Aku Ingin Seorang Anak

1079 Kata
Saat di tinggal pergi oleh Tio, rizal tidak bisa fokus dengan pekerjaan nya. Ia masih memikirkan apa yang di bicarakan istrinya dengan elin. "apa yang Dea bicarakan dengan wanita itu ya? arghhh menyebalkan!!" ucap Rizal sambil berteriak marah. "jika seperti ini terus, aku tidak bisa fokus. Apa aku susul saja ya mereka." gumam rizal, laki-laki itu mengambil jasnya dan keluar dari kantornya. "Tuan, anda ingin pergi kemana?" tanya Tio, saat melihat Rizal keluar dari kantornya. "Aku ingin menyusul istriku," jawab Rizal. "tapi tuan, kita akan ada meeting lagi" ucap Tio dengan datar. "Haiss, berapa menit lagi?" tanya Rizal. "10 menit lagi tuan" ucap Tio dengan tegas, Rizal melihat jam tangannya. "kau! kenapa tidak bicara dari tadi hah! si*l*n!," umpat Rizal kepada Tio. "Ini saya sedang bicara dengan anda tuan" jawab tio dengan enteng. Rizal sangat kesal dengan tindakan asisten nya itu, ia pun masuk kembali ke kantornya. Di sebuah taman, Dea tengah duduk dan memandangi pemandangan taman tersebut. "Tante,, Tante" panggil seorang anak kecil kepada Dea. Dea pun menoleh ke arah anak tersebut. " Ya sayang ada apa?" tanya Dea sambil mengelus rambut anak tersebut. "Boleh minta tolong?" jawab anak tersebut dengan nada sedikit takut. "Boleh dong, minta tolong apa sayang?" ucap Dea. "Itu Tante, bola ku nyangkut disana. Boleh tolong ambilkan Tante" jelas anak kecil tersebut. Dea melihat ke arah pohon yang di tunjuk anak itu. "Ah itu, ya sudah kamu tunggu sini ya. Tante ambilkan" perintah dea, anak itu pun duduk dan menunggu Dea mengambil kan bolanya. setelah bersusah payah, Dea pun Akhirnya berhasil mengambil bola, tersebut. "Ini bola kamu sayang?" ucap Dea sambil memberikan bola anak kecil tersebut. "Terimakasih Tante, ini untuk Tante" jawab anak itu sembari menyodorkan satu buah permen coklat kepada Dea. Dea menerima permen tersebut, setelah memberikan permen dan mengucapkan terimakasih, anak itu meninggalkan Dea. "Haa, ingin rasanya aku memiliki seorang anak. Namun melihat kondisi rumah tangga ku yang seperti ini, sepertinya akan sangat mustahil." ucap Dea dengan nada sedih, sambil menghela nafasnya. "Astaga Dea! apa yang kau pikirkan, Jika kau mempunyai anak. Laki-laki itu, akan mempunyai alasan untuk tidak bercerai denganmu. lagi pun dia juga sebentar lagi akan mempunyai anak dari wanita lain," gumam Dea. Karena tak ingin larut dalam kesedihan Dea, pergi dari taman tersebut. "Pak, kita pulang ke rumah" ajak Dea kepada sopirnya. "Baik, non" jawab sopir Dea. Sopir itu pun melajukan mobilnya, pergi menuju ke rumah besar Prajawinata. "Apa yang akan kulakukan setelah berpisah dengan mas Rizal. Disini aku tidak mempunyai keluarga, atau aku pergi saja ke Perancis mencari kakak," batin dea. Sepanjang perjalanan Dea melamun, hingga tanpa sadar ia sudah sampai ke rumah nya. "Non, kita sudah sampai" ucap sopirnya dengan sopan. Namun Dea tak kunjung sadar dari lamunannya. "Non, Non Dea!" Ucap sopirnya lagi dengan nada sedikit keras. "Ah iya pak, kenapa?" Ucap Dea kaget. "Maaf non, kita sudah sampai" jawab sopir itu. "Oh iya pak, terimakasih." ucap Dea, setelah mengucapkan itu. Dea turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah. Di sana ia sudah di sambut oleh ibu mertua nya. "Dea nak, sudah pulang kamu. Sini sayang!" Sapa ibu mertua nya, Dea pun menghampirinya. "Kemana saja kamu nak, tadi Rizal menanyakan kamu loh" tanya ibu mertua Dea. "Dea pergi ke mall, untuk menemui seseorang mom." jawab dea. "Seseorang?, siapa nak?" tanya ibu mertua Dea lagi. Sambil menyeruput secangkir teh hangat. "Elin mom," jawab Dea dengan santai. "Uhuk Uhuk" mendengar nama elin. Annisa, ibu mertua Dea tersentak kaget, sehingga tersedak minumannya sendiri. "Mommy," seru Dea dengan panik. Mertua Dea mengangkat sebelah tangannya. "Sudah, sudah mommy tidak apa-apa" ucap ibu mertua Dea. "Beneran mom" tanya Dea dengan nada khawatir. "Ya, tidak apa-apa nak. emm, kalau mommy boleh tau kenapa kamu menemui wanita itu?" tanya ibu mertua Dea. "Dea hanya ingin, mendengar penjelasan tentang kejadian malam itu versi elin sendiri mom," jawab Dea. "Begitukah?" Tanya ibu mertua nya. "Iya mom, ya sudah mom. Dea ke atas dulu ya mom, mau mandi." Pamit Dea. "Ya sudah kalo begitu nak" Jawab Annisa ibu mertua Dea. "Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan Dea" batin Annisa. Di sebuah Hotel, Terdapat 2 laki-laki tengah berbincang-bincang. "Bagaimana, apakah kita akan menemui adikku sekarang?" tanya salah satu laki-laki tersebut. "Sebentar lagi tuan muda, dalam 2 minggu ini surat-surat kepindahan nona muda akan segera selesai." jawab laki-laki nya. "Si*l*n kau! kupikir saat berangkat kemari kau sudah menyiapkan semuanya. Tapi arghhh menyebalkan," Teriak marah laki-laki. "Jika waktu itu anda, tidak menyuruh saya untuk mencari wanita yang anda tiduri. Mungkin saat ini kita sudah kembali ke Perancis tuan muda!" balas laki-lakinya. "Mark! berani nya kau–" seru laki-laki tersebut. Namun, beberapa saat kemudian laki-laki itu tertunduk sedih, dia mendongak dan menatap wajah laki-laki di depannya. "Lalu aku harus apa Mark? wanita itu masih gadis saat sebelum ku sentuh. Aku bahkan tidak meninggali nya uang sepeserpun," ucapnya dengan tiba-tiba. Perasaan bersalah dan menyesal selalu, menghantui laki-laki tersebut. "Ntahlah tuan muda saya pun tidak tahu, harus berbuat apa. Kejadian ini tidak akan terjadi jika anda bisa menahan n*fs* anda. Sekarang semua nya kacau, jika tuan besar dan nyonya besar tahu saya yakin anda pasti akan di bunuh nya." Ucap Mark dengan datar. "Diamlah kau! membuat ku tambah pusing saja. Sudah sana pergi kau, dan ingat sembari menunggu surat-surat itu selesai. Temukan wanita itu, eh salah maksudnya gadisku." Ucap Jakson dengan senyum di bibirnya. "Gadisku heh? Dia bahkan tidak mengenal anda tuan. Bagaimana mungkin anda mengklaim nya sebagai milik anda." cibir Mark kepada Jakson. "Si*l*n berani-beraninya kau! sudah pergi sana, membuat ku muak saja," Maki Jakson. Mark pun pergi meninggalkan kamar Jakson. "Mengklaim kepemilikan hmm, tidak buruk juga ide itu." Gumam Jakson sambil meminum wine. Disebuah restoran Rizal baru saja selesai meeting, dia sekarang sedang makan siang dengan Tio. "Setelah ini apalah ada meeting lagi?" tanya Rizal. "Tidak ada tuan, meeting tadi adalah meeting terakhir untuk hari ini." Jawab Tio dengan datar. "Baiklah jika seperti itu, aku akan langsung pulang ke rumah. Kau handle semua pekerjaan ku hari ini, dan ingat jika tidak ada sesuatu yang mendesak tidak usah menghubungi ku!" ucap Rizal "Baik tuan" jawab tio dengan singkat. "Ya sudah, aku akan pulang sekarang. ingat perkataan ku tadi, jika tidak ada sesuatu yang mendesak jangan menghubungi!" ucap Rizal lagi. "Baik tuan, mau saya antar?" tawar Tio. "Tidak perlu," singkat Rizal. Laki-laki itu berdiri dan berjalan keluar dari restoran lalu, ia menuju ke arah parkiran tempat dimana mobilnya terparkir. Setelah sampai di mobilnya, Rizal langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah, dia sudah sangat tidak sabar untuk segera bertemu istrinya tercinta nya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN