“Aku mau menikah denganmu, meskipun cuma sementara..” tukas Raka dengan amat yakin. Mayra mendongak menatap Raka. Kedua mata mereka saling bertemu. Meskipun Raka menatapnya yakin, ada sedikit keraguan tampak jelas di wajah Mayra. Lelaki itu terlalu polos untuk melakukan sebuah kepalsuan.
“Nggak Raka..”
“Aku bersungguh –sungguh, May.. anggap saja ini caraku membalas budi karena kamu telah mengajariku TOEFL sepuluh tahun yang lalu. Lagipula aku juga punya syarat yang wajib kamu penuhi..” kali ini Raka mulai memberanikan diri mencondongkan tubuhnya mendekati Mayra, meskipun jantungnya berdebar kencang dan kakinya terasa lemas.
“Apa syaratnya?”
“Jika selama kita menikah kamu mencintaiku, aku nggak akan bersedia menceraikanmu.” Mayra termangu menatap Raka yang begitu yakin mengucapkan kalimat itu. Pikirannya penuh tanda tanya, mengapa Raka meminta syarat untuk mencintainya? Bukan kah dulu Raka tidak menunjukkan ketertarikan padanya? Tanpa disadari, wajah mereka begitu dekat, lalu tiba – tiba Mayra menarik tubuhnya ke belakang.
“Bagaimana dengan keluargamu?” tanya Mayra, wajahnya mengiba.
“Aku akan mengenalkan dirimu kepada mereka sebagai...” Raka mengalihkan pandangannya ke sekeliling kamar.
“Pacarku..” lelaki itu menelan ludah. Namun ada sedikit rasa candu saat bibirnya menyebut pacar.
“Lalu? Bagaiman kalau mereka curiga dengan pernikahan kita yang terkesan mendadak?” kedua alis Mayra bertaut.
“Kita sudah kenal selama sepuluh tahun, May.. aku yakin keluargaku tidak akan curiga.” jawab Raka, ia kembali mencondongkan tubuhnya, membuat bayangan Mayra di dinding terkungkung oleh tubuh kekar itu.
Saat Mayra hendak mengangguk, tiba – tiba saja Vina membuka pintu kamar, membuat Raka terkesiap dan langsung menarik tubuhnya ke belakang.
“Maaf ganggu, aku cuma mau pamit keluar, ada urusan mendadak di kantor.. Oya, sebelum pulang kalian sarapan dulu ya di bawah, udah aku masakin sayur sop sama ikan goreng.”, ujar Vina. wajahnya kaku, seperti merasa bersalah karena telah menyela keintiman mereka.
“Makasih ya, Vin..” jawab Raka agak kesal. Tak lama kemudian Vina menutup pintu kembali. Mereka berdua terdiam lagi. Hening sejenak.
“Aku akan mengurus berkas – berkas pernikahan kita sebelum balik ke Bali. Ayo turun, aku sudah lapar..”
***
Sepuluh tahun yang lalu..
Hari valentine pun telah tiba. Banyak siswa SMA Perdana yang sudah menyiapkan coklat atau sebuket bunga mawar untuk pujaan hati mereka. Bahkan ada juga yang terang – terangan mengungkapkan perasaan di tengah lapangan upacara, terinspirasi oleh acara televisi yang sedang populer. Tapi itu tidak berlaku untuk Raka. Memasuki tahun ketiga, ia masih saja tidak punya nyali untuk mengungkapkan perasaannya kepada Mayra. Ia takut menerima penolakan dan juga ragu, apakah Mayra masih berpacaran dengan ketua OSIS, Jerry, cowok ganteng yang angkuh. Biasanya kalau ada gosip tentang Mayra, dengan siapa dia pacaran atau kah sedang jomblo, pasti langsung menyebar, bahkan tukang kebun pun tahu. Tapi kali ini, tidak ada seorang pun yang membahas tentang itu.
Meskipun begitu, ia menyadari, ini valentine terakhirnya satu sekolah dengan Mayra, yang artinya, kali ini dia harus melawan ketakutan terbesarnya. Dewa, sahabat masa kecilnya, sudah membujuknya ribuan kali untuk mengungkapkan perasaannya. Meskipun cuma sekedar bilang “Aku menyukaimu..”, yang penting Mayra mengetahuinya. Dengan tangan mengepal penuh keyakinan yang dipaksakan, Raka berjalan menuju tempat parkir.
“Raka? Kamu ngapain di sini?” gertak Rizky, anak basket yang lumayan dekat dengan Jerry. Raka gelagapan mengetahui ada orang lain yang masih berada di tempat parkir sekolah jam 5 sore. Spontan ia menyembunyikan kepalan tangan di balik tubuhnya, agar Rizky tidak mencurigai kertas putih di genggamannya. Kertas putih itu tak lain adalah surat cinta untuk Mayra, yang hendak ia selipkan di bagasi depan motor Mayra. Ia sampai hafal, di hari valentine, Mayra suka pulang telat dari hari biasanya untuk sekedar menghabiskan coklat pemberian cowok – cowok yang membludak dengan para sahabatnya.
“Siapa Riz?” kali ini Raka kaget setengah mati saat Jerry muncul tiba – tiba dari samping tembok kelas yang menjadi pembatas tempat parkir. Hatinya makin anjlok melihat lima teman gengnya Jerry yang mengekorinya dengan pandangan arogan. Langkah Raka langsung sigap ancang – ancang hendak berlari keluar dari tempat parkir, namun ternyata ia kalah cepat dengan Jerry yang meraih kasar tangan kanan Raka. Cowok berseragam lusuh dan bertampang agresif itu tersenyum senang saat kertas putih yang digenggam erat oleh Raka berhasil direbutnya. Dengan wajah polos tak percaya, Raka melihat Jerry membuka kertas putih itu dengan kasar.
Dibacanya isi kertas itu dengan cepat. Senyum sinis menungging di wajah kakunya. Jerry menujukkan isi kertas itu pada kelima teman gengnya yang menatapnya remeh. Gelak tawa menggelegar di parkiran yang sunyi itu. Raka pasrah memandang serigala – serigala itu. Ia ingin lari sekencang – kencangnya menahan malu. Tapi apa daya, jalan keluar satu – satunya ada di belakang mereka.
“Lo tau nggak? Mayra nggak pernah buka surat cinta murahan dari orang cupuk kayak elo!”
Dengan dagu terangkat tajam mengarah Raka, Jerry merogoh korek api di celana, dinyalakan korek itu buru – buru, lalu perlahan nyala api merah melumat habis kertas putih itu hingga tiada tersisa.
***
Sinar mentari sore menyentuh wajah Raka yang gelagapan bangun dari mimpi buruknya. Sayup – sayup ia memandang layar ponsel, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Ia bergegas menuju kamar mandi bernuansa neo – klasik dengan sisi maskulin yang melambangkan karakternya. Setelah mengeringkan tubuhnya yang keras dengan handuk putihnya, segera ia mengenakan kaos dan jas hitam warna favoritnya, lalu bergegas keluar rumah untuk menjemput Mayra. Ya.. setelah pembicaraan kemarin, mereka langsung menyusun rencana untuk segera melangsungkan pernikahan yang tidak terkesan mendadak. Raka berniat mengenalkan Mayra pada Ibu, adik dan kakaknya hari ini juga sebagai calon istrinya. Dan tentu saja mereka sudah menyiapkan kebohongan – kebohongan agar tidak dicurigai. Soal mengolah kata, ia cukup berpengalaman karena sudah hampir sembilan tahun berurusan dengan customer atau klien paling rewel sekalipun. Tapi jika harus menunjukkan kemesraan yang terkesan mendadak, itu di luar kemampuannya.
Mayra yang dari dulu jauh dari jangkauannya tiba – tiba akan menjadi istrinya. Ia sendiri masih bingung dengan perasaannya, apakah ia harus bahagia karena bisa menikah dengan wanita pujaan hatinya, atau kah harus kecewa karena hanya dijadikan batu loncatan saja. Ahh.. ia begitu bimbang dengan perasaannya sendiri. Tapi yang jelas, selama menikah dengannya, ia bertekad membuat wanita itu jatuh cinta padanya. Sebab mulai hari ini, ia memutuskan tidak ingin kehilangan Mayra.
Raka memperbaiki posisi jas hitamnya sembari membuka pintu utama, dan betapa kagetnya saat ia melihat Mayra berdiri di balik pintu itu.
“Maaf aku nggak bilang dulu kalau mau ke sini, aku nggak tenang selama di studio,” jelas Mayra. Raka terdiam terpaku, bukan karena mendengar alasan itu namun wajah Mayra terasa lekat di kalbunya.
“Udah lama di sini?”
“Baru semenit yang lalu.. ayo kita berangkat..” jawab Mayra, lesung pipinya yang mungil tersempil di ujung kalimatnya. Mayra berjalan di tengah pilar teras rumah mewah yang begitu besar untuknya. Rok plisketnya terkesiap lembut oleh angin sore. Membuat hati Raka sedikit bergejolak.
Di tengah perjalanan, Mayra mencoba mengenali diri Raka lebih dekat. Mulai dari menanyakan pekerjaannya, kuliahnya di Singapore enam tahun lalu, hingga ciri – ciri menantu idaman orang tuanya.
“Oke, jadi intinya aku bukan menantu idaman ibumu kan? aku memang bisa masak tapi aku bukan tipe cewek yang betah di rumah terus..” gelak tawa renyah nan lembut Mayra menarik perhatian Raka untuk memandang lesung pipinya yang semakin dalam.
“Ibuku merestui aku dengan siapapun, yang penting aku mencintainya..” balas Raka singkat. Mayra menghentikan tawanya dan mulai berpikir. Suasana menjadi hening. Sedetik kemudian lelaki itu baru menyadari kalimat yang dilontarkannya.
“Terus, alasan kamu mau menjadi suami sementara itu karena kamu mencintaiku?” wajah kekar Raka memerah. Tangannya berusaha menutupi setir mobil yang mulai basah oleh keringat telapak tangannya. Mayra memandang wajah teduh itu dengan seksama. Dahinya mengernyit melihat Raka yang menegang.
“Kita sudah sampai.” tukas Raka cuek. Mayra menoleh ke depan dengan perasaan anti- klimaks. Matanya terpaut oleh rumah joglo dengan halaman luas yang ditanami rumput gajah yang terawat. Ia terkesiap dan sedikit tersanjung saat Raka langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuknya.
Mereka berjalan saling berjauhan menuju pintu utama. Raka menoleh ke arah Mayra yang berjalan anggun, mata teduhnya fokus pada tangan lentiknya yang lembut. Diraihnya tangan itu dengan ragu, membuat Mayra terkejut, namun spontan ia meraih genggaman hangat itu. Meskipun Mayra yakin bisa merasakan denyut nadi Raka yang bergetar, pikirannya menolak fakta bahwa lelaki itu tidak mungkin mencintainya secara mendadak.
“Ehh.. cantik sekali calon mantu Ibu,” seorang wanita paruh baya dengan mata seteduh pohon beringin membuka pintu kayu jati yang penuh ukiran. Mayra langsung mencium tangan Ibu Raka yang terasa lembut dan hangat.
“Bu, kenalin ini.... p..pacar Raka, Mayra,” bibirnya bergetar saat menyebut kata ‘pacar’, kata itu terdengar memaksa untuk Raka meskipun dulu ia suka berfantasi menjadi pacar Mayra.
“Ayo masuk, nak..” Ibu Raka mempersilahkan Mayra masuk ke rumah yang lengang namun syahdu. Terlihat adik bungsu Raka, Safira dan kakak sulungnya, Bram menyambutnya dengan senyuman. Mayra memperkenalkan diri pada mereka satu per satu. Senyum sambutan mereka membuatnya merasakan kehangatan keluarga yang lama tidak ia rasakan.
“Jadi kalian tuh temen SMA?” tanya Safira setelah beberapa kali menginterogasi Mayra. Gadis berusia 20-an itu sampai – sampai menghentikan aktifitas mennyentong nasi dari rice cooker untuk menunggu jawaban Mayra.
“Iya.. kami baru temenan pas menjelang ujian nasional,” Mayra menoleh ke arahnya sebentar, sembari melanjutkan menata piring dan gelas di meja makan.
“Aku rasa pasti ada hal yang spesial dari Mbak waktu itu.. selama ini Mas Raka nggak pernah punya temen cewek kecuali Mbak Vina..”
Mayra mengernyitkan dahi. Ia menoleh ke arah Raka yang sedang asyik mengobrol dengan kakak sulungnya. Baru disadarinya, ternyata sesekali Raka mencuri – curi pandang padanya saat lelaki itu mendengarkan Mas Bram berbicara.
“Naakk.. makan dulu..” Mayra terkesiap saat calon ibu mertuanya memanggil kedua anak lelakinya. Raka duduk di samping Mayra dengan wajah canggung. Ia yang menyadari raut tak biasa di wajah Raka kembali bermain tebakan di pikirannya. Mungkinkah memang dulu Raka sempat menyukainya?
“Ini satenya enak lho.. ayoo dicoba,” Mayra tersentuh saat Ibunya Raka menaruh delapan tusuk sate di piringnya. Seumur hidup ia tidak pernah diperlakukan seperti itu dengan orang yang baru dikenalnya.
“Terima kasih, Bu..”
“Oya.. kalian udah menentukan tanggal pernikahan?” tanya Ibu Raka sembari mengambil secentong nasi.
“Resepsi pernikahannya sebulan atau dua bulan ke depan, Bu. Tapi akad nikahnya minggu depan” jawab Raka. Matanya sedikit melirik Mayra. Namun wajah ayu itu tampak tegang saat mas Bram menurunkan pandangannya ke arah perutnya. Matanya seperti siap menghakimi apa yang diperbuat adik lelakinya terhadap wanita itu.
“Kok cepet amat, Mas?”, tanya Safira mulai curiga.