“Jeha, jawab Papa.” “Ih Papa apa-apaan sih, itu cuma mimpi. Jeha nggak pernah ciuman sama siapapun!” jelasku, tak ingin Papa salah paham. “Oooo, jadi hanya di mimpi. Baiklah,” tanggapnya dengan pembawaan santai kemudian keluar dari kamar tanpa canggung. Sepeninggalan Papa, aku menghela napas sambil mengusap dadaku lega. “Dasar Papa! Bikin kaget orang aja.” Lantas, perhatianku kembali ke arah Mas Ser yang sedang termenung. Dia pasti memikirkan hal yang sama denganku. Jika memang mimpi itu adalah petunjuk, maka cara untuk mengembalikan Mas Ser ke wujud manusia adalah dengan menciumnya. Hanya saja aku tidak ingin mengajukan ide itu secara gamblang karena takut dikira gadis yang suka berpikiran kotor. “Bukan itu caranya,” celetuk Mas Ser, setelah sekian lama terdiam. Keningku berkerut, “

