"Tentu saja, dek." Dalam sekejap, ibu ini langsung duduk di dekatku. Bahkan tanpa diminta pula ia memegang kedua bahuku, seakan menguatkan. Seolah tahu aku sedang dalam keadaan yang lemah dan butuh penguatan dari orang. Entah, dia punya feeling yang amat sangat kuat, punya simpati yang begitu luas. Aku yakin tidak semua orang bisa seperti dirinya.
"Ibu akan mendengarkan. Cerita apapun pada Ibu. Ibu akan jaga rahasiamu, tidak perlu khawatir," ujarnya lagi.
Mengenai rahasia, semenjak aku bertanya apakah dia mau mendengarkan ceritaku, aku sudah mengambil resiko dua kemungkinan—antara ceritaku aman padanya atau dia akan menceritakannya pada orang lain dengan begitu mudahnya. Sebab dalam dunia ini kita tidak bisa percaya dengan orang lain seratus persen, ada kalanya kita curiga dan hati-hati. Tapi ibu ini? Seribu bahkan sepuluh ribu aku persen. Melihat semua bukti itu di anak-anak yang diasuhnya.
Aku menggeser piring yang ada di depanku agak menjauh. Bukan berarti aku tidak menghargai niat baik ibu ini yang mau memberiku makan, tapi untuk sekarang lebih baik fokus bercerita saja. Toh juga enggak ada gunanya aku bercerita sambil makan di saat air mata tidak bisa dihentikan seperti ini. Yang ada nantinya aku memakan lauk air mataku sendiri. Rasa asin yang miris, bukan enak dikonsumsi.
Dan ketika piring sudah dijauhkan, ibu ini juga sudah siap mendengarkan, kutarik napasku lalu menghembuskannya perlahan. Sulit untuk bisa siap bercerita, aku perlu memantapkan hatiku kalau semuanya bakal baik-baik saja. Sampai akhirnya aku siap, cerita mulai mengalir.
"Ibu, sebenarnya saya tidak punya keluarga," dan ini lah yang aku sebut pertama kali. Mengakui tidak punya keluarga dalam artian yang sebenarnya. Mereka ada, tapi tiada. Itu lah masalah terbesarnya. Masalah yang tidak pernah terlepas dari hidupku. Selalu menjadi buah pikiran—di masa lalu, sekarang, juga masa depan.
"Aku memang tinggal di perumahan elit itu, tinggal dengan orang tua yang punya ekonomi mapan dan satu orang saudari. Tapi sejujurnya aku tidak pernah memikirkan masalah kekayaan. Aku hanya mempermasalahkan, kenapa mereka tidak pernah menganggapku sebagai anak mereka? Beri kasih sayang seperti orang tua pada umumnya."
Ibu ini semakin memegangku dengan erat. Bisa aku rasakan pula tangannya tidak henti-hentinya mengusap punggungku. Terkadang juga mengusap rambutku dengan lembut. Seperti nenek penjaga villa mamanya Adam. Sejauh ini aku sudah menemukan dua orang yang bisa memperlakukanku dengan baik meskipun aku hitungannya masih orang asing. Dan aku sangat bersyukur bertemu dengan mereka.
"Setiap hari, dari pagi sampai paginya lagi aku diperlakukan seperti seorang b***k. Aku dimarahi, aku dibentak, aku diperlakukan dengan tidak layak, aku tidak pernah mendapatkan keadilan. Aku seperti ada di neraka, bukan rumah yang sebenarnya. Bahkan sekedar makan pun aku lebih sering makan nasi basi. Mereka tidak mengizinkan aku hidup dengan baik bahkan setelah semua hal yang aku lakukan untuk mereka."
"Aku melakukan semua pekerjaan rumah tanpa henti, tanpa ada yang membantu. Keluargaku hanya bisa menontonku saja tanpa ada niatan mau membantu. Keluargaku memang sangat mampu memperkerjakan pembantu rumah tangga, entah dia atau tiga bahkan sepuluh, tapi mereka tidak mau. Mereka lebih suka melihat aku lah yang melakukan semuanya. Maka dengan begitu uang mereka juga tidak keluar."
Aku sampai sesegukan. Akhirnya aku bisa bercerita pada seseorang setelah lama memendamnya. Rasa sakit dan sesak ini akhirnya terbebaskan meskipun setelahnya aku yakin akan lebih sulit daripada yang aku ceritakan ini. Setelah ini, masih ada perjalanan yang amat panjang dan ini belum selesai.
"Masa mudaku hancur."
Kalimat termenyakitkan yang pernah aku katakan. Aku bahkan sedikit menaikkan nada bicaraku, saking terbawa emosi. Aku sempat menyadari ada yang hendak masuk ke dalam dapur, namun ibu ini memintanya pergi dan membiarkan kami berdua aja. Ya, aku lebih nyaman berdua dengan malaikat tanpa sayap ini.
"Aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tuaku, bahkan tidak pernah rukun dengan saudariku. Orang tuaku lebih percaya pada saudariku, lebih memanjakan dirinya, lebih sayang dia daripada aku. Dia tidak pernah diberi pekerjaan berat seperti aku. Di selalu mendapatkan banyak fasilitas mewah, bahkan tanpa dia memintanya. Sedangkan aku? Segalanya tidak pernah aku dapatkan dengan layak. Bahkan HP pun tidak aku punya. Aku belajar juga tidak bisa. Sejak kecil aku sudah dipaksa bekerja untuk mereka. Di rumah itu aku tidak sebagai anak, melainkan sebagai pembantu."
"Aku pengen melakukan apapun yang saudariku lakukan. Aku pengen punya HP, punya waktu belajar, punya teman, punya waktu mengobrol dengan orang tua benar-benar sebagai anak, berkeluh kesah semua kejadian yang aku dapatkan hari ini, dan sebagainy. Aku pengen masa mudaku sama dengan anak-anak muda di luaran sana. Bukan malah seperti ini, yang harus hidup dengan segala tekanan dan paksaan."
Tangisku semakin menjadi-jadi. Aku tidak peduli bagaimana jeleknya aku saat ini yang bisa-bisa menangis di depan seorang ibu baik hati yang bisa jadi aku anggap sebagai orang asing karena dia baru aku kenal.
Walau demikian, dia tidak pandang bulu. Dia memelukku, membawaku ke dekapannya. Seolah-olah aku ini anaknya. Mungkin baginya aku sama dengan anak-anak asuhnya di rumah ini, yang amat sangat membutuhkan dekapan kasih sayang orang tuanya.
"Sudah... Jangan nangis," katanya berbisik.
"Apakah ada yang salah dariku? Mereka bahkan menyebutku anak pungut," sambungku, tidak mendengarkan ucapan ibu ini yang menyuruhku tuk diam. Sesekali sesegukan, aku terdiam berhenti sebentar, menarik napas buang napas lalu lanjut kembali. "Aku tidak pernah meminta mau hidup seperti ini. Bukan salahku juga kalau aku dipungut. Kalau memang itu lah yang menjadi alasan utama kenapa mereka sampai setega ini sama aku, kenapa mereka tidak membiarkan aku saja?"
"Mereka tidak memberikan hidup baru bagi Abila kecil, tapi malah memberikan neraka berkepanjangan hingga bahkan mau membunuh Abila kecil sampai Abila dewasa."
"Tapi bodohnya aku, meski aku tahu mereka seperti itu, aku tidak pernah mau melihat mereka kesusahan. Aku benci diriku yang demikian. Mereka tidak pernah menyayangiku, tapi aku sangat menyayangi mereka."
Memutuskan menyudahi cerita ini, sebab aku sudah tidak sanggup lagi. Ini belum seberapa, banyak hal yang belum aku ceritakan. Sudah lebih dulu terseguk-seguk dan tidak sanggup melanjutkan, bahkan aku sampai kesusahan bernapas dengan benar. Pagi ini amat sangat bersejarah bagiku bisa menceritakan masalah hidupku dengan orang.
Ibu ini tidak bicara apapun, tapi bahasa tubuhnya mengatakan banyak hal. Dia mengusap rambutku, menepuk-nepuk pelan bahuku, memelukku dalam dekapannya yang hangat. Dan dengan jiwa keibuannya yang tidak bisa aku lupakan, aku merasakan dia mengecup keningku di saat aku sesegukan seperti ini. Sesekali ia berbisik, "semuanya akan baik-baik saja, anak baik."
"Hidupku kacau... Tidak akan pernah ada masa depan yang lebih baik untukku. Hidupku sudah terlanjur hancur sehancur-hancurnya."
***
Mataku sampai bengkak akibat terlalu emosional saat bercerita. Selain aku yang bercerita, ibu ini juga ikut menceritakan banyak hal padaku. Entah tentang pengalaman hidupnya yang bisa memotivasi ku atau hal lain yang bisa menguatkan diriku yang hampir menyerah. Cukup lama aku berada di dekapan hangat ibu ini. Ternyata namanya Ibu Sekar. Nama yang sangat bagus, cantik, seperti orangnya.
"Kalau kamu ada masalah, hubungi ibu saja, Abi. Ibu dengan sangat senang membantumu. Jangan sungkan pada Ibu."
Aku mengangguk, mengusap mataku yang agak gatal. Mungkin karena habis menangis. Ah, tidak mau urus!
"Pokoknya kamu tidak boleh menyerah. Kamu tidak sendirian, kamu punya ibu, kamu punya adik-adik panti di sini yang siap menopangmu. Kami siap menjadi penyemangat mu. Karena itu lah kamu juga tidak boleh menyerah, oke?"
Lagi-lagi aku mengangguk, tapi sungguh aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa. Pasalnya, ibu Sekar sudah berulang kali menyuruhku untuk tidak menyerah. Percayalah, perkara itu, meski mulut mengakui, tapi tidak ada yang menjadi pemasti kalau kemudian harinya tidak akan demikian. Bisa jadi aku menyerah nantinya. Tidak ada yang tahu, kan?
"Ibu Sekar sudah mengatakan itu berulang kali, bahkan aku sampai hapal." Aku refleks memeluknya, naluri diriku sendiri. "ibu sangat baik sama aku, tidak seperti orang lain. Ibu seperti malaikat tanpa sayap. Andai Mama Abi juga seperti ibu, Abi pasti jadi orang yang sangat bahagia di dunia ini," ujarku berharap. Harapan yang hanya sekedar harap, tidak pernah terkabulkan menjadi sebuah realita yang dinantikan.
"Abi bisa banget kok anggap ibu jadi Mamanya Abi. Abi bisa setiap hari ke sini. Makan di sini, main dengan adik-adik di sini, bahkan kalau Abi mau tinggal di sini juga tidak masalah. Ibu bahkan senang kalau Abi mau tinggal di sini. Ibu bisa pantau Abi, memastikan Abi makan dengan baik dan teratur, bisa memastikan Abi tidur dengan baik tanpa didatangi mimpi buruk, semuanya. Ibu akan lebih tenang."
Sangat tidak menyesal menganggap dia sebagai malaikat tanpa sayap. Dia tidak hanya memberikan semangat hidup padaku, tapi juga memberikanku kehidupan baru yang lebih layak dibandingkan bertahan di rumah itu. Tapi tetap saja, walau tawarannya sangat menggiurkan, pindah ke sini sebagai tiketku bisa keluar dari siksaan Erina dan Mama, tetap aku masih dibawah urusan Mama dan Papa. Kalau mereka tahu aku ke sini, mereka akan menuntut ibu Sekar dan menuduh yang tidak-tidak. Ibu Sekar bisa dipenjarakan dan mau tidak mau aku lah yang harus bertanggungjawab akan hal itu. Belum lagi kalau ibu Sekar sampai dipenjara karena menolongku, semua anak-anak panti akan kesusahan. Memusingkan. Segalanya memang terhubung dengan baik, meski bisa berdampak buruk.
"Jujur saja, Abi sangat ingin tinggal di sini, tapi ibu juga tahu kalau Abi itu masih dibawah pengawasan orang tua Abi." Kulihat ibu Sekar sedikit murung saat aku berkata demikian. Senyumnya sedikit mengerut. Ah, aku tidak suka melihatnya seperti ini. Dengan cepat aku memegang kedua tangannya, agak erat. "tapi ibu tidak perlu khawatir. Abi akan sering-sering ke sini, bercerita banyak dengan ibu, main dengan anak-anak di sini. Bahkan kalau bisa, Abi akan menginap di sini juga. Abi akan usahakan melakukan itu semua."
"Dan ibu juga tidak bisa memaksamu. Apapun yang kamu lakukan tetaplah menjadi pilihanmu. Ibu hanya mau berpesan satu hal saja—temukan kebahagiaanmu di tempat yang membuatmu merasa tidak pernah ditekan, yang membuatmu merasa ingin tetap ada di dalamnya. Karena bahagia bukan tentang materi saja, tapi jauh dari itu semua hati lah yang jago merasakannya. Kamu mengerti kan apa kata Ibu?"
Aku mengangguk seperti anak kecil, lalu mengangkat tangan seperti sedang hormat bendera padanya. "Siap dimengerti!"
Dan aku berhasil menerbitkan tawanya lagi. Lalu dia menarik piring nasiku kembali ke depanku, "cepat habiskan sarapanmu. Setelah ini kita bermain dengan anak-anak."
"Siap, ibu!"
Setelah selesai makan, aku tidak langsung pulang begitu saja. Aku sudah menyiasati semuanya. Sengaja sekali aku membiarkan diriku bermain lama-lama di rumah ibu Sekar dan meminta diantar nantinya ketika sore—ketika waktunya Erina pulang. Itu agar Erina tidak curiga denganku. Percayalah, selagi Erina tidak tahu, mama dan papa juga tidak akan tahu.
Sekarang baru saja Dzuhur. Aku bisa bermain sebentar dengan anak-anak, lalu setelahnya melakukan solat berjamaah dengan anak-anak panti, kami makan siang bersama. Benar-benar ini sangat seru dan hangat. Beruntung sekali bisa diterima dengan begitu mudah di keluarga ini, oleh ibu Sekar dengan suaminya, oleh anak-anak panti. Dan ternyata anak-anak panti di sini ada juga yang umurnya seumuran denganku, bahkan sudah dewasa. Mereka tidak mau pindah karena sudah nyaman di sini. Aku tidak heran sih kenapa mereka tidak mau pergi, bahkan aku pun yang notabennya orang baru masih sangat nyaman di sini. Enggan pergi meski dalam beberapa jam ke depan harus pergi.
Karena waktu sore masih lama, aku diajak ibu Sekar tidur siang bersama anak-anak yang lain. Aku tentu tidak menolak, bahkan sangat menerima. Entah kapan terakhir kali aku bisa tidur siang, aku bahkan sampai melupakannya. Saking lamanya dan saking tidak pernah diperbolehkan melakukan itu.
Aku diberikan satu kasur khusus untukku, bisa aku gunakan setiap kali ke sini. Ibu Sekar dan suaminya amat sangat baik. Jika di rumah aku tidak diberikan kasur yang empuk dan nyaman, di sini aku mendapatkannya meskipun amat sangat sederhana.
"Tidur aja di sini, istirahat. Nanti ibu bangunin kalau sudah asar. Setelah solat asar baru suami ibu antar kamu pulang," kata ibu Sekar.
Aku mengangguk, tidak lupa memberikan senyuman terbaik untuknya. Kini aku sudah berbaring, tinggal menjemput tidur saja. "iya, ibu. Terima kasih."
***
Dan benar saja, seperti apa yang dikatakan ibu Sekar, aku dibangunkan ketika lima belas menit sebelum sholat asar. Aku diminta mandi terlebih dahulu supaya lebih segar. Benar-benar aku mendapatkan perlakuan yang berbeda di rumah ini. Aku nyaman dan aku ingin tinggal. Mungkin nanti setelah keluargaku tidak mau mengakui ku lagi, baru aku bisa ke sini sebagai seseorang yang dianggap yatim piatu, karena sudah tidak punya orang tua dan keluarga lagi.
Mandi dengan aman, tentram, tanpa ada paksaan bahkan tanpa adanya tenggat waktu yang terus menghantui. Melakukannya dengan tenang dan bisa bergabung solat berjamaah dengan baik.
Aku mengakui, menyadari, memang sekarang masih aman, tapi setelah aku diantar pulang nanti, aku mendapatkan hal yang semula lagi. Aku siap, kapanpun, di manapun dan bagaimanapun.
Dan kini, detik-detik aku pamit pulang pada ibu Sekar dan anak-anak yang telah mengisi kebahagiaan ku hari ini. Ini tidak akan aku lakukan dengan lama sebab suami ibu Sekar sudah menunggu di depan, siap mengantarku pulang. Tidak akan mungkin aku biarkan dia berlama-lama menunggu. Sungguh tidak tahu diri sekali aku kalau sampai membiarkannya menunggu.
"Aku pamit ya, ibu," langsung memeluknya. Sungguh, tidak rela dengan perpisahan ini. Kami bertemu dengan sengaja, tapi berakhir dengan segala yang tidak bisa dikatakan sengaja. Segalanya sudah di set dengan baik oleh Tuhan. "Jaga kesehatan ibu, jaga kesehatan anak-anak di sini juga. Jaga diri dengan baik-baik, Abi juga akan demikian. Ibu tidak perlu khawatir, Abi pasti akan baik-baik saja. Kalau ada apa-apa, Abi pasti akan ke sini, ke rumah Abi," kataku dengan nada yang amat sedih padanya.
Ya, ibu Sekar memaksaku menganggap rumah ini sebagai rumahku juga. Maka jangan heran aku sampai demikian sayang dengan keluarga ini. Keluarga tanpa drama, hanya menunjukkan kasih sayang yang benar-benar aku butuhkan.
"Iya, nak. Ibu pasti akan jaga diri dan jaga kesehatan. Kamu juga harus baik-baik di sana. Kalau mereka sudah tidak menganggapmu keluarga, pulang ke sini. Ibu tidak akan pernah menolakmu, ibu akan memelukmu, nak," ujarnya sembari terus mengusap punggungku perlahan.
Tidak mau berlama-lama, aku menyudahi pelukannya. Berakhir salim pada anak-anak yang lain. Cara mereka mencium tanganku, bahkan ada yang memeluk kakiku erat tidak mau melepaskan, aku ingin menangis dengan semua ini. Mereka terlalu manis, dan keluarga ini terlalu hangat. Sampai rumah nanti aku pasti akan sangat merindukan mereka.
Bahkan saat melambaikan tangan bepergian dengan mereka, rasanya sangat berat. Tapi aku tidak boleh egois. Aku tetap pergi ke kehidupanku yang sebenarnya.
Diantar oleh suaminya ibu Sekar. Dia sebelas dua belas dengan ibu Sekar, cara tutur bicaranya yang lembut, selalu tersenyum, perhatian, intinya ia menjadi sosok bapak dambaan semua anak-anak perempuan di dunia ini. Andai aku terlahir di keluarga hangat ini.
"Rumah no.9 ya nak?" Tanyanya, selalu memanggilku dengan panggilan 'nak'.
"Iya, pak. Sebelah kanan sana," ujarku sembari menunjuk ke arah rumahku.
"O iya, bapak sudah lihat," katanya.
Dan ya, akhirnya aku sampai juga di depan gerbang neraka kehidupan di dunia ini. Tidak mau berpisah dengan sosok bapak ini, aku bahkan sampai ingin menangis. Tetap aku tahan, aku tidak bisa menangis begitu saja seperti anak kecil.
"Terima kasih sudah antar Abi sampai rumah ya, pak. Sampaikan salam Abi pada ibu Sekar. Abi akan ke rumah dalam waktu dekat ini," kataku.
"Tentu saja, nak. Kamu jaga diri baik-baik di sini. Ingat kata bapak, kalau mereka melakukan hal yang tidak-tidak lagi padamu, teriak dan laporkan. Atau kamu bisa langsung pulang ke rumah, ya. Kami sangat menanti kehadiranmu, nak," ujarnya, nada bicaranya begitu lembut.
Aku mengangguk. Melambaikan tangan padanya yang sudah bersiap-siap mau pergi. "Hati-hati, bapak."
"Iya, nak."
Aku menunggu sampai motornya benar-benar sudah menghilang, baru memutuskan masuk ke rumah. Sejauh ini masih aman, sampai aku masuk ke kamarku sendiri. Selayaknya seperti baru pulang sekolah, aku mengganti baju sekolahku dengan baju biasa dan mulai siap melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya. Anehnya, tumben-tumbenan Mama tidak ada di rumah. Rumah sangat sepi hari ini.
"Astaga... Bahkan sekadar membereskan piring-piring ini tidak Mama kerjakan. Apa yang dia lakukan di rumah ini? Masa cuman tidur, makan, tidur, makan terus. Tidak seperti ibu-ibu di luar sana yang setidaknya tahu caranya membereskan hal sekecil ini."
"Nyapu, cuci piring, cuci baju, setrika baju, atau bahkan mungkin sekadar masak nasi, itu skill basic bertahan hidup. Tapi Mama tidak bisa, tidak mau belajar. Aku sangat heran kenapa Papa bisa-bisanya menikahinya."
Maka silahkan salahkan aku kalau sampai salah dalam berkata-kata. Aku hanya tidak menyangka saja semuanya jadi seperti ini. Menumpahkan segala kepentingan dan urusan pada anak yang belum punya usia dewasa seperti aku ini.
Tapi ya sudahlah, percuma juga aku bicara banyak, panjang lebar sampai kulit berbusa. Aku tetap diam, tanganku tetap mengerjakan semua pekerjaan rumah dari A sampai Z, hingga rumah besar ini bersih kembali. Anehnya, sampai saat ini, Erina tidak pulang-pulang. Aku bahkan sudah masak, hanya tinggal menunggu nasi saja yang belum matang sempurna.
Aneh.
Tidak mau pikir panjang, aku keluar rumah sebentar. Sudah beberapa hari ini aku lupa menyirami taman Mama di depan dan di belakang rumah. Kalau bukan aku yang melakukannya, tanamannya bisa mati. Lalu nanti ketika teman-temannya datang ke rumah, dia akan mengaku kalau dia dan Erina lah yang merawatnya, dan memperkenalkan aku sebagai pembantunya. Miris.
Dan keanehan itu tetap aku rasakan sampai pegang menjelang. Papa tidak pulang, Mama tidak pulang, bahkan Erina dengan sopirnya juga tidak balik pulang. Garasi rumah kosong, tidak ada satupun mobil mereka yang tertinggal. Aku jadi takut-takut khawatir, apakah aku salah masuk rumah?
Aku bahkan tidak bisa menelpon mereka. Aku tidak punya HP, tidak punya kontak mereka. Ya seharusnya aku tenang tidak ada mereka, tapi jujur hati ini amat sangat resah. Ini hal yang tidak biasa terjadi selama aku di sini.
Sampai akhirnya satu mobil masuk. Itu mobil yang biasa mengantar Erina ke sekolah atau ke manapun dia mau. Akan tetapi, Erina tidak keluar, hanya sopirnya saja. Semakin menambah rasa penasaranku.
"Mang, Erina kok enggak ikut pulang? Dia kemana?" Tanyaku.
"Oh itu neng," dia terlihat tidak enak hati memberitahuku. Sopir-sopir dan penjaga rumah di sini tahu kalau aku tidak pernah diperlakukan dengan baik oleh keluargaku, dan aku sering sekali mendapatkan belas kasihan mereka.
"Bilang aja, Mang. Aku tidak kenapa-kenapa, kok. Aku cuman bingung aja, kok tumben sampai sekarang belum ada yang pulang. Bahkan Erina, dia belum pulang sekolah, kan?"
"Bukan, Neng," katanya lagi menolak statement ku. "Neng Erina, Tuan dan Nyonya pergi ke rumahnya pacar Neng Erina."
"Pacar?" Tanyaku kebingungan.
"Erina enggak punya pacar, Mang," ujarku lagi.
"Itu..." Ia makin terlihat tidak enak hati.
"Itu apa, Mang? Bilang aja," aku memaksa.
"Neng Erina dijodohkan dengan anak temannya Tuan. Tadi sore saya antar Neng Erina ke sana, sedangkan Tuan dan Nyonya sudah menunggu di rumah calon jodohnya Neng Erina. Sebentar lagi Neng Erina pulang, diantar sama calon jodohnya."
Wow... Aku cukup terkejut mendengar Erina dijodohkan oleh Papa. Pasti jodohnya sudah sangat terjamin—dari segi fisik, finansial, masa depan, dan segalanya. Dan ketika perjodohan ini berhasil, papa dan mama pasti sangat bangga melihat anaknya bisa hidup bahagia dengan orang yang segalanya sudah terjamin. Mendengar ini saja sudah membuatku iri.
Yang membuatku penasaran, siapa cowok yang mau dijodohkan dengan Erina? Kira-kira kalau keluarga si cowok tahu sifat asli Erina seperti apa, apakah mereka masih mau menjodohkan anak mereka dengan anak bebal dan tidak tahu apa-apa seperti Erina. Maaf sekali kalau terdengar sarkas, tapi percayalah mengakui kenyataan itu lebih baik.
"Memangnya siapa calon jodoh Erina, Mang? Mamang tahu tidak?" Tanyaku.
"Kalau saya tidak salah, dia itu anaknya ketua yayasan di sekolah Neng."
Tidak.
"Dia satu sekolah dengan Neng."
Tidak!!!
Tidak mungkin Adam orangnya. Aku akan menjadi orang yang paling pertama yang tidak mau percaya dengan hal ini, menjadi orang yang paling depan menolak perjodohan ini. Sama sekali aku tidak setuju Erina akan dijodohkan dengan Adam.
"Dan kalau tidak salah, namanya Adam."
Ya Tuhan... Baru saja aku bersyukur dipertemukan dengan keluarga hangat yang mau membuka pintu kehangatan keluarganya dengan selebar-lebarnya, tapi kini aku mendengar seseorang dijodohkan dan hatiku tidak terima. Antara suka atau tidak suka dengan calon jodohnya Erina, hatiku tetap tidak terima.
Ya memang aku dan Adam tidak punya hubungan serius apapun. Aku menolaknya dengan segala pertimbangan kalau aku tidak akan pernah pantas dengannya. Takdir berkata lain, Tuhan malah berencana Adam berjodoh dengan cewek yang setara dengannya.
Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana dia berjanji akan menunggu jawabanku. Aku juga masih mengingat dengan jelas bagaimana dia yang sangat perhatian padaku tidak seperti biasanya. Mau mendengarkan dan mengabulkan apa yang aku inginkan. Meski pertemuanku hanya sebentar dengannya, tetap akan membekas dan hati ini masih tidak rela melihatnya dengan Erina. Seperti—apakah orang tuanya tidak bisa mencarikan perempuan lain atau Adam bisa mencari yang lain. Tidak perlu aku. Aku masih ragu.
"Itu mereka, Neng!"
Refleks aku berbalik. Meski sudah petang, aku masih mengenali motor yang sedang masuk ke rumah sekarang ini adalah motor Adam. Helm yang dipakainya, bahkan helm yang dipakai Erina sekalipun. Aku kenal. Karena aku pernah ada di posisi itu. Benar-benar tidak menyangka semua ini menjadi nyata.
Dari mulai melihat mereka masuk hingga motor Adam berhenti di garasi, aku tidak pernah berhenti melihat mereka. Bahkan sampai melihat Erina menggandeng tangan Adam, berjalan menuju ke arahku.
"Lo tahu gak? Gue dan Adam dijodohkan sama Papa," tentu aku tahu Erina akan sangat bersemangat memberitahu itu pada dunia dan tentunya padaku. Dia mau membuatku cemburu. Caranya menarik Adam dekat dengan dirinya, membuktikan betapa dia ingin membuatku cemburu.
Apakah aku cemburu? Tidak, hatiku sedikit terasa nyeri, masih bisa aku tahan. Aku hanya perlu terbiasa menerima segala sakit dan pahit hidup.
Aku berusaha tersenyum, menahan segala ketimpangan yang aku rasakan ini. Tersenyum pada Erina, tersenyum pula pada Adam. Saat Adam membalas senyumku, ada gelenyar aneh yang aku rasakan. Seperti hatiku diremas, sakit yang tidak terduga.
"Selamat ya. Gue senang mendengarnya," kataku, lalu melengos pergi. Setiap langkahku, aku tidak menyangka akan menitikkan air mata seperti ini.
"Setelah ini, aku tidak mau percaya siapapun," gumamku.