14 |MASALAH DADAKAN

1273 Kata
“…pangeran kodok dan sang putri bermain bersama di tepi danau. Mereka terlihat sangat gembira saat blablabla…” Rossa menguap mendengarkan cerita dongeng yang sejak tiga puluh menit yang lalu kubacakan saat kami sedang boring di jam kosong akibat dosen berhalangan hadir. “Pangeran kodok dan sang putri akhirnya hidup bahagia. Tamat…” Beberapa menit kemudian, setelah menyelesaikan membaca kisah Pangeran Kodok, aku menutup kembali buku dongeng bergambar yang kubeli satu minggu yang lalu saat ada promo diskon besar-besaran di toko buku dekat perumahan tempat tinggalku. “Heran deh gue sama lo. Cerita itu kan udah dari jaman bahula, lo juga udah gue kasih tahu kan jalan ceritanya waktu lo nanya ke gue pas pulang dari camping hutan harapan kemarin. Kayak nggak ada cerita lain yang bisa lo beli aja sih,” protes Rossa, menopang dagu di atas meja sambil menatap heran ke arahku yang duduk di depannya. “Abisnya waktu itu aku cuma bawa uang 10 ribu dan kebetulan yang bisa dibeli dengan harga segitu cuma buku dongeng anak-anak, yaudahlah daripada nggak dapat diskonan aku beli deh nih cerita Pangeran Kodok,” jelasku, menanggapi protesan Rosa. “Ya kan masih banyak bacaan dongeng lainnya yang lebih bermutu daripada cerita Pangeran Kodok. Contohnya nih, Snow White, Cinderella, Putri Salju—” “Snow White sama Putri Salju bukannya sama aja?” Aku menyela sambil memasang wajah berpikir. Sedangkan Rossa ikut sama berpikirnya sepertiku, lantas menceletuk dengan pedenya, “Putri Salju yang bisa ngendaliin kekuatan salju itu kan?” Aku menoyor kening Rossa seraya mendesis sebal. “Yaelah! Itu mah ratu Elsa di cerita Frozen! Beda tauk!” sangkalku. “Oh iya, sorry. Gue lupa.” Rossa tepok jidat. “Ke kantin yuk Ros!” ajakku, karena bosan berlama-lama di dalam kelas. Tanpa berpikir dua kali Rossa langsung mengiyakan ajakanku dan kami berdua pun keluar kelas menuju kantin. Saat dalam perjalanan di lorong, dari lawan arah aku melihat Devi beserta dua anak buahnya berjalan ke arah kami. Lewat caranya menatapku, aku langsung peka jika dia sedang marah. Dan benar saja, saat kami berpapasan Devi langsung menghadang jalanku dengan gaya angkuhnya. “Nama lo Jeha kan?” tanyanya sambil menatap penampilanku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai. Devi adalah kakak tingkat yang seangkatan dengan kak Aldi, rumornya gadis ini juga terlibat perasaan pada kak Aldi dan kerap mengklaim kak Aldi sebagai pacarnya padahal mereka belum resmi berpacaran. “Iya kak, aku Jeha,” jawabku. “Jadi lo yang diajakin Aldi jalan-jalan di taman merpati kemarin minggu?” Kepalaku mengangguk, firasatku mengatakan jika gadis itu pasti tidak terima karena orang yang dia suka jalan bersamaku. “Jangan sok kecantikan ya lo! Lo tahu nggak sih, Aldi itu pacar gue! Jadi jangan deket-deket sama dia atau kecentilan!” Devi berucap ketus. Karena tidak ingin terlibat obrolan lebih jauh, aku memutuskan hanya sekadar mengangguk. Percuma juga meladeni nenek sihir gatau malu seperti Devi, yang ada cuma buang-buang waktu saja. Tapi keputusanku ternyata tak sejalan dengan Rossa yang malah membantuku balas mencerca Devi. “Idiih! Sok-sok’an ngelarang sahabat gue deket-deket kak Aldi. Asal lo tahu ya? Kak Aldi itu masih free alias jomblo! Jangan ngaku-ngaku lo, dasar upil garing!” sewot Rossa. Dikatai upil garing oleh Rossa, Devi pun sontak tidak terima. “Apa lo bilang? Upil garing! Iuyy, jangan ngomong sembarangan yah! Lo harus hormatin gue sebagai kakak tingkat!” tuntut Devi. “Dengerin tuh senior lo kalau lagi ngomong! Jangan belagu, cuma adek tingkat aja banyak omong!” Gadis berambut keriting dengan kulit hitam, teman satu geng Devi angkat bicara menghina Rossa. “Emang kalau gue adek tingkat kalian kenapa? Gue harus bilang wowww… gitu?” Rossa balas mengejek dengan wajahnya yang dibuat semenyebalkan mungkin. Devi dan dua teman yang lainnya sontak termakan emosi. “Nyebelin banget nih cewek! Awas lo ya!” Devi mendesis sebal kemudian mengulurkan tangan hendak menjambak rambut Rossa namun secepat kilat kutahan tangannya. “Jangan sakitin sahabat aku!” teriakku seraya menatap tajam Devi yang makin panas. “Kalian berdua emang nggak tahu diri yah! Dasar tukang onar!” Devi berkata berang dan memberontak agar tangannya kulepaskan. Melihat Devi kesusahan melepas tangannya, dua temannya yang lain mencoba membantu tetapi Rossa lebih dulu menarik rambut mereka dari belakang. “Aduh!” ringis dua gadis itu. “Makan tuh jambatan dari adek tingkat yang kece ini! Hahaha.” Rossa tertawa puas melihat aksinya berhasil membalas perbuatan kakak-kakak senior jahat ini. “ROSSSAAAAA!!! JEHAAAAAAAA!!!” Teriakan menggelegar dari Pak Glen yang sudah kuhafal di luar kepala otomatis membuat tanganku yang mencengkeram pergelangan Devi dan tangan Rossa yang menjambak dua gadis teman Devi terlepas. Mengambil keuntungan dalam kesempitan, Devi dan dua temannya berpura-pura menangis seolah-olah mereka korban dari pertengkaran kami. Padahal bukan aku dan Rossa yang memulai, tetapi mereka. “Kalian ada masalah apa sama Devi, Rara dan Tasya?” Pak Glen bertanya sambil bergantian menatapku dan Rossa. “Mereka yang mulai duluan Pak,” jawab Rossa. Dan aku menambahi, “Iya Pak! Kak Devi duluan yang mau jambak rambut Rossa!” Pandangan Pak Glen berpindah ke Devi and the gank. “Bener kalian yang mulai duluan?” “Hikss… enggak Pak. Tadi kami cuma mau lewat aja, terus nggak sengaja nabrak bahu Jeha dan mereka berdua tiba-tiba marah lalu main nyerang kita gitu aja,” cerita Devi, sangat jauh dari kenyataan yang sebenarnya. Aku dan Rossa sampai melongo mendengar cerita serta drama menangisnya. Andai kata Devi adalah seorang publik figur, dia pasti masuk nominasi artis dengan akting terhebat. “Jeha… Rossa, ikut ke ruangan bapak sekarang!” “Tapi Pak, kita kan nggak salah?” Aku membantah. “Bapak nggak bisa seenaknya percaya omongan mereka dong! Pak Glen kan gatau apa-apa main nyimpulin kita yang salah.” Rossa bersikukuh membenarkan dirinya tidak salah. Namun Pak Glen tetap teguh pada pendiriannya. “Jangan banyak alasan, cepet ikut saya ke ruangan,” ucap Pak Glen. “Tapi Pak—” “SEKARANG JUGA! Tidak perlu tapi-tapian!” Karena tidak ada kesempatan untuk membela diri lagi, aku dan Rossa akhirnya terpaksa mengikuti perintah Pak Glen lalu mengikuti dosen itu dari belakang. Kutebak pasti Devi and the gank puas banget melihat aku dan Rossa yang dikorbankan dalam kejadian ini, padahal Tuhan pun tahu bukan kami yang memulai masalah dengan mereka. Awas saja, lain kali aku akan balas dendam! Tunggu tanggal mainnya. “Jeh,” bisik Rossa, saat kami berjalan di belakang punggung Pak Glen. “Kenapa?” balasku, sama berbisiknya. “Lo udah pernah ngisengin dosen nggak sih?” tanyanya, yang tentu saja kubalas gelengan kepala polos. “Belum pernah parah-parah banget sih.” “Mau coba yang parah?” Aku mengangkat sebelah alis, “Maksud kamu?” tanyaku, sedikit tidak paham dengan rencana yang sedang Rossa pikirkan saat ini. Rossa menaik-turunkan alisnya sembari menunjuk p****t seksi Pak Glen yang terbungkus celana hitam panjang. Melihat kode yang ia berikan, aku lantas menceletuk tanpa sadar, “Kamu mau nendang bokongnya Pak Glen?” “Haish!” Rossa mendesis sebal karena aku kelepasan berbicara terang-terangan. Mendengar perkataanku Pak Glen sontak berhenti melangkah, lalu sebelum dosen itu sempat membalikkan badan. Rossa dengan nekadnya menendang p****t Pak Glen lebih dulu hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur dengan posisi wajah lebih dulu mengenai lantai. “Awwww.” Aku yang melihatnya saja ikut-ikutan ngilu, apalagi Pak Glen yang merasakannya sendiri. Masih dengan posisi terjerembab di lantai, Pak Glen mengangkat wajahnya dan mengusap lubang hidungnya yang berdarah. Daebak! Rossa hebat banget sampai bikin Pak Glen mimisan. Sebelum Pak Glen bertambah marah, Rossa buru-buru menarik lenganku untuk kabur. “ROSSSAAAAA!!! JEHAAAAAAAA!!!” teriakan Pak Glen sungguh membahana sampai membuat burung-burung yang bertengger di atap bangunan mengepakkan sayapnya kabur terbang ke langit. BERSAMBUNG...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN