“Mengajariku TOEFL..” Mayra tertawa lepas mendengar jawaban polos itu. Raka termangu, bukan karena menyadari jawaban polosnya, namun pancaran wajah ayu Mayra terlihat bahagia, membuatnya tak ingin kelihangan momen itu.
“Itu cuma TOEFL, Rakaa..”
Nyess! Sejuk hati lelaki itu saat Mayra menyebut namanya.
“Tapi itu sangat berarti bagiku..”
“Nilai bahasa inggris kita cuma terpaut 0.5 poin, yang artinya kamu memang sudah menguasai bahasa inggris sebelumnya,” Raka tersipu malu, berharap Mayra tidak mengetahui bahwa memintanya mengajari TOEFL hanyalah alasan belaka agar bisa dekat dengannya.
“Lagipula yang bikin kamu sukses seperti sekarang kan bukan nilai TOEFL, tapi kerja kerasmu,” Mayra tersenyum sembari bertopang dagu.
“Ya.. kerja keras yang bikin aku nggak punya waktu dengan keluarga, sahabat dan..” ucapannya tercekat di tenggorokan.
“Pasanganmu?”, Mayra kembali meminum air putih.
“Aku masih single..”, Raka mulai berani menatap wajah ayu itu lebih lama, berusaha meyakinkan Mayra bahwa yang dikatakannya benar.
“Nggak mungkin.. kamu sukses, menarik, kurang apalagi coba?” suaranya meninggi. Raka hanya menatapnya penuh keyakinan. Hening sejenak.
“Oke.. mungkin seleramu tinggi..” Mayra mengangkat bahunya.
“Aku.. aku nggak bisa melupakan seseorang” jawab Raka. Rona merah dipipinya kembali tampak. Hatinya lega karena kali ini ia mengatakan hal yang benar. Meskipun belum cukup.
Mayra menatap Raka lamat – lamat, mencoba menebak – nebak isi hati lelaki itu.
“Dia mantanmu?..” Mayra mengangkat alisnya.
Raka tersenyum tipis, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
“Aku nggak pernah pacaran..”
“Nggak.. nggak mungkin..” tukas Mayra spontan, ditariknya tubuhnya ke belakang sembari melipat tangannya.
“Terus siapa seseorang itu? Kenapa kalian nggak sempet pacaran?” Mayra mulai kesal.
“Aku nggak pernah mendapati dirinya single,” Raka menatapnya yakin. Sementara Mayra masih termangu. Kedua bola matanya bergulir melihat lelaki itu. Harapan yang terkubur sepuluh tahun lalu mulai muncul kembali. Mungkinkah memang dia yang menulis kata – kata indah itu?
Tiba – tiba ponselnya berdering tanda ada pesan masuk. Dibukanya chat terbaru lalu lambat laun sinar wajahnya yang bahagia pun lenyap seketika.
“Maaf, Ka.. aku harus pamit dulu, ada pekerjaan mendadak, nih..” raut wajah lelaki itu pun tak kalah kecewa.
“Iya, nggak apa – apa, May..” jawabnya sembari tersenyum tipis, berharap senyum itu bisa menyembunyikan kekecewaannya.
“Makasih ya, udah nemenin ngobrol malam ini, sampai ketemu lagi” Mayra beranjak dari kursinya, sesaat kemudian wanita itu lenyap dari pandangannya.
***
Biipp.. biiipp.. biippp..
“Ya, Ris, ada apa?”, Mayra yang baru bangun tidur segera mengangkat telepon asistennya.
“Mbaakk.. buka IG Mbak sekarang, ada komentar netizen yang bilang dia lihat Mbak Mayra dan Mas Rio di pengadilan agama. Duhh... gawat ini, udah banyak netizen yang percaya sama omongan netizen satu itu. Gimana nih mbak?” terdengar suara khawatir Aris yang menggema di seluruh studio foto. Mayra yang belum sepenuhnya sadar mencoba mencerna ucapan Aris.
“Tenang.. tenang, Ris.. Mbak akan cari solusi, tenang yaa.. nanti Mbak telpon lagi” sesaat setelah menutup telepon, Mayra bergegas ambil jaket di gantungan baju, meraih kunci mobilnya dan sesegera mungkin menyalakan mobilnya. Mobilnya melesat terburu – buru menuju rumah mantan ibu mertuanya untuk menemui Rio. Hari masih pagi, ia berpikir secepat kilat bagaimana mengatasi masalah ini. Mungkin memposting kegiatannya di esok hari bersama Rio adalah hal paling tepat. Menipu publik memang. Tapi ia tidak punya pilihan lain karena ia juga ingin mempertahankan profesinya.
Rumah minimalis dua lantai bergaya modern itu terlihat sepi meskipun ada beberapa mobil parkir di garasi. Mayra melangkahkan kaki lebih cepat menuju pintu masuk yang langsung disambut oleh Pak Tono, tukang kebun mantan ibu mertuanya yang hanya bekerja di pagi hari.
“Permisi Pak Tono, Rio di rumah nggak ya, Pak?” tanya Mayra. Nafasnya tersengal karena tidak terbiasa berjalan cepat.
“Ada Mbak, di ruang tengah,” setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Tono, Mayra bergegas menuju ruang tengah.
Deg! Hatinya mencelos saat ia melihat keluarga besar Rio sedang berkumpul. Mantan ibu mertuanya tidak jadi melahap sate kambing saat melihat orang yang paling dibencinya datang ke rumahnya pagi – pagi sekali. Jantungnya berdegup kencang melihat Mbak Tamara yang membawakan sarden basi tempo hari. Rasanya ingin sekali melempar sarden basi itu ke arah mukanya yang kering kerontang.
Di samping Tamara ada Restu, mantan adik iparnya yang sudah menganggur lima tahun. Tidak seperti kakak dan ibunya, ia kurang peduli dengan Mayra, tapi jika uang dari orang tuanya habis, Mayra adalah orang yang pertama kali ia datangi untuk meminjam uang, yang pada akhirnya tidak pernah ia bayar hutang tersebut. Di sebelah Rio, ada sepasang suami istri kikir yaitu Budhe Roro dan Pakdhe Wawan. Meskipun mereka pengusaha bahan bangunan yang sukses, tapi mereka jarang beramal. Padahal banyak saudara dekatnya yang kesulitan ekonomi. Pertemuan terakhir Mayra dengan mereka meninggalkan trauma yang amat dalam. Bagaimana tidak? Budhe Roro dengan blak – blakan menjelek – jelekkan Mayra yang mandul di depan tetangga – tetangga komplek saat arisan. Hal itu membuatnya tidak ingin bertemu dengan Budhe Roro meskipun dalam keadaan kepepet sekalipun. Namun tiba – tiba ada sedikit kelegaan yang diiringi rasa curiga saat ia melihat Bimo dan istrinya, Siwi. Entah apa keperluan mereka berdua di sini. Yang jelas mereka sedang kesulitan ekonomi. Dan terakhir, Bulek Ismi, pensiunan guru dan satu – satunya keluarga dari pihak Rio yang peduli dengan Mayra.
“Eh.. ada Mayra.. ngapain pagi – pagi ke sini?” tukas Rio, seketika ruangan itu hening dari obrolan menjelek – jelekkan tetangga atau saudara. Mata mereka menusuk tajam ke arah Mayra, kecuali Bulek Ismi.
“Maaf, boleh saya ijin bicara dengan Rio sebentar?” dengan hati – hati Mayra bertanya, namun tidak ada satu pun yang menjawab. Bulek Ismi menengok ke arah saudara – saudaranya, lalu menghela nafas dalam – dalam.
“Iya, silahkan, nak,” jawab Bulek Ismi. Suara lembutnya begitu menghangatkan.
Dengan wajah acuh, Rio berjalan mendekati Mayra. Mereka kemudian keluar ke halaman depan rumah. Mayra bergegas membuka ponselnya dan menunjukkan komentar netizen yang melihat mereka di pengadilan agama. Rio tambah terkejut saat mengetahui bahwa komentar tersebut telah disukai ratusan orang dan dibalas ratusan komentar pula.
“Sialan.. siapa tuh netizen? Berani – beraninya ngulitin hidup gue,” gerutu Rio, tangannya yang masih berminyak terus – terusan scrolling komentar netizen lainnya.
“Kamu gimana, sih? Tujuanku datang ke sini tuh ngajak foto kamu agar bisa diposting segera, biar netizen nggak curiga lagi..” kata Mayra setengah ketus. Rio melirik wanita itu sebentar, lalu mengangguk setelah menyadari maksud Mayra.
“Yaudah yookk.. foto di pinggir kolam renang aja..” timpal Rio, mereka langsung menuju kolam renang yang ada di samping ruang tengah. Mantan Ibu mertuanya, Tamara, Restu, Budhe Roro dan Pakdhe Wawan melirik tajam Mayra saat ia berjalan melewati mereka. Tapi wanita itu tidak bergeming.
Rio mengeluarkan ponselnya kemudian meraih tangan kanan Mayra yang langsung ia genggam erat – erat. Awalnya Mayra bingung namun kemudian paham bahwa Rio ingin memfoto dengan posisi tangan seperti itu. Setelah ia mengambil foto dengan posisi terbaik, jari jemarinya cepat mengetik caption untuk postingan mereka.
“Your hand is my morning call.”
Cihhh... Mayra ingin muntah membaca caption itu. Ia tidak habis pikir mengapa lelaki di sampingnya itu sungguh munafik. Sesaat ia langsung tersadar bahwa dirinya pun juga sama seperti Rio. Munafik. Tapi mau bagaimana lagi, mereka sudah terlanjur membranding diri mereka seperti itu . Selesai berfoto, Rio langsung berlalu begitu saja menuju ruang tengah.
“Gua mau lanjut sarapan.. kalo lu masih di sini silahkan, kalo engga ya pulang sana,” geram hati Mayra mendengar kalimat itu. Ingin sekali marah padanya tapi keluarga besarnya sedang menilai gerak – geriknya dengan sinis.
“Permisi semuanya. Saya pamit dulu, ya,” tak ingin berlama – lama, Mayra yang berjalan ke ruang tengah langsung berpamitan dengan keluarga besar Rio.
“Ehh.. ehh.. nyelonong aja, gak sopan banget!” suara nyaring penuh kebencian Tamara menusuk telinga Mayra.
“Hehh.. sini dulu!” gertak mantan ibu mertuanya. Sorot matanya terlihat begitu membenci Mayra. Padahal Mayra tidak pernah melakukan kesalahan apapun padanya.
Mayra tertunduk mendekatinya. Tatapan sombong mantan ibu mertua menusuk jantungnya.
“Tuh Bimo udah saya siapkan buat jadi muhallil, istrinya udah mengijinkan juga. Kalo kamu masih nggak mau nurut apa kata mama, berarti kamu anak durhaka!” hati Mayra mencelos mendengar kalimat tajam itu. Bibirnya bergetar dan matanya mulai berkaca – kaca. Ia tidak habis pikir mengapa perkataannya harus dituruti? Ia sebenernya sungguh menyesal menikah dengan Rio. Keluarganya benar – benar super pengatur. Mayra hampir tidak punya kebebasan bertindak dan berpikir semenjak menjadi istrinya Rio.
“Maaf, Ma, tapi saya sudah bilang sama Rio untuk mencari muhallil sendiri,”, jawab Mayra yang berusaha menyembunyikan suara paraunya.
“Wes angel.. angel..” terdengar suara Budhe Roro membela adik kandungnya sendiri. Tak terasa air mata Mayra mengalir begitu saja. Batinnya begitu tertekan berada di antara mereka. Ia melirik ke arah Rio. Sungguh hatinya tergores saat melihat lelaki tak punya hati itu hanya sibuk menyantap nasi uduk di hadapannya.
“Siwi, lu ikhlas kan Bimo nikah sama si itu?”, dagu Tamara menunjuk ke arah Mayra.
Gadis kampung berusia 20 tahunan itu hanya tertunduk lesu. Ia takut berkata tidak tapi jika ia tidak menjawab pasti Tamara sudah membentaknya. Gadis malang itu memang sering dibentak saudara sepupunya sendiri hanya karena masalah sepele.
“I.. iiya, Mbak,” jawabnya ragu. Sembari memegang perutnya yang sudah membesar, air mata gadis itu mengalir begitu saja. Tentu saja Mayra tidak tega melukai hati Siwi dengan menikahi Bimo. Mayra tidak tahu berapa banyak uang yang mereka butuhkan sehingga Siwi merelakan suaminya menikahi dirinya. Yang pasti jumlah uang tersebut di atas kemampuan rata – rata mereka.
“Nah, kan?! Jadi wanita tuh nurut kayak Siwi itu, gak kayak kamu, udah mandul banyak maunya lagi..Cihh!” air mata Mayra lolos lagi saat mantan kakak iparnya mengungkit – ungkit ketidakmampuannya memberikan keturunan untuk Rio. Sungguh sakit hatinya jika ada seseorang yang menyinggung hal itu, apalagi dengan kata – kata kasar seperti mandul.
“M.. maaf, Ma, Mbak.. lebih baik kita tidak usah membahas hal ini, karena memang kita berbeda kemauan, lebih baik saya pamit dulu.. Assalamualaikum.” Mayra langsung bergegas keluar dari rumah terkutuk itu. Meskipun begitu, ia masih bisa mendengar hinaan mereka dari belakang. Khusunya ibu mertua dan Tamara yang berkali – kali mengatainya wanita jalang. Sungguh ingin sekali ia marah kepada mereka. Tapi apa daya, jika ia melawan, Rio pasti segera menamparnya.
Mayra bergegas menghidupkan mobilnya lalu melesat entah kemana. Ia menangis sejadi – jadinya hingga tisu di dalam mobil hampir habis. Berkali – kali ia mengutuk hidupnya yang menurutnya tidak adil. Ia tidak pernah tahu siapa ayah kandungnya. Yang ia tahu hanyalah ayah kandungnya adalah seorang warga negara asing yang sedang liburan ke Indonesia. Sedangkan Ibunya? Ahhh... seperti debur ombak di pantai yang sedang pasang, hatinya tak karuan jika harus mengingat ibu kandungnya.
Hari itu Mayra sengaja tidak datang ke studio foto padahal jadwal iklan produk sungguh padat. Ia beralasan pada Aris bahwa ia sedang ada acara penting dengan klien, padahal ia sedang di restoran menunggu lelaki ke – 12 yang ia kenal melalui platform jodoh. Para lelaki yang ia temui memang langsung terpikat oleh kecantikan wajahnya. Tapi sayang, mereka langsung menolak tawaran Mayra setelah megetahui niatnya yang hanya mencari suami sementara.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, yang artinya ia harus segera pergi ke cafe rooftop elit untuk bertemu teman – teman arisan selebgram. Ia sebenarnya benci harus bertemu dengan mereka. Mereka hanyalah sekumpulan orang munafik yang penuh kepalsuan. Mayra tahu mereka suka mengarang cerita tentang suami mereka yang super perhatian, setia, memberi buket bunga tiap hari dan lainnya. Padahal di balik itu semua, suami mereka hanya lah lelaki yang numpang tenar dari hasil kerja keras mereka sendiri. Sama seperti dia.
“Halooo.. Mayra.. tambah cantik aja, nih..”, seru Jelita, ketua geng arisan yang suka mengenakan pakaian branded.
“Ahh.. nggak juga..”, jawabnya asal. Pikirannya sudah lelah untuk memikirkan jawaban yang tepat di tengah orang – orang munafik.
Ia mengambil kursi duduk di pinggir meja. Semua orang saling membisik lalu melirik ke arahnya. Hatinya sudah tidak enak dan memikirkan yang tidak – tidak.
“May, kok sekarang jarang liat kamu jalan bareng sama suamimu, kamu lagi ada masalah ya sama Rio?” tanya Angeline santai. Jantungnya mulai berdebar kencang. Semua mata menoleh ke arahnya. Tajam dan penuh keangkuhan.