Nalendra masih berlutut di hadapan Amanda ketika isaknya perlahan mereda. Tangannya tak pernah lepas dari jemari Amanda, seolah jika ia mengendur sedikit saja, wanita itu akan kembali menghilang seperti dulu. Apartemen itu sunyi, hanya suara napas mereka yang saling bertaut, berat, penuh emosi yang tak terucap. “Aku capek jadi kuat sendirian,” bisik Amanda akhirnya. Suaranya serak, rapuh dengan cara yang membuat d**a Nalendra seperti diremas. “Capek pura-pura baik-baik aja. Capek selalu mikir, kalau aku bahagia, kamu atau orang-orang yang kamu sayangi bakal terluka.” Nalendra menggeleng pelan. Ia mengangkat wajah Amanda dengan lembut, memaksa mata mereka bertemu. “Dan aku capek hidup tanpa kamu, Mand. Setiap keputusan besar yang aku ambil… rasanya selalu ada ruang kosong yang nggak perna

