Seketika aku langsung terdiam mendengarnya. Kaget, tidak menyangka akan mendengar satu kebenaran yang amat pahit dan tidak tergambarkan seperti ini. Siapa yang akan menduga Adam akan menerima hal yang demikian? Tidak ada. Bahkan aku, padahal aku tahu kalau di dunia ini pasti bisa aja terjadi. Semustahil apapun urusan di dunia ini selama masih dalam kendali Tuhan, semuanya bisa terselesaikan.
"Adam anak angkat?" Tanyaku dan si Nenek mengangguk mengiyakan. Senyumnya kali ini agak sedikit meredup, tidak terlalu bercahaya seperti yang sebelumnya. "Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa, Nak. Ini urusan Adam dengan keluarganya, tidak seharusnya kita ikut campur. Cukup tahu aja supaya kita bisa mengerti apa yang dia rasakan sekarang."
Aku mengangguk.
Adam bukan anak kandung orang tuanya yang sekarang, yang aku dan orang lain kenal sebagai orang yang berkuasa dan kaya raya. Orang lain begitu iri dengan kehidupan Adam, akan tetapi mereka tidak tahu yang sebenarnya dan detik ini aku mengetahui satu rahasia yang amat sangat besar.
Begitu berat untukku menerima satu kebenaran ini. Aku harus tetap merahasiakannya sampai akhirnya Adam sendiri lah yang buka suara. Mau bagaimanapun, ini adalah hidupnya meski bagaimanapun hinanya menjadi anak yang bukan darah daging orang tuanya sendiri. Pantas Adam tidak begitu akrab dengan Papanya meski aku sekadar mendengarnya dari telpon saja.
Akan kuusahakan tidak akan ada yang mengetahuinya sebab dibayanganku akan berakhir buruk. Aku saja yang dikenal sebagai anak kandung Mama dan Papa, hanya karena aku diperlakukan berbeda dan sangat keras dengan penuh penekanan di setiap harinya, orang-orang memandangku rendahan dan semau-maunya saja denganku. Tapi karena ini sudah sangat lama, aku sudah terbiasa hidup dalam rasa sakit dan hina ini.
Sedangkan Adam? Ia tumbuh dalam lingkungan yang segala-galanya mendukungnya sepenuhnnya. Ia pintar, dikenal anak orang kaya, berprestasi, bisa melakukan banyak olahraga, tampan, berwibawa, banyak diminati siswa-siswi, ia seakan bintang yang masa depannya tidak akan pernah redup. Andai kata mereka mengetahui kalau Adam bukan lah anak kandung, sudah pasti persepsi mereka akan berubah terhadap Adam. Bisa jadi mereka akan menatap Adam dengan sorot hina sama seperti mereka melakukannya padaku atau bahkan lebih hina lagi. Mereka tidak akan hormat pada Adam. Mereka akan menganggap itu sebagai mainan semata, mengejek Adam dengan statusnya yang demikian. Dan Adam tidak terbiasa dengan segala tuduhan dan tindakan keras seperti itu.
Ah, baru saja mau menghindar, malah diembankan tanggung jawab yang berat seperti ini. Semakin aku berusaha menghindar, selalu saja ada yang mencoba mendekatkan kami. Lama-lama semua rencana ku sama saja dengan kesia-siaan. Percuma.
"Yah... Namanya juga hidup," pada akhirnya aku mengangkat bahu acuh tak acuh. Bukan berarti aku tidak peduli dengan keadaan Adam, hanya saja aku tidak mengerti mau menanggapinya dengan cara bagaimana. Semuanya juga terasa membingungkan. "Semua dari kita pasti punya ujiannya masing-masing. Mungkin Adam dikasih ujian tidak tinggal dengan orang tua kandungnya, tapi dia bahagia dengan orang tua angkatnya. Pun juga denganku, mungkin aku punya banyak masalah yang tidak bisa aku perbaiki satu per satu, tapi aku yakin Tuhan pasti akan menyiapkan rencana terbaiknya untuk kita semua."
Saling tatap dengan si Nenek, sorot mata menenangkan dan penuh ketulusan. "Semua kita punya ujiannya masing-masing, Nek. Dan semua ujian ini pasti bisa terlewati dengan baik jika kita melakukannya dengan sabar."
"Benar sekali, nak," si nenek meremas tanganku seolah ia ingin menyampaikan perasaannya dari remasan itu. "Adam tidak menyesal mengenalmu. Kamu anak yang dewasa, baik dan sabar. Kalau memang kalian tidak ditakdirkan berjodoh, Nenek minta tolong agar tetap menemani Adam di kondisi apapun. Adam tidak membutuhkan apapun lagi selain teman dan sejauh ini hanya kamu lah teman yang diperkenalkan ke kami."
Astaga, dan kini Nenek malah memintaku berjanji padanya. Ia mengatakannya dengan sangat tulus, halus, membuat seseorang menolak keras untuk mengelak keinginannya. Dan ya, aku mengangguk.
"Akan aku usahakan, Nek."
Dan janji tetaplah janji. Mau bagaimanapun berusaha kabur darinya, tetap saja akan dikejar sampai ke ujung dunia sekalipun. Karena janji itu melekat pada diri setiap pengikrarnya. Janji itu tertanam dalam diri, pikiran dan hati. Pantas tidak bisa melupakan sebuah janji kecuali mencoba melepaskan dan mengikhlaskannya.
"Ya sudah. Karena ini sudah malam dan waktu terus berjalan, sebaiknya kita mulai saja makannya." Ajak Nenek dan lagi-lagi aku mengiyakan.
Nenek membawa beberapa hal yang belum disiapkan di atas meja—kita akan makan bersama malam ini. Kakek, Nenek, dan anak-anaknya, tidak lupa juga dengan aku dan Adam. Malam ini agak ramai dan akan menjadi malam pertama aku bisa merasakan rasanya makan bersama seseorang yang dianggap keluarga. Penasaran dengan rasa seberapa hangat dan manisnya makan bersama dengan keluarga.
Aku membawa lauk yang baru saja matang. Tumis ayam sayur yang aku buat sudah jadi, tinggal dicicipi saja apakah sesuai dengan selera mereka atau ada yang berbeda. Kalau aku sih suka sekali dengan rasanya, sangat tahu juga kalau setiap orang punya seleranya masing-masing. Aku juga penasaran dengan masakan yang dibawa Nenek. Aku akan menyerap banyak ilmu memasak darinya setelah ini. Semua ilmu dan informasi bisa didapatkan dari banyak sumber. Tinggal kitanya saja, mau atau tidak.
"Ayo, lepas catur kalian dan cepat ke sini. Kalian butuh makan supaya lebih fokus berhadapan dengan lawan," ajak nenek pada para lelaki. Tanpa perlu effort yang berlebihan, mereka mendengarkan dan mau melakukannya. Dengan cepat melepas catur dan berdiri hendak bergabung. Aku akui, menang hebat.
Meja yang memanjang, bahkan bangku kayu yang memanjang pula. Di atasnya sudah ada sebakul nasi, berbagai lauk dari hasil buatan tangan Nenek, dan satu menu buatanku. Tampilan masakanku dengan masakan Nenek sangat berbeda. Masalah nenek lebih menggugah selera makan, bahkan aku pun ingin cepat-cepat menyendok nasi dan mengambil semua jenis lauk di depanku kini. Benar-benar seolah-olah sedang menyelenggarakan makan malam bersama keluarga besar.
Entah ini disengaja atau tidak, tapi malah jadi gugup kala Adam memutuskan duduk di sampingku sedangkan Nenek dan Kakek serta anak-anak duduk di satu deret. Deretan bangku memanjang yang aku duduki dengan Adam, berhadapan dengan deretan bangku memanjang yang dipakai Kakek Nenek dan para anaknya. Kami hanya berdua dan rasanya—luar biasa canggung.
Beberapa menit hanya keheningan saja yang ada. Para tetua tidak memulai makan malam ini, sedangkan kami para golongan muda sedang berusaha sopan pada para tetua. Kami menunggu Nenek dan Kakek dulu, bahkan Adam sebagai tuan rumah juga menunggu. Cowok ini bahkan sudah menyuruh Kakek memulainya.
"Den Adam saja yang lebih dulu. Saya tidak enak kalau melangkahi Den Adam," si kakek mendorong bakul nasi ke depan Adam.
Adam menolak dan mendorong itu ke depan kakek, dan terulang lagi dengan kakek yang mendorong itu ke depan Adam. Begitu terus, seperti anak kecil. Mereka bahkan lupa dengan umur mereka saat ini. Sampai akhirnya aku menahan bakul yang hendak didorong Adam ke depan Kakek. Aku mengambil piring Adam, hendak mengambilkannya nasi ini.
Satu sendok sudah masuk ke piring. Aku menoleh pada Adam, "segini atau nambah lagi?" Tanyaku.
"Segitu saja," jawabnya.
Tapi aku tidak puas dengan hal itu. Nasi di piringnya juga sedikit sedangkan hari ini perjalan sangat jauh. Kita memang pernah makan, tetap saja rasanya belum puas. Aku menambahkan dua centong nasi lagi piring Adam. Aku paham ini lumayan banyak, dan entah kenapa aku senang melihatnya akan banyak makan malam ini.
"Sudah tiga centong, lagi?" Tanyaku lagi padanya.
"Enggak," Adam menarik piringnya lagi tanganku. Ia sedikit ketus. "Ini sudah pas, bahkan kebanyakan. Tapi enggak apa, gue juga lumayan lapar liat semua menu-menu makan bersama kita malam ini."
"Sorry kalau kebanyakan, tapi itu sudah terlanjur masuk ke piring lo. Enggak bisa dikembalikan lagi."
Kini giliran aku yang mulai mengambil nasi ke piringku. Hanya dua centong saja, kemudian aku mendorongnya ke depan si kakek. "Ayo, Kek. Piring kakek harus penuh biar bertenaga dan tetap semangat jaga villa malam ini," ujarku sambil mendorong bakul nasi itu.
"Siap, nak. Tidak perlu diragukan," katanya.
Benar saja, si Kakek mengambil empat centong, hampir memenuhi piringnya. Aku takutnya nanti tidak ada ruang untuk lauk-pauknya. Ya sudahlah, itu bukan urusanku. Tetap senang melihatnya. Lalu setelahnya Kakek menggeser bakul ke samping—ke Nenek yang setelahnya terus bergeser ke anak-anaknya.
Sekarang waktunya memilih lauk. Tahu kalau ini akan kembali berulang, mereka akan saling lempar-lemparan seperti tadi, karena itu lah aku kembali berinisiatif lebih dulu. Kembali, aku menarik piring Adam, dan seperti yang aku lakukan tadi, aku saling berhadapan dengannya lagi.
"Lo mau lauk yang mana? Tinggal tunjuk aja, gue yang ambilin," kataku.
Aku jadi teringat kalau aku selalu melakukan ini di rumah. Melayani makan Erina, Mama, Papa. Menunggu mereka selesai makan, baru aku bisa mulai mengisi perut. Tidak jarang semua makanan habis dan aku harus terpaksa menahan lapar lagi hingga ke hari berikutnya.
Kembali ke kenyataan sekarang, aku menunggu Adam menunjuk mau makan lauk pauk yang mana saja. Untungnya Adam tidak banyak bicara, hanya lanjut menunjuk beberapa menu dan salah satunya adalah menu yang aku masak. Sampai akhirnya semua menu yang diinginkannya ada di piringnya, aku kembalikan lagi ke empunya.
"Selamat makan," kataku.
Dia hanya berdehem. Aku sedikit tidak peduli, tapi lebih banyak memikirkan apa maksud dehemannya itu. Apakah dia sariawan atau ada gangguan sampai-sampai tidak mau sekedar bersuara atau setidaknya mengatakan hal yang sebaliknya setelah aku mengucap selamat makan untuknya.
Ah, sudahlah. Kalau dipikirkan semakin memusingkan. Aku mengalihkan perhatian dengan mengambil beberapa lauk yang sedari tadi terlihat menggiurkan, tidak lupa dengan masakanku sendiri. Akhirnya setelah sekian lama bisa menikmati masakan sendiri tanpa menunggu dihabiskan atau disisakan.
Kemudian giliran selanjutnya dengan urutan yang seperti sebelumnya. Setelah semuanya siap dengan nasi dan lauk masing-masing, acara makan malam bersama ini dipimpin doa oleh anak tertua di kakek. Aku tidak tahu namanya, hanya kenal bahwa dia anak tertua. Itu saja cukup, toh aku juga tidak akan balik ke sini. Ini adalah kali pertama dan terakhir, harus membuat momen yang indah meski banyak kebenaran yang mulai terungkap.
"Selamat makan semuanya,"
"Selamat makan,"
"Selamat makan."
Mulai makan, menyuap yang pertama kalinya. Kesannya, melegakan. Hampir aku mau menangis karena mengingat beberapa momen menyesakkan yang pernah aku alami. Mataku sudah memanas. Bersyukurnya aku membelakangi lampu sehingga meski aku menangis tidak akan terlihat jelas.
Lanjut makan dan makan, ambil lauk jika merasa kurang, ambil gelas berisi air jika haus mulai menyerang, dan satu hal yang aku suka dari malam ini adalah kesan hangatnya tetap terasa. Si kakek, pencair suasana yang membalut malam ini dengan segala bercandaannya yang tidak pernah mengecewakan selama kami makan. Kami tidak pernah berhenti tertawa dibuatnya, bahkan anak-anaknya seringkali tersedak mendengar bercandaan Bapaknya. Aku akui ia memang hebat.
"Bisa ambilkan minum? Gue mau cegukan."
Tanganku yang sudah hampir mau masuk ke mulut, setelah mendengar Adam aku langsung membatalkannya. Gerak cepat mengambilkannya gelas yang belum terisi air sebelumnya. Aku lupa menyediakan gelas di sampingnya, pantas ia meminta tolong seperti ini.
Setelah terisi, dengan cepat pula mengarahkan itu ke Adam. Sayangnya kedua tangan Adam kotor. Ia makan menggunakan dua tangan saat makan ikan, sedangkan aku cukup satu saja.
Aku membantu Adam minum, mengarahkan gelas itu ke depan mulutnya. "Gue yang pegangin, tangan lo kotor semua," kataku.
"Oke."
Dia tadi sempat mengaku mau cegukan dan biasanya obatnya adalah banyak-banyak minum. Sebab itu lah ia cepat-cepat menyambar gelas dan cepat-cepat minum dari sana. Aku fokus melihatnya, mengendalikan tanganku juga. Takutnya nanti dia bisa tersedak jika aku melakukannya dengan cara yang salah.
"Udah?" Tanyaku karena air di gelasnya sudah hampir mau habis, sedangkan ia masih bersemangat meneguknya.
Dan ia melepaskan gelas itu. "Sudah. Makasi," ujarnya singkat lalu lanjut makan ikannya lagi dengan kedua tangannya. Melihatnya yang demikian, ia terlihat lucu. Seperti anak kecil.
"Kalian sadar enggak sih kalau kalian itu kayak pasangan suami istri?"
Aku dan Adam kompak menoleh melihat anak paling bungsu, yang seumuran dengan kami.
"Kalian saling perhatian satu sama lain. Kalian cocok banget kalau jadi pasangan, kayak sudah saling kenal satu sama lain," katanya lagi yang membuatku dan Adam saling tatap satu sama lain.
Selang beberapa detik, aku dan Adam saling menertawakan satu sama lain. Begitu gelak karena memang ini sangat lucu. Bagaimana mungkin aku dan Adam saling perhatian, apalagi sudah saling kenal dalam waktu yang lama. Kami bahkan baru saling kenal. Kalau aku tidak kena masalah, mungkin aku tidak akan kenal dengan Adam. Dan sekarang, hanya karena aku mencoba membantunya minum, itu dianggap romantis? Lalu bagaimana dengan orang yang saling suap suapan apalagi sampai satu piring berdua. Pasti mereka sudah dianggap seperti—
Sebentar. Aku dan Adam sudah melakukannya. Aku dan Adam sudah satu piring berdua, bahkan kalau aku tidak salah ingat sempat saling suap karena Adam yang memberikan kerupuk padaku!
Baiklah, untuk kasus pernah sepiring berdua bahkan mungkin saling suap, aku akui pernah melakukannya. Tapi untuk yang saling perhatian, kami bahkan tidak pernah akur dan selalu mendebat. Bahkan kalau saling membunuh itu dilegalkan, aku mungkin akan melakukannya pada Adam saking menjengkelkannya cowok yang satu ini.
"Gue dan Abila enggak mungkin saling simpan rasa satu sama lain. Dia bahkan tidak suka sama gue. Hahaha, lucu juga!"
Memang yang berlebihan itu selalu berakhir tidak baik. Terlalu banyak tertawa, Adam tersedak. Sontak aku kembali mengisi gelas itu tadi dan memberikannya pada Adam. Adam pun juga menerimanya dengan cepat. Saat Adam sedang minum, aku mengusap punggungnya dengan harap sakit karena tersedaknya tidak terasa buruk.
"Ini yang kalian sebut enggak simpan perasaan satu sama lain?"
Pertanyaan itu membuatku tersadar. Reflek aku menarik tanganku di saat Adam sedang asyik-asyiknya minum. Dan karena itu dia batuk kecil, dan anehnya tanganku tidak pernah diam. Malah mengusap punggung Adam. Aku mencoba tidak peduli, tapi semuanya bergerak di bawah kendaliku sendiri.
"Gue sih jujur aja ya punya perasaan sama dia, tapi dianya yang enggak suka sama gue. Dia udah nolak gue." Adam mengungkit itu lagi. Padahal aku sudah mengambil keputusan dan dia tahu itu.
"Gue nyuruh lo nunggu, bukan berarti gue nolak lo. Gue cuman mau memastikan beberapa hal dulu," kataku.
"Tapi berapa lama?" Tanyanya. "Lo itu terlalu banyak berpikir. Lo terlalu banyak mikirin orang-orang yang bahkan tidak pernah mau peduli sama lo. Seharusnya lo itu pikirin diri lo sendiri, jangan sampai lo merasa tersakiti atas perbuatan mereka yang enggak manusiawi. Tapi lo malah milih menderita. Gue mau bantu lo, lo malah nolak gue dengan dalih kalau lo itu enggak pantas."
Meski sekarang kami menjadi pusat perhatian, Adam tidak mau menahan amarahnya, malah terus meledak hingga membongkar semuanya. Padahal pembahasannya kali ini sangat riskan bagiku. Tentang masa depan yang tidak pernah terasa begitu indah. Malah terus tercekik dengan harapan semu yang entah kapan terwujudnya.
"Memang seperti itu, kan?" Tanyaku, membalasnya. "Pikir saja, Adam. Lo itu anak orang kaya, sedangkan gue cuman dijadikan pembantu di rumah itu. Lo bisa mendapatkan apapun, sedangkan gue enggak. Hidup gue terlalu sia-sia untuk lo," lanjutku.
"Emangnya gue peduli sama itu?"
Aku diam, tidak tahu mau menjawabnya dengan apa.
"Enggak!" Ia membalas pertanyaannya sendiri. "Gue enggak peduli dengan itu karena ketika lo sudah memutuskan merasakan sesuatu yang berbeda dengan orang lain, maka segalanya juga tidak berarti selain perasaan lo sendiri. Lo ngerti kan sama apa yang gue bilang?!"
Dia keras. Dia sudah diliputi amarah, dan aku terjebak di dalamnya. Menatap yang lainnya yang sudah tidak mau lanjut makan, suasana menjadi begitu aneh. Aku sedikit merasa malu. Mereka mulai mengetahui siapa aku yang sebenarnya, betapa rendah dan sulitnya hidupku.
Tapi menjawab ucapan Adam, aku bisa. "Gue enggak ngerti sama apa yang lo bilang, Adam. Karena bagi gue, sejak awal hidup gue untuk mengurus mereka. Gue bahkan tidak berhak memikirkan diri gue sendiri," ujarku menjelaskan posisiku yang bahkan sudah sangat sering aku katakan. Mungkin Adam juga lelah mendengarnya.
"Gue suka sama lo!"
Sepi.
Aku tidak terkejut dengan hal itu, malah aku bingung saja. Bagaimana mungkin Adam bisa suka sama aku sedangkan kami baru bertemu dan berkenalan. Bagaimana mungkin perasaan itu ada di saat aku tidak punya daya tarik sama sekali. Aku tidak cantik, tidak pintar merias diri, tidak punya apapun bahkan baju pun sudah lusuh. Selain aku, banyak yang lebih cantik, lebih menarik, lebih segala-galanya. Contohnya Erina, bahkan cewek itu sedang mengejar-ngejarnya, tapi kenapa Adam malah berusaha menutup didu. Kalau pun Adam menyukaiku, dia melihatnya dari segi mana? Apakah dia buta?
"Kayaknya Abila sudah kenyang, Kek, Nek. Abila izin naik ke atas lebih dulu ya. Kebetulan Abila juga sudah mengantuk."
"Iya, Nak. Jangan lupa cuci tangan dan kaki terlebih dahulu, baru tidur," ujar Nenek.
"Hati-hati naik tangganya, agak licin," kata Kakek.
Aku menyudahi ini lebih dulu. Memang aku pengecut, kabur lebih dulu padahal aku sangat tidak suka dengan orang yang demikian. Keadaan malam ini agak kacau dan semakin membuat pikiran bercabang kemana-mana.
Aku tidak peduli dengan tanggapan Adam. Dari sudut ekor mataku, aku melihatnya masih menatap ke arahku. Bukan saatnya memperhatikan itu lagi, saatnya tidak peduli agar ia berhenti.
Baru saja aku keluar melangkahi bangku, Adam menarik tanganku. "Besok lo harus kasih gue jawaban," katanya menagih.
"Kalau gue enggak siap menjawab besok?" Tanyaku.
"Besoknya lagi sampai lo benar-benar siap dan yakin dengan jawaban lo. Gue tunggu."
***
Apa-apaan ini? Niat hati meninggalkan meja makan lebih dahulu untuk menghindari Adam, malah aku terjebak sendirian dan penuh dengan kebingungan di rumah pohon ini. Memang Adam sudah meminta anak tertua Kakek untuk menyediakan kasur, agak tebal tapi bisa dipastikan nyaman. Ada jendela yang untungnya ketika sedang berbaring dan menghadap ke sana, tetap bisa melihat langit. Bahkan ada lampu juga. Akan tetapi, yang tidak ada adalah selimut.
Aku tidak mengeluh, tapi ini benar-benar dingin. Dingin tidur di lantai yang ada di rumah lebih hangat dibanding tidur di rumah pohon ini. Aku bahkan merasa hampir beku saking dinginnya. Ini dingin yang benar-benar berbeda.
Benar kata Adam, dingin di Jakarta berbeda dengan dingin di puncak. Yang aku takutkan, aku akan mati kedinginan jika tidak terbiasa dan tidak mampu bertahan dengan dingin ini.
Aku harus bagaimana? Turun ke bawah dan meminta selimut dari Adam? Rasanya tidak bisa setelah kejadian tadi. Bahkan mungkin sekedar menatap cowok itu aku tidak berani. Aku akan teringat dengan momen dimana aku menolaknya. Aku akan sangat meminta maaf padanya kalau dengan aku menolaknya membuatnya merasa rendah dan diremehkan. Aku tidak bermaksud demikian. Aku hanya tidak mau mengikat hubungan saja. Aku ingin hidup tenang dan damai.
"Semoga aku bisa bertahan," kataku sembari memeluk diri sendiri, meringkuk seperti bayi di dalam perut ibunya. Aku menggigil dan ini serius terjadi.
"Tuhan, tolong aku."
Terus bertahan adalah yang aku usahakan saat ini. Anggaplah egoku amat sangat besar hanya untuk sekadar meminta pertolongan dibandingkan mati membangkang di sini.
Terus berbolak balik, ke kanan ke kiri menemukan titik hangat yang berbeda di rumah pohon ini. Padahal pintunya sudah ditutup, jendela juga permanen tertutup, seharusnya akan hangat. Jelas ini berbeda, malam hari ini maunya dingin dan menyiksa.
Dan entah sampai jam berapa aku terus menahan dingin, sampai akhirnya ada yang mengetuk pintu. Dari suaranya aku sudah tahu itu Adam. Dia menyuruhku keluar, namun aku enggan mendengarkan. Aku pura-pura tidak mendengar seolah aku sudah terlelap. Pintar sekali caraku membohongi.
Dan aku pikir Adam sudah pergi, sebab tidak ada yang menyahutinya. Tapi tidak, dia masih mengetuk pintu bahkan kian keras ketukannya.
"Gue tahu lo enggak tidur. Gue dengar gerasak-gerusuk dari tadi dari sini, lo enggak mungkin tiba-tiba ketiduran."
Aku tetap diam. Bahkan kalau ada lakban di dekatku, akan aku sumpal bibir ini dengan benda itu. Saking tidak maunya aku menanggapi apalagi menemui cowok itu.
"Kenapa enggak pergi aja sih?!" Dumelku, tentu saja dengan nada yang sangat kecil. Hanya aku yang bisa mendengarnya.
"Gue bawain lo selimut. Lo pasti kedinginan."
Dan oh, astaga. Dia membawakan apa yang aku inginkan. Aku sangat membutuhkan selimut itu saat ini juga. Tapi apakah mungkin aku membukakan pintu untuknya? Menjual harga diri sendiri? Cowok ini pintar membuatku kebingungan saja.
"Terserah lo mau keluar atau enggak, gue tinggalin selimutnya di depan pintu. Kalau lo kedinginan, gue harap lo mau pakai ini daripada kedinginan sepanjang malam. Gue pergi."
Apakah dia benar meninggalkan selimutnya di depan pintu dan pergi begitu saja? Kalau benar, maka aku akan senang dan mau keluar mengambilnya. Dengan seperti itu, aku tidak bertemu dengannya, tidak akan merasa gugup apalagi sungkan, tapi aku tetap bisa memakai selimut untuk malam ini.
Sengaja menunggu sampai beberapa menit, tidak ada suara. Mungkin benar, dia sudah pergi dan sudah meninggalkan selimut untukku.
Aku berniat keluar untuk memastikan. Tidak ada keraguan sama sekali saat membuka pintu dan membukanya, namun sangat disayangkan aku sudah dikelabui olehnya. Dia jelas-jelas menunggu di depan tepat di depan pintu, berhadapan denganku saat ini. Agak kaget.
"Ngapain lo keluar?" Tanyanya ketus. Aku tahu dia bermaksud menyindirku.
"Gue mau ambil selimut. Gue kedinginan di dalam," jawabku agak gugup.
Adam menyerahkan selimut itu. "Lain kali lo enggak perlu milih mati kedinginan dibanding ketemu sama orang yang enggak mau lo temui. Toh gue juga enggak makan lo kok," katanya singkat lalu pergi.
Apakah aku sudah melakukan kesalahan yang amat sangat fatal padanya? Dia terlihat sangat kecewa.