Hobi Baru

1274 Kata
Hari-hari Fery di bangku SMP terus berjalan. Ia semakin menonjol di kelas, bukan hanya karena sikapnya yang tenang, tapi juga karena kemampuannya menjawab pertanyaan-pertanyaan guru — terutama dalam pelajaran Matematika. Tak sedikit teman-teman sekelasnya yang terkejut, karena mereka mengira Fery hanyalah siswa biasa dari kelas terbuka. Ternyata, mereka salah. Fery memiliki kecerdasan di atas rata-rata. “Halah, paling juga cuma sok pintar,” sindir Vicky, salah satu siswa yang sering iri dengan Fery. Ia dikenal sebagai anak pembuat onar bersama gerombolannya, dan sejak awal memang tak suka melihat Fery bersinar. Namun Fery tak pernah menanggapi celaan. Ia memilih bersikap acuh dan langsung pulang begitu bel pulang sekolah berbunyi. Ia tahu, meladeni mereka hanya membuang waktu. Enam bulan berlalu. Fery kini telah melewati semester pertamanya di SMP. Ia tetap aktif dalam ekstrakurikuler pencak silat dan terus berlatih dengan penuh semangat. Usahanya tak sia-sia. Pak Eko, pelatih silat sekolah, mulai memperhatikan perkembangannya. Bahkan Hermawan, asisten pelatih, melihat sesuatu yang berbeda dari diri Fery. “Anak itu bagus, Pak,” ujar Hermawan sambil menunjuk ke arah Fery yang tengah berlatih. “Tapi dia bukan anak reguler, Wan. Dia dari kelas terbuka,” jawab Pak Eko. Hermawan menatap Fery dengan serius. “Lalu kenapa? Kalau begitu, biar saya saja yang latih dia secara khusus,” ucapnya mantap. Sore itu, setelah sesi latihan selesai, Pak Eko dan Pak Hermawan mengumpulkan seluruh anggota pencak silat. Fery duduk di barisan depan, mendengarkan dengan penuh perhatian. Hermawan berdiri tegak di hadapan mereka, suaranya tegas dan membakar semangat. “Saya harap kalian latihan dengan sungguh-sungguh. Jangan bolos! Latihan ini gratis, cuma iuran kas Rp2.000 seminggu. Tapi manfaatnya besar. Kalau kalian serius, kalian bisa jadi atlet, membawa nama sekolah, bahkan daerah!” Semua terdiam memperhatikan. Lalu, Hermawan menatap ke arah Fery. “Kamu, siapa namamu?” “Saya Fery, Pak,” jawabnya sopan. “Kamu mau jadi atlet?” tanya Hermawan serius. Fery sempat terdiam, lalu menjawab polos, “Emangnya saya bisa, Pak?” Beberapa siswa tertawa kecil mendengar kepolosannya. Namun Hermawan tidak tersenyum. Ia menatap Fery dengan yakin. “Tentu bisa. Semua orang punya kesempatan. Justru kamu harus jadi atlet. Kamu punya potensi. Tapi syaratnya, kamu harus latihan lebih keras dari yang lain. Kalau kamu siap, mulai minggu ini kamu ikut latihan tambahan di rumah saya, tiap malam Rabu. Siap?” “Siap, Pak!” jawab Fery sambil mengangguk. Hermawan tersenyum puas. “Kalau begitu, saya tunggu. Datang ya, jangan telat. Ini awal dari langkah besarmu.” Fery hanya bisa menatap pelatih itu dengan semangat dan sedikit rasa gugup. Dalam hatinya, ia tahu — inilah awal dari perjalanan baru yang mungkin akan mengubah hidupnya. “Untuk yang lain, kalian juga boleh ikut latihan di rumah saya. Tapi kalian harus minta izin orang tua dulu, termasuk kamu, Fery. Oh ya, kalau kamu siapa namanya?” tanya Pak Hermawan sambil menunjuk ke arah Ardhy dan Reza. “Saya Ardhy, Pak,” jawab Ardhy. “Saya Reza, Pak,” sambung Reza. “Baik, kalian berdua juga saya harap bisa datang. Dan saya harap kalian semua tetap semangat,” ujar Pak Hermawan sambil tersenyum memberi semangat. Benar saja, saat waktu salat Asar tiba dan suasana sekolah mulai sepi, Fery dihampiri oleh Vicky, Rino, dan Yuda. Ketiganya datang dengan wajah menyebalkan, penuh niat buruk. Tanpa banyak bicara, mereka menyeret Fery ke belakang kantin—tempat yang sering dijadikan tempat bersembunyi atau berbuat onar. Di sanalah mereka menghadangnya, memanfaatkan suasana yang sepi dari pengawasan guru. Namun Fery tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut. Meski tubuhnya kurus dan tidak sebesar lawannya, sorot matanya tegas dan penuh keberanian. Latihan yang dijalaninya selama ini ternyata tidak hanya membentuk fisiknya, tetapi juga mentalnya. "Apa maumu? Jangan ganggu aku!" ujar Fery dengan nada tegas, menatap mereka tanpa gentar. “Kamu pelit, enggak mau kasih contekan,” jawab Vicky dengan sinis. “Sekarang rasain balasannya!” Tanpa aba-aba, Vicky langsung menyerang. Tapi Fery yang sudah siap, dengan gesit menghindar ke samping dan membalas dengan tendangan keras tepat ke punggung Vicky. Bruaakkk! Vicky terpental ke arah tumpukan meja dan kursi rusak yang ada di dekat tembok, membuat suara berisik memecah keheningan. Rino yang marah melihat temannya jatuh, langsung maju sambil mengepalkan tinjunya. Ia mengayunkan pukulan lurus ke arah wajah Fery. Namun Fery merunduk cepat dan melontarkan tinju uppercut ke dagu Rino. Bugghh! Rino langsung terjatuh, mengerang sambil memegangi rahangnya yang nyeri. Napasnya tersengal. Kini tinggal Yuda. Tapi Fery tidak memberinya kesempatan menyerang duluan. Ia langsung melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Yuda, lalu menendang perutnya dengan keras. Yuda terjatuh dan berguling di tanah, meringis kesakitan. Namun dari belakang, Vicky yang sempat bangkit diam-diam mengambil potongan kayu dari kursi rusak. Ia menghampiri Fery dari belakang dan menghantamkan kayu itu dengan sekuat tenaga ke punggung Fery. Praaakkk! Kayu itu pecah menjadi dua, tapi Fery hanya terdiam sejenak menahan sakit. Ia berbalik dengan wajah dingin menatap Vicky, membuat Vicky justru mundur beberapa langkah karena takut. Beberapa siswa yang melihat kejadian itu dari kejauhan terperangah. Mereka tak percaya Fery, anak kurus yang biasanya diam dan sederhana, bisa menghajar tiga anak nakal sekaligus. Tidak hanya itu, ia melakukannya dengan teknik yang rapi dan penuh kendali. Fery tak ingin memperpanjang masalah. Setelah memastikan semua aman, ia segera berlari kecil ke mushola sekolah. Waktu salat Asar hampir habis, dan ia tak ingin melewatkannya. Di tengah rasa sakit di punggung dan napas yang masih berat, ia tetap khusyuk menunaikan salat. Beberapa menit kemudian, bel tanda guru akan masuk kembali berbunyi. Fery pun bangkit dari sujud terakhirnya, mengambil wudu kembali, dan bersiap kembali ke kelas. Meski tubuhnya sakit, dalam hati Fery tahu: keberanian, kesabaran, dan keyakinan adalah kekuatan sejatinya. Dan hari itu, ia telah membuktikannya. Setelah menunaikan salat Asar, Fery kembali masuk ke kelas. Matanya langsung menangkap tiga anak yang tadi menyerangnya—Vicky, Rino, dan Yuda—duduk di bangku mereka dengan wajah memar dan tubuh lemas. Terutama Rino, yang tadi terkena pukulan uppercut di dagu, terlihat kesakitan dan hampir tak bisa berbicara. Beberapa teman sekelas mulai berbisik-bisik, melihat kondisi mereka yang mengenaskan. Namun Fery hanya berjalan tenang ke tempat duduknya, tak memperlihatkan rasa bangga atau puas sedikit pun. Dia tahu, perkelahian bukan sesuatu yang bisa dibanggakan. Tapi dia juga tahu bahwa dia hanya membela diri. "Dasar pecundang," gumam Fery dalam hati sambil melirik sekilas ke arah mereka. “Pasti mereka akan cari kesempatan buat balas dendam.” Belum lama duduk, Yunus, sahabatnya yang duduk di belakang, berbisik pelan. "Fer, tadi kamu berantem ya sama mereka?" tanyanya dengan nada penasaran. Fery menoleh singkat dan menjawab, "Iya, tapi udahlah, enggak usah dibahas. Lihat tuh, gurunya udah masuk." Yunus mengangguk, meski rasa penasaran masih menggelayuti wajahnya. Pelajaran pun dimulai. Fery mencoba mengalihkan fokusnya ke papan tulis dan penjelasan guru. Ia menyimak dengan sungguh-sungguh, mencatat setiap hal penting. Dalam hatinya, ia menyimpan tekad yang kuat: ia harus bisa bersaing dan menunjukkan bahwa dirinya mampu—meskipun berasal dari kelas non-reguler dengan jam belajar yang lebih singkat, lima jam lebih sedikit dari kelas negeri reguler. “Aku harus bisa. Mereka boleh meremehkan, tapi aku akan buktikan.” Begitu bel pulang berbunyi, Fery langsung berkemas. Ia memilih pulang lebih awal, tak ingin memberi kesempatan ketiga anak itu mengeroyoknya lagi. Ia berlari meninggalkan halaman sekolah, menembus angin sore yang berhembus kencang. Ternyata dugaannya benar. Dari kejauhan terdengar teriakan: “Itu dia! Kejar!” Vicky dan yang lain mencoba mengejarnya. Tapi Fery sudah terlalu jauh. Tubuhnya yang ringan dan kakinya yang terbiasa berlari saat latihan membuatnya melesat cepat seperti anak panah. Ia berlari secepat kuda lepas dari kandang, menyusuri gang-gang kecil dan tikungan-tikungan sempit, hingga akhirnya mereka kehilangan jejak. Fery tak menoleh ke belakang. Nafasnya tersengal, tapi matanya fokus ke depan. Bukan hanya untuk menghindari mereka, tapi juga untuk mengejar masa depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN