“Sial, aku jadi telat lagi!” Arthur menyelipkan dasinya di antara kerah kemeja putih yang dikenakannya kemudian tanpa memasangnya ia langsung menyambar jas dan tas kerjanya lalu bergegas keluar dari kamarnya. Pekerjaannya di kantor masih sangat menumpuk dan ia masih harus lembur setiap malam. Namun karena arah rumahnya dari kantor melewati jalan yang sama dengan rumah sakit tempat Kaia dirawat, Arthur menyempatkan diri untuk menjenguk Kaia sepulang kerja. Yang meski setelah itu ia sampai di rumah sangat larut namun masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan hingga hampir pagi hingga setiap hari ia pasti bangun kesiangan seperti ini. “Sudah mau berangkat, Tuan?” Arthur menghentikan langkahnya saat mendengar suara bibi Lily. Wanita itu menghampirinya dan sambil tersenyum menyerahkan ta

