Bab 20. Panti Asuhan

3391 Kata
Sungguh aku tidak masalah perihal penuduhan tidak mendasar itu. Aku tidak sakit hati, tidak kecewa, tidak marah juga. Aku mengerti, Mama melabeliku sebagai seorang perempuan tidak benar karena yang di mata dan hatinya sudah tertanam kalau aku ini adalah perempuan tidak benar, sedangkan Erina adalah anaknya yang paling baik dan pantas diagungkan. Persepsinya yang demikian sudah tidak bisa aku ubah lagi, kecuali dia sendiri yang mau merubahnya. Dan untuk mengubahnya adalah sebuah kemustahilan bagiku. Karena itu lah aku diam. Perlahan aku mundur dan pergi dari meja makan itu itu. Tidak ada tempat bagiku di antara mereka. Tidak ada gunanya juga aku mendengarkan mereka. Malah Mama lah yang aku takutkan. Semakin dia melihatku, semakin dia marah padaku dan semakin membanding-bandingkan aku dengan Erina. Sungguh, jika memang karena Papa mau menyekolahkan aku dengan layak menjadi sebuah alasan kenapa keluarga ini akan hancur, maka aku akan memilih bodoh seumur hidup. Setidaknya aku tidak ikut andil merusak kebahagiaan orang lain selain diriku sendiri. Sesampai di kamar, aku tidak memilih mandi, hanya membasuh wajahku sebentar saja, lalu mengganti bajuku dengan baju sekolah. Aku berencana akan berangkat sekolah lebih dulu. Menghindari Papa, Mama, Erina, bahkan Adam. Meski tidak bisa dipastikan seratus persen, tetap saja feelingku mengatakan kalau Adam akan kembali menjemputku. Pria itu dengan seribu kemisteriusannya dan keras kepalanya, tidak bisa aku lawan. "Untuk sejenak, cobalah menghindari masalah, Abi... Kamu sudah lelah, jangan membuat diri semakin mati lagi," gumamku, bahkan bicaraku pun sepertinya amat sangat lelah menasehati diri sendiri. Ini bukanlah yang pertama kalinya, sudah lelah sampai tidak bisa menghitung banyaknya. Bahkan aku tidak memikirkan masalah sarapan lagi, terserah mau pingsan lagi kali ini. Daripada aku masuk dan menambah keributan, lebih baik menghindar tanpa diusir. Diusir dari rumah sendiri itu rasanya akan lebih hina dibandingkan sadar diri dan mengalah lebih dulu. Bagiku, yang pertama kali mau mengalah demi ketenangan emosi semua pihak, lebih dewasa dalam hal apapun walau usianya masih seumur jagung. Dewasa bukan tentang usia, melainkan pemikiran. Segera setelah baju siap, tas dan buku juga siap, bahkan memakai sepatu pun juga siap, tanpa berpamitan aku langsung keluar rumah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau aku sempat-sempatnya berpamitan pada mereka. Papa bisa jadi menerima salamku, tapi Mama dan Erina? Huh, tidak perlu dibayangkan sudah pasti mereka akan menepis tanganku. Saat berjalan menuju gerbang, aku selalu melihat ke dalam, takut-takut Erina sudah bersiap berangkat sekolah. Namun, Tuhan berpihak padaku, Erina belum keluar. Bahkan sopir pun belum keluar dari tempat pos jaga. Biasanya selagi Erina sarapan dia akan memanaskan mobil supaya siap membawanya ke sekolah. Sayup-sayup aku mendengar suara Mama dan Papa yang bertengkar, hingga terdengar suara gebrakan meja. Jika emosi sudah sampai tidak bisa dikendalikan, dilampiaskan ke sesuatu di dekatnya, bisa jadi perdebatan sudah tidak bisa dihentikan. Mungkin bisa dilerai, tapi hanya sementara, lalu setelahnya terjadi perang dingin yang berkepanjangan. Entahlah, aku tidak ingin mereka sampai seperti itu, tapi aku juga tidak tahu bagaimana cara memperbaiki keadaan sulit ini. Tidak mau memikirkan hal lain lagi, aku segera keluar gerbang rumah dan lagi-lagi Tuhan kembali berpihak padaku. Tidak ada Adam, masih sepi. Jalanan sepi, tidak ada satupun motor yang lalu-lalang. Ini adalah kesempatan besar bagiku kabur secepatnya sebelum Erina bahkan Adam melihatku, atau nanti salah satu dari mereka akan menahanku. Langkahku benar-benar terasa ringan, berjalan dengan cepat dengan langkah yang agak lebih lebar dari biasanya. Untungnya sepi, tidak ada yang melihatku dengan pandangan kebingungan lagi karena saudara yang satunya pergi dengan mobil, sedangkan saudari yang satunya malah jalan kaki. Aku yakin tetangga-tetangga pasti sudah tahu alasannya, tapi mereka malah menjadikan itu sebagai kesenangan belaka saja. Memang, berkaca dari apa yang selama ini Erina lakukan, aku yakin akan satu hal bahwa 'menertawakan kehidupan orang lain itu memiliki sisi kesenangan yang berbeda. Itu salah, tapi sulit dihilangkan. Sudah mendarah daging dalam diri setiap orang yang iri dengki'. Aku hanya berharap tidak menjadi salah satu dari mereka—punya hati busuk. Logikanya pula, aku mau menertawakan siapa? Aku tidak punya apa-apa. Aku miskin dalam segala hal. Baru saja sampai di gang pertama, aku mulai mendengar suara teriakan Erina yang menyuruh sopirnya segera mengeluarkan mobil dan membawanya berangkat sekolah. Suaranya bahkan bahkan sampai terdengar dengan jelas, saking lengkingnya. Bahkan setelahnya terdengar pula suara Mama dan Papa yang saling bersahutan. Apakah mereka bertengkar sampai di luar rumah? Apa mereka tidak malu seperti ini terus setiap harinya? Aku saja yang mendengarnya menjadi malu bukan main. "Semoga dengan ini tidak ada yang mengusir kami dari komplek perumahan ini. Meski terganggu, semoga tetangga-tetangga tahan mendengar suara mereka," gumamku tidak jelas. Padahal, kalau mereka pergi, otomatis aku juga pergi. Kalau mereka dicap sebagai penghuni rumah yang buruk, maka aku pun demikian. Tahu Erina akan melewati jalan yang akan aku tapaki ini, aku memutar otak memilih melewati jalan lain saja. Lagi-lagi aku tidak bisa membayangkan Erina mendapatiku kabur setelah tadi menjadi penyebab keributan di rumah. Tepat di simpang empat kedua setelah rumah, biasanya aku dan Erina memilih jalan lurus, tapi aku memilih belok ke jalan kiri. Aku menyiasatinya agar Erina tidak melihatku. Terutama tentang aku yang masih belum siap menerima serangan Erina atas baju baru yang aku pakai. Aku perlu waktu mempersiapkan diri sendiri. Setidaknya kalau sudah sampai di sekolah nanti, Erina tidak akan leluasa membullyku. "Gak masalah telat sepuluh menit. Palingan kalau telat disuruh bersihin WC, atau paling enggak lari lagi. Setidaknya salah satunya sudah sangat sering aku kerjakan," ujarku meyakinkan diri sendiri. Jujur saja, aku hanya pernah sekali melewati jalan ini, itupun dua tahun yang lalu. Aku tidak yakin apakah aku masih mengingatnya atau sudah banyak yang berubah. Segalanya bisa jadi terjadi dan aku tidak memegang saatpun bekal untuk menghadapi perubahan itu, hanya bermodalkan ingatan yang tidak seberapa. Yah... Semoga saya aku ingat, tidak berakhir tersasar. Jalan demi jalan aku lewati, tak kunjung sampai di persimpangan yang aku ingat sebagai patokan jalan. Jalan yang aku lewati kini sangat berbeda dengan yang ada di ingatanku. Terlalu banyak yang berubah sampai-sampai aku tidak mengenali satupun. Yang dulunya aku ingat itu adalah tempat cuci mobil, tapi kini aku tidak menemukannya sama sekali. Malah berubah jadi toko serba ada. Dan begitu juga dengan beberapa toko yang aku ingat. Intinya, aku jadi sangat bingung. Ingin balik pulang, aku sudah telanjur berjalan cukup jauh, dan kemungkinan besar aku tidak ingat dengan jalan pulang ke rumah. Benar-benar aku merasa sedih kali ini. Tidak ada yang bisa aku tanya, tidak ada yang menemani, tidak ada semuanya. Ya Tuhan... Tidak cukup semua ujian dariMu selama ini. Aku berhenti sebentar di depan gerbang sebuah Sekolah Dasar. Anak-anak berlarian masuk ke dalam sekolah sebab baru saja terdengar bunyi bel. Kalau mereka saja sudah masuk, artinya sekolahku juga sudah masuk. Tidak ada artinya lagi aku ke sekolah hari ini, toh sama aja dengan bohong. Satu-satunya yang harus aku lakukan sekarang adalah mencari jalan keluar tuk pulang ke rumah. Duduk sendirian di depan gerbang, tidak ada siapapun lagi selain diriku sendiri. Terlebih aku memakai baju SMA, semua orang akan merasa aneh kala menatapku. Kenapa anak SMA malah keluyuran di depan gerbang sekolah dasar? Mungkin begitu kiranya pertanyaan terbesar di dalam benak mereka. Di depanku terlihat banyak roda, mulai dari roda dua hingga roda empat yang berlalu lalang tanpa henti. Bunyi klaksonmya memekakkan telinga hingga rasanya aku mulai merasa pusing mendengar itu-itu terus. Ditambah lagi dengan panasnya matahari dan sialnya aku belum sarapan. Triple kill! "Kalau aku pingsan lagi kali ini, aku enggak tahu mau dibawa kemana. Terserah. Masalahnya, kalau aku balik pulang, aku lupa jalannya ke mana. Kalau aku ngojek, aku enggak ada uang. Mau minta pun nanti pasti ujung-ujungnya kena marah. Astaga, kenapa rumit sekali sih hidupku ini...." "Sekedar hidup aja banyak sekali masalahnya. Aku kan bingung..." Terus merenung dan kadang bergumam sendiri seolah jadi orang gila, sembari menahan rasa sakit di kepala dan seluruh badan. Badan lemes pula. Mungkin aku hanya tinggal menunggu kapan kiranya detik dimana aku pingsan dan membuat drama baru lagi bagi orang lain. Sampai akhirnya ada seorang ibu-ibu yang menyolek bahuku. Dia sudah paruh baya, namun kerutan di wajahnya lumayan banyak. Mungkin pikirannya terlalu berat, dan dia lah gambaran masa depanku nanti. Usia muda, tapi meredam banyak masalah. "Enggak sekolah, dek?" Tanyanya. Aku berusaha bangun, hampir limbung. Dia dengan sigap memegang tanganku, "Adek sakit ya? Belum sarapan?" Tanyanya. Mungkin dia orang asing, tapi secara tidak langsung dengan dia bertanya demikian, dia sudah perhatian walaupun aku ini adalah orang asing baginya. Auranya tenang, senyumnya juga demikian. Hampir sebelas dua belas dengan aura Nenek di puncak. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan orang lain yang punya frekuensi yang sama. "Iya, Ibu. Saya enggak sekolah. Sepertinya saya tersesat." Aku mengakuinya, berusaha jujur. Kali saja ibu ini mau membantu. Dan aku harap setelah dia membantu tidak meminta bayaran. Sungguh aku tidak bisa membayarnya meski semurah apapun. Melihat ibu ini menaikkan alisnya kebingungan, aku tertawa kecil. Benar, aku membuat jawaban yang ambigu. "Sebenarnya saya sudah pernah melewati jalan ini dua tahun yang lalu, dan ini kali pertama saya melewatinya lagi. Tapi entah apa yang terjadi, banyak sekali yang berubah dan saya tidak tahu mau kemana. Saya benar-benar kebingungan, terlebih jalanan ramai yang membuat saya tidak bisa menyebrang ke sana kemari dengan bebas. Seharusnya saya berangkat ke sekolah saya, tapi saya berakhir di sini setelah lelah mencari patokan jalan ke sekolah saya. Yah... Namanya juga hidup, Bu. Kadang ini, kadang itu. Tidak terduga." Jawabku. "Oh, Adek tersesat ya. Kalau boleh tahu, Adek tinggalnya dimana?" "Di perumahan Cempaka no.9 Ibu," jawabku. Ibu ini langsung terkejut, dan melepas tangannya dariku. Lalu dia melihatku dari atas ke bawah, semakin membuatnya kebingungan. Entah apa saja yang ada di pikirannya, benar-benar aku ingin tahu semuanya. "Ada yang salah, Ibu?" Tanyaku. "Adek, bukankah perumahan itu perumahan elit? Kenapa kamu tidak meminta sopir saja yang mengantar ke sekolah? Kenapa malah mau jalan kaki?" Dan dalam sekali pertemuan, dia sudah menemukan akar permasalahannya. Dia orang yang pintar, dan aku tidak bisa menjawabnya seadanya. Dia akan tahu dan dia akan terus bertanya sampai benar-benar mendapatkan jawaban. Bagaimana kiranya aku menjawab pertanyaannya ini? Bahwa aku adalah anak sekaligus b***k di keluarga itu? Ah, terlalu miris. Aku takut ibu ini akan menertawakanku. "Ada masalah yang terjadi dengan keluarga saya, yang membuat saya tidak bisa diantar ke sekolah dengan sopir." Berusaha terlihat tenang dan tersenyum, seolah jawaban yang aku berikan sangatlah jujur. Aku tidak boleh menunjukkan gerakan demi gerakan yang akan menambah rasa pemasarannya. Dan kecerobohan terjadi padaku. Suara perutku kembali berbunyi, amat keras hingga ibu itu menyadarinya. Dia tertawa kecil. "Adek belum sarapan ya?" Tanyanya. Aku mengangguk kecil. "Belum sempat, Bu. Terburu-buru tadi, eh malah tersesat seperti ini." Tawa ibu ini semakin keras. Beberapa orang yang melewati kami berhasil menoleh dan melihat kami. Dan lagi-lagi, aku berusaha tidak peduli dengan hasil pemikiran mereka. Cepatlah kalian pergi sebab aku tidak peduli! "Adek mau ke tempat Ibu, tidak? Adek bisa sarapan di sana. Nanti kalau adek sudah kenyang dan mau diantar pulang, suami saya bisa mengantar. Toh kalau adek ke sekolah, sudah tidak bisa. Absen adek sudah terlanjur merah untuk hari ini." Dan dia menawarkan pertolongan lain. Tuhan menakdirkan aku bertemu dengan seorang malaikat, tapi aku malah berbohong padanya. Kira-kira, kalau aku mengatakan yang sejujurnya, bagaimana reaksi ibu ini? Mengetahui ada seorang gadis yang tidak menerima haknya sebagaimana mestinya. "Bagaimana, dek? Mau atau tidak ke rumah ibu?" Tanyanya lagi, mungkin menodongku adalah tugas yang sangat penting baginya sampai-sampai ditanyakan lagi. Padahal itu akan merepotkan dirinya. "Tapi kalau adek tidak mau dan minta diantar ke rumahnya, saya akan telpon suami saya sekarang agar beliau ke sini dan mengantar adek pulang. Bagaimana?" Hmm... Pilihannya ada dua, ke rumah ibu ini dan belajar hal baru di sana. Mungkin juga aku akan mengakui kejujuran di sana. Atau aku memilih opsi yang satunya lagi, diantar pulang dan bisa jadi mendapatkan semua bentakan dan amarah Mama yang belum meredam. Air atau api, hanya ada dua pilihan itu. "Rumah ibu jauh tidak dari sini?" Tanyaku. "Tidak. Hanya sekitar lima menitan saja sudah sampai di panti," jawabnya. Mungkin dia keceplosan, mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya aku ketahui. Ia tertawa, lalu mencoba menjelaskan maksud jawabannya yang tadi. "Iya, saya mengurus rumah panti. Ada sekitar puluhan anak yang ada di rumah saya. Dan tadi saya baru saja mengantar anak-anak saya ke sekolah." Anak-anak, padahal itu adalah anak asuhannya. Dia punya hati yang besar, merelakan banyak waktu dan kesempatan dalam hidupnya untuk mengurus anak-anak. Yaps, sudah pasti dia orang yang baik dan aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Aku harus jujur. Mungkin saja dia malaikat yang dititipkan Tuhan, yang akan merubah sedikitnya kesalahan dalam jalur hidupku. "Kalau adek mau ke sana, nantinya adek bisa main sama banyak anak. Tapi kalau adek tidak mau main, tidak masalah juga. Ibu tidak memaksa adek. Semua pilihan ada di tangan adek." Air atau api? Dari dua elemen itu, aku sudah terlalu lama bermain-main dengan api hingga membuatku menjadi pribadi yang tahan akan hal itu. Tapi bertemu dengan elemen air? Tidak banyak yang mau denganku. Sebagian besar dari mereka akan menghindar, membiarkanku bermain-main terlalu lama dengan api hingga semuanya membakarku tanpa terkecuali. Mungkin ini saatnya aku menyebur ke lautan yang penuh dengan api yang menenangkan, mendinginkan semua api yang mencoba membakarku. "Kalau tidak keberatan, saya mau ke rumah ibu," jawabku. Senyum ibu ini langsung melengkung. Dia kembali memegang bahuku, turun dan mengusap punggungku. Entah apa di pikirannya. "Tentu saja tidak keberatan, dek. Kapanpun adek mau ke rumah ibu, pintu ibu selalu terbuka lebar untuk siapapun." "Terima kasih, Ibu..." Dan benar saja, aku pergi bersamanya. Sembari berjalan, ibu ini kembali bertanya padaku. Sepertinya dia masih curiga dan belum cukup dengan jawaban yang aku berikan padanya. Itu terkesan mengada-ada dan tidak masuk akal. Yang aku takutkan itu adalah setiap pertanyaan yang diajukannya selalu berakhir membuatku kesulitan menjawabnya. Ibu ini terlalu pintar dan aku terlalu bodoh dalam hal berbohong. "Adek punya temen tidak?" Tanyanya. Aku terdiam, agak lama. "Punya." "Punya pacar?" Tanyanya lagi. Ah, terlalu bercanda pertanyaannya. Kalau menjawab punya teman atau tidak saja aku butuh lama untuk menjawabnya, maka untuk menjawab apakah aku punya pacar atau tidak, aku butuh waktu sampai besok. "Tidak, Bu," jawabku singkat. "Tidak punya pacar?!" Ia kaget dengan jawabanku hingga memutuskan berhenti berjalan. "Iya, ibu," jawabku. "Tapi teman cowok pasti punya, kan?" Tanyanya lagi dan lagi. Tanpa perlu pikir panjang, aku menggeleng lagi. Masalah menganggap Adam ada atau tidak ada, selama ini aku banyak menyusahkannya dan teman tidak pernah demikian. "Memangnya kenapa ibu tanya itu?" Kini giliran aku yang bertanya. "Tidak ada. Ibu hanya kebingungan saja. Kenapa seseorang seperti kamu yang berasal dari keluarga elit tidak punya teman? Seharusnya salah satu dari mereka akan bersamamu." Sumpah demi apapun, aku seketika terdiam. Lagi-lagi, sedikit lagi dia akan membongkar siapa sebenarnya aku ini. Tidak punya teman, tidak punya keluarga, tidak punya rumah, bahkan aku hampir tidak punya jati diriku lagi. Ya, itu lah aku. Abila Sanda, gadis yang miris! "Saya punya teman, Ibu. Tapi biasanya mereka tidak menjemput, langsung ketemu di sekolah. Tapi karena tadi ada masalah di rumah dan saya belum sempat memberitahu mereka, mereka tidak tahu saya tersesat seperti ini. Mungkin kalau mereka tahu, mereka akan menjemput saya," ujarku berusaha menjelaskan. "Itu artinya sekarang kamu tidak bawa HP ya, dek?" Tanyanya. Damn! Bukan tidak bawa HP, lebih tepatnya tidak punya! Akan kuberitahu kepada seluruh manusia di penjuru dunia ini kalau aku adalah orang yang paling miskin di dunia ini. "Lupa, Bu," ujarku. "Baiklah." Entah dia percaya atau tidak, dan aku berharap pertanyaan demi pertanyaan itu dihentikan. Lalu dia menunjuk ke arah plang yang bertuliskan 'Panti Asuhan Cinta Ibu'. "Itu panti asuhan yang saya kelola." "Keren, Bu," kataku. Sesampainya kami di panti asuhan Cinta Ibu, baru saja ibu ini membuka gerbang, banyak kucing-kucing yang berlari ke arah kami. Kucing-kucing yang sangat lucu, ingin sekali memegangnya, tapi aku tidak berani. Itu bukan milikku. Kecuali sang pemilik memberikan izin. "Kucing ibu banyak sekali," ujarku. "Iya. Kalau ibu keluar jalan-jalan, terus nemu kucing yang tidak diurus di jalan, ibu bawa pulang. Di sini banyak yang mau urus daripada dibiarkan kelaparan bahkan sampai mati dilindas mobil di jalan raya sana." Ibu itu mengambil satu kucing, yang paling gembul. Lalu dia memberikannya padaku. "Kalau kamu suka merawat kucing, kamu bisa membawanya. Ibu percaya kamu bisa mengurusnya dengan baik." Bukan permasalahan mau mengurus atau tidak. Aku bahkan sangat senang punya kucing peliharaan. Tapi, yang menjadi permasalahannya adalah Erina dan Mama. Mereka pasti tidak suka. Aku takut kucing-kucing itu malah berakhir mati di tangan mereka. Daripada itu terjadi, lebih baik menolak, kan? "Sepertinya saya lebih baik bermain dengan mereka di sini saja. Kalau bawa pulang, takutnya saya tidak bisa mengurusnya dengan baik. Kebanyakan waktu saya disita dengan belajar dan les, tidak di rumah. Takutnya tidak dikasih makan dengan benar oleh pembantu-pembantu saya." Apakah aku seorang komedian? Pembantu-pembantu saya?! Hei, bahkan aku lah pembantu itu. Astaga, lucu sekali. "Oh, begitu? Baiklah, tidak masalah. Ibu harap setelah ini kamu banyak main ke rumah ibu ya." Aku mengangguk. "Kalau ada waktu, pasti saya ke sini, Bu," ujarku. Lalu setelahnya kami berdua masuk. Dan benar saja, aku melihat banyak anak-anak dan beberapa yang sudah dewasa. Entah mereka yang mengurus atau bagaimana, tapi fokusku ada pada anak-anak itu. Mereka lucu-lucu, punya aura yang baik pula. Mereka dirawat dan dibesarkan pada orang yang tepat, menjadikan mereka menjadi orang yang baik pula. "Anak-anak, lambaikan tangan pada kakak kalian. Namanya kak—" ibu ini menoleh padaku, menanyakan nama. Aku bahkan sampai lupa kalau aku belum mengatakan nama asliku padanya. "Abila, ibu," jawabku. "Oke, kakak Abila!" "Halo, kak Abila!" "Hai, kak Abila!" Semuanya melambaikan tangan padaku. Ada yang sampai mengabaikan makanannya, ada yang sampai melepaskan mainannya, melepaskan bukunya—hanya untuk berlarian ke arahku, menyerangku dan memelukku ramai-ramai. Apakah ini adalah budaya perkenalan orang baru di sini? Kenapa terasa sangat menyenangkan sekali?! Aku suka!!!! Mungkin aku tidak bisa mendapatkan pelukan kasih sayang dari orang tuaku, tapi aku bisa mendapatkannya dari mereka. Anak-anak kecil yang belum tahu apa itu dosa dan kesalahan, masih amat suci. Apapun yang mereka lakukan tidak bisa disalahkan. Aku bahkan sampai terharu banyak yang memelukku seperti ini. Membuatku merasa sedang dikuatkan oleh mereka. Ya Tuhan, apakah selama ini aku tidak pernah bersyukur? Mereka membuatku tersadar. "Kenapa adek nangis?" Tanya ibu itu. Aku tertawa. "Tidak ibu. Saya hanya terharu. Pelukan erat anak-anak ini membuat saya terharu. Saya emang suka berlebihan, abaikan saja." Dan aku lanjut membalas pelukan mereka. Dunia kebaikan seakan sedang memelukku saat ini di saat aku berpelukan dengan anak-anak ini. Aku tidak ke tempat yang salah, melainkan sebaliknya. Aku tidak akan pernah meninggalkan tempat ini. Aku berjanji, sebisa mungkin aku harus menghafalkan jalan ke rumah panti ini dan sering-sering diam-diam ke sini. Mau setelah sampai rumah dimarahi atau tidak, yang penting aku bisa merasakan kasih sayang yang amat besar ini. Aku tidak menyesal! "Anak-anak, sudah ya pelukannya, kakak Abila harus sarapan setelah ini." Dan mereka sangat patuh dengan ucapan ibu ini. Satu per satu dari mereka melepaskan pelukannya denganku, kembali ke kegiatan masing-masing. Amat sangat patuh dan disiplin dengan ucapan ibu ini. Kesalahan terbesarku belum menanyakan namanya. Akan aku ingat dan tanyakan nanti. Akan aku ukir dalam benakku, kalau ibu ini lah yang berhasil membawaku ke dunia penuh damai ini. Dunia kecil tapi amat sangat besar dampaknya bagiku. "Ayo dek, ikut sama ibu. Perutmu sudah keroncongan, jangan dibiarkan kosong terlalu lama." Aku mengikuti ibu itu dari belakang. Sepanjang melewati anak-anak, aku terus melambaikan tangan ke mereka. Membiarkan air mata terus mengalir tanpa diminta. Ini adalah tanda kebanggaan pada diriku sendiri yang berhasil memeluk duniaku setelah lama aku mencarinya. Di tempat ini aku menemukan syukur yang selalu aku cari-cari. Tempat kecil yang isinya menggambarkan syurga. Hingga akhirnya kami sampai di dapur. Aku duduk di salah satu kursi. Selagi menunggu ibu itu membawakan nasi untukku, aku terus memperhatikan kondisi dapurnya. Lengkap, besar, walau sederhana. Sepertinya tidak mungkin ibu ini mengurus panti sendirian. Pasti ada yang membantunya dan akan senang hati aku akan mendaftar menjadi salah satunya. Entah persyaratan apapun yang harus dipenuhi, aku harus daftar! "Sarapan di rumah ini mungkin tidak seperti yang di rumahmu, tapi ini masih layak untuk mengganjal lapar." Ibu itu menaruh sebuah piring yang sudah lengkap dengan nasi dan lauk. Dia juga menaruh teh hangat di samping piring. "Makan lah dek. Kalau adek tidak mau makan tahu dan tempe ini, ibu bisa pesankan makanan setelah ini. Tapi adek harus nunggu." "Tidak perlu, ibu. Ini saja sudah sangat cukup," ujarku. Mulai menyuap nasi yang diberikannya dengan sepenuh hati. Lagi-lagi rasanya aku mau menangis. Entah untuk alasan apa lagi. Dunia ini selalu membuatku kebingungan, selalu membuatku lemah. "Kenapa, dek?" Tanyanya. "Bolehkah saya bercerita, ibu?" Lalu tangisku kembali deras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN