Akibat ulahku dan Rossa kemarin, tiga hari ke depan kami di skors alias tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran. Hadeh… bayangkan, sehari semalam nasibku di rumah kena omel mama dan papa terus-terusan.
“Kamu sih ada-ada aja pakek cari gara-gara sama dosen, makan tuh di skors!” Bukannya menenangkanku, Mas Ser malah ikut menabur garam di atas luka yang aku rasakan.
“Berapa kali aku bilang, bukan aku yang dorong Pak Glen! Dan bukan aku juga yang cari gara-gara sama kak Devi and the gank!” sangkalku, merasa geram karena dikambing-hitamkan atas masalah yang tidak aku sebabkan.
“Lalu siapa yang dorong Pak Glen?” Mas Ser bertanya.
Dan aku menjawab dengan bibir mengerucut, “Rossanti Juleha.”
Usai aku menyebut nama lengkap Rossa, seperti seorang Jin gadis itu tiba-tiba muncul di muara pintu kamarku. “JEHA!!!”
Berbeda dengan wajahku yang sejak kemarin bersungut-sungut karena kena skors, wajah Rossa justru terlihat cerah tanpa beban sama sekali. “Rossa? Kok kamu tiba-tiba ada di rumahku?” tanyaku sambil memandang heran gadis itu.
Tanpa meminta izin, Rossa melompat ke atas kasurku bak rumahnya sendiri. “Tadi dibukain pintu sama mama Affa. Gue ke sini buat jelasin ke orang tua lo kalau penyebab kita di skors itu salah gue.”
Mulutku menganga, dia sungguh mengakui itu di hadapan mama?
“Maafin gue ya Jeh, gara-gara gue, lo jadi ikut-ikutan di hukum,” sesal Rossa, berbanding terbalik dengan wajahnya yang masih terlihat ceria.
“Iya Ros gapapa. Tapi aku beneran nggak nyangka deh, kamu jauh-jauh ke rumahku buat ngomong ke mama kalau aku nggak salah,” sahutku lalu ikut berbaring di sampingnya.
“Karena gue punya firasat lo bakal kena marah karena insiden ini,” kata Rossa. Dan firasatnya memang 100% terbukti benar.
“Kalau kamu gimana? Orang tuamu nggak marah?” tanyaku, khawatir jika Rossa lebih terbebani karena masalah yang ditimbulkannya.
“Gue udah tiga bulan nggak serumah sama nyokap-bokap. Orang yang tinggal sama gue jelas marah besar, tapi seenggaknya tujuan gue buat dia marah berhasil” Rossa bercerita sembari tersenyum-senyum memikirkan seseorang.
Aku jadi kepo siapa orang yang sedang dibicarakan Rossa. “Emang orang yang tinggal sama kamu siapa?” selidikku.
Rossa hanya nyengir-nyengir tidak jelas. “Orang pokoknya, nanti lo juga bakalan tahu kok,” jawab Rossa, sengaja tidak mau memberitahuku.
“Iya tahu dia orang, masa alien,” cibirku. Menerka-nerka siapakah orang yang sekarang tinggal bersama Rossa hingga mampu membuat gadis itu tersenyum-senyum bak orang sedang kasmaran.
***
Apa mama mematikan lampu?
Aku bangun dalam keadaan gelap gulita. Tidak ada penerangan sama sekali selain cahaya bulan yang menembus melalui gorden jendela. Dahiku mengernyit, sementara mataku seakan buta karena tidak bisa melihat apapun di sekitarku.
“Jeha.”
Tubuhku bergetar kaget tatkala mendengar suara seseorang. “Siapa?” Aku balas bertanya seraya berputar mencari sosok yang baru saja memanggilku, namun sayangnya tidak bisa aku lihat karena terhalang gelap.
“Siapa di sana?!” Aku bertanya lagi, kali ini dengan suara lebih kencang dan sedikit takut.
Hening. Tidak ada sahutan dari orang yang memanggilku barusan. Bulu kudukku merinding, saat seperti ini membuat pikiranku penuh oleh imajinasi bentuk kuntilanak, genderuwo dan pocong hingga membuatku yang penakut ini ingin menangis.
Tapi aku berusaha memberanikan diri dengan melangkah meraba dinding untuk menemukan tombol lampu. Dan akhirnya… dapat!
Bergegas aku menekan tombol lampu hingga kamarku kembali menyala. Aku membalikkan badan kemudian terkejut bukan main saat menemukan seorang pria berdiri tepat di belakangku.
Aku hampir saja akan menjerit namun pria itu lebih dulu membekap bibirku dan secara bersamaan mematikan lampu kamar hingga keadaan kembali menggelap. Aku tidak tahu siapa pria ini dan sedang apa dia berada di kamarku malam-malam begini.
“Siapa kau? Sedang apa pria asing sepertimu berada di kamarku malam-malam?!” racauku setelah pria itu melepas tangannya dari bibirku. Sayangnya aku hanya melihatnya sekilas dan tidak tahu dengan persis bagaimana bentuk rupanya.
Lagi-lagi pria itu tidak menjawab, namun sentuhan tangannya di pundakku sekaligus tubuh kekarnya yang masih menghimpitku ke dinding memberitahu bahwa dia masih ada di sini bersamaku.
“Aku mencintaimu Jeha.” Bisiknya yang seketika membuat tubuhku menegang.
Kemudian tanpa aba-aba dan persetujuan dariku, pria itu mendekatkan wajahnya dan mencuri kecupan di bibirku. Astaga first kiss-ku sudah dicolong duluan oleh pria asing yang bahkan tidak kukenal dan kuketahui wajahnya!
“HUAAAAAAA!!!”
“Jeha! Jeha bangun!”
Aku merasakan wajahku basah oleh lidah seseorang hingga mau tak mau membuatku buka mata dan terkejut luar biasa saat menemukan Mas Ser berada di atas kasurku. “Mas Ser.” Napasku tersengal-sengal sementara dahiku penuh oleh peluh dampak mimpi buruk yang baru saja aku alami.
Huft… syukurlah jika yang barusan hanya bunga tidur. Itu berarti first kiss-ku masih aman dan bibirku masih belum tersentuh oleh siapapun. Ya kali’, ciuman pertamaku hilang diambil orang asing. Bisa frustasi aku.
By the way, kenapa bangun-bangun wajahku terasa lengket?
Pandanganku sontak mengarah ke arah Mas Ser yang juga terdiam menatapku. “Mas Ser,” panggilku.
“Ya?” Mas Ser membalas agak gugup, memancing kecurigaanku terbit. “Mas Ser ngejilat aku ya?” selidikku, setengah panik karena itu artinya aku sudah terkena ludah seekor serigala.
“Maaf Jeh, habisnya kamu teriak-teriak nggak jelas waktu tidur, aku jadi khawatir.”
Tanpa ba-bi-bu aku langsung melompat dari atas kasur dan ngacir ke kamar mandi untuk mencuci muka sekaligus berwudhu, jaga-jaga kalau ludah Mas Ser juga najis seperti anjing.
***
Setelah cuci muka dan wudhu, aku mengeringkan wajahku dengan handuk dan berakhir menatap pantulan wajahku di cermin wastafel dalam kamar mandi. Tiba-tiba termenung memikirkan arti dari mimpi buruk yang barusan menimpaku.
Aneh sekali mimpinya. Dari sekian banyak mimpi, kenapa aku memimpikan pria asing masuk ke kamarku? Mencuri ciuman pertamaku juga. Andai pria yang ada di mimpiku tadi Chanyeol EXO atau Cha Eun Woo, sah-sah saja mereka menciumku.
Tapi sayangnya pria itu bukan Chanyeol ataupun Cha Eun Woo, tentu saja aku tidak terima! Haish… untung cuma di mimpi. “Yaudahlah, yang penting bukan Mas Ser. Bisa najis nih bibir.” Aku hanya menceplos asal-asalan, tapi lewat perkataanku barusan membuatku seolah tersadar jika suara pria yang ada di dalam mimpiku cukup mirip dengan suara Mas Ser.
Jangan-jangan…
BERSAMBUNG...