Hubungan Mantan Kekasih

1459 Kata
“Tentu saja aku tidak mau! Dia gila apa? Kenapa yang seperti itu harus ditanyakan segala? Memangnya dia pikir aku semenyedihkan itu sampai mau ikut dengannya?” Di kursi belakang mobil yang sedang melaju itu, Airin menggerutu dengan kesal saat ingat bagaimana Arthur berpikir mengajaknya untuk menemui Kaia. Namun tentu saja, orang yang seharusnya paling kesal sekarang karena harus tetap menyetir di hari liburnya adalah Jerry. “Nyonya, kenapa kau tidak pulang dengan naik taksi, uh? Kenapa harus‒ Ah!” Jerry tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena tendangan yang Airin berikan pada bagian belakang kursi pengemudi yang didudukinya membuatnya memekik keras karena terkejut‒tetap terkejut meski sepertinya itu adalah kebiasaan Airin dan ia telah menerima perlakuan seperti itu berkali-kali dari istri majikannya itu. “Justru karena aku ini nyonyamu jadi aku bisa meneleponmu kapan saja untuk mengantarku! Kenapa? Kau keberatan? Apa kau hanya akan menurut pada Arthur saja karena dia yang membayar gajimu?” Airin bertanya dengan galak dan Jerry hanya membalasnya dengan helaan napas panjang. Padahal Jerry sudah sangat senang saat Arthur dan Airin merencanakan bulan madu selama tiga hari ke Perancis yang artinya ia bisa beristirahat dengan tenang selama tiga hari itu. Namun karena kehadiran Riu yang mengacaukan semuanya, sekarang waktu istirahatnya juga jadi kacau. “Apa kau sudah bekerja pada Arthur saat dia masih pacaran dengan Kaia?” tanya Airin yang entah mengapa jadi penasaran sekali dengan hubungan Arthur dan Kaia. “Tentu saja. Kaia itu kakak kelasku saat SMA dan aku yang memperkenalkannya pada Tuan‒ Ah!” “Jadi kau masalahnya! Semua ini karena kau!” Airin menyela ucapan Jerry dengan tendangan khasnya yang membuat pria itu kembali memekik keras. “Arthur dan Kaia pacaran sampai bisa punya Riu itu semua karenamu! Aku tidak jadi ke bulan madu ke Paris juga semua karenamu! Semuanya karenamu!” Jerry menciut, merasa khawatir dengan keselamatannya karena nyonya mudanya itu kelihatan menyeramkan sekali saat sedang cemburu begini. Eh? Cemburu? Saat menyadari hal tersebut, Jerry melirik Airin melalui kaca spion lalu bertanya, “Nyonya, apa kau sedang cemburu pada Kaia sekarang?” “Eh? Cemburu?” Nah, sekarang Airin jadi heran pada dirinya sendiri saat pertanyaan Jerry menyadarkannya. Membuatnya merasa sangat heran pada dirinya sendiri karena harus cemburu pada Kaia seperti ini. “Ah!” Tapi karena tidak ingin mengakuinya, Airin melampiaskan rasa kesalnya dengan kembali menendang bagian belakang kursi kemudi yang diduduki Jerry. “Memangnya siapa yang cemburu, hah? Untuk apa aku cemburu, hah? Meski aku ini orangnya sangat sabar tapi aku bisa marah juga jika kau bicara sembarangan seperti itu!” Untuk ukuran orang yang suka menendang-nendang kursi seperti Airin, sebenarnya ucapannya itu terdengar sangat tidak tahu diri sekali. Namun karena Jerry sadar jika posisinya yang hanya supir ini sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sanga nyonya muda yang berjiwa diktator ini, pria itu tidak punya pilihan selain hanya menggumamkan maaf pada wanita itu sembari mengumpatinya dengan berbagai macam makian di dalam hatinya. “Lalu bagaimana mereka bisa pacaran? Pacarannya lama, tidak?” Jerry lagi-lagi hanya bisa menghela napas. Padahal Airin sampai menendang kursinya saat menyangkal tidak cemburu, lalu kenapa sekarang bertanya sampai sedetail itu? “Sepertinya cinta pada pandangan pertama,” sahut Jerry. “Siapa?” Dan Airin langsung bertanya lagi dengan antusias. Benar-benar antusias sampai tidak sadar jika ia mencondongkan tubuhnya ke depan. “Tentu saja Tuan Arthur. Dia tidak pernah punya pacar sebelumnya. Tidak pernah jatuh cinta atau berhubungan dengan wanita mana pun. Saat melihat Kaia yang secantik itu dia langsung jatuh cinta dan mengejarnya mati-matian walaupun status sosial mereka sangat berbeda jauh.” Penjelasan Jerry langsung membuat seluruh tubuh Airin terasa lemas. Wanita itu kembali menghempaskan tubuhnya ke kursi dan kedua matanya yang tertuju ke depan terlihat kosong. Cinta pertama. Itu sudah sangat buruk karena bagi sebagian besar pria, cinta pertamanya adalah wanita yang paling berkesan dalam hidupnya. Dan hal lain yang membuatnya lebih buruk itu adalah karena wanita yang merupakan cinta pertama Arthur itu juga merupakan wanita yang melahirkan seorang anak untuknya. Seorang anak laki-laki yang bahkan tanpa perlu melakukan tes DNA pun sudah bisa dipastikan 100% jika itu adalah anaknya Arthur karena wajah mereka yang seperti pinang dibelah dua. Airin menghela napas panjang saat sadar jika dirinya sama sekali tidak akan memiliki kesempatan. Bahkan meski ia memiliki waktu satu tahun dalam pernikahan ini sebelum kembali menggugat cerai Arthur, rasanya tidak akan ada yang berubah antara dirinya dan Arthur mengingat sekarang Arthur sudah kembali bertemu cinta pertamanya yang telah melahirkan seorang anak untuk pria itu. “Tidak, tidak! Apa yang kupikirkan?” Airin menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pemikiran tersebut saat sadar jika dirinya yang kemarin baru mengurus perceraian dengan Arthur itu kini jadi berpikir terlalu jauh hanya karena tadi melihat satu senyuman dari Arthur yang rasanya pria itu sendiri tidak sadar sudah tersenyum seperti itu. “Mereka pacaran sekitar 4 atau lima tahun sebelum‒” “Sudah cukup! Tidak perlu diceritakan semuanya padaku!” Airin dengan cepat menyela ucapan Jerry sebelum pria itu bercerita lebih banyak padanya. Ia tidak ingin mendengar apapun tentang Arthur dan Kaia lagi karena itu semakin membuat hatinya merasa aneh. Namun karena sudah terlanjur mendengarnya, Kaia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak mencemaskan apa yang telah Jerry ucapkan padanya. Sekitar empat atau lima tahun. Itu waktu yang cukup lama untuk sepasang kekasih menjalin hubungan. Airin tidak tahu apa yang membuat pasangan itu memutuskan untuk berpisah, namun ia tidak ingin mencari tahu lebih jauh lagi. “Jerry,” panggil Airin pelan yang membuat Jerry kembali meliriknya dari kaca spion. “Mulai sekarang tidak usah ceritakan apapun lagi tentang Arthur dan Kaia karena aku sudah tahu akan seperti apa kisah ini berlanjut. Setahun dari sekarang, antarkan saja aku ke pengadilan untuk mengurus perceraianku seperti kemarin. Aku hanya akan menggunakan waktu satu tahun untuk menyiapkan hatiku sebelum memulai kehidupan sebagai seorang janda.” *** “Mama...” Kaia langsung bangkit dari duduknya dan membuka kedua tangannya lebar-lebar saat mendengar suara panggilan Riu. Wajah wanita itu terlihat pucat, namun tetap tidak dapat menutupi kebahagiaannya saat melihat Riu yang berlari ke arahnya sambil merentangkan kedua tangan mungilnya. “Oh, sayangnya Mama.” Kaia langsung mengangkat tubuh Riu ke dalam gendongannya dan menghujani wajah anak itu dengan ciuman bertubi-tubi, kelihatan sudah sangat merindukan putra semata wayangnya itu padahal baru kemarin ia melepaskannya untuk dibawa pulang oleh Arthur. “Bagaimana keadaanmu hari ini?” Kaia berhenti menciumi Riu saat mendengar suara Arthur, baru sadar jika pria itu sudah berdiri di hadapannya. “Sudah lebih baik dari kemarin, itulah mengapa dokter mengizinkanku untuk pergi keluar hari ini walaupun hanya 3 jam,” sahut Kaia yang membuat Arthur melihat jam di pergelangan tangan kirinya. “Itu cukup untuk kita pergi makan malam,” kata Arthur yang membuat Kaia menatapnya bingung. “Kau ingin mengajak kami makan malam bersama?” tanya Kaia memastikan yang dijawab dengan anggukan oleh Arthur. “Tentu saja. Ini sudah waktunya makan malam.” “Tapi... Kau datang sendiri,” kata Kaia. “Airin mungkin sudah memasak untukmu dan menunggumu pulang untuk makan malam bersama sekarang. Kau bisa pulang lebih dulu dan aku akan mengantar Riu pulang ke rumahmu dalam perjalanan ke rumah sakit setelah 3 jam.” “Tidak. Airin tidak akan masalah dengan hal seperti ini,” sanggah Arthur. “Dia akan baik-baik saja meski makan malam sendirian. Jadi ayo kita pergi sekarang.” Kaia bergeming, namun tatapannya pada Arthur menyiratkan bagaimana dirinya sangat keberatan dengan hal ini. “Kita dulu pernah jadi sepasang kekasih dan meski sekarang ada Riu di antara kita, tidak seharusnya kita pergi bertiga dengan Riu seperti sebuah keluarga sementara kau sudah memiliki seorang istri.” Kaia menjelaskan dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Arthur. Namun sepertinya Arthur masih tidak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang besar hingga ia kembali berkata, “Airin tidak akan marah padaku hanya karena hal seperti ini. Kau tidak perlu terlalu khawatir tentang Airin.” “Bagaimana kau tahu jika dia tidak khawatir tentang hal ini? Bagaimana mungkin ada wanita yang tidak akan khawattir jika wanita masa lalu suaminya kembali muncul dengan membawa seorang anak?” Kaia tiba-tiba saja menjadi emosional dan meninggikan suaranya saat mengatakan hal tersebut. Tidak, Kaia bukannya marah pada Arthur. Ia justru merasa marah pada dirinya sendiri yang telah melukai hati wanita lainnya. “Aku sudah cukup melukai hati Airin dengan menjadi duri dalam pernikahan kalian seperti ini dan dia bahkan terlalu baik untukku hingga mau menerima Riu,” kata Kaia. Wanita itu menatap Arthur dalam-dalam dan apa yang kemudian ucapkan terasa seperti satu lagi perpisahan yang terjadi dalam hubungan mereka. “Kita hanya akan terhubung karena Riu dan kuharap kita tidak terlalu melewati batas. Aku tidak ingin melukai Airin lebih banyak karena dia benar-benar wanita yang sangat baik dan kuharap... Arthur, kau juga harus belajar untuk menghargai istrimu dan pernikahan kalian.” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN