BAB 5

2017 Kata
“Enggak kok, kita lagi sibuk sama klien kita masing – masing aja,” tangannya mulai dingin dan berkeringat. Anak rambutnya mulai berpeluh meski pendingin ruangan dinyalakan pada temperatur sedang. “Ohh.. gitu, ihhh.. ternyata Rio nggak seromantis di IG ya, kalo suamiku mah nggak bakal ngijinin aku kerja sendirian. Dia selalu setia nemenin aku kemana – mana..” kata Jelita manja. Gestur tangannya mengiringi bibir merahnya yang melontarkan kalimat penuh kebanggaan. Mayra tersenyum nyengir. Dia pernah memergoki mobil suaminya Jelita terparkir di tempat karaoke plus – plus. “Ihh.. apalagi Kevin.. suamiku itu tiap hari kasih suprise loh..nggak mahal sih, ya cuma masakin steak wagyu atau bawain starbuck” tambah Cheryl tidak mau kalah, tangannya sesekali merapikan rambut super halusnya. Mayra hanya tersenyum. Otot wajahnya kaku, tidak tahu harus menunjukkan emosi apa saat dipermalukan dengan sesama teman – teman selebgramnya. Setelah suasana agak tenang, mereka sibuk dengan obrolan menonjolkan harga diri, termasuk memamerkan pasangannya masing – masing, sekali lagi Mayra tersenyum muak. Bagaimana bisa ia terjebak di lingkungan penuh kepalsuan seperti ini? Rasanya ingin sekali berhenti menjadi selebgram tapi ia belum memikirkan bagaimana ia menghidupi diri sendiri setelah melepaskan profesinya? Sebenarnya ia juga sudah gerah memalsukan statusnya bersama Rio. Tapi jika ia tidak rujuk dengan Rio, bagaimana ia melanjutkan pekerjaannya sebagai selebgram? Netizen terlanjur menyukai konten mereka sebagai pasangan serasi. Padahal kenyataannya.. Ahh.. sudahlah.. Kepalanya berdenyut memikirkan itu semua. Tiba – tiba saja ia beranjak dari kursi dan memutuskan untuk pergi dari manusia – manusia palsu di hadapannya.’ “Ini uang arisanku untuk enam bulan ke depan,” ujar Mayra sembari mengeluarkan enam bendel uang ratusan dari tasnya. “Maksud kamu?” Jelita melipat dahi, raut wajahnya kebingungan melihat Mayra yang tetap pada pendiriannya. “Aku keluar dari grup ini, sepertinya kalian lebih happy tanpa aku.. sampai jumpa..”, Mayra berlalu pergi begitu saja. Mereka saling tatap, tidak percaya Mayra berani melakukan itu. Meskipun begitu, ada kelegaan di wajah Mayra meninggalkan mereka yang sepertinya menyadari kepalsuan pada diri mereka masing – masing. *** “Pak, apa tidak perlu dipertimbangkan lagi?” Doni, salah satu personal assistant Raka berjalan mengejar bosnya itu yang melangkah sangat cepat. “Sudah saya pertimbangkan berkali – kali, tapi mereka tidak kooperatif, cut-off saja mereka.” balas Raka, tangannya sibuk membalas chat dari beberapa pemegang saham hotel. “Baik, Pak,” Doni langsung menghentikan langkahnya saat Raka memasuki mobil alphard. Pak Anwar, supirnya yang sudah bekerja sejak ia menjabat menjadi General Manager Hotel Clark Bali, langsung membawa mobil itu ke Moresco Garden Restaurant, salah satu restoran miliknya yang akan menjadi tempat wawancara eksklusif dengan wartawan Al – Jazeera. Mobil hitam itu melesat keluar area hotel. Diletakkan ponselnya di kursi sebelah. Tanpa sadar, pikirannya mulai melayang membayangkan wajah Mayra. Selama sepuluh tahun, melamuni wajah ayu cinta pertamanya adalah moodbooster saat dilanda stres oleh pekerjaan, yang lama – kelamaan malah jadi kebiasaan. Seketika hatinya teremas – remas menahan kerinduan pada wanita pujaannya itu. Tiba – tiba saja lamunannya terpecahkan oleh suara dering telepon ponselnya. Deg! Jantungnya hampir copot melihat nama yang terpampang di layar ponsel. Nama di kontak tersebut sama sekali tidak pernah ia hubungi atau bahkan menghubunginya. Mayra.. begitu ia menyimpan kontak itu. Ia masih terdiam melihat nama itu. Tapi mengapa Mayra menghubunginya? Apakah karena pertemuan terakhir itu mengesankan juga bagi dia? Ahh.. ia tidak ingin berharap lebih.. tapi bagaimana mungkin ia tidak berharap? Sementara hatinya sudah mengharapkan wanita itu selama sepuluh tahun! Ia mengusap – usap matanya, barangkali ia salah melihat. Tapi kali ini ia tidak salah. Telunjuknya bergetar mengusap layar ponselnya, “Hai Raka..” lelaki itu lemas seketika mendengar suara lembut Mayra. Matanya berkaca – kaca, tidak percaya wanita itu akan menghubunginya setelah pertemuan indah malam itu. “Hai juga, May.. ada apa kok tiba – tiba telpon?” jawabnya, suaranya terdengar bergetar sampai – sampai Pak Anwar meliriknya heran dari kaca tengah. “Tiba – tiba aku memikirkan pertemuan terakhir kita..” Raka terdiam sejenak, jantungnya berdesir memikirkan sesuatu yang sangat diharapkannya – pertemuan kedua. Telapak tangannya mulai berkeringat, membasahi casing ponsel hitamnya. Mungkinkah Mayra ingin bertemu dengannya lagi? “Kenapa?”, tanyanya pura – pura cuek. “Aku bohong bahwa aku baik – baik saja..” Raka menelan ludah. Senyum salah tingkah di wajahnya berubah muram. “Dia itu monster..” Deg! Raka meremas jarinya, berharap apa yang dikatakan karyawannya Vina tidak lah benar. “Siapa?” suaranya jelas terdengar sumbang. Mata tajamnya semakin berkaca – kaca. “Rio.. siapa lagi?” sesak d**a lelaki itu mendengar nama yang sama sekali tidak ingin didengar. Disekanya air mata yang keluar begitu saja. Namun tiba – tiba ia mendengar sesuatu yang tidak terduga di belakang Mayra. “Hey sayangku.. ayo ikut aku ke hotel sebelah,” Raka terkejut bukan main mendengar suara seorang lelaki. Lelaki itu pasti bukan lah Rio. Lalu siapa dia? Lamat – lamat ia mendengar suara party music dari kejauhan. Jantungnya berdegup sangat kencang. Pikirannya mulai kacau oleh bayangan – bayangan buruk tentang Mayra. “May.. Mayra.. kamu dimana?!” suaranya bergetar. Nafasnya tersengal menunggu jawaban dari Mayra. “Aku mampir ke diskotik, niatnya cuma sebentar aja, terus ada pria yang menghampiriku, memberiku segelas minuman.. ternyata dia memberiku alkohol.. minggir ahh,”, suaranya terdengar semakin lemah, apalagi waktu mencoba mengusir lelaki yang sedang bersamanya. “May.. please May.. cari security atau siapapun di sana yang bisa menolongmu,” jantungnya berdebar sangat kencang, sampai ia hampir tidak bisa mengendalikan diri. “Jangan khawatir.. aku cuma mabuk biasa kok..” “Aku hubungi Vina untuk menjemputmu segera, apa nama diskotiknya?” Tuutt... tuuutt... tuuttt.. “Ahh sial!”, teriak Raka, dilemparnya ponsel hitamnya amat keras. Membuat Pak Anwar terlonjak kaget. Baru kali ini ia melihat bosnya semarah itu. “Pak Anwar, kita belok arah ke bandara, saya ada urusan mendadak,”, meskipun raut wajahnya keheranan, bapak setengah baya itu mengangguk dan mencari potongan jalan untuk berbalik arah. Ia tahu bosnya tersebut tidak pernah membatalkan acara meskipun dengan klien tidak penting sekali pun. Tapi Pak Anwar yang memang sudah mengenyam pahit getir kehidupan pun akhirnya paham saat menyadari seseorang di balik telepon bosnya itu adalah perempuan. Sosok makhluk hidup yang tidak pernah Raka sentuh. “Don, saya cancel meeting sama Mrs. Mayers, tolong entertain beliau sebaik mungkin, upgrade kamarnya ke president suite, kasih compliment dinner eksklusif di restoran kita, oke?”, Raka langsung menelepon Doni. Setelah ditutup teleponya, ia langsung menghubungi Vina untuk menelusuri diskotik di seluruh kota Jogja dan menjemput Mayra. “Maaf, Vin.. ngerepotin kamu..”, tukas Raka mengakhiri penjelasannya. “Nggak ada yang namanya kerepotan selama itu bantuin kamu..”, balas Vina. Raka pun menutup teleponnya dan mencoba untuk tetap tenang meskipun kekhawatirannya semakin memuncak. Disekanya peluh yang terus mengalir deras sembari menghubungi Mayra lagi. Sayangnya nomor wanita itu sudah tidak aktif lagi. *** Jam menunjukkan pukul delapan pagi saat Raka melangkah keluar dari bandara Jogja. Ia terpaksa menginap di hotel terdekat semalaman karena pesawat terakhir kemarin sudah penuh. Tentu saja, ia tidak bisa tidur nyenyak karena Vina dan Dewa belum juga menemukan Mayra setelah empat jam mengelilingi diskotik di seluruh Jogja. Ia bahkan menelepon manager diskotik satu per satu agar mereka mau membantu mencari Mayra dengan imbalan sangat tingi, namun usahanya sia –sia. Akhirnya, tepat pukul empat pagi, Vina dan Dewa menemukan Mayra ketiduran di masjid yang tak jauh dari diskotik. Lelaki kekar itu terkulai lemas di lantai hotel mendengar berita bahwa wanita paling dicintainya ternyata baik – baik saja. Sebuah mobil camry menjemput lelaki yang masih mengenakan kemeja kerja warna putih yang kusut. Tak lama kemudian supir yang masih berumur 20-an melesatkan mobilnya membelah jalanan kota menuju rumah Vina. Tidak sampai 20 menit, mobil yang ditumpangi Raka memasuki halaman rumah dua lantai minimalis yang sejuk. “Di mana dia?” Raka langsung bergegas memasuki rumah setelah Vina membukakan pintu untuknya. “Di kamarku, dia masih tidur..” Vina menunjuk kamarnya yang berada di lantai atas. Raka pun segera menaiki tangga dengan wajah tegang. Meskipun Mayra sudah aman bersama Vina, ia tetap ingin memastikan sendiri bahwa pujaan hatinya baik – baik saja. Lelaki itu sudah berdiri persis di depan pintu. Nafasnya tertahan di kerongkongan saat tangannya mulai mendorong daun pintu. Tampak Mayra yang masih mengenakan dress casual warna pastel tertidur pulas dengan rambut terurai. Lelaki itu segera duduk di samping ranjang sembari menghela nafas dalam – dalam. Ditatapnya wanita itu dengan penuh perasaan. Beberapa helai rambut brunnete- nya menutupi pipinya yang pucat. Raka mengangkat lengan kanannya pelan – pelan lalu mulai menepikan helaian rambut Mayra agar ia bisa melihat wajah ayu itu lebih jelas. Sedetik kemudian, ia terpikat oleh pesona wanita itu meskipun ia berusaha menekan hatinya agar tidak berlebihan. Namun bagaimana tidak berlebihan? Selama ini wajah ayu yang ada di depannya itu hanya hadir di mimpinya. Tiba – tiba saja Mayra menggerakkan kepalanya perlahan, membuat Raka spontan menarik tangannya. Lamat – lamat Mayra membuka matanya. Butuh waktu beberapa detik untuknya menyadari siapa seseorang yang berada di hadapannya. “Raka?!” Mayra terkesiap oleh sosok lelaki bertubuh kekar itu, sementara Raka mulai salah tingkah melihat Mayra beranjak bangun dengan rambut yang masih berantakan. “Di mana ini?” “Kamu lagi di rumah Vina. Semalam kamu meneleponku dalam keadaan mabuk, ada seorang laki – laki yang memberikanmu minuman beralkohol. Lalu tiba – tiba teleponmu mati begitu saja. Aku khawatir banget, makanya aku minta tolong sama Vina untuk segera mencarimu..” suara lelaki itu tidak lagi terdengar sumbang, mungkin karena sudah merasa nyaman berbicara dengan Mayra. “Kamu nggak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa mengatasi diriku sendiri..” kata Mayra sembari memegang kepalanya yang terasa pusing. Raka terdiam, ada perasaan kecewa menjalar di d**a mendengar jawaban itu. “Oya.. kenapa aku tiba – tiba telepon kamu?” Mayra mendongak menatap Raka, spontan lelaki itu menunduk. “Kamu bilang kalo kamu nggak baik – baik saja, terus kamu berbicara tentang.. monster”, Mayra termangu dalam diam. Perasaannya campur aduk. Istilah monster itu hanya ia tujukan untuk Rio. Lantas.. sejauh apa ia membicarakan tentang Rio kepada Raka? Mayra menurunkan kakinya di lantai, lalu menghela nafas dalam – dalam. “Aku udah cerai dengan Rio..”, Raka terbelalak mendengar itu. Jantungnya berdesir hebat memikirkan alasan mereka cerai dan membayangkan apa yang telah dilakukan Rio terhadapnya. “Apakah karena dia seorang monster?” Mayra tersenyum tipis. Denyut di pelipisnya tak kunjung hilang apalagi saat membicarakan Rio. “Lebih dari itu..” Raka menelan ludah. Kembali ia meremas jari jemarinya yang besar, agar bisa mengendalikan pikirannya yang liar. Lelaki itu mulai mendongak, hanya satu inci jarak antara telapak tangan kanannya dengan telapak tangan kiri Mayra. Perlahan tapi pasti, ia mencoba menyentuh tangan lembut itu dan mulai mengutarakan apa yang dirasakannya pada Mayra selama sepuluh tahun. Mungkin ini saat terbaik setelah selama ini ia tidak pernah mendapatkan kesempatan itu. “Aku berencana rujuk dengannya, tapi ada syarat yang nggak bisa aku penuhi..” Deg! Kesempatan dan harapan yang dibangun Raka pelan – pelan lenyap. Perlahan ia menggeser tangan kanannya menjauh dari Mayra. Meskipun hatinya terbiasa sakit melihat Mayra bermesraan dengan Rio di sosial media, kali ini rasa sakit hati yang menjalar di dadanya sungguh berbeda. “Bukankah katamu dia seorang.. monster?” matanya tajam memburu jawaban Mayra. “Kami terlanjur membranding diri sebagai pasangan serasi di i********:. Kalau mereka tahu kami sudah pisah, instagramku akan kehilangan banyak follower, yang artinya, aku nggak bisa meng-endorse produk dari klien lagi. Aku masih butuh profesi ini..” Mayra masih tetap menunduk, sementara Raka menatap wajah sendu itu dengan penuh perasaan campur aduk. Andai saja Mayra tahu betapa dalamnya cinta yang ia rasakan padanya, ia pasti tidak akan membiarkan wanita paling dicintainya kesusahan mencari penghasilan sendiri. “Lalu.. apa maksudmu ada syarat yang nggak bisa kamu penuhi?” tanya Raka, setelah harapan untuk mengutarakan perasaan itu lenyap, ia berharap bisa membantu Mayra sebisa mungkin. “Aku udah cerai dengannya tiga kali.. kalo aku mau rujuk dengannya aku harus menikah dengan lelaki lain..” Deg! Harapan yang sedetik lalu surut kembali muncul. Namun, menikahinya sementara? Yang benar saja! Lambat laun mata tajam lelaki itu berbinar. “Aku mau menikah denganmu, meskipun cuma sementara..”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN