Bab 19. Papa Mulai Sadar

2748 Kata
"Apa maksud lo!" Teriakku. Tiba-tiba menyeretku dan menyiramku dengan air kotor. Dari yang bisa aku cium baunya, ini seperti bau air bekal pel. Sepertinya dia habis melakukan itu, pekerjaan cukup berat yang biasa aku lakukan setiap harinua. Tidak mungkin ia meminta atau membeli air bekas pel di tetangga hanya untuk menyiramku seperti ini. Apakah mungkin dia menggantikan posisiku hari ini? Hanya karena mereka tidak menemukan aku ada di sini? Kalau memang itu benar-benar terjadi, maka aku akan bersyukur. Setidaknya Erina merasakan apa yang sudah aku rasakan. Agar dia mengerti betapa beratnya pekerjaan yang aku lakukan di rumah ini. Agar dia tidak meremehkan. Dia terlihat sangat marah. Wajahnya memerah, alisnya naik kuat, garis wajahnya mengeras, ia dikendalikan emosi terdalam. Seperti yang sering aku katakan, kalau dia marah, dia bisa saja membunuhku. Ia begitu murka padaku saat ini. Tapi sejauh ini dia masih membutuhkanku. Tidak akan mungkin dia akan melakukan itu atas dasar dendam pribadinya. "Gara-gara lo keluyuran di luar rumah kayak perempuan enggak bener yang enggak pulang-pulang seharian, gue harus terpaksa ngelakuin semua pekerjaan rumah yang seharusnya itu lo yang kerjain!" "Gue harus ngepel, harus nyapu rumah dari atas sampai bawah, gue harus siram taman, gue harus cuci piring, SEMUANYA!" "Itu semua karena lo keluyuran di luar rumah dan gue enggak bisa kumpul-kumpul sama temen-temen gue!" Bentar. Kalau begitu, artinya dia tidak tahu aku keluar dengan Adam, dong? Dia hanya tahu aku keluar rumah tanpa tujuan. Maksudku, dia tidak tahu menahu tentang kecerobohan yang dilakukan Adam. Baguslah. Dia memang tidak seharusnya tahu atau dia akan berubah jadi setan. Yang akan mengamuk sekuat tenaga, tidak bisa dikendalikan, tidak mendengarkan siapapun, hanya mengutamakan dirinya sendiri. Cukup bersyukur mengetahui dia tidak tahu apa-apa. Dan saatnya mengalihkan perhatiannya. Dia tidak boleh bertanya apapun mengenai kenapa aku bisa pulang pagi-pagi seperti ini. Dia tidak boleh sampai penasaran dengan siapa aku pulang pagi ini. "Ya udah, gue minta maaf kalau lo harus melakukan ini semua karena gue. Sekarang apa yang belum lo kerjain? Gue bakal lakuin sekarang juga." Dan meminta maaf adalah hal yang sering dan selalu aku lakukan. Mau dia atau aku yang salah, tetap aku lah yang meminta maaf. Itu lah aturan mainnya jika bersama dengan Erina dan segelintir orang-orang yang suka menekan kelemahan orang lain. "Telat!" Erina membentak. Kalau aku tidak salah merasa, air liurnya sampai mengenai wajahku. Tenang, tahan, dia sedang marah saat ini. Jika dilawan dengan kemarahan juga, sama artinya dengan memperbesar api, maka semuanya tidak akan berakhir. "Gue udah ngelakuin semua pekerjaan rumah sampai pinggang gue encok!" "Lo udah nyapu? Ngepel? Cuci baju? Setrika baju?" Tanyaku, mendikte beberapa pekerjaan yang biasa aku lakukan. "Udah!" Balasnya lagi-lagi membentak. Tidakkah dengan cara yang halus? Nada bicara yang diturunkan sedikit saja. Membentak tidak akan membuat segalanya menjadi lebih baik. "Thank you lo udah mau mengerjakan semua pekerjaan gue. Sekarang lo rasain kan apa yang gue rasakan setiap harinya? Gimana lelahnya, gimana ribetnya, gimana memusingkannya. Setidaknya ini menjadi pembelajaran buat lo kalau pekerjaan gue tidak semudah itu. Dan setidaknya ini juga menjadi pertimbangan lo untuk tidak selalu memaksa gue melakukan ini itu dengan cepat, karena semuanya butuh waktu dan gue juga manusia." Erina bungkam, tidak melawan apalagi membentakku lagi. Bahkan ia sampai mundur satu langkah dengan ekspresi wajah yang mulai menenang. Ya, tarik napas, buang napas, dan cobalah mengerti. Kali ini aku berani menyuarakan kebenaran atas dasar apa yang dirasakan langsung oleh Erina. Dia tahu bagaimana lelahnya aku, maka seharusnya dia juga paham dengan apa yang aku katakan kini. Dan aku harap, segala jenis ketidakadilan yang aku rasakan akan segera terhapuskan, dan tergantikan dengan kasih sayang yang aku idam-idamkan. Ya, itu harapanku. Entah Tuhan mau mengabulkannya kapan. Aku parahkan semuanya setelah ikhtiar yang aku lakukan. "Kalau lo enggak ada urusan lagi sama gue, sebaiknya kita berdua masuk ke dalam rumah. Lo bersihin diri lo dan istirahat, pun begitu juga dengan gue. Setelah gue mandi, gue bakal masak untuk kalian. Gue yakin kalian belum sarapan, kan?" Erina mengangguk. Untuk pertama kalinya ia menyetujui apa yang aku katakan. Rasanya? Senang, tapi aneh. Mungkin karena di benakku dia adalah orang yang keras yang selamanya penuh dengan kemurkaan kepadaku, maka ketika ia mulai bertindak baik yang tidak seperti biasanya, malah terkesan aneh. Ya, sudahlah. Seharusnya aku bersyukur dia sedikit berubah, meski hanya nol koma sekian persen. Masih banyak dendamnya padaku. Tapi setidaknya dengan dia mengangguk dan sedikit mengakui, itu menandakan sedikit dari dirinya mau berubah. Aku berterima kasih padanya dan pada Tuhan yang mau mendengarkan doaku. Erina melempar ember pel yang dipegangnya asal-asalan, lalu berbalik pergi. Sudah biasa, dia memang suka meninggalkan semuanya dalam keadaan berantakan. Dan untuk kasus yang sama, meski ia sudah mengaku melakukan semua pekerjaan rumah, setelah ini aku harus memastikan apakah yang ia kerjakan sudah baik atau malah sebaliknya. Sebab Erina tidak pernah melakukan itu selama hidupnya. Kalau tiba-tiba, jadinya agak meragukan, bukan? Aku mengambil embel pel yang biasa aku pakai. Dan benar saja, aku melihat masih banyak cairan pel yang belum melarut, yang masih menempel di badan dalam ember tersebut. Entah bagaimana cara Erina melakukannya, setelah ini aku harus memeriksa kembali. Jika tidak akan membahayakan nantinya. Bisa jadi ada yang terpeleset karena belum dibersihkan dengan baik. "Bentar deh, gue penasaran. Kalau emang lo keluyuran sampe pagi, kemana lo pergi dan sama siapa? Lo enggak mungkin pergi sendiri sedangkan lo enggak punya apa-apa. Bahkan duit pun lo enggak punya." Erina tiba-tiba menodongku dengan pertanyaan demikian. Ini lah yang aku takutkan dan aku bingung mau menjawabnya dengan apa. *** Kembali seperti sebelumnya. Melakukan pekerjaan rumah yang tiada hentinya, tiada waktu istirahat, seharian tangan dan tubuh dipaksa melakukan pekerjaan. Entah untuk rumah tangga atau untuk melayani si Nyonya yang mau dipijat karena kelelahan mengerjakan sedikitnya setengah dari yang biasa aku lakukan. Iya, Erina terus mengeluh, bahkan menangis seperti anak kecil sebab pinggangnya terasa sakit setelah mengepel. Begitu berlebihan, harus dipijit lah, dimanja lah, ini lah, itu lah. Memang princess. Padahal kami berdua sama-sama anak Mama dan Papa, tapi kenapa harus dia yang diPUTRIkan, sedangkan aku yang diPEMBANTUkan. Kalau bicara tentang semua ketidakadilan, memang tidak ada habisnya. Setiap pagi, siang, dan malam aku akan memasak. Setelahnya menghidangkannya di atas meja makan yang nantinya akan diisi oleh Papa, Mama, dan Erina. Sedangkan aku? Menunggu dan menanti makanan sisa. Kalau mau nakal, aku bisa aja menyisihkan sebagian nasi dan lauk, kemudian diam-diam memakannya di dapur. Tanpa sepengetahuan mereka. Tapi tadi aku tidak sempat melakukannya. Keburu ketahuan Mama. Untungnya aku tidak sampai dimarahi. Sembari menunggu mereka, biasanya aku melanjutkan pekerjaan ku yang belum selesai, seperti menyetrika baju-baju mereka. Karena memang banyak yang harus digosok dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Aku sering kali menyicilnya, bahkan sampai tengah malam baru semuanya selesai. Dan saat itu lah aku bisa beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan atau perintah tambahan dari mereka. Hari ini total cucian yang akan digosok dua kali lipat dari yang biasanya. Kemarin aku tidak di sini, jadilah seperti ini. Ya memang Erina sudah mengakui kalau dia sudah melakukan semua pekerjaan rumah, termasuk menyetrika baju. Tapi tadi sebelum makan, Mama mendatangiku dengan segunung baju yang masih kusut dan sudah dimasukkan ke lemari baju. Jelas terlihat itu tidak pernah disetrika. Dan jelas sudah kalau Erina berbohong pada Mama dan Papa, tidak hanya padaku saja. Tidak hanya masalah cucian, masalah mengepel dan menyapu pun demikian. Benar-benar kacau. Aku harus mengulanginya lagi. Pun juga dengan cucian piring. Masih banyak sabun cuci piring yang menempel. Mau menggelengkan kepala heran pun sudah tidak bisa, semuanya pasti bisa terpikirkan dengan logika. Karena memang Erina tidak pernah diajarkan melakukan pekerjaan ini. Tidak sedikitpun. "Abi...." Agak kaget mendengar namaku dipanggil, untungnya setrika yang aku pegang tidak sampai terjatuh. Jika tidak nantinya akan rusak dan aku tidak punya uang untuk menggantinya. Itu adalah masalah besar. Setelah mematikan aliran listriknya, kemudian aku berbalik berhadapan dengan orang yang memanggilku. "Iya, Pa?" Tumben-tumbenan Papa datang menghampiriku, biasanya tidak pernah sama sekali. Apalagi seharusnya sekarang dia sedang makan dengan Mama dan Erina. Lalu apa yang dia lakukan sekarang? "Kamu sibuk?" Tanya Papa. Astaga, apakah aku harus menertawakan Papa atas pertanyaan bodohnya? Maksudku, seharusnya dia melek dan melihat apa-apa yang sudah aku kerjakan seharian ini. Mulai dari memperbaiki semua pekerjaan fatal yang dilakukan Erina, mengurus Erina dan Mama, memasak, dan kini menyetrika hingga tengah malam. Jika demikian, tergolong sibuk atau tidak? Tapi aku tidak bisa mengakuinya dengan jawaban jujur, kan? Sama saja dengan merendahkan Papa nantinya. "Enggak, Pa. Abi enggak sibuk, kok. Cuman menyelesaikan sedikit pekerjaan aja, habis itu istirahat." Melebarkan senyum seakan semuanya baik-baik saja, seolah semuanya tidak ada apa-apa, padahal ada apa-apa. Kulihat Papa menarik satu kursi dan duduk di sana. Ada apa ini? Sepertinya dia mau membahas sesuatu hal yang penting. Tidak biasanya, bahkan bisa dikatakan tidak pernah seperti ini. Apakah aku melakukan kesalahan yang sangat fatal? Yang akan membuatku diusir dari rumah ini secepatnya? Ah, tidak mungkin. Bisa hancur rumah ini kalau aku tidak ada. Sehari ditinggal saja sudah berantakan, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Mau merekrut pembantu pun sepertinya Mama yang keberatan, akan mengurasi uang belanjanya. Jika tidak, seharusnya dia sudah lama merekrut pembantu, alih-alih menjadikan anaknya sebagai pembantu. "Ada apa, Pa? Tumben temui Abi." Keberanikan diriku bertanya pada Papa. Toh aku rasa ini tidak salah, aku bahkan tidak menyerang fisik ataupun mental Papa. Hanya mencoba bertanya. Tolong digaris bawahi. "Apakah Abi melakukan kesalahan hari atau kemarin-kemarin?" Tanyaku lagi. "Tidak." Lalu? Aku bingung. Kalau memang tidak diantara yang aku sebut tadi, untuk alasan apa dia kemari? Aku jadi takut. "Terus apa, Pa?" Tanyaku. "Papa cuman mau tanya, kemana kamu kemarin? Kenapa tidak ada di kamar? Kemana kamu pergi seharian tidak pulang-pulang?" Oh, masalah kemarin. Sepertinya kepergian aku dari rumah ini tidak hanya berdampak ke Erina saja, bahkan juga berdampak ke Papa. Pasti sebentar lagi Mama akan menodongku dengan pertanyaan yang sama, yang tentu saja dengan nada yang berbeda. Mama meledak-ledak, sedangkan Papa masih bisa dikatakan lembut. "Hmm...," Bingung memulainya dengan jawaban apa. Agak-agaknya, bahkan kini dengan Papa melihatku terus, aku jadi agak gugup. Karena itu aku menunduk, dan rasanya semakin tidak baik. "Bingung ya mau jawab apa?" Tanya Papa dan tanpa pikir panjang aku mengangguk setuju. Tertawa kecil mengetahui Papa bisa menebaknya dengan baik. "Iya, Pa. Abi bingung mau menjawabnya dengan apa. Masalahnya selama ini enggak ada yang peduli sama Abi. Mau melakukan ini itu enggak ada yang nanya. Bahkan kalau Abi sakit pun enggak ada yang rawat. Giliran Abi pergi, semuanya cari Abi. Memang ya Abi selalu aja salah di mata kalian meski Abi tidak melakukan apa-apa." "Bukan begitu, nak." Nak, panggilan hangat yang aku impikan. Akhirnya setelah sekian purnama aku bisa mendengar panggilan itu dari suara orang tuaku sendiri. Apakah kini aku diakui sebagai anak? Ah, senang sekali rasanya. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Ini perasaan hangat yang berbeda meski hanya Papa yang mengucapkannya. Bahkan aku mau menangis. "Kami bukannya tidak menganggapmu, apalagi hanya mencarimu saat butuh saja. Tapi memang sejak awal semuanya sudah dimulai dengan cara yang salah dan Papa tidak bisa memperbaikinya. Mama dan Erina sudah terlanjur memasrahkan semua tugas pekerjaan ke kamu. Papa tahu ini salah, sejak awal. Tapi Papa benar-benar tidak bisa memperbaikinya. Itu salah Papa." Agak kaget mendengar Papa berbicara panjang lebar seperti ini. Biasanya hanya sepatah dua patah, ditambah dengan sikap cuek yang selalu ia lakukan padaku. Tapi kini berbeda, walau ia mengakui kesalahan yang selama ini terjadi. "Karena itu lah, Papa tidak bisa melepaskan kamu walau bagaimanapun Mama dan Erina memperlakukan kamu. Segala hal yang mereka lakukan, salahkan Papa saja." Dan ini lebih mengagetkan lagi. Secara tidak langsung Papa membiarkan Mama dan Erina menyiksaku. Memang membiarkanku melawan dan mengadu, tapi segala hal kesalahan itu berpindah ke atas nama orang yang salah. Papa tidak melakukan apapun, dia yang disalahkan, itu namanya tidak adil. Dunia tidak bekerja seperti itu pada mereka. Lain halnya pada duniaku. "Apa kamu bisa melakukan itu untuk Papa, nak? Tetap sabar dan tenang. Apapun yang mereka lakukan, jangan pernah berpikir untuk pergi dari rumah ini. Hanya itu yang Papa harapkan dari kamu," sambungnya lagi, mengharapkan ketersediaan ku. Aku tidak terima. Sama sekali tidak akan pernah ikhlas. Bisa jadi ini bukan permintaan Papa, melainkan paksaan dari Mama dan Erina. Sebelum ke sini, bisa jadi Papa diminta agar memohon-mohon padaku, karena mereka sudah tahu bagaimana sulitnya mereka kalau aku sampai tidak ada di rumah ini—untuk mereka. "Kalau Abi tidak terima, bagaimana Pa?" Tanyaku iseng ingin tahu apa yang akan terjadi kalau aku malah memilih sebaliknya, melawan permintaan Papa. "Apakah Papa akan mengusir Abi dari rumah ini?" Tanyaku lagi. "Karena jujur saja Abi sudah muak dipermalukan, dipermainkan, diperlakukan tidak adil seperti ini. Tidak hanya sekali atau dua kali, tapi setiap hari. Abi lelah, Abi punya perasaan, tapi kalian tidak pernah memperlakukan Abi seperti manusia yang punya hati nurani." Aku tidak peduli kalau aku menangis di hadapan Papa saat ini. Biar Papa juga bisa melihatku sesekali bagaimana lelah dan lemahnya aku. Tidak selamanya aku kuat, aku hanya berusaha kuat dengan kekuatan yang tersisa. "Abi pengen jadi remaja biasa di luar sana. Yang punya temen, punya HP, punya waktu nongkrong, punya akses belajar, punya KELUARGA!" Meneriaki 'keluarga', tangisku jadi pecah. Sama sekali, aku tidak peduli dengan kebenaran bahwa aku tidak punya teman atau tidak punya HP. Aku hanya menyayangkan kenyataan kalau aku tidak punya keluarga. Itu sangat menyedihkan. Antara ada dan tiada. "Maafkan Papa...." Dan Papa menunduk. Bukan ini yang aku inginkan darinya. "Tidak, bukan Papa yang salah, Abi lah yang salah. Sejak awal Abi tidak pernah melawan, terus mau di suruh melakukan ini itu. Kalian jadi terbiasa dan semakin meremehkan Abi." "Selama ini Papa selalu bungkam, diam dan tidak mau berkomentar. Papa cuek, papa tidak peduli, Papa anggap semuanya tidak penting. Sama seperti Mama, dia hanya mementingkan dirinya dan Erina. Dia hanya mau menghambur-hamburkan uang Papa, tanpa mau mengerti seberapa sulitnya Papa mendapatkan uang itu. Mama bahkan tidak peduli dengan Papa. Dan Erina—" Papa mengangkat pandangannya, berdiri dan menghampiriku. Untuk pertama kalinya lagi Papa memelukku di kala aku jatuh, di kala aku lemah, di kala aku butuh pelukan. Kali ini Papa ada di saat yang tepat. Aku membalas pelukan Papa, bahkan lebih erat daripada yang ia lakukan. "Dia tidak pernah menganggap Abi ada. Dia selalu memperlakukan Abi dengan buruk. Membentak, memarahi, bahkan main tangan seenaknya. Dia dan Mama tidak jauh lebih baik dari monster. Seumur hidup Abi tidak pernah memaafkan mereka," kataku. "Tapi Papa malah minta Abi membiarkan mereka melakukan apapun pada Abi. Itu sama saja artinya dengan membiarkan mereka membunuh Abi secara perlahan-lahan, Pa. Tolong mengerti lah posisi Abi. Abi lelah." *** "Mulai hari ini Papa memutuskan untuk mencari pembantu baru yang bisa mengurus semua pekerjaan rumah," kata Papa tiba-tiba di saat aku sedang melayani sarapan mereka. Seketika semuanya menjadi hening. "Bukannya semuanya udah dikerjain sama Abi?!" Tentu Mama lah yang pertama kali menolaknya karena sudah pasti uang belanjanya akan dipangkas. "Lagipula memperkerjakan pembantu itu nambah-nambah pengeluaran. Selagi Abi masih bisa melakukannya, dia saja. Toh dia juga tidak punya kesibukan." Aku hanya diam saja walau aku sempat melihat Erina menatapku dengan tajam. "Abi akan fokus sekolah dan mengambil les seperti Erina. Masalah pengeluaran rumah tangga, Papa juga yang akan mengurusnya dan Mama bisa mengembalikan semua kartu Papa yang Mama pegang. Ini Papa lakukan supaya keluarga kita aman, adil, tanpa ada kecurangan sedikitpun." "Maksud Papa, selama ini Mama enggak becus pegang uang Papa?" Tanya Mama yang sudah naik pitam. Aku yakini setelah ini perdebatan akan terus berlanjut, dan ujungnya apa? Aku yang salah. "Kenyatannya setelah Papa mengecek mutasi rekening Papa, banyak pengeluaran tidak terduga. Selama ini Papa diam, tapi kalau nominalnya tidak masuk akal, Papa patut curiga," lawan Papa. Aku tidak mengerti kenapa sekarang Papa malah berani melawan Mama setelah sekian lama membungkam. Mama tiba-tiba menggebrak meja, membuat semuanya kaget. Tidak terkecuali Papa. "Kalau Papa patut curiga, Mama juga patut curiga. Papa jadi berubah gini setelah ketemu sama Abi tadi malam. Lalu tiba-tiba Papa mau membiarkan dia belajar, bahkan mau mendaftarkan dia les. Apa Papa enggak takut nantinya dia akan jadi anak yang durhaka? Kacang lupa sama kulitnya?!" Tuh, kan, sudah diduga, aku lah yang akan disalahkan. Sudah biasa. "Enggak. Papa akan berusaha untuk tidak membeda-bedakan anak-anak Papa. Abi ataupun Erina punya hak yang sama. Apapun yang Erina dapatkan sudah seharusnya Abi juga mendapatkannya. Cobalah buka mata hati Mama dan coba mengerti kalau kedua anak-anak kita itu hebat." Bolehkah aku menangis? Tuk pertama kalinya Papa mendukungku secara penuh di depan Mama dan Erina. Papa sudah membuatku merasa tersentuh dengan perlakuannya yang—cukup. Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata. "Hebat?" Tanya Mama meremehkan, lalu dia menunjukku. Tunjukan tangan yang amat sangat tegas. "Hebat darimana?! Dia bahkan sudah berani keluar seharian tidak pulang-pulang seperti seorang p*****r!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN