Dua orang yang sebenarnya masih saling mencintai

1100 Kata
Beberapa menit kemudian Rizal telah sampai ke rumahnya. Dia langsung turun dari mobil, dan masuk mencari istri nya. Saat berjalan masuk kedalam rumah, Rizal bertemu dengan Annisa. "Rizal, sudah pulang kamu." sapa Annisa, yang melihat anaknya berjalan masuk ke rumah. Wanita itu rupanya baru saja selesai menyirami tanaman kesayangannya, dan saat masuk dia melihat anaknya berjalan dengan wajah yang terlihat gelisah. "Iya mom. mom dimana Dea?" tanya Rizal dengan gelisah. "Dea ada di kamarnya nak," jawab Annisa dengan muka bingung nya. "ya sudah kalau begitu, Rizal ke kamar dulu ya mom." pamit Rizal, Rizal berjalan ke kamarnya meninggalkan Annisa dalam keadaan bingungnya. Setelah mengetahui istrinya bertemu dengan elin,ntah kenapa ia merasa gelisah didalam pikiran laki-laki itu hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan istrinya. Ceklek Suara pintu kamar terbuka, Di sana Rizal bisa melihat istrinya yang tengah tertidur. Rizal menghampiri Dea di kasur, ia pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Dea. "Cantik," ucap Rizal sembari mengelus pipi Dea dengan lembut. Rizal memandangi wanita yang begitu ia cintai. "Andai saja wanita itu tidak datang ke kehidupan kita, mungkin sekarang kita sudah pergi berbulan madu." Gumam Rizal. Ia pun memeluk istrinya dan ikut memejamkan matanya. Sedangkan di sebuah rumah, seorang wanita muda tengah menatap jendela dan mengelus perutnya. Sorot mata wanita itu menunjukkan kesedihan. "Nak, siapa sebenarnya ayahmu?" lirih wanita muda itu dengan sedih, dan dari arah belakang seorang wanita paruh baya mendekati nya. "Elin sedang apa kamu hmm?" tanya wanita paruh baya itu sambil mengelus rambut wanita muda itu. "Tidak sedang apa-apa Bu," jawab elin, ya wanita muda tersebut adalah elin. "Apa yang kamu pikirkan nak? Jika itu menganggumu, kamu bisa bilang ibu. Siapa tau ibu bisa memberikan kamu solusi," tanya ibu elin lagi. "Elin, tidak apa-apa kok Bu." balas elin, sambil memegang tangan ibunya dan mengelus nya dengan lembut. Ia tak ingin membuat ibunya terbebani. "Bohong! pasti ada sesuatu yang kamu pikirkan ya kan nak? Elin berbagi lah beban dengan ibumu ini nak, ibu mohon!" Desak ibu elin. "Benar Bu, elin baik-baik saja kok." sahut elin dengan senyum hangat di wajahnya. Ibu elin sedikit kecewa dengan sikap elin yang tak ingin terbuka kepadanya. "Haa.. baiklah jika seperti itu, ibu ke dapur dulu ya nak." ucap ibu elin dengan kecewa ia pun pergi meninggalkan elin sendiri. "Maaf kan elin Bu, elin tidak bermaksud untuk membuat ibu kecewa. " gumam elin dengan melihat ibunya yang berjalan ke dapur. "Apa yang harus aku lakukan, hiks.." ucap elin diiringi tangis. Elin pun meluapkan rasa kesedihan nya saat itu, ia menangis tanpa tau jika ibunya menghampiri dia lagi. "Elin.." panggil ibu elin dengan lembut, ibu elin mendatangi elin dan memeluknya. "Terbukalah dengan ibu nak, berbagi lah dengan ibu jika kamu sedang mengalami masalah yang, tidak bisa kamu hadapi. ibu akan selalu menemani mu nak," sambung ibu elin lagi. "Ibu.. hiks.. hiks.." tangis elin semakin pecah, ia benar-benar tak bisa terlihat baik-baik saja jika bersama dengan ibunya. "Ya, menangislah nak. menangis lah jika itu membuat hatimu lega," ucap ibu elin. "Elin.. hiks.. tid—ak hikss.. sanggup Bu hiks.." sahut elin dengan sesenggukan. "Kamu kuat, ibu yakin kamu pasti sanggup menghadapi masalah ini." ucap ibu elin. Elin menggelengkan kepalanya dan berkata. "Tidak Bu, elin tidak sanggup. hiks mbak dea, istri dari laki-laki itu orang baik hiks.. elin merasa sangat berdosa dengan nya hikss.." kata elin. "Elin dengarkan ibu nak, Semua ini bukan salahmu. kamu tidak bisa menyalahkan diri mu sendiri nak! " seru ibu elin, dia mengelus rambut elin dengan lembut. "Tapi saat itu saja, elin tidak ingat apa yang terjadi Bu. elin takut, jika anak ini bukan anak dari suami mbak Dea. Elin takut hikss, hiks." ucap elin. "Kenapa kamu bicara seperti nak? Apa kamu merasa jika saat itu kamu tidak tidur dengannya?" tanya ibu elin. "Ntahlah Bu, elin tidak mengingat nya. tapi elin ragu jika ayah anak elin adalah laki-laki itu," lirih elin. "Dengarkan ibu nak, tidak peduli siapa ayah dari anak mu. kamu harus tetap menikah dengan laki-laki itu. Bagaimana pun saat itu kamu bersama dengannya. paham sayang!" Ucap ibu elin. "Hiks.. tapi jika anak ini bukan anak dari laki-laki itu bagaimana Bu." tanya elin. "Semuanya akan jelas saat anak itu terlahir. kamu tidak perlu memikirkan kejadian yang belum terjadi. Jalani saja dulu apa yang ada." Jawab ibu elin. "Baik Bu, hiks," sahut elin. "Sudah, jangan menangis. nanti Bapak mu datang dia akan marah kalau mengetahui anak nya menangis." ucap ibu elin sambil menyeka air mata anaknya. "Iya Bu, terimakasih. Dan maaf kan elin yang selalu tidak bisa menyelesaikan masalah elin sendiri," ucap elin. "Apa gunanya ibu sebagai ibumu jika, setiap kamu sedang ada masalah kamu selalu menyelesaikan nya sendiri nak." ucap ibu elin dengan tersenyum hangat. Elin pun langsung memeluk ibunya, perasaan hangat yang di berikan oleh ibunya membuat elin sadar jika dirinya tidak sendirian. Sedangkan di sebuah kamar, terdapat dua pasangan suami-istri tengah tertidur dengan berpelukan. "Uhh..." Dea bangun dari tidur, dan kaget saat melihat ada sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. Tangan itu ternyata adalah milik Rizal, saat itu juga Dea ingin sekali memindahkan tangan suaminya. Namun saat melihat wajah tampan suaminya, ia menjadi tidak tega. "Kamu tampan sekali sih mas," Gumam Dea yang mengagumi keindahan wajah Rizal. Namun sedetik kemudian dia pun tersadar atas tindakan nya barusan. "Haiss apa yang kamu pikirkan dea, ingat laki-laki ini sudah sangat menyakiti mu." Batin Dea dalam hati, dea pun memindahkan tangan suaminya dengan hati-hati agar suaminya tidak terbangun. Namun semuanya sia-sia ternyata sedari tadi Rizal sudah bangun. Ia pun menarik Dea dan memeluk nya kembali. "Aaa, apaan sih mas. Lepas tidak!" teriak dea, yang terkejut saat Rizal tiba-tiba memeluk nya. "Jika aku tidak mau bagaimana? bukankah tadi kamu mengagumi wajah ku yang sangat tampan ini hmm?" ucap Rizal dengan PD. "Mana ada tidak kok, sudahlah awas lepaskan aku!" ucap Dea dengan malu-malu. Ia sangat malu ternyata, tadi suaminya mengetahui jika dirinya mengagumi keindahan wajah laki-laki tersebut. "Oh benarkah? tapi bukankah tadi kau mengelus wajahku ini. Bahkan aku masih sangat ingat, rasanya di elus olehmu sayang." ucap Rizal dengan jahil. Muka Dea pun memerah, mendengar itu. "Tidak! mungkin kau salah ingat. sudah awas aku mau bangun!" ucap Dea dengan gugup. "Tidak mau!" sahut rizal, ia tak ingin melepaskan pelukannya. Rizal menghirup aroma tubuh Dea, aroma yang begitu ia suka. "Lepas mas!" seru Dea, Dea sebenarnya ingin di peluk seperti ini oleh Rizal namun gengsinya mengalahkan ego nya. "Biarkan, aku seperti ini. Sebentar saja, kumohon!" Lirih Rizal, Rizal sangat menyukai aroma tubuh dea. Ia memeluk Dea dengan erat, laki-laki itu menaruh kepalanya di ceruk leher dea. Dea sebenarnya merasa sedikit geli denga tindakan suaminya itu, namu hari ini Dea memberikan kesempatan kepada Rizal untuk memeluknya sebentar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN