Bab 18. Kebocoran Rahasia?

3191 Kata
Seharusnya aku berpikir positif saat ini dan beberapa jam kedepannya, bahkan selamanya. Tentang Adam, tentang keluargaku, tentang semuanya dalam hidupku. Pikiran negatif hanya akan membawa kesengsaraan bagi si pemikirnya, bukan untuk orang lain, sama sekali. Sebenarnya yang menyakiti itu bukan orang lain, tapi diri sendiri yang tidak bisa mengendalikan pikirannya dengan baik. Ya, sepertinya aku contohnya. Aku sadar dan aku mengakui. Sekarang, meski malam sudah sangat larut, waktu terus berjalan, suasana semakin dingin dan selimut semakin kueratkan di badanku, tetap saja aku tidak bisa tidur. Aku terus terpikirkan dengan kali terakhir Adam memandangku lalu melengos dengan cara yang tidak biasa. Memang kami tidak terlalu dekat tapi selama ini ia tidak pernah sampai seperti itu. Itu seperti sorot kekecewaan. Seharusnya aku merasa biasa saja, aku bahkan pernah mengalami yang lebih buruk dari ini, tapi tidak bisa. Caraku memikirkan Adam sangat berbeda dan cukup berat, mengalahkan caraka memikirkan seperti apa hukuman yang menantiku nantinya saat sudah sampai di rumah. Adam memenangkan pikiranku saat ini. Dan entah sudah berapa kali menghela napas kasar, tidak terhitung. Karena aku muak dengan diriku sendiri. Bisa-bisanya aku memikirkan ia, padahal aku sudah berjanji akan menjauhinya atas nama hidup damai yang aku idam-idamkan, atas nama ketenangan yang tidak mau aku ganggu gugat. Tapi apa? Aku malah mengkhianati diriku sendiri. "Dia pasti marah." Kalimat itu terus aku katakan, dan semakin menambah rasa bersalahku. Tiap detik, tiap menit, tiap waktu rasanya aku ingin mencekik diri sendiri. Aku hanya lelah saja. Aku ingin tidur, tapi ada hal yang lebih—astaga, rasanya kurang ajar sekali. Sepertinya benar, tanpa sadar perasaan itu sudah ada. Hanya aku saja yang terus mencoba membelainya. Pertanyaannya sekarang, kenapa perasaan itu cepat sekali ada dalam diri setiap manusia, termasuk aku? Itu murni tanpa paksaan. Perasaan ini suci, muncul tanpa diminta namun karena yang terasa. Ini terasa indah, mencekam, meresahkan, dan terkadang kosong. Hebat sekali. "Tidak. Aku tidak bisa tidur." Dan aku memilih bangun dari semua kegalauan ini. Berbaring terus menahan dingin tanpa ada niatan tidur, sama saja bohong. Mending aku bangun, entah melakukan apa. Peregangan, atau mungkin bisa juga menatap langit malam yang kali ini lumayan cantik. Tidak, bukan lumayan lagi, tapi sangat indah. Suasana langit di sini lebih indah dibanding langit di Jakarta. Butiran bintang-bintangnya terlihat jelas, tidak tertutup awan sedikitpun padahal tadi sempat hujan. Mungkin karena suasana di sini juga lebih tenang dibanding di sana, maka semuanya terasa indah dan mendukung tanpa sengaja. Cukup lama memandang langit, sayup-sayup aku mendengar suara grasak-grusuk dari bawah. Sepertinya ada yang tidak bisa tidur juga sepertiku. Apakah itu Adam? Atau mungkin salah satu dari anak si Kakek dan Nenek. Malam ini memang aneh, tidak hanya aku saja yang merasakannya. "Apa aku turun aja kali ya?" Sedikit bimbang. Bukan karena malas ke bawah. Justru aku ingin banyak gerak hingga badanku terasa panas dan rasa dingin ini tidak terasa mencekam, melebur hingga tidak terasa. Tapi yang aku ragukan itu, kalau semisal nanti yang masih terbangun adalah Adam dan aku sudah terlanjur memilih turun, kemudian dia melihatku keluar dari rumah pohon ini, pasti akan sangat aneh kalau aku tidak menemuinya. Seperti terakhir kali. Itu sangat aneh dan aku mengakui kalau aku menyalahkan diriku sendiri. Kalaupun yang di bawah itu adalah anak-anak dari Kakek dan Nenek, aku mau ngomong apa sama mereka? Pasti aneh kalau tiba-tiba jadi dekat. Aku bukan orang yang seperti itu. Bukan orang yang tiba-tiba dekat dengan orang lain apalagi sampai tertawa serius bersama setelah berbagai topik yang dibicarakan. Aku orang yang pendiam. Astaga, serba salah. Mana kebenaran statement tentang perempuan yang selalu benar? Itu bahkan tidak bisa dipercaya sama sekali pada diriku. Bahkan kini aku merasa semuanya salah dan terasa canggung bahkan pada diriku sendiri. Aku mau melakukan itu, salah. Mau melakukan ini, salah juga. Tidak lama kemudian, suara grasak-grusuk itu memang sudah tidak terdengar lagi, namun entah siapa yang melempar batu ke rumah pohon ini. Suara pantulan baru dengan kayu terdengar jelas. Tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali seolah dilakukan dengan sangat sengaja. Masa iya ada orang iseng yang mau mengganggu? Sedangkan villa ini sangat privat. Batasnya dengan perumahan terdekat pun cukup jauh. Kalau Adam yang melakukannya, bisa jadi. Tapi buat apa? Apakah dia segabut itu? Tidak mungkin dia. Tapi, terkesan horor. Yang melempar batu tidak bersuara, dan aku yang ada di dalam rumah pohon ini sendirian tidak berani bersuara. Setiap kali suara lemparan itu terdengar, bulu kudukku semakin naik. Nyaliku menciut, pikiranku terbang ke mana-mana berasumsi kalau bisa jadi itu kiriman dari makhluk gaib yang tidak suka denganku. Saking takutnya aku saat ini, aku mojok sembari senantiasa menatap ke arah pintu. Siapapun itu, alasannya mengganggu tidak lain dan tidak bukan pasti untuk menakut-nakutiku. "Ternyata rumah orang kaya bisa hantuan juga. Mana hantunya bisa lempar batu juga. Enggak nyangka banget," gumamku, semakin merasa takut. Tidak pernah sedikitpun mengalihkan perhatian dari pintu masuk. Antara pintu masuk, jendela, atau atap rumah pohon ini. Hantu itu pasti masuk dari tiga kemungkinan itu. Tidak mungkin dari bawah, lantai kayunya sangat kuat. Eh tapi, tidak ada yang tidak mungkin. Makhluk gaib bisa menembus apapun dan itu membuatku semakin takut. "Ya Tuhan ... Selamatkan aku." Tidak terdengar suara grasak-grusuk atau suara lemparan batu lagi, kali ini sepi. Mungkin si pengganggu mengira aku sudah nyenyak tidur sampai tidak ada waktu untuk menanggapi bercandaannya. Dan hilangnya suara itu membuatku berani memilih satu hal. Mau ada Adam di bawah atau tidak, aku harus keluar dari kamar ini segera. Aku sudah terlanjur takut, butuh seseorang yang bisa mendampingi meski hanya duduk saja sampai pagi menyingsing. Astaga, gaya sekali aku sampai butuh seseorang yang bisa mendampingi. Erina pasti langsung tertawa hingga perutnya kram jika tahu aku sedang mengharapkan sesuatu. Apalagi Mama, dia pasti sewot. Mereka berdua menganggap aku jali dan tidak layak. Apalagi kalau sesuatu yang dimaksud berhubungan dengan Adam. Tapi ya, aku tidak peduli. Mereka tidak pernah bahkan sampai kapanpun tidak akan pernah merasakan apa yang aku rasakan kini. Mereka hanya melampiaskan perasaan hina yang mereka rasakan sendiri dan menyakitiku sebagai obat hati mereka. Mereka bermaksud berobat, tapi mereka menyakiti aku. Miris. Lebih mirisnya lagi, aku tidak bisa mengelak. Mau bagaimanapun, mereka lah yang membesarkan aku walau dengan cara yang tidak layak dianggap memanusiakan manusia. Aku membawa selimut yang ditinggalkan Adam itu keluar dari rumah pohon ini. Dari atas aku tidak melihat siapapun di bawah, mungkin hanya feelingku saja ada yang menunggu di bawah. Jadi bingung, apakah aku harus turun ke bawah atau menunggu hingga hari menjadi terang benderang. "Mungkin emang aku salah dengar. Lebih baik aku masuk," putusku. Bahkan aku sudah membuka pintu, hendak masuk kembali ke dalam rumah pohon, tapi kembali terdengar ada yang melempar batu. Itu dari arah samping kananku. Refleks aku menoleh ke belakang dan melihat seorang cowok yang bisa aku pastikan dia lah pelakunya sebelum-sebelum ini. Dia yang menakut-nakutiku. Dan itu adalah Adam. Ya, siapa lagi kalau bukan cowok ini? Entah dengan alasan apa dia tidak bisa tidur sama sepertiku. Dia menyuruhku turun. Tidak terlihat sedikitpun kalau dia menahan amarahnya. Malah ia tersenyum. Ada apa gerangan dengannya? Apa dia punya kepribadian ganda. Satunya untuk melihat seberapa tampan, hangat dan banyak senyum ia. Senyum itu menyimpan sebuah kebenaran kalau dia lah pelaku yang sengaja melempar batu ke rumah pohon. Atau sifat dan sikap yang satunya lagi? Marah, egois, tidak berpikir panjang, dan kadang menjadi sangat sangar kalau marahnya kelewatan. Aku menurutinya seperti rencana awalku. Memang aku tidak jadi takut karena dia lah yang melempar batu itu, tapi kalau aku masuk ke dalam rumah pohon lagi, aku mau melakukan apa di dalam? Tidak ada. Mata sudah terlanjur tidak mau diajak tidur tenang. Turun ke bawah dengan sangat hati-hati. Sudah ada embun di tangga, menjadikannya tambah licin. Mungkin kalau aku tidak berpegangan, aku sudah terpeleset dan kejadian tadi sore akan terulang lagi. Menambah rasa sakit di pinggang. Syukurnya semuanya aman. "Lo manggil gue?" Tanyaku padanya. Sekedar memastikan. Dia mengangguk. "Iya, benar," ia masih tersenyum. Memang wajahnya tidak terlalu banyak mendapatkan pantulan cahaya, tapi tetap saja aku bisa melihat ia tersenyum padaku. Aneh, bukankah sebelumnya dia marah. Lalu kemana itu menguap? Tidak mungkin tanpa jejak. Apa yang sudah ia lakukan dan pikirkan sampai-sampai ia bisa mengendalikan emosinya seperti ini? "Kenapa?" Tanyaku. "Kenapa lo nyuruh gue ke sini?" "Emangnya lo enggak mau tidur?" Tanyaku beruntun. Adam menggeleng lagi. Alih-alih melakukan hal lain, Adam malah menarik tanganku, menarikku ke depan pintu tendanya—tepatnya di meja yang menjadi tempat makan kami tadi. Untungnya tidak ada yang melihat interaksi kami berdua saat ini, semuanya sudah nyenyak tidur. Ya setidaknya aku tahu dari tidak adanya orang yang keluar dari tenda. Hanya aku dan Adam yang tidak kunjung tidur. Terlalu banyak pikiran yang melanglang buana entah kemana. "Gue inget lo belum cobain snack lo. Untungnya lo belum tidur, gue bisa bawa lo turun ke sini," lalu ia memperlihatkan satu per satu dari semua snack itu di atas meja. Semuanya, tanpa terkecuali. Dia memang se-terniat itu. "Lo mau makan yang mana?" Tanyanya. Satu hal yang paling membingungkanku saat ini hanya satu, apakah dia sudah benar-benar baik-baik saja, tidak ada rasa sesal dan kesal yang tertinggal? Dia bahkan tersenyum, membuatku tidak bisa ikut tersenyum juga. Ini terlalu aneh. "Kenapa?" Tanyanya lagi padaku. "Lo gak mau makan ya? Padahal gue udah beli banyak buat lo." Dan ia cemberut setelah tadi tersenyum semangat? Kenapa moodnya mudah sekali berubah? Kadang ini, kadang itu. Sekejap ini, sekejap berubah jadi itu. Dia terlalu membingungkan untuk aku yang tidak mengerti dirinya. Dan jangan salahkah aku kalau bertanya ini padanya. Aku hanya butuh kepastian akan suasana sangat aneh ini. "Gue tahu niat lo baik, tapi gue cuman mau nanya satu hal sama lo." Aku mengambil satu snack dari tangannya, membuka bungkusnya dan memakannya. Itu aku lakukan untuk menuntaskan keinginannya yang mau aku memakan semua jajanan yang dibelikannya. Itu mudah, tinggal makan, tapi ada yang lebih penting dari itu. "Lo udah enggak marah lagi sama gue?" Tanyaku. "Enak, kan?" Dia malah bertanya hal lain. Memang Jaka Sembung bawa golok. Pantas aku merasa aneh dengannya. Sepertinya bukan aku yang harus diperiksa mentalnya, tapi dia. Suasana hati yang terus berubah, dan sikap yang bertolak belakang pada dua hal yang berbeda. Aku dan banyak orang yang ditemuinya. Kini dia mengambil satu snack lagi, dan membukanya. Bahkan di tanganku saja belum habis. "Ini snack kesukaan gue. Cobain. Lo pasti suka." Dia mengambil satu dan mengarahkan itu ke depan mulutku. Secepatnya aku memakannya, lalu kembali bertanya, "stop, jangan mengalihkan topik." Aku menyerobot bungkus snack di tangannya, menaruhnya di meja. Pun juga sama dengan bungkus snack yang aku pegang. Aku mau tidak ada diantara kami berdua melakukan apapun. Ini sudah memasuki sesi yang serius. "Jawab gue sejujur-jujurnya atau gue naik saat ini juga." Sedikit memberikan ancaman, tidak masalah, bukan? Toh tidak ada pasal hukum yang menjerat seseorang mengancam karena ingin tahu kenapa temannya punya penyakit suasana hati yang mudah berubah. Marah dan senang, itu aneh. "Gue ingat banget pas lo kasih gue selimut, lo marah sama gue. Tapi sekarang, lo jadi aneh. Lempar-lempar batu sampai gue mau keluar, bahkan gue keluar pun lo mau gue makan semua snack ini. Gue sih tidak masalah, gue agak lapar juga. Cuman yang jadi kebingungan gue adalah, kenapa lo enggak marah lagi sama gue dan kenapa lo jadi aneh gini?!" Sampai aku sedikit meledak-ledak padanya. Mungkin tanpa sadar itu sebagai sinyal kalau gue marah sama dia. Marah tanpa status? Aneh! "Jawab gue," pintaku. Dia menunduk, memijit tengkuknya. Apakah pertanyaanku sesulit itu sampai-sampai dia tidak bisa berkata-kata? Sampai-sampai itu membuat tengkuknya mengeras dan tidak ada lagi yang perlu dibicarakan? Kalau memang seperti itu, aku cukup sadar diri untuk memilih satu keputusan. 'Oke, gue naik ke atas. Gue enggak ada waktu dengerin lo lagi." "Gue cuman enggak mau membuang-buang waktu, Abila." Kakiku seketika tertahan, tidak jadi berbalik setelah mendengar pernyataan Adam. Aku diam, aku mendengarkan. Ruang dan waktu, seutuhnya aku berikan kepada Adam. "Gue tahu, setelah gue antar lo pulang, pasti semuanya akan berubah. Saudari lo bisa-bisa larang lo sekolah, larang lo keluar rumah, larang lo melakukan semuanya. Lo enggak akan ketemu gue, pun sebaliknya. Gue cuman enggak mau membuang-buang waktu saja." Anehnya, darimana dia bisa berpikir setelah ini Erina akan tahu segalanya sampai-sampai akan melarangku melakukan semuanya? Aku bahkan sudah memastikan tidak akan ada orang rumah yang tahu tentang ini. Karena memang mereka tidak peduli tentangku. Atau jangan-jangan sudah ada yang mengetahuinya dan menyebarkannya di grup sekolah? Kurangnya aku yang tidak punya fasilitas pendukung. Aku jadi tidak tahu perkembangan apapun. "Memangnya ada yang sudah menyebarkan foto kita berdua?" Tanyaku. Dan aku ingin jawaban secepatnya. Baik atau buruk, aku harus tahu. Adam menggeleng, lalu apa penyebabnya? "Terus?" Tanyaku. "Gue yang enggak sengaja post foto lo." Ya Tuhan.... Kasih tahu aku satu alasan kenapa aku harus bersikap baik lagi pada Adam atas segala kecerobohan yang dia lakukan? Di saat aku sudah berusaha meminimalisir adanya kecurigaan banyak orang tentang kami, terutama Erina—tapi dia lah yang membocorkannya. Mengakui itu tidak sengaja, tapi tetap saja dia ada niat melakukannya. Dan kini semuanya sudah terlanjur. "Sudah berapa banyak orang yang lihat foto itu?" Tanyaku, dan ini mendesak. Harus dijawab juga. "Baru temen-temen setongkrongan gue." Aku sedikit lega mengetahuinya, artinya hanya teman dekatnya saja yang tahu. Seharusnya mereka bisa jaga rahasia Adam, toh mereka dekat. Seperti yang dilakukan Erina, selalu mengancam temannya tiap kali tahu aku lah yang menyelesaikan semua tugas sekolahnya. Lalu apa masalahnya? "Tapi mereka bisa jadi memanfaatkan itu supaya nama gue booming lagi, bahkan sampai ke luar sekolah kita. Mereka ingin gue nyalon lagi jadi ketua OSIS, tapi gue selalu nolak itu." Ya Tuhan.... Pening kepalaku memikirkan ini. Tidak Erina, tidak Mama, tidak Adam, semuanya sama! Sama-sama berhasil membuatku terpengaruh oleh masalah mereka. "Gue udah minta mereka bungkam, semoga mereka mau bekerja sama. Tetap saja gue takut mereka bomshare foto itu. Enggak cuman nama gue aja yang banyak diperbincangkan, nama lo juga." "Tapi dalam dua kondisi perlakuan yang berbeda," sahutku seolah begitu paham dengan keadaan yang akan terjadi. "Mereka akan mengagung-agungkan lo, sedangkan gue akan dibully. Mereka akan mengangkat derajat nama lo, memuji lo, memperlakukan lo dengan baik, sedangkan gue enggak. Sampah tetap saja akan jadi sampah, kan? Itu rendahan." "Bisa jadi berguna kalau diolah. Dan gue akan berusaha merubah stigma semua siswa-siswi di sekolah terhadap lo." "Percuma." Kataku. "Kenapa?" "Karena sejak awal, lo dan gue enggak setara, bahkan dengan yang lainnya. Gue tetap aja rendahan, mau bagaimanapun cara lo merubahnya. Lo bakal lelah sendiri sampai akhirnya lo ngeluh dan menyalahkan gue," kataku. Ini benar-benar pembahasan yang terlalu sulit, terlalu dewasa untuk dipahami. Seharusnya kami tidak senekat ini melakukan sesuatu di luar batas umur kami. Tapi mau bagaimana lagi? Dunia memang sekejam ini. Bahkan isinya yang melebihi Monster. *** Setelah sarapan, lalu membereskan semua tenda, aku dan Adam pamit pulang balik lagi ke Jakarta. Beberapa snack yang tersisa tidak kami bawa, melainkan diberikan ke Nenek dan Kakek supaya tidak membawa bukti juga kalau kami pernah bepergian sejauh ini. Kecerobohan yang Adam lakukan memberikan banyak pelajaran untuk kami senantiasa berhati-hati. Adam mungkin akan tetap berusaha memperbaiki citra burukku di sekolah menjadi lebih baik, dan aku sudah menyerah menjelaskan itu pada Adam. Kalau semuanya akan sia-sia saja. Karena itu lah aku diam dan membiarkan dia berkreasi sendiri dengan rencananya. Aku tetap saja berada dalam kubu kepasrahan, membiarkan yang berkuasa bertindak semaunya. "Kami pamit ya, Kek, Nek," ujarku. Tidak lupa salim pada dua orang tua yang sudah menjaga kami malam ini. Yang sudah perhatian, sudah sedikit memperlihatkan kasih sayangnya pada kami berdua. Mungkin mereka tidak merasa demikian, tapi percayalah apa yang mereka lakukan itu lah yang aku harap-harapkan terjadi dari orang tuaku. Ketika salim mereka akan mengusap rambutku dengan halus, tersenyum dengan tulus di segala keadaan, berbicara dengan tenang tanpa menaik-naikkan nada bicara, senantiasa tenang tanpa berniat marah apalagi sampai memukul. Andai aku diberikan kesempatan tumbuh dan berkembang di keluarga yang demikian, aku akan jadi orang yang paling bahagia. "Kalian berdua hati-hati ya. Kalau kalian lapar, berhenti sebentar dan isi perut kalian. Kalau dirasa perjalan cukup jauh, istirahat sebentar. Jangan buat diri kalian lelah," ujar Nenek dengan sisi keibuannya yang amat terasa kental. Siapapun beruntung memilikinya. Pula dengan si Kakek, tidak lupa memberikan wejangan kepada kami berdua sebelum pulang. Sedangkan ketika kami berpamitan sama anak-anak Kakek dan Nenek, mereka bertiga malah mengolok-olok kami. Aku tahu mereka bercanda, tapi tidak dengan mendukungku berpacaran dengan Adam. Sedikit membocorkan rahasia, salah satu dari mereka sempat mempergok aku dan Adam berduaan tengah malam—berduaan, makan snack bersama dengan topik pembahasan yang sangat banyak. Karena itu lah aku tidak heran mereka demikian. Ya sudahlah, semuanya pasti berlalu. Pada akhirnya aku juga tidak bisa menyalahkan satu pihak saja. Adam berani membawaku ke sini tidak lain karena aku bersedia dibawa ke sini. Logikanya seperti itu. Aku menyalahkan Adam karena pada saat itu aku tidak menerima kenyataan saja kalau kami akan menghadapi yang lebih buruk lagi kedepannya. Karena waktu terus berjalan, sudah waktunya kami pergi. Perjalanan ke Jakarta akan sangat jauh dan melelahkan. Mungkin akan terasa lebih cepat dibandingkan saat ke sini. Aku sering kali merasakannya. Perjalanan pergi jauh lebih terasa lama dan melelahkan dibandingkan saat perjalanan pulang. Entah teori mana yang bisa menjelaskan fakta yang aku rasakan itu. Aku memakai jaket Adam. Dia yang memaksa, tapi pasti nanti akan aku kembalikan. Bagaimana mungkin aku menyimpannya? Erina bisa membakarku bersamaan dengan jaket itu kalau sampai aku berani membawanya masuk ke rumah. Untuk sekarang, nikmati waktu perjalanan saja. Meski aku sedikit mengkhawatirkan beberapa hal, jujur aku mengakui bersama Adam itu menenangkan. Ada sesuatu yang tidak bisa tergambarkan dengan kata-kata. Dan aku sudah sering mengatakan itu, bukan? Aku bukan orang yang pintar merangkai kata, hanya pintar memendamnya saja. Adam menarik tanganku tuk lebih erat berpegangan di pinggangnya. Ah, tidak, lebih tepatnya berpegangan di jaket kulit tebal miliknya. Dan sekejap kemudian dia menaikkan kecepatan laju motornya, setelahnya dia siap membelah jalanan bersamaku melewati satu jalanan semi jalanan yang lain hingga kami berhasil memasuki wilayah Jakarta. "Lo lapar enggak?" Tanya Adam, melihatku dari kaca spionnya. Aku menggeleng. "Enggak. Jalan aja biar cepat sampai," jawabku. Tentu Adam melakukan apa yang aku pinta. Dia tetap lanjut, meski lajunya tidak sengebut yang sebelumnya. Entah berjarak berapa lama, akhirnya kami sampai di perumahan rumahku. Sebenarnya sudah takut berani, tapi demi alasan apapun aku harus menghadapinya. Sesampai di depan gerbang, Adam berhenti. Berpegangan pada bahunya saat turun karena memang tinggi motornya cukup mengerikan, sedangkan tinggi badanku hanya semeter kotor. "Terima kasih ya sudah antar gue sampai rumah." Aku melepaskan jaket Adam, menaruhnya di depannya. Padahal jaket itu terasa sangat nyaman saat digunakan, tapi apa daya kenyataan memang selalu menyakitkan. "Lo hati-hati di jalan," kataku. "Oke. Gue juga mau berterima kasih sama lo karena udah mau banyak mendengar cerita gue. Gue harap besok lo masuk sekolah dan gue bisa ketemu lo lagi." Maka aku akan sangat menghindari itu. Aku tidak akan mungkin berani bertemu dengan Adam di sekolah. Sama saja bunuh diri. Coba saja keadaannya berbeda, maka tidak masalah. Tapi ini jauh di luar kuasaku sendiri. Setelah Adam pergi, tidak ada waktu bagiku tetap berdiam di depan gerbang. Memang aku takut, dan aku mengakui itu. Apalagi tadi aku sempat mengintip, ternyata mobil Mama masih di garasi. Artinya Mama dan Erina tidak pergi. Artinya lagi, besar kesempatanku mendapatkan siksaan setelah ini. Baru saja aku membuka pintu gerbang, bahkan badanku baru setengah masuk, aku ditarik sekuat tenaga hingga terbentur. Dan dalam sekejap seluruh tubuhku tersiram air kotor. "Kurang ajar!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN