"Ini..., apa?"
Pertanyaan itu datang dari Xavier yang pagi itu sedang duduk di kursi ruang makan dengan Zander yang berada di sampingnya. Zander sendiri hanya menghela napas pendek saat tuannya menatapnya dengan wajah bingung yang kentara.
Kepala Zander menggeleng lalu matanya menatap meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam makanan dan lagi, kebanyakan makanan di sana adalah makanan manis. Dan lagi, ini masih pagi. Para pelayannya berada di rumah barat, yang dibuat khusus oleh Xavier untuk para pelayan yang bekerja dengannya. Jadi, tentu saja yang memasak seluruh makanan di hadapan Xavier adalah Emilie. Ada banyak makanan di sana. Muosse, churous, tacos, nachos, pudding, black forest cup, red velvet cup, roti bakar, roti kukus, dan lain sebagainya.
Xavier menggelengkan kepalanya dengan heran. "Sejak jam berapa dia membuat semua makanan ini?"
"Terhitung dari jam 5 pagi, sepertinya, Tuan," kata Zander. "Dari pukul 7 pagi, saya sudah bersiap dan Nona Em sudah menyimpan banyak makanan di meja. Hingga sekarang pukul 8 pagi, dan dia masih belum selesai."
Xavier menganga lebar mendengar ucapan Zander. "Sungguh? Apa lagi yang dia masak, sebenarnya?"
"Dari baunya, sepertinya Nona Em membuat donat."
"Donat?"
"Ya. Tapi..."
Zander tidak melanjutkan ucapannya, membuat Xavier mengangkat sebelah alisnya dengan heran. "Tapi kenapa?"
"Wajah Nona Em terlihat sedikit..., sedih?"
Xavier mengerjap. Dia terdiam mendengar ucapan Zander yang mengatakan Emilie terlihat sedih. Sebenarnya, jika diingat lagi, Emilie memang terlihat lebih lesu daripada biasanya. Tentu saja, Emilie kehilangan 2 hal yang berharga kemarin. Dia kehilangan Ken, anak kecil itu. Dan dia kehilangan Kitty juga, kucing kecil yang ditolong oleh Emilie hingga terserempet mobil. Dan lagi, Alvano si berengsek itu memperparahnya dengan datang dan membuat suasana hati Emilie makin buruk. Tidak heran jika wanita itu sangat sedih sekarang. Tapi..., selain itu...
"Kenapa kau perhatian sekali terhadap Emilie? Huh?" kesal Xavier pada Zander yang sedari tadi menatap makanan di hadapannya, terlihat sekali sudah tidak sabar untuk mencicipi makanan yang didominasi oleh rasa manis itu.
Zander mengangkat wajahnya kembali dan menatap Xavier. "Hah? Memangnya kenapa?"
Xavier melotot. "Apa kau bilang? Memangnya kenapa?! Kurang ajar sekali! Kau ingin mati?! Sudah bosan hidup, huh?! Kau biasanya tidak seperhatian itu pada orang lain. Jangan bilang kau menyukainya?"
Zander mengangguk polos. "Tentu saja saya menyukai Nona Em."
"Apa?! Bocah ini! Kau sungguh bosan hidup?!" sentak Xavier.
"Tuan, saya ini bagaikan peliharaan dan tuan adalah majikan saya. Suasana hati saya, tentu saja mengikuti suasana hati tuan. Ketika tuan menyukai Nona Em, tentu saja saya jadi menyukainya juga."
Xavier terdiam sejenak mendengar ucapan Zander. "Begitu?" tanyanya sambil mengedip.
"Siapa yang kau sukai?" pertanyaan itu datang dari Emilie yang membawa mangkuk dengan donat yang diolesi oleh gula tepung di atasnya. Emilie menyimpan donat itu di meja, dan menatap Xavier yang salah tingkah, lalu menatap Zander yang terlihat senang Emilie membawa donat di tangannya. "Zander, kau menyukai siapa?"
Zander yang tadinya menatap donat, mengalihkan tatapannya pada Emilie. "Uh? Oh..., itu. Saya menyukai nona." Jawabnya langsung, membuat wajah Emilie untuk pertama kalinya di pagi ini, tersenyum senang dengan lebarnya.
"Ey..., kau ini anak yang jujur sekali," kata Emilie sambil tersenyum senang dan mengusap kepala Zander dengan sayang, tidak menyadari tatapan Xavier yang menatap tangan Emilie seolah ingin memotongnya di tempat agar tidak bisa menyentuh pria lain lagi.
Zander sendiri malah terkekeh senang tanpa mempedulikan tatapan Xavier.
"Ah, kau mau mencobanya?" tanya Emilie, sambil menyodorkan coklat mousse pada Zander. "Kau suka yang manis-manis kan?"
"Tentu saja!"
"Baguslah, cobalah cepat!"
"Ya!"
Baru saja Zander akan menyuapkan mousse yang dibuat Emilie, Xavier segera merebutnya. Membuat Emilie dan Zander menatap Xavier dengan terkejut. "Apa?! Aku tidak boleh memakannya?! Memangnya, semua makanan ini dibuat khusus untuk Zander?!" sewot Xavier.
Emillie mengerutkan bibirnya dan menatap heran pada Xavier. "Bukannya kau tidak suka yang manis-manis?"
"Siapa bilang?! Sedari kecil aku menyukai makanan yang manis kok! Sangat suka!"
Emilie cemberut. "Ya sudah, tidak usah menyentakku seperti itu. Cih!" kesalnya, kemudian duduk di kursi samping Zander.
Xavier tidak berhenti meneliti pergerakan wanita itu sampai akhirnya matanya bertemu dengan mata Zander yang menatap tajam pada Xavier. Melihatnya, Xavier memelototi Zander dan bertanya APA tanpa suara. Zander balas melotot dan berucap TUAN MEMBUAT NONA EM SEDIH LAGI! tanpa suara juga. Xavier mendesis dan makin melotot saat berucap LALU KENAPA? ITU BUKAN URUSANMU! KAU SUNGGUH BOSAN HIDUP HUH?! BERANI-BERANINYA MEMELOTOTIKU!! tanpa suara lagi.
Zander, pria yang gampang sekali merubah raut wajahnya di depan Emilie itu kini cemberut. Dia mengambil donat yang dibuat oleh Emilie dan memakannya dengan semangat. "Um, Nona. Sepertinya saya tahu kenapa saya sangat menyukai nona."
Emilie mengerjap. "Kenapa?" tanya Emilie dengan polos.
"Karena saya menyukai makanan manis dan nona sangat manis."
Ucapan Zander membuat Xavier langsung menatap horor pada sekretaris sialannya itu. Dan lebih sialnya lagi, Emilie tersenyum lebar dengan pipi yang merona malu. "Aw, Zander. Kau hebat sekali dalam menggombali wanita," ucapnya, dan dibalas senyum senang Zander. "Ah ya! Aku membuat cokelat dan masih aku simpan di kulkas. Semua cokelatnya aku berikan untukmu! Kau mau kan?"
"Ya, Nona. Terima kasih. Saya sangat senang."
Emilie tersenyum lebar dan kembali menepuk sayang kepala Zander.
Napas Xavier menderu kasar melihatnya. Emosinya sudah berada di puncak kepalanya. Sialan, Xavier tidak bisa membunuh Zander karena akan membuat Emilie makin sedih nantinya. Tangan Xavier mengepal kuat, menahan diri untuk tidak mengambil salah satu piring untuk dipecahkan dan pecahannya dia gunakan untuk menggorok kepala Zander.
"Xavier, pelan-pelanlah makannya. Tidak akan ada yang mengambil makananmu."
Ucapan Emilie membuat Xavier tersadar dan menatap mousse miliknya yang sudah hampir habis. Dan tanpa sadar pipinya sudah gembul akibat mousse yang masih belum ia telan di mulutnya. Xavier menelan moussenya dengan cepat. "Ah, aku tidak sadar karena masakanmu sangat enak." Ucapnya tanpa sadar.
Dan Emilie tersenyum lebar mendengarnya. Lebih lebar hingga menggelamkan mata Emilie, lebih lebar dari dia yang tersenyum senang pada Zander tadi. "Benarkah? Kalau begitu, habiskan saja! Habiskan!" ucapnya dengan riang.
Melihat reaksi Emilie saja, Xavier tahu jika emosinya sudah langsung surut, digantikan dengan rasa senang karena mendapatkan senyum Emilie yang lebih lebar. Sungguh, Zander harus berterima kasih pada Emilie karena masih hidup sampai sekarang setelah semua perlakuan kurang ajar yang bawahannya itu lakukan.
***
Tidak seperti biasanya, pintu ruang kerja milik Xavier kini diketuk dari luar. Mungkin, Xavier akan mewajarkannya jika itu di kantornya. Namun, saat ini Xavier sedang berada di rumahnya dan bekerja di rumah akibat Emilie yang saat ini sudah dipindahkan dari rumah sakit ke rumahnya. Dan sungguh, takkan ada yang berani untuk mengetuk pintu jika Xavier sedang dalam mode bekerja-nya. Dan Zander pun bahkan hanya bisa masuk ke dalam kantornya jika Xavier yang menyuruh. Jadi, satu hal yang pasti tentang hal ini.
Emilie yang mengetuk pintu ruang kerjanya.
Mengetahui itu, Xavier menghela napas pelan dan menyimpan dokumen tentang pemimpin daerah mana lagi yang akan berada di bawah pimpinan Xavier. Jika dipikir, Los Angeles adalah satu-satunya daerah yang tidak bisa diraih oleh Xavier. Tentu saja karena ada 4 penguasa sialan yang tidak boleh dan tidak bisa disentuh oleh Xavier.
Kembali ke dunianya, Xavier kemudian melepaskan kacamata miliknya dan menegapkan tubuh. "Ya." Katanya.
Dan benar dugaan Xavier. Kepala Emilie yang menongol di pintu ruang kerja Xavier. Namun hal itu tidak lantas membuat Xavier tidak menanyakan maksud kedatangan Emilie. "Ada apa?" Tanyanya kemudian.
"Boleh aku masuk?" Balas Emilie.
Xavier mengangguk. "Masuklah," ucapnya, yang langsung dituruti Emilie. Wanita itu berjalan menghampiri Xavier dengan wajah yang terlihat lesu lagi. Ya, wajar saja. Ini bahkan belum sampai sehari Emilie kehilangan Ken dan Kitty. "Ada apa?" Ulang Xavier.
Emilie cemberut. "Xavier, apa kau masih belum menemukan petunjuk tentang anakmu?"
Xavier hampir cegukan mendengar ucapan Emilie. Dia berdeham pelan, seolah menutupi sesuatu. "Hm..., Memangnya kenapa?"
Emilie menghela napas panjang. "Aku rindu apartemen kecilku, Sagara, Alvin dan aku juga ingin menjalani hari-hariku seperti biasanya. Dan sekadar informasi, ponselku bahkan belum kembali padaku." Ucap Emilie panjang lebar.
Xavier menelan ludahnya dengan susah payah. "Kenapa? Apa kau merasa kurang nyaman di sini? Dan tentang ponselmu..., Aku lupa menyimpannya di mana. Sepertinya hilang. Nanti aku belikan lagi saja."
"Masalahnya, bukan hanya ponselnya yang kubutuhkan. Tapi data-datanya dan-ah, ya sudah. Kupikir aku membuang waktuku di sini. Semoga kau cepat-cepat mendapatkan info tentang anakmu ya, Xavier." Kata Emilie kemudian, lalu berbalik dan berjalan menjauhi Xavier. Baru saja Xavier menghela napas lega, Emilie menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Xavier. Matanya memicing tajam.
Xavier kembali menelan ludah dengan susah payah. "K-kenapa lagi?" Gugupnya.
Emilie makin memincingkan matanya. "Tidak. Hanya saja, ada sesuatu yang mengganjal." Katanya kemudian.
Dan untuk pertama kalinya, Xavier merasakan darahnya seolah terkuras seketika dari tubuhnya. Apa dia tahu?! Batinnya panik. "A-apa maksudmu?"
Emilie menegakkan tubuhnya. Tangannya melipat di depan d**a. "Kau sungguh orang seperti itu, Xavier?"
"Apa maksudmu sebenarnya?" Panik Xavier setengah mati. Tidak mungkin dia tahu kan? Dia tahu dari mana?!! Batinnya berteriak.
"Sudah kuduga," kata Emilie dengan dengusan yang meremehkan. Wajah Xavier pucat pasi seketika. "Kau orang yang seperti itu kan?" Lanjut Emilie kemudian.
Xavier hanya dapat menelan ludahnya berkali-kali dan membeku di tempatnya.
"Katakan, berapa kali? Berapa kali kau melakukannya?"
Melakukan apa? Pembunuhan?! Demi Tuhan kenapa wanita ini berbelit sekali!! Batin Xavier panik walaupun dirinya setengah mati tertawa walaupun terdengar kaku. "A-apa maksudmu sebenarnya? Aku sungguh tidak mengerti." Tanya Xavier ke sekian kalinya.
Emilie membuang napasnya kasar. Dia mendekat kembali pada Xavier dan menatap tajam pria itu. "Kau-"
Xavier menelan ludahnya susah payah.
"-seorang pemain wanita kan?"
Gubrak!
Tangan Xavier tergelincir dan membuat bahunya menabrak ujung meja. Emilie menjerit panik melihatnya. Sedangkan Xavier memberikan senyuman kakunya pada Emilie.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Emilie, khawatir melihat kejadian di hadapannya.
Xavier menggeleng cepat. "Tidak. Aku tak apa. Hanya saja, pertanyaanmu sangat mengejutkan."
Emilie mengerjap seolah tersadar. Dia kembali melipat tangannya di depan d**a. "Benar! Kau ini tipe pemain wanita, kan? Jika tidak, kau takkan mencari-cari tentang anak itu lagi. Dasar player! Aku bahkan hanya tidur denganmu! Kau satu-satunya pria yang tidur denganku! Cih! Aku tidak percaya jika kali pertamaku direbut oleh pria player sepertimu!"
Mulut Xavier menganga lebar mendengarnya. Sungguh, ini adalah pertama kalinya seseorang menghinanya dengan sangat terasa hina. Player? Playboy, maksudnya?! Apa bahkan itu yang Xavier lakukan? Dia hanya melakukan kegiatan biasa yang sering dilakukan para pria biasanya. Dan lagi, mereka yang merangkak di bawah Xavier, tapi kenapa Xavier yang terdengar seperti gigolo di sini?!
"Benar kan?! Dasar player!"
"Woah! Ini adalah pertama kalinya seseorang menghinaku di depan wajahku! Pertama kalinya!"
"Bagus kalau begitu. Orang sepertimu ini, karena selalu dipuji dan tidak pernah dikritik, jadi sekarang kau besar kepala, tahu tidak?! Renungkan ucapanku ya, Player!"
"Hey!!" Emosi Xavier terbit. Dia bahkan berdiri dari duduknya dan mulutnya tidak berhenti menganga lebar. "Jangan sok suci! Kau juga sering menonton film dewasa di komputer perpustakaanku, kan?"
Emilie melotot syok. "K-kapan aku melakukannya?! Aku bahkan baru sebentar di rumah ini."
Melihat wajah kalah telak dari Emilie, Xavier segera mendengus dan ikut bersidekap d**a. "Ya, kau baru sebentar di sini tapi sudah mengakses segala hal di komputer perpustakaanku. Film dewasa, komik dewasa, dan bahkan novel dewasa. Woah Emilie, kau memiliki otak yang sangat kotor ternyata." Ucapnya dengan angkuh, membuat Emilie terdiam dengan wajah yang sangat memerah.
"A-aku tidak melakukannya. K-kau sok tahu sekali!"
"Jangan mengelak! Wi-Fi di rumahku ini dapat melihat bagaimana kau mengakses semua itu!"
Emilie cemberut. Wajahnya sudah memerah padam karena malu dan tubuhnya bahkan gemetar di bawah tatapan mengejek Xavier. Emilie lalu berdecih dan melotot pada Xavier. "Lalu kenapa?! Aku ini wanita 24 tahun yang wajar saja jika aku ini mengakses hal-hal yang seperti itu. Memangnya kenapa huh?! Aku juga bukan anak di bawah umur! Kau menyebalkan! Aish!" Kesalnya, lalu berbalik dan berjalan dengan kaki dihentak. "Zander ke mana, sebenarnya?!" Teriak Emilie tanpa menatap lagi ke belakang.
Xavier melongo melihat Emilie yang terlihat sangat kesal padanya. Dia mengerjap dengan wajah berpikir. "Aku tidak pernah mengajak orang berdebat seperti ini. Dan lagi, apa Emilie marah padaku?" Tanyanya, kemudian terdiam dan berpikir.
Xavier lalu melotot seketika. "Sial!! Ajaran Felix mengatakan jika aku tidak boleh membuat Emilie marah karena hal itu akan membuat wanita menjadi memberikan jarak padaku! Sial!!! Aku harus bagaimana?! Apakah aku harus mengejarnya?! Tidak, tidak, Emilie masih marah. Jika memaksanya memaafkanku, nanti dia akan marah. Kalau begitu, aku harus mencari tahu jawabannya dari Zander." Ocehnya panjang lebar sambil berjalan mondar mandir di balik mejanya.
Xavier lalu mengambil gagang telepon yang berada di mejanya. Dia menekan tombol recall yang langsung terhubung pada Zander.
"Ya, Tuan?"
"Ah Zander-"
"Zander!!"
"Nona Em?!"
Brug!
Tubuh Xavier menegang seketika mendengar suara itu. Apakah ponselnya sudah rusak? Kenapa ada suara tabrakan 2 tubuh manusia seperti itu?
"N-nona Em?! Kenapa memeluk-"
"Diam! Aku kesal pada Xavier! Biarkan aku memelukmu!"
"Tapi, Nona..."
Xavier diam di tempatnya. Siapapun yang ada di sana, pasti akan merasakan ancaman yang menguar dari tubuh Xavier. "Zander..."
"T-t-t-t-t-t-"
Xavier menyeringai. "Suatu hari, aku akan membunuhmu dengan sangat amat perlahan."
Dan di seberang sana, Zander menelan ludahnya dengan susah payah ketika panggilannya terputus. Bagaimana pun, Xavier sangat menyeramkan. Dan Zander yakin, Zander adalah korban Xavier selanjutnya.