Kegiatan kemah hari ini yaitu berteman dengan alam. Para mahasiswa dikumpulkan dan dibuat beregu seperti kemarin. Masing-masing regu akan ada satu dosen dan satu pemandu hutan yang akan mengajak para mahasiswa berkeliling hutan harapan untuk mempelajari apa saja hewan dan tumbuhan yang hidup dalam hutan harapan.
Indonesia tak hanya terkenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan kulinernya. Namun, Indonesia juga terkenal memiliki kekayaan flora dan fauna yang beragam. Hutan Harapan dihuni lebih dari 307 jenis burung, 64 mamalia, 123 jenis ikan, 55 jenis amfibi, 71 jenis reptil, dan 917 jenis pohon.
Sebagian tumbuhan dan hewan di hutan harapan tidak temukan di hutan lainnya, di Indonesia bahkan di dunia. Beberapa dari mereka termasuk langka dan telah terancam punah karena pemburuan liar dari pedagang satwa ilegal yang kerap mengancam kehidupan hewan di hutan.
Seperti yang diceritakan Mas Serigala kemarin. Para pemburu ilegal sering kali datang menangkap hewan-hewan langka seperti dirinya sebab tergiur dengan harga jual yang fantastis.
“Jadi sebagai generasi muda penerus bangsa kalian harus dapat memahami pentingnya menjaga keberadaan satwa yang dilindungi serta ekosistem alam di Indonesia. Mari sama-sama lestarikan hewan dan alam yang kita punya, jangan sampai biarkan mereka punah.”
Pak Burhan selaku pemandu hutan yang berada di timku memberi motivasi kepada kami semua setelah berkeliling hutan dan menjelaskan semua hal yang berkaitan dengan hutan harapan di Jambi ini.
“Baik anak-anak, karena kita telah berkeliling dan mendapat banyak ilmu dari Pak Burhan. Sekarang kita punya waktu 15 menit untuk istirahat sebelum kembali ke tempat camping. Ingat! Jangan memisahkan diri dari tim karena bapak tidak ingin kejadian hilangnya Jeha kemarin terulang lagi.”
Pak Glen memberi instruksinya kemudian disetujui oleh para mahasiswa yang kini membubarkan diri masing-masing untuk istirahat sebab lelah seharian telah jalan kaki berkeliling hutan.
“Jeh! Lo mau ke mana?” Rossa berteriak memanggil ketika aku dan Mas Ser melangkah keluar dari batas lokasi istirahat yang sudah ditentukan.
“Anu…” Bola mataku berkeliaran memikirkan sebuah alasan. “Mas Ser minta pipis!” Aku menunjuk Mas Ser yang melotot kaget ke arahku.
Mau bagaimana lagi, hanya itu satu-satunya alasan yang terlintas di kepalaku. “Gaenak kalau Mas Ser pipis di depan temen-temen, malu lah!” lanjutku, membuat Rossa tepok jidat lalu menyahut heran, “Yaelah, anjing mau pipis aja pakek dianterin. Itu anjing apa anak lo sih?”
Aku membalasnya sewot, “Yeee, biarin aja. Anjing juga, anjing punyaku. Suka-suka aku dong!”
Rossa berdecak lidah seraya geleng-geleng kepala tidak habis pikir. Dia pasti menganggap bahwa aku sudah gila. “Yauda sana-sana anterin anak anjing lo pipis! Awas nggak bisa balik lagi ya lo!” Rossa memperingatkanku.
Dan aku tersenyum membalasnya. “Tenang aja, nggak bakalan jauh-jauh kok.”
Setelah masalah dengan Rossa selesai. Aku dan Mas Ser akhirnya sampai di daerah hutan yang tidak jauh dari lokasi istirahat. Di sana hanya ada kami berdua, dan Mas Ser bebas berbicara padaku.
“Haruskah kamu menggunakan alasan pipis pada Rossa?” Mas Ser memprotes.
Wajar sih dia marah. Andai Mas Ser dalam wujud manusia laki-laki, dia pasti malu setengah mati karena alasan yang aku gunakan pada Rossa tadi. Bukannya merasa bersalah, aku malah cekikikan merespon perkataannya. Entahlah, rasanya lucu saja bisa menjaili seekor serigala buas sepertinya.
“Jangan tertawa Jeha.”
Mulutku otomatis tertutup rapat setelah mendengar satu kalimat sinis dari Mas Ser yang beneran marah. “Maaf,” cicitku, lalu mencoba memulai pembahasan baru untuk mencairkan ketegangan.
“Aku sengaja bawa Mas Ser ke sini karena ingin mengajarimu cara menggonggong,” ujarku dengan senyum lebar tanpa dosa. Sedangkan Mas Ser melongo, memperlihatkan deretan gigi runcingnya yang tajam.
“Aku seekor serigala, mana mungkin bisa menggonggong seperti anjing!” bantah Mas Ser dengan kesal.
“Tapi yang orang-orang tahu kamu adalah seekor anjing. Semuanya bisa curiga jika kamu tidak bisa menggonggong,” jelasku yang hanya dibalas dengusan malas Mas Ser.
Aku harus menyemangatinya. Mau bagaimana pun sebentar lagi dia akan tinggal bersamaku di kota. Bakal repot kalau aku ketahuan membawa serigala buas langka ke rumah tanpa izin.
“Ayolah Mas Ser! Tidak susah kok menggonggong, tinggal majukan bibirmu lalu keluarkan suara guk…guk…guk!” ujarku sambil menirukan suara anjing semirip mungkin untuk menginspirasi Mas Ser menggunakan pola nada yang sama.
Pada awalnya Mas Ser hanya diam menatap geli diriku, namun di menit berikutnya siluman serigala itu mulai berani mencoba. “Guu—guu…”
Aku mengangguk-anggukkan kepala sebagai bentuk dukungan untuknya. Menanti penuh harap Mas Ser bisa menggonggong layaknya seekor anjing pada umumnya. “Gu, gu, gu!” Mas Ser masih dalam tahap berusaha.
Lalu saat kupikir sedikit lagi Mas Ser bisa menggonggong dengan sempurna, dia malah mengejutkanku dengan suara lolongannya yang nyaring dan keras.
“Auuuuuuuu….”
Astaga! Bulu kudukku merinding mendengar suara lolongan Mas Ser yang membuatku mendadak merasa sedang terjebak di dalam film WOLVES.
“Maaf, aku keceplosan melolong.” Mas Ser meringis. Sementara aku panik bukan main sebab lolongannya pasti didengar Pak Burhan, Pak Glen dan semua para mahasiswa yang sedang istirahat.
“Kita harus segera kembali ke tempat peristirahatan!” ujarku, lalu berlari ke tempat peristirahatan diikuti Mas Ser yang berlari di sampingku.
Sesampainya di sana, sesuai tebakanku. Semua orang tampak waspada dan ketakutan setelah mendengar suara lolongan Mas Ser.
Rossa bahkan langsung menghampiriku dan bertanya dengan raut cemas. “Jeha, kamu dan Masser baik-baik saja? Tadi kami mendengar suara lolongan serigala dekat sini!”
Aku mengangguk, wajahku ikut pucat karena takut identitas Mas Ser bisa terbongkar karena kejadian ini. “A-aku dan Mas Ser baik-baik saja. Tadi aku juga mendengarnya, tapi aku tidak melihat ada serigala di sekitar sini,” jawabku.
Rossa membuka mulut, hampir akan menyahut tetapi urung karena perkataan pak Burhan. “Ini bukan yang pertama kalinya, pengelola hutan termasuk aku juga sering mendengar lolongan serigala di hutan harapan. Tapi belum pernah aku mendengarnya secara jelas dan sedekat ini.”
“Bukankah tidak ada spesies serigala yang hidup di Indonesia? Kenapa tiba-tiba ada seekor serigala yang hidup di hutan harapan Pak?” Pak Glen menyahut bingung.
Aku menelan ludah mendengar pertanyaan Pak Glen, dalam hati terus berdoa semoga Mas Ser tidak dicurigai karena masalah ini.
Pak Burhan menjawab, “Kemungkinan besar serigala itu dieksploitasi ilegal dan seseorang sengaja menyelundupkannya di sini. Tim pengelola hutan sudah berkali-kali mencarinya ke seluruh area hutan, tapi serigala itu tidak pernah kami temukan.”
“Jangan-jangan itu suara siluman serigala kali pak! Kek’ yang di Twilight!” Rossa menceplos ngawur.
Seolah mendapat bantuan dari Rossa, akupun ikut menimpali, “Iya bener pak! Kalau nggak pernah ketemu wujudnya kita nggak bisa nyimpulin langsung kalau ada serigala di hutan ini! Bisa aja suara lolongan itu dari siluman serigala.”
Pak Glen mendengus seakan berusaha sabar, dan mahasiswa lain sudah tertawa terbahak-bahak karena ocehan tidak masuk akalku. Sedangkan Pak Burhan, bukannya mendengarkan ucapanku dan Rossa, sorot mata pria itu malah jatuh ke arah Mas Ser yang berdiri dengan empat kaki di sampingku.
“Dia anjingmu?”
Wadidaw! Jantungku berdetak kencang tatkala alarm peringatan mulai menyala di kepalaku. Pak Burhan sudah menargetkan Mas Ser sebagai bahan pertanyaannya, jika aku tidak pandai-pandai mencari jawaban yang tepat maka identitas Mas Ser bisa jadi akan dicurigai.
BERSAMBUNG...