Orang Ketiga

1514 Kata
“Kau bisa mati jika tidur di dalam lemari pendingin! Kau mau mati, hah?” Airin memicingkan kedua matanya melihat bagaimana Arthur mengomeli Riu sementara anak itu hanya menundukkan kepalanya, kelihatan takut karena Arthur yang selalu melotot padanya setiap kali mengomel. Membuat Airin tidak punya pilihan selain ikut turun tangan sebelum omelan Arthur membuat Riu menangis dan mereka jadi kesulitan karenanya. “Kenapa kau tidur di dalam lemari pendingin?” tanya Airin yang nada lembutnya saat bicara pada Riu berhasil membuat anak itu mengangkat kepalanya. “Apa AC di sini kurang dingin sampai kau masuk ke dalam lemari pendingin dan tidur di sana? Apa kau akan suka jika aku membuat ruangan ini jadi lebih dingin?” “Banyak makanan,” cicit Riu dengan ekspresi takut-takut di wajahnya. “Ada banyak makanan di dalam sana jadi aku senang sekali.” “Kau senang sekali sampai masuk dan tidur di dalam sana, uh? Jika orang lain melihatnya mereka akan berpikir orang tuamu tidak memberimu makan dengan benar sampai kau jadi rakus begini!” hardik Arthur yang membuat Airin melotot padanya. Wanita itu tidak habis pikir mengapa mu;ut Arthur selalu sejahat ini pada putranya sendiri. Namun saat menyadari sesuatu dalam ucapannya, ekspresi kesal di wajah Arthur perlahan mengendur. Kemudian dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya ia bertanya, “Apa mamamu jarang membelikan makanan enak untukmu? Apa kau dan mamamu punya cukup makanan setiap harinya?” “Mama...” Pertanyaan Arthur mengingatkan Riu pada mamanya. Dan secepat itulah anak yang sedang sangat merindukan mamanya itu jadi menangis lagi. “Mama... Aku mau pulang. Mau Mama.” Airin menghela napas panjang sambil memelototi Arthur sementara kedua tangannya sudah merengkuh tubuh mungil Riu ke dalam pelukannya untuk menenangkan anak itu. “Baguss sekali! Sepertinya keahlian utamamu itu memang membuat anak kecil menangis, uh?” sungut Airin dengan kesal. Airin tentu saja merasa sangat kesal karena Arthur membuat Riu menangis seperti ini padahal pria itu tahu bagaimana susahnya menenangkan Riu. Namun saat menyadari ekspresi cemas yang tidak biasa di wajah Arthur, Airin jadi menyadari sesuatu yang anehnya terasa sangat mengganjal di hatinya. Airin berpikir jika Arthur bukan hanya khawatir pada Riu, melainkan juga pada ibu anak itu. Pada Kaia, mantan kekasihnya yang selama 4 tahun menghilang begitu saja dan berjuang seorang diri untuk mengandung, melahirkan, dan merawat Riu hingga sebesar ini. Dan tiba-tiba satu pertanyaan yang semakin besar rasa penasarannya justru membuat hatinya menjadi semakin sakit muncul begitu saja di dalam benaknya. Tentang bagaimana sebenarnya hubungan Arthur dan Kaia. Tentang bagaimana perasaan sepasang kekasih itu setelah dipertemukan kembali seperti ini. Dan tentang betapa sialnya dirinya karena harus menjadi orang ketiga di antara Arthur dan Kaia meski kini dirinya berstatus sebagai istri Arthur. *** “Padahal kita bisa membeli oleh-oleh dengan harga yang murah di negara aslinya. Tapi lihat ini! Untuk sebuah parfum import dari Perancis harganya harus semahal ini!” Arthur yang berjalan di belakang Airin sambil menggandeng tangan Riu itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat bagaimana istrinya itu terus saja mengomel tentang harga barang-barang yang mereka beli untuk dijadikan oleh-oleh pada keluarga dan teman-teman mereka. Karena meski mereka tidak jadi pergi bulan madu ke Perancis, namun mereka tetap harus membelikan oleh-oleh khas Perancis untuk dibagikan pada orang-orang agar mereka tidak tahu jika mereka tidak jadi berangkat bulan madu. Namun entah karena masih kesal pada bulan madunya yang batal atau Airin memang orang yang sepelit itu, wanita itu terus saja mengomel tentang harga barang-barang import yang mahal yang harus mereka beli untuk dijadikan oleh-oleh palsu. “Kenapa kau terus mengomel begitu padahal aku yang akan bayar semua itu, uh?” kata Arthur yang hanya Airin balas dengan decakan lidahnya. “Apa itu yang kau ambil? Jangan coklat yang itu! Yang di sana lebih enak.” “Yang ini lebih murah,” ujar Airin seraya memasukkan beberapa kotak coklat ke dalam troli belanjanya. “Tapi ini tetap saja mahal. Apa tidak ada coklat lain yang lebih murah?” “Kau mau membuatku malu, ya? Aku ini seorang direktur, mana boleh memberikan oleh-oleh yang murah!” ujar Arthur yang membuat Airin kembali mendecakkan lidahnya. “Mau direktur atau bukan, yang paling penting dari membelikan oleh-oleh itu adalah ketulusannya, bukan harganya! Apa gunanya beli sesuatu yang mahal jika tidak tulus?” kata Airin. Yang kemudian langsung melotot saat melihat Arthur memasukkan sekotak besar coklat yang harganya sangat mahal ke dalam troli. “Untuk Riu,” kata Arthur sambil mengusap wajah Airin dengan telapak tangan kirinya agar wanita itu berhenti melotot padanya. “Apa harus beli coklat yang murah juga untuk Riu?” “Anak kecil itu tidak peduli dengan coklat yang mahal atau tidak, mereka akan senang hanya dengan dapat coklat! Kenapa malah menghamburkan uang yang sangat banyak hanya untuk coklat?” gerutu Airin. Airin lalu menunjukkan coklat tersebut pada Riu. “Kau suka coklat ini?” tanyanya yang dijawab dengan anggukan semangat oleh anak itu. “Janji tidak akan nangis lagi jika kuberi ini?” Dan sekali lagi Riu menjawab pertanyaan Airin dengan anggukan kepalanya. “Jangan coklat saja. Minta yang lain juga. Kau bisa beli apapun yang kau suka karena papamu sangat kaya dan suka menghamburkan uangnya,” ujar Airin yang meski mengatakan hal tersebut pada Riu namun matanya melirik tajam pada Arthur. “Yang itu mahal tidak?” Riu bertanya sambil menunjuk botol red wine yang dipajang di deretan rak wine yang berasal dari Perancis. Airin menatap Riu dengan heran, bukan karena anak itu menunjuk wine sebab ia pikir Riu hanya berpikir jika bentuk botol wine tersebut kelihatan bagus tanpa tahu apa isinya. Namun ia heran karena alih-alih langsung meminta wine tersebut seperti yang biasa dilakukan anak-anak, Riu justru bertanya tentang harganya. “Memangnya kau tahu apa soal barang yang mahal atau tidak?” tanya Airin. “Kalau mahal tidak boleh. Mama tidak punya uang.” Jawaban polos Riu membuat Airin terkesiap. Wanita itu menolehkan kepalanya pada Arthur dan sepertinya pria itu telah lebih dulu merasa terkejut dibandingkan dirinya. Itu tidak masuk akal. Bagi Airin dan Arthur yang memang telah dilahirkan dengan sendok emas di mulut mereka, memikirkan tentang uang di usia Riu ini sangat tidak masuk akal. Anak-anak lain akan menangis dan bergulingan di lantai jika menginginkan sesuatu tanpa peduli dengan harganya. Namun jika Riu sampai mengerti hal-hal seperti ini... Airin dan Arthur sama-sama terdiam sementara dalam hati menduga-duga sesulit apa keadaan Kaia selama ini hingga wanita itu harus mengajarkan putranya hal semacam itu di usia yang masih sangat dini dan membentuk anak itu menjadi lebih dewasa dengan cara yang membuat hati Airin dan Arthur jadi terasa perih saat memikirkannya. “Jika denganku kau tidak perlu tanya harganya mahal atau tidak. Tunjuk saja apa yang kau inginkan dan aku akan langsung membelikannya untukmu.” Airin tersadar dari lamunannya saat mendengar ucapan Arthur yang nadanya terdengar sama saja dengan saat pria itu bicara dengan orang dewasa padahal yang saat ini diajak bicara adalah Riu yang baru berusia 3 tahun. Dan kemudian saat melihat Arthur meraih botol wine yang diinginkan oleh Riu, dengan cepat Airin menahan pergelangan tangannya. “Apa kau sudah gila membelikan wine ini untuk anak kecil? Kau bisa kulaporkan pada polisi jika memberikan wine pada Riu!” hardik Airin. “Dia suka botolnya,” ujar Arthur sebelum menggerakkan tangannya hingga terlepas dari cekalan Airin lalu memasukkan botol wine tersebut ke dalam troli. “Aku bisa meminum isinya lalu memberikan botolnya pada Riu. Kau suka ini, kan?” Riu menganggukkan kepalanya saat Arthur mengajukan pertanyaan padanya. Dan seolah puas dengan hal tersebut, Arthur tanpa sadar menunjukkan senyuman kecil yang terbentuk di sudut bibirnya pada Airin saat berkata, “Lihat? Aku juga tahu bagaimana caranya membuat anak ini merasa senang.” Airin mengerjapkan kedua matanya, namun tidak mengatakan apa-apa untuk membalas ucapan Arthur. Padahal pria itu selalu menjadi orang yang sangat menyebalkan di sepanjang waktu yang mereka habiskan bersama, namun entah mengapa untuk sesaat tadi Airin merasa jika Arthur yang tersenyum padanya setelah berhasik memberikan apa yang Riu inginkan itu terlihat sangat keren sekali. “Keren apanya! Senyumnya menyebalkan begitu apanya yang keren, uh?” Airin bergumam sambil memukul kepalanya untuk menyadarkan dirinya. Ia berjalan beberapa langkah sebelum berhenti saat menyadari Riu dan Arthur tidak mengikutinya. Ia lalu menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Arthur serta Riu yang masih berdiri di tempat mereka semula dengan Arthur yang berbicara melalui ponsel yang menempel di telinga kirinya. “Apa kau mau ikut?” tanya Arthur setelah selesai menelepon dan kembali mensejajarkan langkahnya dengan Airin. “Ke mana?” tanya Airin sambil melihat-lihat harga keju untuk membandingkan yang mana yang paling murah. “Kaia meneleponku,” sahut Arthur yang membuat Airin berhenti melihat-lihat keju dan memberikan perhatiannya pada pria itu. Dan kemudian apa yang Arthur katakan padanya membuat Airin semakin sadar jika dalam kisah ini, tidak peduli meski kini dirinya masih berstatus sebagai istri sah Arthur, ia hanyalah orang ketiga dalam kisah Arthur dan Kaia yang pernah‒dan mungkin masih‒saling mencintai dan memiliki Riu di antara mereka. “Kaia bilang dia bisa keluar dari rumah sakit hari ini dan ingin bertemu dengan Riu. Apa kau mau ikut mengantarkan Riu dengannya sekalian kita pulang dan makan malam?” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN