Oh My Xavier 1 - Aku Adalah Owner
Prolog
Napas wanita itu terengah. Matanya berkaca-kaca melihat seorang pria yang memegang pisau berlumuran darah. Ekspresi yang biasanya datar dari pria itu, kini berubah dan terlihat seringaian keji di sana. Tangis Emilie turun seketika kala punggungnya menyentuh tembok dan tidak bisa ke mana-mana lagi akibat kakinya yang lemas.
Xavier, pria yang selama ini selalu bersamanya itu terus menatap Emilie tanpa henti. Pakaiannya sudah berlumuran darah. Entah darah siapa. Entah darah orang jahat atau darah manusia yang tidak bersalah.
“Bagaimana? Apakah..., Kau sudah takut padaku sekarang, Sayang?”
Tentu saja. Manusia bodoh mana yang tidak takut saat tahu orang yang selama ini dicintainya adalah pembunuh?!!
***
Napas gadis itu terengah kala melihat bangunan besar di hadapannya. Matanya menatap setiap sudut bangunan, meneliti kalau-kalau dia salah menebak. Memang tidak ada tulisan hotel atau motel yang tertulis di bangunan itu. Namun, melihat banyaknya jendela di sana, gadis itu hanya menganggapnya sebagai sebuah kostan atau hotel yang tidak berbintang.
Gadis itu membuka resleting ransel yang dia gunakan, dan mengambil dompet di sana lalu menyampirkan kembali tasnya di punggung. Kakinya melangkah perlahan, meniti anak tangga di halaman untuk meraih pintu bangunan itu.
Sial, pikirnya. Ini adalah hari pertama bagi seorang Emilie Spencer datang ke sini. Ke Los Angeles. Jika saja mobilnya tidak mogok di jalan dan perusahaan yang merekrutnya berbaik hati memberikan uang transportasi, Emilie mungkin takkan berakhir di sini dengan mobil bututnya yang mogok di jalan.
Sampai di pintu kayu bercat merah itu, Emilie menghela napas panjang, dan mencoba membuka pintu tersebut dengan knop pintu yang ada di sana. Dia mendorong pintu tersebut, dan seketika matanya disuguhkan dengan banyaknya orang yang berkumpul di sana. Diam-diam, Emilie menghela napas lega karena sebelumnya dia menyangka jika bangunan ini bangunan berhantu. Karena selain berada jauh dari perkotaan, Emilie tidak biasa dengan pintu hotel yang tertutup. Apalagi, ini malam hari. Dan dengan latar suara petir juga ikut mengganggu ketenangan Emilie.
Tepat setelah Emilie masuk ke dalam dan menutup pintu, suara hujan mulai terdengar deras di luar sana. Emilie mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan dan menatap orang-orang di sana yang sepertinya tidak saling kenal satu sama lain karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Di ujung sana, ada resepsionis pria yang memberikan kunci kartu pada seorang wanita. Emilie segera melangkah ke sana, menghampiri meja resepsionis tersebut.
Bruk!
Emilie tersentak ke belakang kala tubuhnya ditabrak oleh seseorang. Ya, ditabrak, bukan menabrak. Karena pria yang berada di depannya ini tiba-tiba muncul tanpa aba-aba, berlari dari sisi koridor kanannya.
Napas Emilie terengah kaget. Refleks, ia mengucapkan maaf walaupun tahu itu bukan salahnya. Kepala Emilie terangkat, dan dia tertegun melihat wajah tampan di depannya. Seumur hidup, Emilie tidak pernah melihat wajah setampan itu. Wajah tanpa senyum namun matanya menenggelamkan Emilie. Warna maniknya yang berwarna biru sempurna dengan hitam yang menjadi garis si biru itu.
“Anda terluka?” Tanya pria itu, membuat Emilie tersentak dan refleks mengangguk-anggukkan kepalanya seperti orang i***t.
Dapat Emilie lihat senyum segaris pria itu yang membuat Emilie menggigit bibir bawahnya dengan gugup. “Maaf, aku tidak melihat jalan.” Kata Emilie.
Pria itu mengangguk tanpa mengatakan apapun. Seolah mereka tadi tidak mengalami insiden, pria itu berjalan ke arah resepsionis terlebih dahulu.
Emilie menelan ludahnya dengan susah payah, menahan rasa gondok karena memang bukan dirinya yang salah tapi harus meminta maaf. Emilie menghela napas pelan. Dia kembali melangkah ke arah resepsionis itu dan dia sampai di sana tepat ketika pria yang tadi menabraknya pergi.
“Aku ingin memesan kamar,” ucap Emilie ketika berada di hadapan resepsionis. Emilie kira, ia akan mendapatkan raut wajah heran dari pria itu. Tapi ternyata tidak.
Pria resepsionis itu tersenyum pada Emilie. "Untuk berapa hari, Nona?” Tanyanya.
“Malam ini saja.” Jawab Emilie dengan rasa senang yang tidak dapat ditahannya. Mulutnya mengembangkan senyum lebar karena ia tidak salah menebak jika bangunan ini adalah hotel.
Pria itu mendengus geli melihat tingkah Emilie. Dia terlihat mengetikkan sesuatu di balik kayu yang memisahkan mereka. “Anda baru, Nona?”
Emilie mengernyitkan alisnya dengan heran mendengar perkataan resepsionis tersebut. "Umm ya?” Jawabnya ragu, lebih pada sebuah pertanyaan.
Pria itu tersenyum tipis. “Perkenalkan. Saya Neo. Neo Herbert.”
“Senang bertemu Anda, Tuan Herbert. Saya Emilie Spencer. Panggil saja aku Em.” Balas Emilie dengan ceria.
“Senang bertemu denganmu juga, Em. Panggil saja aku Neo, dan ini kunci kamarmu,” Neo memberikan kunci ke hadapan Emilie.
Emilie tersentak kembali. “Ah ya, berapa harga satu kamarnya? Aku lupa menanyakannya.”
Senyum Neo menghilang ketika Emilie mengatakan hal tersebut. Neo menarik kuncinya kembali ke sisinya. Matanya menatap kaget pada Emilie. “Kau bukan anggota? Bagaimana kau tahu tempat ini?”
Emilie mengedipkan matanya dengan kebingungan. "Um..., apa maksudnya itu? Anggota?”
“Kau tidak seharusnya di sini, Nona. Hanya anggota yang tahu tempat ini dan hanya anggota yang dapat mengetahui tempat apa ini.” Kata Neo sambil menyembunyikan kembali kunci kamarnya.
Emilie terserang panik. Matanya menatap heran pada Neo. “Apa maksudnya aku tidak boleh menginap di sini jika bukan anggota? Kalau begitu, bolehkah aku mendaftar? Aku butuh kamar untuk hari ini saja.” Mohonnya.
Neo menggeleng tegas. “Bukan seperti itu cara kerjanya, Nona. Saya mohon, pergilah dari sini.”
Mata Emilie terbelalak kaget mendengarnya. “Neo, kau tidak sungguh-sungguh, bukan? Aku tidak bisa keluar sekarang. Mobilku mogok, dan di luar hujan. Kumohon, hanya semalam saja. Ya? Ya?” Mohonnya sambil menangkupkan tangannya di depan d**a.
“Tidak. Silahkan keluar sebelum saya memanggil keamanan, Nona Emilie.”
“Neo...” Emilie hampir menangis kala melihat gelengan kepala Neo. “Kalau begitu, biarkan aku bertemu dengan manager di sini. Aku akan mencoba bicara padanya.”
Neo menyentuhkan tangannya di depan d**a. “Saya manager sekaligus resepsionis di sini, Nona. Yang mengelola segala yang ada di hotel ini adalah saya.”
Tertekan oleh keadaan, kali ini mata Emilie berkaca-kaca menatap Neo. “Neo..., Kumohon. Hanya semalam saja. Aku tidak tahu harus ke mana lagi.”
“Tidak, Nona.”
“Ada apa ini?”
Suara itu bukan datang dari Emilie, namun di belakang tubuh Emilie. Segera, Emilie menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati pria yang tadi menabraknya di sana. Emilie menyedot ingusnya, menggosok hidung dengan jari telunjuk dan menatap pria itu dengan tatapannya yang masih berkaca-kaca.
“Tuan Xavier,” ucap Neo sambil memberikan anggukkan hormat. “Nona ini bukan anggota. Saya tidak tahu bagaimana dia bisa masuk dan menemukan tempat ini.”
Sedetik, wajah tenang itu menampilkan ekspresi terkejut. Namun hanya sedetik dan setelahnya tergantikan dengan wajah datar kembali. “Oh benarkah? Kau manusia biasa?”
Emilie melotot mendengarnya. “Manusia biasa? Apa maksudnya pertanyaan itu? Apa kau vampir, hantu, atau lain sebagainya? Ini tidak masuk akal! Bagaimana bisa aku tidak boleh menginap hanya semalam saja?” Tanyanya, dan tanpa sadar sudah menangis.
Pria yang dipanggil Xavier itu kembali tersenyum segaris. “Saya manusia. Tapi hotel ini memiliki aturan, Nona.”
“Tapi aku diusir dari sini! Aku tidak mungkin keluar sekarang!” Rengek Emilie sambil mengusap pipinya yang lembab. “Aku sudah sangat sial, hari ini. Aku dimutasi dengan tidak terhormat, lalu mobil bututku mogok di jalan. Aku juga harus berjalan kaki sangat jauh untuk sampai sini. Aku takut jika harus di luar lebih lama.” Isaknya tanpa malu di hadapan pria di depannya dan juga orang-orang yang ada di sana.
Emilie menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya gemetar hebat. Sungguh, Emilie sudah menahan tangisnya sedari tadi. Dan Emilie sangat takut untuk sendiri di luar sana. Dan sekarang, Emilie diusir dari hotel dengan keadaan hujan di luar sana.
Sebuah usapan di kepala Emilie membuatnya menurunkan tangan dari wajah, dan dia tersentak kala wajah tenang pria itu berada dekat di depan wajahnya. Mata Emilie tak dapat meneliti lebih jauh wajah pria itu. Karena matanya lebih indah dari apapun yang ia lihat di wajah pria itu.
“Tenanglah, oke?” Ucap Xavier sambil mengusap pelan kepala Emilie. “Kau bisa tidur di kamarku jika mau.”
Emilie mengedipkan matanya dengan cepat. “Tapi...,” Kau pria, Emilie menelan ucapannya yang ia teruskan di dalam hati. Umur Emilie memang memasuki 24 tahun. Namun tetap saja, Emilie adalah anak yang dilindungi oleh ayah dan ibunya dengan ketat. Pacaran pun tidak pernah, apalagi tidur satu ranjang dengan pria?
Namun karena mata Emilie mendapati jika semua orang yang ada di sana menatapnya, mau tidak mau, Emilie tidak ingin mempermalukan dirinya lebih dalam lagi. Dengan jantung yang berdegup kencang dan saliva yang ia telan dengan susah payah, Emilie kembali menatap Xavier. “Bolehkah?” Cicitnya.
Xavier kembali memperlihatkan senyum segarisnya. “Tentu saja boleh. Aku yang menawarkannya.”
Emilie mengangguk. Ia memaksakan senyum untuk menghargai kemurahan hati Xavier. “Aku mau. Terima kasih.”
Xavier menegakkan tubuhnya dan melepaskan tangannya di kepala Emilie. Sejenak, Emilie merasa kehilangan namun Xavier segera meraih tangannya dan membawa Emilie untuk mengikuti langkahnya. Emilie menelan salivanya dengan gugup. Sepanjang jalan, ia menatap tangannya yang berada di genggaman tangan Xavier. Emilie kemudian berdeham. “Namaku Emilie. Emilie Spencer.”
Xavier menoleh sambil memberikan senyum segarisnya lagi. “Xavier.”
“Xavier saja?” Tanya Emilie dengan refleks.
Xavier menghentikan langkahnya, kemudian menatap Emilie sepenuhnya. “Xavier Marx Wilkinson.”
Emilie menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Nama yang rumit. Tapi aku menyukainya karena jarang aku dapatkan.”
Xavier mengangkat sebelah alisnya. Dia mengeluarkan kartu, memalingkan kepala dari Emilie, dan membuka kamar yang berada di hadapan mereka.
Xavier menarik tangan Emilie untuk masuk ke dalam, dan suara kesiap Emilie memenuhi kamar tersebut. Emilie melangkah ke dalamnya dengan mata berbinar terpana. Kamar ini lebih luas daripada yang bisa Emilie pikiran. Daripada disebut kamar, tempat ini lebih seperti apartemen studio mewah yang elegan. Apalagi dengan kasur luas berbentuk lingkaran itu. Banyak ornamen rumit dan juga warna emas yang mendominasi kamar.
“Wow.” Ucap Emilie refleks.
Xavier membawa Emilie untuk memasuki kamar lebih dalam. Sementara Emilie sibuk menatap seisi tempat, Xavier menghampiri kulkas yang ada di sana.
Dengan ringan, Emilie kali ini bisa tersenyum lebar kembali. “Apa semua kamar di sini semewah ini? Aku tidak heran jika hotel ini harus memiliki keanggotaan. Aku bahkan tidak tahu apakah uangku cukup untuk menyewa satu kamar ini.”
Xavier hanya menyodorkan gelas kepada Emilie. “Tidak semua, hanya kamarku saja yang seperti ini.”
Emilie mengambil gelas tersebut dan segera meminum airnya hingga tandas, membuat Xavier kali ini sedikit melebarkan senyum segarisnya. “Benarkah? Kenapa? Apa kau istimewa?”
Xavier menjauhi Emilie dan berjalan menuju ke kasur. Tanpa Emilie duga, Xavier membuka pakaian yang dikenakannya, membuat jantung Emilie melompat di tempatnya kala melihat tubuh berotot milik Xavier. Apalagi dengan keringat yang membuat tubuh pria itu terlihat liat dan berkilau. Tubuh bagian bawah Emilie berdenyut. Dan Emilie segera menyimpan gelas di genggamannya ketika merasakan tangannya terasa lemas.
“Tidak juga.” Jawab Xavier atas pertanyaan Emilie.
“O-oh ya?” Emilie berdeham dan mengalihkan pandangannya. Dia tidak ingin terlihat seperti gadis malu-malu yang masih polos. “Lalu? Kenapa kau bisa mendapatkan fasilitas seperti ini?”
“Karena aku adalah Owner.”
Emilie menoleh dengan cepat kepada Xavier. “Apa maksudnya? Kau pemilik hotel ini? Lalu kenapa kau tidak membiarkan aku meminjam salah satu kamar di sini alih-alih memintaku sekamar denganmu?”
Xavier tersenyum segaris lagi. “Hotel ini memang milikku. Tapi Neo memiliki peraturannya sendiri. Aku tidak ada hak untuk masuk ke urusannya karena aku yang membuat peraturan jika aku takkan mencampuri urusannya.”
Emilie cemberut seketika. “Ini tidak adil. Apakah hanya orang-orang kaya yang boleh menginap di sini? Karena itu kau memanggilku manusia biasa?”
Xavier mengangguk. “Bisa jadi.”
Emilie melotot tidak terima. “Kau menyebalkan, Xavi!” Serunya, membuat Xavier terkekeh kecil, dan kekehannya menular pada Emilie hingga Emilie tidak dapat menahan senyumnya. “Nah, jika kau tertawa seperti itu kan tampan.”
Xavier seketika menghentikan kekehannya dan kembali dengan wajah tenangnya.
Emilie berdeham. Kakinya bergerak gelisah kala merasakan tubuh bagian bawahnya berdenyut tanpa henti, napasnya memburu, dan rasa panas mengaliri tubuhnya. “Xavier? Apakah..., Kau merasa ruangan ini panas?” Tanyanya, masih bergerak gelisah.
Dan saat itulah, Emilie melihat wajah Xavier yang menyeringai lebar padanya.