Kerinduan Terpendam

1616 Kata
“Kenapa kau pulang secepat ini? Aku hanya masak untuk diriku sendiri, jadi tidak ada jatah untukmu malam ini!” Airin sedang masak mie untuk makan malamnya saat Arthur yang ia pikir akan pergi makan malam bersama Kaia justru pulang sendirian tanpa membawa Riu. “Kau hanya masak mie kenapa heboh sekali, uh? Tambahkan saja air dan satu bungkus mie lagi. Ah, tambah dua saja. Kau tidak memberiku makan nasi malam ini, jadi aku harus makan 2 bungkus mie instan.” Airin hanya membalas ucapan Arthur dengan decihan kesal, namun tangannya tetap bergerak untuk menambahkan air ke dalam panci lalu mengambil dua bungkus mie instan lagi untuk dimasukkan ke dalam air rebusannya. “Kupikir kau akan makan bersama Kaia.” Airin yang berdiri di depan kompor itu berkata dengan posisi membelakangi Arthur. Nada bicaranya terdengar seolah tidak peduli meski sebenarnya ia sangat penasaran melihat Arthur pulang secepat ini padahal dirinya sudah bersiap menghabiskan sepanjang malam sebagai istri yang tersakiti karena suaminya yang menghabiskan malam bersama anak dan mantan kekasihnya. “Dia hanya ingin menghabiskan waktunya berdua dengan Riu,” sahut Arthur. “Jangan lupa tambahkan telurnya!” “Kau sendiri memangnya tidak ingin menghabiskan waktu bersama mereka berdua?” Airin kembali mencoba memancing Arthur sementara tangannya memecahkan telur di atas rebusan mienya. “Telurnya sudah ditambahkan?” tanya Arthur. Airin tidak menjawab dan tidak juga mengatakan apapun lagi setelahnya. Sepertinya memilih menyerah untuk menggali lebih dalam karena Arthur yang terus mengalihkan topik ini sepertinya tidak senang jika dirinya ikut campur. “Kau mau minum itu?” Sambil meletakkan panci berisi mie instan yang baru matang di atas meja makan, Airin bertanya pada Arthur saat melihat sebotol wine yang pria itu letakkan di atas meja. Itu adalah wine yang sebelumnya Arthur belikan untuk Riu saat beli oleh-oleh tadi. “Aku akan menghabiskan semuanya agar bisa memberikan botolnya pada Riu,” sahut Arthur. “Aku jadi semakin khawatir pada Riu. Anak seusianya dapat krayon atau robot-robotan untuk mainannya. Entah orang macam apa yang jadi papanya ini sampai berpikir untuk memberikan botol wine ini untuk anak sekecil itu?” Airin berkata dengan nada menyindir sambil memindahkan mie dari dalam panci ke dalam mangkuk. “Dia hanya tahu jika botol wine ini bagus dan aku bukannya memberikan isinya untuknya, tapi kenapa kau bicara seolah aku akan memberinya minum wine, uh?” Arthur bertanya dengan nada tidak terima seraya mengisi mangkuknya dengan mie–mengisinya penuh-penuh sampai membuat Airin melotot padanya karena wanita itu hanya mengambil sedikit mie tadi tapi sekarang Arthur hanya menyisakan kuah dan beberapa helai mie yang mengambang di dalam panci. “Bagaimana bisa seseorang makan sebanyak ini dalam sekali waktu? Itu sama saja kau makan lebih dari 2 bungkus mie! Kau makan jatahku juga,” gerutu Airin. “Memangnya ini bisa dibilang makan jika tidak ada nasinya, uh? Aku hanya mengganjal perutku agar aku tidak kelaparan karena kau tidak memasak nasi. Tanpa nasi, makan sepuluh bungkus mie pun tidak akan kenyang! Nasi adalah hal yang paling penting di dunia ini!” Airin hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar perkataan Arthur yang diucapkan sambil mulut pria itu sibuk mengunyah. Ia akan mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak pernah makan mie dari satu panci yang sama dengan Arthur lagi. Pria itu memakan semuanya sendiri dan hanya membuatnya kebagian sedikit sekali padahal itu dirinya yang menyiapkan mie tersebut. “Kau mau minum bersamaku?” Setelah makan dan mencuci piring, Airin yang bergabung bersama Arthur yang sudah lebih dulu bersantai di ruang tengah sambil nonton TV itu mendapati pria tersebut sudah mulai menikmati wine-nya. Airin duduk di sebelahnya, namun dengan kening berkerut berkata, “Aku tidak minum yang seperti itu.” “Tidak minum wine?” tanya Arthur yang dijawab dengan anggukan oleh Airin. Arthur mendengus pelan dengan seringaian mengejek di wajahnya sambil menuangkan wine ke dalam gelasnya. “Kau tidak pernah ciuman dan juga tidak minum wine. Kau benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menggunakan mulutmu untuk bersenang-senang, uh?” ejek Arthur yang membuat Airin mendecih kesal padanya. “Ada banyak makanan enak di dunia ini, kenapa aku harus menggunakan dua mulutku untuk hal-hal semacam itu?” “Hal-hal semacam apa? Ini surge dunia, tahu! Sekali kau tahu bagaimana rasa wine, kau pasti akan ketagihan untuk terus mencobanya,” kata Arthur sebelum menyesap wine-nya kemudian sengaja mendesah keras setelahnya untuk memanas-manasi Airin. “Ciuman juga begitu. Sekali kau mencobanya kau pasti akan ketagihan dan ingin terus melakukannya,” tambah Arthur. Ia lalu mencondongkan tubuhnya mendekat pada Airin dan bertanya, “Apa kau mau coba?” Airin sontak memundurkan tubuhnya sambil menyilangkan kedua tangan di depan d**a sementara kedua matanya melotot pada Arthur. “Kau gila, ya? Untuk apa aku mencoba ciuman denganmu?!” Arthur menaikkan sebelah alisnya, kelihatan bingung dengan reaksi Airin yang semarah ini padanya. “Wine-nya,” ujar Arthur seraya mengangkat gelasnya yang berisi wine ke depan wajah Airin. “Aku ingin menawarimu untuk mencoba wine.” Airin mengerjapkan kedua matanya, namun saat sadar tentang betapa memalukannya dirinya yang sudah salah paham sampai membentak Arthur seperti itu, ia langsung mendorong tubuh Arthur menjauh darinya. “Memangnya untuk apa aku sengaja minum sesuatu yang membuatku jadi mabuk seperti itu, uh?” sungut Airin, pura-pura menggerutu untuk menutupi rasa malunya. “Kalau hanya sedikit tidak akan mabuk, kok. Apalagi jika itu laki-laki tanggung sepertiku. Aku tidak akan mabuk meski minum sepuluh botol wine,” bujuk Arthur seraya menyombongkan dirinya sendiri. “Dan kadang-kadang mabuk itu bisa jadi sangat menyenangkan karena itu bisa membuatmu melayang sangat tinggi hingga kau lupa pada semua masalahmu.” “Kau,” kata Airin dengan kedua mata memicing pada Arthur. “Belakangan ini semua masalahku itu karena dirimu, Tuan Arthur. Aku tidak perlu mabuk, aku hanya perlu menjauh darimu saja agar tidak terkena masalah terus-menerus,” tambahnya seraya bangkit dari duduknya. “Kau yakin tidak mau belajar minum wine dariku?” tanya Arthur sementara Airin sudah meninggalkannya. “Aku juga bisa mengajarimu caranya ciuman. Kau tidka mau?” Pertanyaan Arthur yang terakhir berhasil membuat Airin menoleh padanya yang pria itu balas dengan seringaian jahil yang dibalas dengan decakan kesal oleh Airin yang merasa sedang dipermainkan oleh Arthur. “Aku harus mengunci pintu kamarku,” gumam Airin seraya mengunci pintu kamarnya sendiri. “Awas saja jika dia sampai mabuk dan macam-macam ingin menciumku! Aku tidak peduli dia suamiku atau bukan, aku benar-benar akan melaporkannya pada polisi jika dia sampai berani macam-macam pada tubuhku yang suci ini!” *** Sudah lebih dari satu jam telah berlalu sejak Airin masuk ke dalam kamarnya dan hal yang kemudian mengalihkan perhatiannya dari novel yang sedang diketiknya di laptopnya adalah bunyi bel yang terus berbunyi bertubi-tubi dan mengacaukan konsentrasinya. “Siapa sih yang datang semalam ini? Arthur juga, apa telinganya itu tuli sampai tidak dengar bunyi bel yang sekeras ini?” Sambil melangkahkan kakinya menuruni anak tangga, Airin terus menggerutu sementara bunyi bel terus bergema di dalam rumah tersebut. “Lihat itu! Apanya yang sepuluh botol, uh? Dia bahkan belum menghabiskan semuanya tapi sudah seteler itu!” Airin kembali menggerutu saat melihat tubuh Arthur yang tergeletak di lantai dengan tangan kanannya yang masih menggenggam gelas yang telah kosong sementara botol wine yang tersisa seperempatnya ada di atas meja. Airin sebenarnya ingin memberi pelajaran pada suaminya yang sedang mabuk itu, namun karena bel terus berbunyi ia jadi harus mengabaikan Arthur untuk segera membuka pintu. Dan itu benar-benar di luar ekspektasi Airin saat melihat jika Kaia lah yang saat ini sedang berdiri di depan pintu rumahnya dengan menggendong tubuh Riu yang sedang terlelap. “Maaf karena aku mengganggu selarut ini. Aku hanya ingin mengantarkan Riu karena aku harus segera kembali ke rumah sakit,” kata Kaia yang jadi sangat sungkan pada Airin sebab telah mengganggu wanita itu seperti ini. “Tidak apa-apa. Sama sekali tidak mengganggu, kok. Aku memang sudah menunggu kepulangan Riu sejak tadi,” sahut Airin yang juga jadi tidak enak hati pada Kaia karena membuat wanita itu menunggu lama di depan pintunya seperti ini. Membuatnya jadi khawatir jika Kaia sampai berpikir buruk tentangnya dan menganggapnya sengaja tidak ingin menerima Riu lagi. “Apa Riu tidur?” “Iya. Dia tidur dalam perjalanan pulang,” sahut Kaia sambil membetulkan gendongannya pada tubuh Riu yang melorot, membuat Airin dengan sigap memberi jalan pada Kaia untuk masuk ke dalam rumahnya. “Silakan masuk dulu. Aku akan mengantarmu ke kamarnya Riu,” kata Airin yang kemudian membuat Kaia mengekor di belakangnya sambil menggendong Riu. Dan setelah beberapa langkah, Airin baru ingat jika di rumah ini dirinya dan Arthur belum menyiapkan kamar khusus untuk Riu. Sejak kedatangannya ke rumah ini, Riu selalu tidur di kamar Arthur dan entah sikap posesif macam apa yang tiba-tiba muncul di hatinya dan membuatnya tidak ingin menunjukkan kamar Arthur pada Kaia hingga ia menghentikan langkahnya lalu berbalik pada wanita yang juga ikut menghentikan langkahnya itu. “Anu… Biar aku yang membawa Riu–“ “Kaia…” Ucapan Airin terhenti saat terdengar suara serak Arthur yang menyelanya. Airin dan Kaia lalu menundukkan kepala mereka ke asal suara tersebut dan meski sebelumnya telah melihatnya, namun Airin tetap sama terkejutnya dengan Kaia saat melihat Arthur yang tergeletak di atas lantai dalam posisi mabuk tengah memanggil-manggil Kaia dengan suaranya yang terdengar serak. “Ini sudah lama sekali. Kenapa kau baru datang sekarang? Kenapa harus datang setelah menikah? Seharusnya kau datang lebih cepat. Seharusnya kau menemuiku lebih cepat…” Ucapan Arthur terdengar seperti racauan yang melantur, namun perhatian Airin dan Kaia sama-sama terpaku padanya. Hingga kemudian apa yang Arthur ucapkan tanpa sadar karena berada di bawah pengaruh alkohol itu membuat Airin dan Kaia saling berpandangan dan tersadar bagaimana pria itu akan membuat hubungan mereka akan jadi semakin canggung setelah ini. “Aku merindukanmu, Kaia. Tidakkah kau juga merindukanku? Tidakkah kau rindu kita yang dulu?” **To Be Continued**
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN