Babak Baru di Bangku SMP

1157 Kata
Keesokan harinya, Fery diajak oleh ibunya, Bu Rista, untuk mengikuti tes masuk sekolah negeri. Salah satu syarat dari sekolah itu adalah ujian keagamaan, termasuk membaca Al-Qur’an dan wawasan religi. Meski sedikit gugup, Fery merasa senang karena hal seperti ini bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Setelah mengerjakan soal tertulis, Fery dipanggil untuk diuji secara langsung. “Namamu siapa?” tanya guru penguji sambil tersenyum. “Saya Fery, Pak,” jawab Fery sopan. Guru itu mengangguk puas. “Bagus, bacaanmu jelas dan wawasan agamamu juga luas. Pertahankan, ya. Teruslah belajar dengan sungguh-sungguh.” “Baik, Pak. Terima kasih,” balas Fery dengan penuh semangat. Sementara Fery menjalani tes, ibunya menunggu di luar bersama para orang tua lainnya. Di sana, Bu Rista bertemu dengan seorang ibu yang ternyata adalah ibunya Yunus — teman SD Fery dulu. Tak lama kemudian, Fery pun bertemu langsung dengan Yunus. “Nus! Kamu daftar sekolah di sini juga?” tanya Fery, senang. “Iya, Fer! Nggak nyangka kita ketemu di sini lagi,” jawab Yunus antusias. Mereka pun berbincang sebentar, lalu pulang bersama sambil tertawa kecil mengenang masa-masa di SD dulu. Namun, dalam perjalanan pulang, Fery baru teringat satu hal. “Aduh! Aku lupa kasih tahu Wahyu kalau aku udah daftar sekolah. Besok aja deh, pas ketemu aku bilang langsung,” gumamnya. Padahal Wahyu sangat berharap bisa satu sekolah lagi dengan Fery — bahkan ibunya Wahyu juga diam-diam berharap begitu. Siapa sangka, harapan itu mungkin akan jadi kenyataan. Keesokan harinya, Fery pun menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Wahyu. Syukurnya, Wahyu ada di rumah bersama ibunya. Tanpa basa-basi, Fery langsung menceritakan pengalamannya mendaftar sekolah negeri. “Jadi gini, Bu… sekolahnya memang jam belajarnya sebentar, cuma tiga jam saja setiap hari,” kata Fery menjelaskan. Ibunya Wahyu terlihat penasaran. “Terus, bayar berapa kamu daftar di sana, Fer?” “Nggak bayar sama sekali, Tante. Gratis. Bahkan seragam dan perlengkapan lainnya langsung dikasih dari sekolah,” jawab Fery. Ibunya Wahyu tampak terkejut, namun senang mendengarnya. “Memang masih bisa daftar sekarang?” tanyanya lagi. “Kata ibu sih masih bisa, Tante. Masih ada gelombang kedua, kok,” jelas Fery. “Kalau begitu, kapan gelombang kedua dibuka? Persyaratannya apa aja?” Fery pun menjelaskan tanggal pendaftaran dan dokumen apa saja yang perlu disiapkan. Ia juga memberi tahu Wahyu soal materi tes, terutama ujian keagamaan. “Tesnya ada soal dan ngaji, Yu. Tapi kalau soal ngaji mah, kamu pasti aman lah,” ucap Fery sambil tersenyum. Wahyu tersenyum kecil. Ia memang dikenal pandai mengaji, bahkan sering jadi imam di musala kecil dekat rumah. Dengan semangat baru, Wahyu pun mulai tertarik untuk ikut mendaftar. Siapa tahu, mereka bisa kembali satu sekolah seperti dulu. Setelah hampir tiga minggu menunggu, akhirnya masa sekolah pun dimulai. Fery, Wahyu, dan Yunus kini resmi menjadi siswa SMP negeri. Karena program mereka adalah program khusus, bukan reguler, seluruh siswa hanya berada dalam satu kelas — berbeda dari siswa reguler yang memiliki banyak kelas. Setiap pagi, mereka bertiga berangkat sekolah bersama. Hari-hari awal di sekolah baru mereka manfaatkan untuk beradaptasi dengan lingkungan, teman-teman baru, dan rutinitas yang berbeda dari masa SD. Di minggu pertama, pihak sekolah mulai memperkenalkan kegiatan ekstrakurikuler. Fery tertarik pada pencak silat, sementara Wahyu dan Yunus lebih memilih bergabung dengan tim futsal. “Kalian ikut ekskul apa?” tanya Fery saat istirahat. “Aku futsal sih,” jawab Wahyu. “Sama, aku juga,” timpal Yunus. “Kalau kamu?” tanya Wahyu kepada Fery. “Kayaknya aku ikut pencak silat aja, seru kayaknya,” jawab Fery dengan semangat. “Oh iya, katanya Bu Chandra, ekskul mulai minggu depan,” ujar Wahyu. Hari-hari berlalu, dan mereka mulai bergaul dengan siswa-siswa lain. Wahyu mulai akrab dengan kelompok siswa yang dikenal nakal dan suka membuat keributan. Fery dan Yunus kadang ikut nongkrong, tapi Fery sadar ia hanya ingin berbaur, bukan ikut-ikutan. Sayangnya, Fery justru menjadi sasaran iseng. Suatu hari, salah satu siswa menyenggol bahunya dengan sengaja. Fery memilih diam dan langsung menuju kelas tanpa membalas. “Duh, kayaknya aku punya firasat buruk soal Wahyu. Dia mulai main sama anak-anak itu… padahal mereka nyebelin dan kasar semua,” gumam Fery sambil menarik napas panjang. Ternyata benar. Kelompok itu sering mengejek teman, bahkan sesekali terlibat adu mulut untuk menunjukkan siapa yang paling kuat. Fery prihatin melihat Wahyu ikut-ikutan mereka. Tapi di sisi lain, ia percaya Wahyu punya pilihan dan bisa menentukan jalannya sendiri. “Ternyata dunia SMP seperti ini… banyak yang anarkis dan arogan. Hah, biarin deh,” ucap Fery, mencoba cuek. Sejak itu, Fery mulai menjauh dari pergaulan yang menurutnya tidak sehat. Ia memilih langsung pulang setelah sekolah. Tak seperti saat SD, di mana ia sering bermain dan sedikit nakal, kini Fery lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Ia teringat perjuangan ibunya yang bekerja keras demi membiayai sekolah dan kebutuhan hidupnya. Itu membuatnya sadar untuk lebih fokus dan dewasa. Seminggu kemudian, ekstrakurikuler pun dimulai. Diam-diam, Fery hadir di latihan pencak silat tanpa banyak teman yang tahu, kecuali Wahyu dan Yunus. Di sana, ia mulai membuka diri dan berkenalan dengan siswa dari kelas reguler. “Hai, boleh kenalan? Nama aku Fery,” ucapnya ramah. “Aku Ardhy,” jawab salah satu siswa sambil menjabat tangan Fery. “Aku Reza, salam kenal,” sambung siswa lainnya. Sejak pertemuan itu, mereka bertiga menjadi akrab. Bersama-sama, mereka berlatih dengan semangat dan sungguh-sungguh. Bagi mereka, pencak silat bukan hanya olahraga, tapi juga bagian dari warisan budaya Indonesia dan bekal untuk melindungi diri. Meski begitu, di hati kecilnya, Fery sempat merasa minder. Ia sadar dirinya berasal dari kelas non-reguler, sementara teman-temannya dari kelas reguler. Tapi Fery menolak menyerah. Ia terus berlatih keras untuk membuktikan bahwa dirinya juga pantas, bahkan bisa menjadi pesilat yang profesional. “Ternyata latihan silat seru juga, ya,” kata Ardhy. “Iya, apalagi kata Pak Eko tadi, kalau kita tekun, kita bisa seperti kakak-kakak yang pernah juara itu,” tambah Reza. “Janji ya, kita terus latihan dengan disiplin. Siapa tahu suatu hari nanti, kita bisa lebih hebat dari mereka,” ucap Fery dengan penuh semangat. Hari demi hari berlalu, Fery semakin tekun mendalami pencak silat. Ia nyaris tak pernah melewatkan waktu untuk berlatih — pagi, siang, bahkan malam hari. Semangatnya begitu membara. Di rumah, ia kerap menendang karung bekas berisi rongsokan yang sengaja digantung di sudut halaman, menjadikannya sebagai samsak latihannya sendiri. Ibunya, Bu Rista, memperhatikan anak laki-laki semata wayangnya itu dengan campuran heran dan kagum. Tak jarang ia geleng-geleng kepala melihat Fery yang tak kenal lelah. “Fery, udah ya… jangan latihan terus. Pagi latihan, siang latihan, malam pun masih juga latihan,” ucap Rista, separuh khawatir. Fery berhenti sejenak, menghapus keringat di dahinya, lalu menatap ibunya dengan senyum tulus. “Iya, Bu... soalnya aku pengen jadi ahli silat. Biar kalau ada apa-apa, aku bisa lindungi Ibu… dan Naila juga,” jawabnya dengan penuh tekad. Mendengar itu, hati Bu Rista bergetar. Dalam diam, ia merasa haru dan bangga. Anak yang selama ini ia besarkan dengan susah payah, kini tumbuh dengan semangat dan rasa tanggung jawab yang besar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN