16 |MENCARI CARA

1071 Kata
Sejak jam pertama kuliah sampai jam istirahat, kepalaku terus memikirkan perihal mimpi semalam. Tak henti-hentinya membandingkan suara pria yang ada di dalam mimpi dengan suara Mas Ser di dunia nyata, apakah benar-benar mirip ataukah hanya sekedar perasaanku saja. Sejurus kemudian, Rossa datang mengagetkanku. “Woi! Baru juga masuk kuliah abis di skors, ngelamun terus lo. Kenapa? Ngegalau kak Aldi?” “Ihhh, kamu tuh sukanya datang tiba-tiba! Bikin anak orang jantungan aja,” tukasku setelah melancarkan aksi mencubit gemas lengannya. “Mangkannya jangan suka ngelamun, ntar kesambet baru rasain!” oceh Rossa, lalu mengambil bangku dan duduk di seberang mejaku. “Nih gue beliin ultramilk sama siomay kesukaan lo.” Rossa menata semua makanan yang dibelinya di atas meja. “Aku kan nggak nitip kamu,” kataku. “Sebaik sahabat terbaik, gue beliin buat lo. Gue tahu lo pasti laper,” tanggapnya lalu mengambil ultramilk yang sudah dia tancapkan sedotan dan menyodorkannya padaku. “Nih minum!” Wajahku terharu, Rossa memang pengertian banget deh ah! Tanpa canggung, aku menerima ultramilk darinya dan menyedotnya sambil tersenyum. “Makasih yah.” “Iya sama-sama, yaudah yuk kita lanjut makan. Keburu pelajaran lagi.” Rossa membuka siomay yang terbungkus kertas kemudian menyantap lebih dulu makanannya. Sedangkan aku masih tidak mood makan, dan akhirnya memilih curhat pada Rossa. “Semalem aku mimpi buruk. Ada cowok yang nggak aku kenal masuk kamar, terus ngerebut ciuman pertama aku. Itu maksudnya apaan coba?” Sembari mengunyah makanan di mulutnya, Rossa balas menanggapi, “Perasaan lo sering mimpi aneh. Dulu lo pernah cerita mimpi dikejar-kejar serigala, terus kemarin lo cerita ke gue mimpi dipeluk teletubbies dan sekarang kenapa malah makin antimainstream sih? Lo pasti nggak baca doa sebelum tidur, mangkannya mimpi aneh-aneh.” Aku menghela napas. “Udah Ros, aku udah baca doa kok. Bahkan lengkap baca surat Al fatihah, Al Ikhlas, An Nas dan Al Falaq juga,” ujarku sambil memerhatikan Rossa yang sedang makan. Mendadak, selera makanku kembali. Menggugahku untuk membuka bungkus siomay pemberian Rossa kemudian mengikutinya makan. “Ya itu masalahnya! Lo kurang baca ayat kursi,” celetuk Rossa. Dengan mulut belepotan sambal, aku membalas, “Yah… padahal kan cuma kurang baca ayat kursi.” Sedetik usai aku menjawab demikian, tiba-tiba saja mataku dibuat silau oleh cahaya terang yang terpancar di wajah Rossa saat gadis itu berceramah, “Jangan pernah abaikan ayat kursi sebelum tidur, sebagaimana isi hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Rasulullah SAW bersabda, apabila engkau mendatangi tempat tidur pada malam hari, bacalah ayat kursi, niscaya Allah akan senantiasa menjagamu dan setaan tidak akan mendekatimu hingga waktu pagi.” Aku bertepuk tangan sambil geleng-geleng kepala menatapnya kagum. Tidak menyangka Rossa akan seagamais itu hingga paham tentang manfaat bacaan ayat kursi sebelum tidur. “Sebelum makan siomay tadi, kamu udah baca doa kan?” Aku bertanya, lalu jawaban dari gelengan kepala Rossa membuat pandangan baikku padanya seketika menyurut. “Hadehhh, gimana sih! Bisa nyeramahin orang tapi lupa sama kewajiban sendiri!” omelku. Sementara Rossa hanya bisa nyengir kuda dan garuk-garuk kepala sebagai tanda perminta-maafannya. *** Setelah makan malam, aku dan Mas Ser melakukan rapat di kamar. “Apa nggak ada sedikitpun petunjuk yang Mas Ser tahu tentang cara mengembalikan wujud Mas Ser ke tubuh manusia?” tanyaku setelah berjalan mondar-mandir. Mas Ser mendengus, “Berapa kali aku bilang, penyihir yang mengutukku hanya mengatakan jika gadis yang kutemuilah yang bisa mengembalikan wujudku menjadi manusia. Dan gadis itu adalah kau, Jeha! Kau yang harusnya bisa tahu bagaimana caranya,” tuturnya. Karena lelah berjalan mondar-mandir, aku akhirnya duduk di kursi meja belajar sambil menatap Mas Ser dengan serius. “Maksud Mas Ser, hanya aku yang tahu caranya begitu?” “Ya. Kamu mungkin punya cara atau semacam petunjuk yang dikirimkan khusus untukmu,” sahut Mas Ser. “Pe-tun-juk?” Aku mengeja kata itu dengan ekspresi berpikir. “Biasanya petunjuk dikirimkan lewat mimpi, kemarin malam kamu sepertinya memimpikan sesuatu yang aneh. Mungkin saja itu ada kaitannya denganku, coba katakan mimpi apa yang kamu lihat kemarin malam?” Aku menelan ludah. Masa iya aku bilang kalau kemarin malam aku bermimpi sedang dicium oleh laki-laki asing di kamarku. Hadeh… memalukan sekali. Tanpa sadar aku menutup wajah karena malu bila diingatkan tentang mimpi semalam. Reaksi itupun memancing Mas Ser menatapku heran. “Ada apa Jeha? Kenapa pipimu memerah?” tanya Mas Ser. “Ti-tidak ada apa-apa,” jawabku, tergugu. Mas Ser memincingkan mata. “Cepat katakan padaku! Kamu mimpi apa semalam?” desaknya, hingga membuatku memalingkan wajah darinya sambil beralasan, “Bukan mimpi apa-apa, hanya mimpi seperti biasanya. Tidak ada kaitannya denganmu!” “Aku tahu kamu bohong. Tapi yasudahlah, bagimu aku mungkin bukan orang penting dan aku juga tidak akan memaksamu membantuku lagi untuk—” “Iya baiklah-baiklah, aku akan ceritakan padamu soal mimpiku kemarin malam,” pungkasku sebab tidak ingin Mas Ser kecewa dan berpikir aku adalah gadis tukang ingkar janji. “Jangan marah oke? Dan dengarkan aku baik-baik,” paparku sambil tersenyum untuk meredakan kekesalan Mas Ser. Mas Ser pun mengangguk dan diam mendengarkanku. Butuh banyak porsi keberanian bagiku sebelum membeberkan cerita mimpiku. Semoga saja Mas Ser tidak tertawa atau berpikir yang aneh-aneh setelah kuceritakan. “Aku bermimpi ada seorang laki-laki asing di kamarku, aku tidak tahu bagaimana wajahnya karena saat itu kamarku dalam kondisi gelap.” Belum apa-apa, Mas Ser sudah mengernyitkan dahi. Oke, dia pasti mengira aku mimpi mesuum kemarin. Bodo amat, yang penting aku harus tuntaskan dahulu cerita mimpiku. “Aku mau teriak tapi laki-laki itu bungkam mulut aku, dia juga mojokin aku ke dinding sampai aku nggak bisa gerak.” Kerutan di dahi Mas Ser semakin dalam, isi kepalanya pasti sedang berpikiran kemana-kemana. Sementara aku lanjut menceletuk, “Dan Mas Ser tahu apa yang dia lakuin ke aku berikutnya?” Tanpa beban dan risiko yang ditimbulkan setelahnya, Mas Ser menjawab, “Dia perkosa kamu.” Mataku membulat sempurna. Astaga… bisa-bisanya dia berpikir sejauh itu. “Bukan!” bantahku, lalu melipat tangan dengan kesal. “Laki-laki itu mencuri ciuman pertamaku!” terangku kemudian. Brak! Pintu kamarku tiba-tiba terbuka dengan keras disusul suara geraman papa yang berbicara. “Siapa yang berani cium anak papa hah?!” Aku dan Mas Ser saling bertukar pandang dengan ekspresi terbengong-bengong karena tidak menyangka Papa Bima akan mendengar ucapanku dan masuk ke kamar hingga menangkap basah kami sedang mengobrol. Andaikan suara Mas Ser bisa terdengar orang lain selain aku, pasti kami sudah ketahuan sekarang. Beruntung tidak ada orang lain yang bisa mendengar percakapan kami atau masalah ini akan semakin merepotkan. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN