanku. Bukan artinya aku lambat atau tidak becus, tapi setiap kali aku memasukkan tangan kananku ke dalam air, rasanya amat sangat luar biasa perih. Tanganku melepuh, di dalam kulitku sudah ada air yang menggenang. Setiap kali aku menggerakkan tanganku, terasa perih dan panas. Itu yang membuatku kewalahan. Berusaha kuat dan bertahan sampai akhir. Manahan perih dan menahan rasa kantuk yang sudah tidak bisa dikendalikan. Kalau bukan diriku sendiri yang melakukannya, tidak akan ada yang bisa menyelamatkanku. Karena itu lah aku tetap melakukannya meski air mata terus mengalir deras. Terus lakukan tanpa memikirkan, itu lah yang aku lakukan hingga akhirnya semuanya bisa aku kerjakan dengan baik. Aku sengaja membiarkan semua baju yang telah digosok itu di sini, nanti saat yang lainnya sarapan baru aku akan memasukkannya ke kamar masing-masing. Kini saatnya aku beristirahat walau hanya beberapa jam saja. Sebenarnya badan sudah sangat lemah, lemas, ingin segera cepat-cepat sampai kamar dan tertidur sejenak. Di pertengahan jalan menuju kamar, aku sudah sampai di tengah-tengah rumah, aku merasakan hal yang aneh. Spontan aku menoleh ke atas dan melihat Adam yang menatapku dari sana. Dia belum tidur sama sepertiku. Aku tidak peduli. Aku tidak mau mengurusnya lagi. Pada akhirnya dia sama saja dengan Erina. Akan selalu membuatku berada di posisi berbahaya. Karena itu lah aku berjalan dengan cepat menuju ke kamarku dan langsung menguncinya. "Tuhan, selamatkan aku. Aku lelah sakit terus," gumamku masih bersandar di balik pintu kamarku. Tiba-tiba terdengar ketukan dan disusul suara orang. Dia berkata, "maafkan gue. Gue salah, tapi jangan benci gue," katanya. Itu Adam. Dan aku sudah terlanjur berniat membencinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN