“Dia anjingmu?”
Dengan dahi berkeringat dan wajah agak pucat, aku berusaha untuk tetap tersenyum menutupi kegugupanku. “Iya Pak! Dia anjing, anjingku hehe…” jawabku.
Pak Burhan perlahan mendekati tempatku, lalu berjongkok di depan Mas Ser dan mengelus bulu badannya. “Anjing ini mirip seekor serigala,” kata Pak Burhan, membuatku semakin kalang kabut sebab khawatir identitas Mas Ser akan diketahui.
“Masser memang anjing mahal yang mirip serigala. Jeha bilang jenisnya Alaskan Malamute.” Rossa angkat bicara mewakilkanku untuk menjawab perkataan Pak Burhan.
Kedua kakiku gemetaran saat Pak Burhan semakin gencar meneliti fisik tubuh Mas Ser. Mataku melirik menatap Mas Ser, memberinya pesan terselubung agar dia menggonggong sekarang supaya semua orang tidak bertambah curiga.
“Guk! Guk! Guk!”
Ya Tuhan… rasanya lega sekali ketika akhirnya mendengar suara gonggongan Mas Ser. Usahaku mengajarinya menggonggong tidak sia-sia. Pak Burhan lalu tersenyum, berkat gonggongannya dia tak jadi menaruh curiga pada Mas Ser. “Anjingmu sangat pintar!” puji Pak Burhan saat berhadapan denganku.
Aku balas tersenyum nyengir padanya. “Kayak majikannya pak, saya juga pinter,” tanggapku sambil menunjuk diri sendiri dengan bangga.
Lalu seolah tidak terima, Pak Glen menyela, “Pinter apanya, pinter ngoceh iya!”
Bibirku mencebik, dan Pak Glen sudah kembali berkata, “Katanya kemarin anjing kamu sariawan.”
Oh ya, aku baru ingat kalau kemarin sudah membohongi dosen killer yang satu itu. Tapi bukan Jeha jika tidak bisa memberi alasan absurd lainnya. Maka aku pun menjawab, “Udah saya cekokin jamu pak! Jamu pegel sariawan namanya, pak Glen mau juga?”
“Ogah!”
Obrolan kami itu pun mengundang gelak tawa dari semua orang yang menonton, sekaligus menjadi akhir percakapan sebelum kemudian melanjutkan perjalanan ke tempat camping.
***
Malam harinya di tempat camping hutan harapan. Semua mahasiswa dan dosen telah terlelap di tenda masing-masing. Aku terbangun pukul 2 dini hari karena kebelet pipis. Melihat Rossa tidur nyenyak sambil tersenyum membuatku jadi tak tega harus membangunkannya hanya untuk mengantarku ke kamar mandi.
Tapi kalau pergi ke kamar mandi sendiri malam-malam di tengah hutan begini pasti menakutkan. Aku harus gimana? Mau kutahan juga tidak baik untuk kesehatan.
Ting!
Lampu dikepalaku menyala saat teringat keberadaan Mas Ser. Gunanya apa punya hewan peliharaan kalau bukan untuk teman dan penjaga?
“Aku suruh Mas Ser nganterin aja deh,” gumamku, lalu keluar tenda dengan hati-hati supaya tidak membangunkan Rossa.
Biasanya Mas Ser tidur di samping pintu tenda milikku, kemarin pun aku melihatnya tidur di sini. Tapi kenapa tempat itu sekarang kosong? Lalu ke mana Mas Ser pergi?
Karena cemas, akupun menunda keinginan untuk pipis dan berjalan mencari Mas Ser. Aku tidak menemukannya di sekitar area tenda dan api unggun. Lantas akupun berpikir mungkin Mas Ser kembali ke hutan.
“Mas Ser!” Aku berteriak memanggilnya tatkala melihat Mas Ser duduk termenung di perbatasan hutan.
“Jeha? Kenapa kamu ada di sini?” tanya Mas Ser sambil menoleh ke belakang.
“Ngapain lagi? Cariin kamu lah!” semburku, lalu berdecak pinggang seraya memasang ekspresi marah, “Lain kali jangan pergi tanpa izin! Aku mencemaskanmu tau!”
Mas Ser tertegun, “Kamu mencemaskanku?”
Bagi makhluk yang terbiasa hidup sendiri pasti kata-kata itu sangat bermakna bagi Mas Ser, mendadak aku kasihan padanya yang selama ini hidup dalam kesepian. Aku yang jomblowati saja kadang merasa menderita, apalagi dia yang tinggal sebatang kara di hutan.
“Iya, kita kan sekarang keluarga. Besok kamu akan tinggal di rumahku setelah kita pulang dari camping,” jawabku setelah lama berpikir.
“Terima kasih karena sudah menganggapku sebagai keluargamu Jeha,” kata Mas Ser sambil tersenyum.
Dalam wujud serigala, Mas Ser pun tetap terlihat tampan. Kira-kira bagaimana wajahnya saat menjadi manusia nanti ya? Tiba-tiba saja kepalaku membayangkan wajahnya mirip artis hollywood bermata biru yang tampan.
“Kamu kenapa?” Pertanyaan Mas Ser membuyarkan lamunan indahku dan seketika membuatku sadar bahwa sedari tadi telah tersenyum-senyum sendiri bak orang gila.
Merasa malu, akupun cepat-cepat berekspresi normal. Lalu memegang perut bagian bawah saat urinku rasanya sudah berada di titik terujung. “Aduh… aku kebelet pipis nih!”
“Pipis? Kamu mau pipis sekarang?” Mas Ser ikut-ikutan panik melihatku yang seakan sudah tidak kuat lagi.
Kepalaku mengangguk, “Iya, aku pipis di sini aja deh ya!” ujarku, saking tidak tahannya.
“Ehhhh jangan!” Mas Ser melarang ketika aku hampir saja melorot celana piyama panjang yang kupakai.
Sebelah alisku terangkat dengan risih, “Emang kenapa?”
“Nggak boleh pipis sembarangan di hutan! Kamu mau kena karma dari si penunggu hutan?” sahut Mas Ser.
“Lah emang selama ini waktu Mas Ser tinggal di hutan pipisnya di mana?” Aku bertanya balik tanpa pikir panjang sebab sudah frustasi tidak bisa pipis.
Mas Ser mendadak diam, merasa kikuk dengan pertanyaan yang kuajukan. “Ya… di hutan juga sih.”
Aku melengos sewot, “Haish! Udah sana jagain jangan sampek ada orang yang lihat aku pipis di sini!” perintahku sambil menatap ke sekeliling mencari lahan pipis yang nyaman.
“Tapi Jeha—”
“Udah jangan bawel! Dari pada aku pipis di celana nih!” potongku.
Mas Ser lantas tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan menuruti perintahku. Serigala itu berbalik memunggungiku, sedangkan aku sangat lega setelah buaang air kecil dekat semak-semak pohon.
Sementara itu, sayup-sayup aku bisa mendengar gerutuan Mas Ser yang tengah membicarakanku. “Cewek macam apa yang mau pipis di hutan coba? Kenapa harus aku jagain juga? Apa Jeha lupa kalau di masa lalu aku ini seorang cowok. Di mana harga diriku sebagai laki-laki yang pasrah nungguin cewek pipis di tengah hutan malam-malam begini.”
Aku menutup mulut untuk merendam tawa karena mendengar ocehannya. Berpura-pura tidak mendengar apapun lalu mengajak Mas Ser kembali ke tenda untuk melanjutkan tidur dan mempersiapkan kepulangan besok.
***
Pagi harinya, kira-kira sekitar pukul sembilan. Setelah kegiatan bersih-bersih dan bongkar tenda dilakukan, seluruh mahasiswa sekarang berbaris rapi mengikuti upacara penutupan sebelum meninggalkan hutan harapan.
Banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang kami dapatkan selama camping di sini. Namun tidak hanya dua hal itu yang kudapat, tapi aku juga dapat oleh-oleh hewan peliharaan ke rumah.
Papa dan Mama termasuk orang yang menyukai hewan peliharaan. Dahulu di keluarga kami pernah memelihara kucing, tapi kucing itu sudah mati satu tahun yang lalu karena tertabrak motor di jalan.
Sejak saat itu orang tuaku tidak berniat mengadopsi hewan peliharaan lagi karena takut akan terulang kejadian yang sama. Lalu sekarang aku yakin kedatangan Mas Ser ke dalam keluarga kami akan diterima baik oleh Mama dan Papa.
“Gue duduk bareng loh ya Jeh!” Rossa menepuk bahuku saat bus yang membawa kami pulang baru saja tiba.
“Gabisa!” tolakku, menyebabkan Rossa melotot kaget.
Kemana-mana kami terbiasa berdua, tentu saja Rossa pasti kaget karena untuk pertama kali aku menolak bersamanya. “Aku duduk sama Mas Ser, badannya kan gede. Nggak cukup kalau kita duduk bertiga,” jelasku, tak ingin membuatnya salah paham.
Rossa mendengus, lalu melirik Mas Ser sarkastik. “Posisi gue udah tergantikan sama anjing sekarang,” cicitnya, ngambek.
“Maaf ya Ros, sebagai gantinya besok waktu kita masuk kuliah aku traktir kamu sate kelinci deh!” Aku memberinya penawaran agar gadis itu tidak marah.
Lihat saja binar tatapan matanya sekarang, Rossa sangat menyukai sate kelinci. Dia tidak mungkin melewatkannya. “SERIUSAN?!”
“Iya serius, kamu kan sahabat terbaik aku,” sahutku yang kemudian dihadiahinya sebuah pelukan. “Aaa thencuu! Emang lo bestfriend terwekewer-kewer gue Jeh!” pekik Rossa, begitu bahagia seolah aku baru saja memberinya satu kilo berlian.
“Yauda, walaupun kita nggak bisa duduk berdua kali ini. Tapi kita tetap bisa berdampingan kok, gue duduk di kursi seberang lo sama Masser. Oke?” Rossa mengedipkan mata.
Dan aku membalasnya dengan dua jempol, “Oke beb.”
BERSAMBUNG...