"Maaf, Nek. Saya bukan pacarnya Adam."
Refleks aku menolak pernyataan Nenek ini, langsung menoleh melihat Adam yang seolah tidak tahu menahu. Dia hanya mengangkat bahunya dan melengos begitu saja tanpa berniat menjelaskan. Maksudnya apa? Membiarkanku kebingungan terus dengan pengakuan mereka yang bahkan tidak aku ketahui sedikitpun? Entah dia sengaja atau tidak, tapi yang pasti aku harus meminta penjelasan darinya kenapa mereka malah menganggapku sebagai pacarnya Adam. Mereka dekat dengan Adam. Kalau bukan Adam yang memulai ini dengan mereka, tidak akan mungkin terjadi. Logikanya seperti itu.
"Lo ngomong apa sama mereka? Kok gue dibilang pacaran sama lo."
Aku mendekatinya tapi ia langsung berubah sibuk dengan tenda yang akan dipasangnya itu. Anak tertua si Kakek dan si Nenek sudah naik ke atas, membersihkan rumah pohon, sedangkan si Nenek dan Kakek menatapku heran. Mungkin mereka masih kebingungan sebab mendapatkan dua pernyataan yang berbanding terbalik, tidak sesuai dengan ekspetasi mereka.
"Lo ngomong sesuatu sama mereka?" tanyaku lagi.
Karena ia tidak akan mungkin menjawab tanpa aku mencoba memaksanya, menekannya hingga ia benar-benar pasrah dan pada akhirnya menyerah. Aku sedang mengusahakan itu untuk saat ini. Sembari terus bertanya dengan penuh rasa penasaran yang amat sangat wajib diperjelas, aku sembari membantu Adam mencoba memasang tenda. Aku tidak tahu mau mulai dari mana, yang penting sekedar bantu saja. Entah benar atau tidak.
"Pertanyaan gue terlalu sulit dijawab sama lo ya? Padahal pertanyaan gue amat sangat mudah. Kalau emang lo gak salah dan itu emang hasil dugaan mereka, bilang aja. Tapi kalau emang lo yang mulai semua ini, lo juga bilang sama gue. Meski ini enggak penting bagi lo, tapi bagi gue ini sangat penting. Lo udah menyeret nama gue, dan gue harus tahu bagaimanapun kondisinya."
Begitu panjang lebar aku berbicara, Adam hanya membalasnya dengan kebungkaman. Ia tidak mau buka suara sedikitpun, bahkan menoleh ke arahku pun tidak. Rupanya memasang tenda lebih penting dibandingkan menjawab pertanyaan dan permintaan bodohku. Agak kecewa, tapi siapa aku? Aku tidak punya hak untuk merasakan itu. Satu-satunya hal yang logis untuk bisa aku lakukan adalah DIAM dari segala perlakuan Adam, Erina, Mama, bahkan orang-orang di luar sana. Mau adil atau tidak, diam adalah pilihan yang terbaik bagiku.
Kecewa, jengkel, marah, rasanya semuanya menjadi satu dan aku harus terpaksa membalut semuanya dengan rasa sabar. Aku tidak bisa memprotes, aku tidak bisa memperjuangkan apa yang seharusnya aku dapatkan, aku tidak bisa melakukan banyak hal meski itu sangat perlu aku dapatkan. Aku tidak bisa.
Adam memang bungkam dengan masalah 'pacar' itu, tapi dia tidak lagi melakukannya. Ia bersuara, menyuruhku melakukan ini, melakukan itu, menarik ini, menarik itu, ambil ini itu hingga akhirnya tenda berhasil terpasang rapi di bawah rumah pohon. Rumah pohon pun juga sudah selesai dibersihkan, sekarang sedang dialirkan lampu ke dalam sana. Semua kami bekerja, tidak ada yang bersantai. Bahkan itu si Nenek sekalipun, ia rupanya memasak sebab aku sempat mencium aroma masakan dari arah yang dekat. Kami bekerja sama dengan baik petang ini, dan aku harap ini akan berjalan dengan lancar.
"Den, lampunya sudah dipasang. Kakek perlu melakukan apa lagi?" tanya si Kakek pada Adam yang baru saja keluar dari tenda.
"Ada, tapi kayaknya aku saja yang ambil, Kek. Kakek istirahat saja, pasti Kakek lelah."
"Oh, tidak masalah, Den. Saya bisa melakukannya. Katakan saja apa yang harus saya lakukan. Nanti kalau saya tidak bisa, anak saya yang akan membantu."
"Tidak perlu, Kek. Kakek istirahat saja, mandi dan kita bersiap-siap untuk makan malam. Sepertinya Nenek memasak sesuatu."
Aku melihat senyum si Kakek mengembang, melihat Adam bangga. Pun juga sama denganku. Aku pikir Adam akan berbicara sarkas dan kasar pada orang tua karena sekarang kebanyakan aku melihat anak muda seperti itu--Membentak dan marah pada orang tuanya, bahkan pada orang yang tidak dikenalnya. Tapi kini, di depan mataku sendiri menyaksikan Adam tidak menjadi salah satu dari mereka. Ia masih berbicara sopan, santun dan tidak menaikkan nada bicaranya. Kalau si Kakek saja bisa terharu dengan Adam, apalagi denganku.
Tapi ada satu pertanyaan, kenapa dengan si Kakek dan Nenek Adam baik, sedangkan pada Papanya dia agak ketus? Itu perlu dipertanyakan, entah kapan aku berani bertanya padanya.
Lalu satu per satu mereka pergi, aku dan Adam masih tinggal berdua di taman belakang villa. Meski sudah malam, dikelilingi pepohonan yang banyak, bahkan suara jangkrik bisa terdengar dengan jelas, tapi suasananya tidak menakutkan. Karena ada lampu. Untungnya sudah dipasangkan. Jika tidak, mungkin bulu kudukku akan naik dan kacau.
"Kemana mereka?" tanyaku random, hanya sekedar mau basa-basi. Tidak tahu mau melakukan apa. Daripada sepi, mungkin lebih baik mengobrol sedikit dengan Adam. Sedikit saja, jangan terlalu banyak apalagi sampai membahas sesuatu yang serius. "Mereka enggak benar-benar ninggalin kita berdua aja di sini, kan?"
"Enggak, kok." Kulihat Adam menaikkan kompor gas portabel, mau memasang tabungnya. "Mereka akan kesini lagi nanti. Gue udah minta sama mereka buat balik lagi, entah nanti mereka buat tenda atau tidur di dalam. Yang penting mereka mengawasi kita berdua."
"Ayamnya masih bagus enggak? Kita lupa keluarin semua bahan-bahannya." tanyaku.
"Enggak, masih bagus. Selagi nunggu mereka balik, lo bisa ajarin gue. Mumpung bahan-bahannya juga enggak terlalu lama dibiarin di luar freezer. Kalau nanti-nanti, bahkan kalau dibiarin sampai besok, takutnya jadi mubazir."
Aku setuju dengan usulan Adam. Mulai membantunya mengeluarkan dan menjejerkan semua bahan-bahan yang sudah dibelinya sebelumnya di atas meja, di dekat kompor yang sudah berhasil dipasang dengan baik olehnya. Dia sangat mahir, sepertinya memang sudah sangat sering melakukan ini.
"Kita perlu baskom dua biji, satunya untuk motong-motong ayamnya, dan satunya lagi untuk motong sayur-sayuran ini. Gue enggak tahu lo masukin sayuran dan kita harus masak ini malam ini juga," kataku.
"Oke, setelah ini gue masuk ke dalam ambilin lo. Apa lagi yang lo perluin? Gue mah ngikutin arahan lo aja. Malam ini lo gurunya."
Aku tertawa kecil, agak aneh mengetahui aku bisa mengajar Adam yang notabennya diakui sebagai siswa paling bisa dan paling berprestasi di sekolah. Memang benar ya, kekurangan dan kelebihan itu datangnya satu paket, tidak bisa terpisahkan. Karena itu lah tidak ada kesempurnaan di dunia ini meski bagaimanapun mencoba menyempurnakannya. Ciptaan Tuhan tidak akan pernah bisa menandingi Tuhannya sendiri.
"Gue emang guru lo malam ini, tapi lo sama gue sama aja kok. Enggak perlu terlalu berlebihan."
Adam menoleh padaku, singkat saja. "Bagi gue, malam ini lo guru gue, Ibu Guru Abila, calon chef."
Tertegun. Cara Adam memanggilku sebagai 'Ibu Guru Abila, Calon Chef' rasanya entah kenapa menjadi aneh namun berkesan, dan sedikit membuatku terharu bahkan ingin menangis. Aku merasakan sesuatu yang ganjal, tapi satu sisi lagi aku merasa senang dan seakan candu ingin mendengar itu lagi dari orang lain, terus dan terus. Apakah ini yang dinamakan butuh pengakuan? Haus akan keberadaannya diakui dimanapun dan kapanpun? Kalau memang demikian, aku tidak menyalahkan orang yang suka pamer dan berlagak sombong. Mereka hanya berusaha menonjolkan diri mereka, berusaha mengatakan pada dunia kalau mereka mampu. Tapi mau bagaimanapun alasannya, sombong itu tidak baik. Hanya merasa kasihan dengan orang yang demikian, terlalu mengemis dengan cara yang seolah dipertegas. Seperti Erina, dia sebenarnya lemah, tapi dia punya segalanya yang membuatnya jadi kuat.
"Terserah lo," aku pasrah.
"Oke, Ibu Guru Abila, malam ini kita akan masak apa? Masakan yang sama kah atau yang berbeda? Kita harus menghabiskan semua bahan-bahan ini lho," beonya di akhir, seolah ada nada di sana. Ia berniat bercanda, aku berhasil berlarut hingga menyunggingkan senyum padanya.
"Kalau lo mau habisin semua bahan-bahan ini, sekarang giliran gue mau nanya sama lo. Lo mau buat satu menu atau dua menu yang berbeda?" tanyaku.
Entah apapun jawabannya, aku hanya tinggal mengikuti. Akan dituruti, dan akan aku ajarkan semua pengalaman yang aku punya. Aku memang tidak pernah diberikan akses belajar banyak hal, tapi aku cukup membanggakan pengalaman yang aku terima. Pengalaman yang aku rasakan hingga sampai detik ini belum tentu Erina bisa mendapatkan hal yang sama. Dia tidak pernah mendapatkan gemblengan jiwa dan raga, sangat mudah baginya menyerah jika berhadapan dengan dunia yang sedikit keras dengan zona nyamannya yang sekarang.
"Kayaknya dua aja deh, soalnya kata si Kakek penjaga, dia juga akan bawa anak-anaknya ke sini. Nanti akan lumayan rame di sini."
Kedengarannya akan sangat menyenangkan malam ini, tidak akan disia-siakan begitu saja. karena itu lah rasanya ide semakin mengalir lancar di otakku dan rasanya aku punya satu menu yang cocok kita buat malam ini. Hanya berharap rasanya akan cocok dengan selera mereka. "Wah, bagus dong. Kalau gitu gue punya ide mau bikin apa, tapi lo harus ambil apa yang gue bilang tadi. Dua baskom, talenan, pisau, dan air. Lo bisa cari sendiri atau perlu bantuan gue juga?"
"Gue bisa sendiri," jawabnya dengan cepat dan singkat. Aku senang, artinya dia mendengarkan apa yang aku bicarakan. Jarang ada orang yang mau mendengarkan. Biasanya hanya mendengar omongan diri sendiri dan itu akan kacau.
"Lo tahu nyari di mana?" tanyaku lagi. Takutnya dia sama denganku meski dia lah yang punya villa ini. Dia laki, jarang ada yang mau berjibaku dengan semua kekacauan yang ada di dapur. "Lo bisa minta bantuan Nenek kalau lo enggak tahu," kataku lagi.
"Gue tahu kok." dia yakin dengan jawabannya dan aku tidak punya hak untuk menahannya. Kita buktikan setelah ini. Kalau memang dia cepat balik, maka ia benar-benar mengenal betul villanya. Tapi kalau dia lama-lama, tidak kunjung balik, ya tidak masalah juga. Toh dia Adam dan dia anak orang kaya, tidak ada yang bisa menyalahkannya. Astaga, lucu sekali ya bercandaannya orang kaya.
"Ya udah sana cari!"
Adam gerak cepat, tanpa basa basi langsung berbalik badan hendak pergi. Entah kenapa muncul gejolak dalam diriku yang tidak bisa aku abaikan begitu saja. Aku menahan lengannya, dalam sekejap kami saling tatap dalam jarak yang amat dekat.
"Kenapa?" tanya Adam.
"Jawab pertanyaan gue dengan jujur, kenapa mereka bisa bilang kalau gue itu pacar lo? Kalau bukan lo yang mencoba bermain-main dengan rasa percaya mereka, mereka enggak akan percaya apalagi sampai memanggil gue dengan panggilan seperti itu." Itu adalah hal yang sangat mendesak bagiku saat ini. Banyak orang yang menganggap ini sepele, tapi percaya lah kalau mereka ada di posisiku--serba salah, mereka akan paham dengan apa yang aku lakukan sekarang. Sebuah usaha mengamankan diri.
"Emangnya sepenting apa hal ini bagi lo? Kenapa lo enggak percaya aja kalau mereka cuman bercanda?"
Aku sampai mendengus kesal dengan jawaban Adam. Dari tadi aku diam, aku pikir dia mau menyiapkan jawaban yang benar-benar, tapi benar-benar-benar dia menganggap semuanya hanya main-main dan sepele.
"Bagi lo mungkin ini sepele, tapi tidak bagi gue. Banyak yang menganggap hidup gue adalah wahana permainan mereka. Mereka mempermainkan gue sepuasnya tanpa sadar kalau gue juga punya perasaan. Gue bisa sakit hati, gue bisa nangis, gua punya batas kesabaran, bahkan gue juga bisa menyerah dengan hidup gue sendiri. Tidak ada yang peduli."
"Tadi pagi lo bilang ngerti gue, tapi sekarang gue bilang sama lo kalau lo itu sebenarnya enggak tahu apa-apa tentang gue." langsung aku membuat jarak dengan Adam, melepaskan lengannya. "Pada akhirnya lo sama aja dengan Erina. Mau menang sendiri, egois sendiri."
"Lo marah sama gue? Hanya karena gue bilang sama mereka kalau lo itu pacar gue? Emangnya gue salah apa? Toh gue juga bilang itu sama mereka aja, enggak ke semua siswa-siswi di sekolah kita."
Tuh, kan. Pada akhirnya dia mengakuinya juga. Dia lah yang mengakui duluan, lalu kenapa dia diam saja dan enggan mengakuinya? Toh aku tidak menggigitnya, hanya sedikit kecewa. Untungnya mereka melakukan itu pada si Nenek dan si Kakek, tidak pada temannya yang punya potensi besar memberitahu semua orang di lingkungan sekolah. Dan kalau sampai itu terjadi meski hanya sebatas bercandaan, tetap saja akan berakhir buruk bagiku. Semua akan semakin brutal menyakitiku, bahkan Erina. Mungkin kalau suatu hari nanti dia tahu aku dekat dengan Adam bahkan sampai menginap di tempat yang sama dengan cowok ini, dia tidak hanya akan memarahiku atau memukulku, melainkan membunuhku. Karena memang aku sebegitu tidak berharganya di mata mereka. Aku tidak lebih dari seorang mainan.
"Tolong ingat ini, Adam. Gue enggak mau berurusan terlalu rumit sama lo. Lo juga tahu kalau hidup gue ini udah susah banget, enggak akan ada yang bisa membantu gue keluar dari penderitaan ini. Satu-satunya keinginan gue itu cuman ingin damai aja dari permasalahan. Gue pengen sekolah tanpa ada gangguan dari siapapun, pengen melakukan ini itu tanpa ada yang marah sama gue. Lo emang orang baik, teman yang baik, ketua OSIS yang perhatian pada warga sekolahnya, tapi lo enggak ikut campur urusan orang kecuali lo diberi izin masuk ke kehidupan orang itu. Lo jangan terlalu banyak bertingkah, cukup berbuat baik saja," ujarku dengan penuh penekanan dan penuh harap supaya Adam bisa mengerti apa yang aku inginkan. Terus menatap matanya saat mengatakan ini, dan itu tidak bisa bertahan lama.
Menatap mata Adam, aku sedikit tidak berani. Aku berbalik, membelakanginya dan memutuskan kontak mata dengannya. Aku tidak punya banyak kekuatan untuk melawannya, apalagi beradu argumentasi dengannya. Dia dengan segudang prestasi dan ilmu yang diperolehnya dengan bebas, sedangkan aku dengan pengetahuan terbatas, aku akan kalah telak. Lebih baik diam.
"Oke, kalau itu mau lo," ujar Adam.
Aku mengangguk kecil. Saking tidak tahunya mau melakukan apa, sekedar memegang sayuran itu pun aku jadi bingung. Sumpah demi apapun, malam ini terasa semakin sulit. Ada banyak hal yang tidak bisa tergambarkan dengan kata, bahkan kalaupun suara hati yang berteriak, tidak cukup membuat siapapun mengerti. Sangat sulit.
Cukup lama seperti ini, berdiri dan bingung mau melakukan apa, kakiku juga agak sedikit lelah seharian melakukan ini itu, aku ingin duduk sebentar. Aku berbalik, dan kaget. Adam tepat berada di depanku. Aku pikir cowok ini sudah lama pergi mengambil beberapa barang yang aku minta darinya, tapi tidak. Dia berdiri dengan gaya angkuhnya, memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Dengan sorot mata yang sama, tajam.
"Lo bilang kalau lo membebaskan siapapun mengurus hidup lo asalkan dia mendapatkan izin dari lo," dia maju selangkah, semakin mempertipis jarak di antara kami berdua. Aku mau mundur sudah tidak bisa, mentok ada meja di belakangku. Kalau lari? Bukankah akan sangat aneh lari dari sebuah masalah yang aneh ini? Iya, aneh. Adam dan segala kejutannya.
"Kalau gitu, izinkan gue jadi pacar lo."
***
Pada akhirnya akan menjadi sebuah kecanggungan yang amat sangat besar, mengental dalam diri kami masing-masing. Coba bayangkan, di saat kamu tidak mau membangun sebuah hubungan karena orang tersebut adalah bomerang untuk dirimu sendiri, namun di satu sisi ia malah mendekat dan mencoba mengikat sebuah hubungan denganmu? Di samping itu juga, kamu merasa kebingungan mau mengambil langkah apa karena separuh dari dirimu ternyata sudah menginginkannya, nyaman dengannya, bergantung dengannya. Akan tetapi, sadar diri akan kebersamaan itu terasa sangat mustahil. Itu lah yang aku rasakan sekarang. Kalau Adam bukan menjadi bomerangku, yang aku takutkan nanti aku lah yang menjadi bomerang Adam. Kita menyerang satu sama lain dan pada akhirnya apa? Sia-sia. Karena itu lah aku tidak menjawab Adam. Lebih baik kecewa sekarang daripada saling menyakiti di kemudian hari.
Ini tidak akan pernah menjadi sebuah kebanggaan yang akan aku pendam, bisa membuat seorang Adam menginginkan diriku. Tidak akan pernah kuberitahu siapapun, terutama Erina. Ingin bungkam, aku malah tidak yakin dengan Adam. Apakah dia bisa bungkam juga sama sepertiku? Apakah dia akan paham juga dengan apa yang aku rasakan dan terima kalau dia tidak sejalan dengan rencanaku? Jujur, demi apapun itu, pikiranku semakin bercabang dengan segala masalah yang datang tanpa jera.
Lalu kini, aku dan Adam berjauhan. Mungkin tidak seperti yang dilihat, namun seperti apa yang dirasakan. Tidak ada yang berbicara meskipun si Nenek dan Kakek mencoba memancing kami mengobrol satu sama lain. Mentok-mentok kami hanya saling lihat, bertahan beberapa detik saja kemudian membuang muka satu sama lain. Tidak ada yang bersuara, sedikitpun. Sampai akhirnya para tetua ini menyerah dan memisahkan kami. Aku fokus mengolah bahan-bahan masak yang pada akhirnya tidak jadi ditangani Adam, sedangkan Adam berbaur dan main catur dengan si Kakek dan anak lelakinya. Aku bersama dengan Nenek dan anak perempuannya yang umurnya sama denganku, menyiapkan makanan untuk malam ini. Sempat juga berkenalan dengan anak mereka, dia baik dan murah senyum. Sifat baik orang tua menurun ke anaknya.
"Kamu mau buat apa, nak?" tanya si Nenek, tiba-tiba mengagetkan aku. Sebelumnya dia di belakangku, menyusun masakan yang dibawanya dari rumahnya.
"Tumis ayam sayur, nek," jawabku, agak sedikit lemah.
"Wah, pasti enak. Kamu juga terlihat telaten masak ini itu, sepertinya kamu sudah terbiasa masak, ya?"
Nadanya yang bersemangat membuatku betah menatap si Nenek. Senyumnya senantiasa manis, tidak perlu diragukan lagi. Dan aku berterima kasih pada lampu malam ini. Karena dia lah aku bisa menatap sorot mata setulus ini, benar-benar aku terlena meski si empunya sudah tua. Benar-benar sangat berdosa aku jika berani membuatnya kecewa apalagi terluka dengan apa yang aku katakan. Sebab lisan lebih tajam dari perbuatan.
"Iya, nek. Aku sudah terbiasa masak sejak kecil," tidak sengaja menoleh ke samping dan berpapasan dengan Adam yang ternyata sedang menatapku. Dalam sekejap, begitu hebatnya tanpa direncanakan, kami membuang muka dalam ketukan irama dan detik yang sama. "Tapi tenang saja, nek. Masakanku tidak bisa menandingi masakan nenek. Sudah pasti masakan nenek yang terbaik, sudah punya banyak pengalaman memasak, sedangkan aku hanya baru seperempat usia nenek," kataku.
"Siapa tahu? Tidak ada yang bisa memastikan kecuali kita mencicipinya nanti," si nenek membalas tanpa mencoba menyombongkan atau menjatuhkan. Terbaik.
"Tentu saja, nenek harus mencicipinya nanti," lalu aku kembali fokus dengan masakanku. Sudah hampir matang setelah segala proses yang aku lalui dibarengi dengan perasaan kesal. Dimulai dengan merebus ayam yang kemudian aku suwir, lalu menumis kaum bawang-bawang hingga aromanya keluar, memasukkan ayam dan sayuran, memberi bumbu tambahan supaya rasanya semakin maknyus, dan tidak lupa menambahkan air dan larutan meizena. Semua proses itu aku lalui dengan perasaan yang sama, jengkel, marah, dan kesal. Bagaimana tidak? Begitu banyak rencana yang sudah berubah, dan berakhir aku lah yang memasaknya. Bahkan tidak semua bahan bisa aku pakai, masih banyak yang tersisa.
"Sebenarnya, kalau sesuai rencana, Adam lah yang memasak. Dia melihatku memasak pagi ini dan ingin aku mengajarinya." Tiba-tiba aku malah menyebut itu, terasa gatal jika tidak disebutkan. Rasanya ingin memperjelas kalau aku sedang kesal, tapi setelah aku mengatakannya malah aku merasa kalau seharusnya aku diam saja. Pasalnya, setelahnya si Nenek malah menatapku seolah sedang mengejek. Aku tidak terbiasa dengan itu.
"Nenek tahu. Den Adam menceritakan itu pada Nenek."
"Cerita?" seketika aku menjadi penasaran, kenapa si cowok menyebalkan ini malah cerita pada seorang Nenek kalau dirinya mau diajarkan memasak? Sedangkan keadaannya dia juga adalah pemilik villa yang dijaga Nenek itu. Seharusnya sebagai anak pemilik, ia tidak perlu repot-repot, tinggal keluarkan uang dari dompet dan dalam sekejap bisa merasakannya. Sepertinya yang dilakukan Erina. "Adam cerita apa pada Nenek?" tanyaku lagi.
"Dia sangat semangat mau belajar masak sama kamu. Awalnya Nenek juga kebingungan, kenapa Den Adam malah mau belajar masak sedangkan selama ini ia hanya tinggal makan saja. Lebih-lebih saat Nenek tahu kalau dia mau belajar sama kamu."
Aku punya pemikiran yang sama dengan Nenek ini.
"Mohon maaf kalau Nenek lukai perasaan kamu, tapi bukan berarti Nenek mau meremehkan kamu. Secara logika, kamu masih kecil, masih anak sekolah dan belum punya banyak pengalaman. Sekelas Den Adam, kalau mau belajar, ia hanya tinggal daftar kelas memasak dan nanti akan diajarkan chef terkenal yang pengalamannya sudah banyak dan sudah bisa dipastikan jelas asalnya dari mana. Tapi setelah Nenek tahu satu hal, nenek jadi mengerti kalau memang kita tidak bisa menilai dari satu sisi, kali saja memang masakan kamu berhasil membuat Adam jatuh cinta."
Tertawa kecil mendengar penuturan Nenek. "Ah tidak mungkin. Masakanku masih dengan teknik dasar, tidak akan mungkin sampai seperti itu. Itu terlalu berlebihan. Kebetulan saja Adam ketemu denganku dan mau diajarkan ini, tidak perlu sampai jatuh cinta segala. Tidak akan ada yang mungkin bisa seperti itu."
"Tentu saja ada, nak."
Aku sudah berusaha mematahkan harapanku dengan mencoba mengelak semua kemungkinan, tapi si Nenek malah berusaha membangun harapanku kembali seolah itu adalah hal yang penting dan harus aku terima. Kalau tidak aku akan merugi.
"Tidak ada yang tidak mungkin. Tuhan itu maha adil dengan segala rencananya yang tidak pernah terduga. Seperti Kakek dan Nenek dulu saat masih muda. Kisah kami dulu sama dengan kisah muda kamu dengan Den Adam yang sekarang."
Hmm... menarik. Tapi ingat, tetap tahan diri untuk tidak berharap. Menaruh harapan adalah hal yang sangat haram aku lakukan. Kalau sampai aku berani mencicipinya, maka siap-siap dengan rasa kecewa. Sesungguhnya, harapan itu datang dengan dua kemungkinan, kekecewaan dan kebahagiaan, namun tidak banyak yang berhasil mendapatkan kebahagiaannya.
"Dulu si Kakek suka sama Nenek juga awalnya dari makanan. Nenek ini suka sekali memasak dan membagi-bagikan ke banyak orang karena Nenek tidak bisa memakannya sendirian. Sampai akhirnya kami berdua bertemu dan mulai dari saat itu lah si Kakek sering menemui Nenek dan kami menikah. Semuanya tidak terduga, nak. Jangan terlalu putus asa kalau Tuhan saja masih semangat merancang rencana bahagia untuk setiap hambaNya."
Tuturan si Nenek ini membuatku menoleh ke belakang, hanya dengan satu alasan—melihat Adam dan memastikan apakah dia masih melihatku. Dan dia masih.
"Kamu tahu tidak, nak? Ada satu hal yang mengejutkan lagi dari Den Adam."
Aku menggelengkan kepalaku tanpa mengalihkan pandangan dari Adam.
"Hanya kamu satu-satunya yang dibawa ke sini, dan diperkenalkan sebagai pacar kepada Nenek dan Kakek. Nenek tahu karena itu yang membuat kalian sekarang bertengkar, Nenek minta maaf kalau menguping pembicaraan kalian. Tapi kita harus sama-sama mulai percaya kalau Den Adam tidak melakukan itu tanpa sebab. Bisa jadi memang Den Adam menyukaimu, nak."
Tapi Nenek ini tidak tahu kalau rasa suka itu lah yang aku hindari. Itu bahkan lebih berbahaya dari yang dibayangkan. Memang bukan Adam yang berbahaya, tapi orang-orang disekitarnya yang menginginkan kebahagiannya bersama orang yang tepat sesuai dengan keinginan mereka. Tentu orangnya bukan aku, perlu ditebalkan masalah ini.
"Den Adam suka sama kamu, nak," ujar Nenek ini lagi, mempengaruhi pikiranku.
Oke, baiklah, percaya dengan satu ini, tapi aku juga perlu bertanya satu hal. "Kenapa Adam lebih senang memberitahu Nenek dan Kakek, sedangkan dengan orang tuanya dia terdengar tidak akur sama sekali?" tanyaku.
"Sebenarnya Nenek tidak boleh memberitahukan masalah ini. Ini adalah masalah pribadi Den Adam, tapi Nenek tahu jawabannya."
Dengan Nenek menjawab demikian, aku semakin penasaran dengan yang sebenarnya. "Nenek bisa bisik aku kalau itu terlalu pribadi. Tapi aku tidak memaksa nenek. Kalau tidak mau memberitahu, jangan beritahu."
"Den Adam bukan anak kandung orang tuanya yang sekarang."