Apakah Naia bermimpi, atau ia kembali berdelusi. Itu adalah pertanyaan yang muncul di benak Naia. Tidak ada alasan baginya untuk meragukan kewarasannya. Namun siapapun akan merasa dirinya kehilangan kewarasan jika melihat pria yang seharusnya meninggal, berdiri di depannya. Hidup dan tanpa cedera. Naia mulai percaya pada keajaiban setelah melihat Rei. "Rei... apa ini kamu? Apa aku sedang bermimpi?" lirih Naia. Kakinya hampir bergerak menyongsong tubuh Rei dan memberikan pelukan kerinduan pada pria itu. Dia ingin membenamkan dirinya di tubuh Rei, mengeluh, menciumanya dan segala hal yang tidak pernah ia lakukan selama tiga tahun ini. Ia ingin mengungkapkan semua yang terjadi sehingga pria itu merasakan seperti apa penderitaannya tanpa Rei. Akan tetapi semuanya buyar tak kala suara dingin

