“Kok cepet amat, Mas?” tanya Safira mulai curiga.
“Mas udah lama pacaran sama Mayra, lagipula Mas pengen cepet – cepet punya anak. Biar kamu ada kesibukan bantuin ngurus ponakan, nggak main game terus,” semua tertawa, namun tidak dengan Mayra yang hanya tersenyum tipis, lalu tertunduk lesu. Ia merasa bersalah tidak mengungkapkan dari awal bahwa dirinya mandul. Hatinya semakin bersalah manakala keluarga Raka sangat mengharapkannya menjadi bagian dari keluarga mereka. Selamanya.
“Ibu ndak nyangka lho akhirnya Raka bisa kepincut sama cewek.. ibu sudah putus asa sekali mengenalkan cewek – cewek ke dia, tapi ndak ada satu pun yang dia mau..” ujar Ibu Raka, yang langsung diiringi anggukan mantap Safira. Mayra tersipu malu. Tanpa disadarinya, hatinya meramal sesuatu. Mungkin kah Raka menganggap pernikahan ini serius?
“Oya.. orang tua kamu dateng, kan?” tanya Ibu Raka, wajah keriputnya terlihat berseri – seri merasakan kehangatan suasana sore itu.
“Orang tua saya udah meninggal, Bu” mata teduh Mayra tiba – tiba memerah. Sementara Raka yang sedang minum segelas air putih langsung menoleh ke arah wanita itu. Ia baru tahu kalau Mayra adalah anak yatim piatu. Ibu Raka menghela nafas dalam – dalam, lalu mengelus lengan Mayra dengan penuh kehangatan.
“Almarhum suami saya juga yatim piatu. Dulu kata temen – temen kerjanya bapak, dia suka melamun dan murung sebelum menikah dengan saya. Tapi setelah menikah dengan saya, dia seperti orang yang dilahirkan kembali. Ibu harap setelah kamu bergabung menjadi keluarga kami, kamu juga bisa seperti bapak ya, nak..” Mayra hanyut dalam perkataannya Ibu Raka. Tak terasa air matanya lolos begitu saja. Raka yang baru pertama kali melihat Mayra menangis langsung mengambil tisu untuknya dan mengalihkan pandangannya, tidak tega melihat wanita paling dicintainya mengeluarkan air mata, meskipun bukan air mata kesedihan.
“Maaf.. saya terharu tadi Ibu berkata seperti itu. Saya tidak bisa berkata apa – apa tapi yang jelas saya senang Ibu sudah menerima Mayra.” rasa bersalah kembali menggerogoti isi hatinya. Keluarga Raka terlalu baik dan polos untuk sebuah pernikahan yang tidak berarti ini. Untuk pertama kalinya ia merasa apa yang sedang diperbuatnya begitu jahat.
Usai menyantap hidangan makan malam, mereka melanjutkan obrolan ringan seputar pekerjaan dan pendidikan. Sesekali Raka melirik Mayra yang terlihat begitu nyaman saat mengobrol dengan Safira. Hari itu juga, Raka memantapkan hati untuk selalu membahagiakannya. Sepuluh tahun yang lalu memang ia tidak mendapatkan kesempatan itu. Tapi kali ini, apapun caranya akan ia lakukan untuk membuat Mayra jatuh cinta padanya.
***
“Apa kamu yakin ndak ngundang Vina dan Dewa, nak?” tanya Ibu saat Raka sedang bercermin menyematkan dasi kupu – kupu di lehernya. Raka menghela nafas sebelum menjawab,
“Nanti Raka undang pas resepsi aja, Buk.. Raka belum siap menjawab semua pertanyaan mereka. Pernikahan kami terlalu mendadak” sorot mata lelaki itu mencoba meyakinkan ibunya. Meskipun Ibu tampak kecewa, namun ia tetap mencoba menerima keputusan anak laki – lakinya.
Jam menunjukkan pukul 09.45 pagi, resort dengan hamparan rumput hijau di hotel bintang lima telah berubah menjadi wedding venue yang sederhana. Beberapa kursi tertata rapi menghadap venue akad nikah yang dihiasi kain putih di setiap sudutnya, bunga tulip putih nan anggun disematkan di sepanjang jalur menuju venue. Penghulu dan dua saksi dari pondok pesantren ternama di kota Jogja sudah siap dengan perannya masing – masing. Sementara itu, wakil dari KUA diminta menjadi wali nikah Mayra mengingat ayahnya sudah meninggal dan kedua orang tuanya tidak punya saudara sama sekali. Puluhan kursi hanya diisi belasan tamu yang datang, kebanyakan dari kerabat dekat Raka. Sedangkan Mayra hanya mengundang satu orang saja, yang tak lain adalah Aris, karyawan dan satu – satunya orang kepercayaan Mayra. Meskipun akad nikah ini terasa ganjil dan sepi untuk seorang Raka yang mempunyai banyak klien dan karyawan, Raka tetaplah Raka, ia tidak peduli dengan sorot mata para kerabatnya yang penuh tanya. Yang dia pedulikan hanyalah sebentar lagi Mayra akan menjadi istrinya. Yang artinya, Mayra akan menjadi miliknya seutuhnya, meskipun itu belum cukup.
Acara akad nikah pun di mulai. Raka yang sudah duduk di hadapan penghulu tampak begitu tegang dan tangannya sibuk menyeka keringat di anak rambutnya. Sesekali ia menarik nafas panjang – panjang lalu menghembuskannya. Raganya begitu sibuk menyembunyikan perasaannya yang luar biasa bahagia.
Setelah acara dibuka, tiba saatnya seorang MC laki – laki menyambut kedatangan Mayra. Wanita itu berjalan anggun bersama Safira di sampingnya sembari memegang lengan calon kakak iparnya. Wanita itu mengenakan kebaya putih dengan payet yang tidak mencolok. Sangat pas dengan kepribadian Mayra yang sederhana. Rambut wavynya yang kecoklatan disanggul dan dihiasi semanggi lavender putih. Hampir semua tamu yang hadir terpukau dengan kecantikan wanita berdarah campuran eropa dan timur tengah itu. Sementara itu, Raka terdiam terpaku memandang Mayra, ia hampir tidak bisa menahan gejolak jiwanya yang terpesona oleh cinta pertamanya.
Mayra telah duduk di kursinya. Ia menoleh pada Raka dengan senyum tipisnya. Raka yang mengetahuinya hanya melirik wanita itu sekelebat dan mengalihkan pandangan kepada penghulu. Bukannya tidak mau melihatnya, tapi ia takut semakin tidak bisa menahan gejolak jiwanya. Beberapa saat kemudian, penghulu sudah membacakan beberapa doa dan kini saatnya Raka mengucapkan janji suci. Tangannya gemetaran saat digenggam erat oleh penghulu. Penghulu yang berusia 50 tahunan itu pun mulai mengucapkan ijab,
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Raka Adyatama bin almarhum Setia Wibisono dengan Almayra Alifia binti Sebastian Kareem yang telah mewakilkan walinya kepada saya, dengan mas kawinnya emas sebesar 10 gram, dan uang tunai sebesar 20 juta rupiah dibayar tunai,”
“Saya terima nikah dan kawinnya Almayra Alifia binti Sebastian Kareem untuk diri saya sendiri dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Tak lama kemudian para saksi dan wali dengan yakin mengucap kata sah. Linang air mata muncul begitu saja di sudut mata Raka, yang segera ia seka dengan kasar. Ia tidak bisa menahan kebahagiaan di dalam hatinya. Rasanya masih seperti mimpi, tapi sesaat kemudian ia tersadar saat Mayra memberi kode agar Raka mengangkat tangan kanannya. Lelaki itu pun langsung mengangkat tangannya dan Mayra segera meraihnya dan menempelkan tangan kekar itu di keningnya. Tepuk tangan lirih mengiringi pasangan baru itu. Tampak Ibu Raka sesekali menyeka air matanya yang terus – menerus mengalir. Sementara Bram menghela nafas panjang – panjang dengan tatapan dingin khasnya. Begitu juga dengan Safira, gadis manis itu sangat dekat dengan kakak tengahnya sejak kecil. Namun, bukan kecemburuan yang tersirat di wajahnya. Ada perasaan aneh di dalam hatinya yang tidak bisa dijelaskan dengan kata – kata.
***
“Aku udah bilang sama anak buahku untuk memindahkan barang – barangmu ke rumahku, jadi kamu nggak perlu khawatir lagi, oke?” ujar Raka singkat. Sepuluh menit Raka menyetir mobil menuju rumahnya, baru kali ini ia membuka pembicaraan. Sementara itu, Mayra sedang fokus memainkan jarinya di ponsel dengan cepat. Entah sepenting apa, yang jelas hal itu membuat Raka sedikit kecewa. Ia berharap Mayra juga menghargai hari spesial ini dengan sekedar membicarakan catering di akad nikah yang rasanya agak tawar atau Safira yang terus – terusan memotret mereka dari berbagai sisi.
“Makasih, Ka.. aku bisa mengatasi sendiri, kok..” jawab Mayra yang mulai mendongak. Diletakannya ponsel di pahanya, matanya mulai menatap dibalik kaca mobil, melihat aktifitas sore orang – orang yang baru pulang kerja.
Tiba – tiba saja ponsel Mayra berbunyi tanda ada pesan masuk lagi. Pesan dari Aris tentang Rio yang membatalkan janji dengan klien secara mendadak membuat dadanya panas seketika. Ia tidak habis pikir mengapa mantan suaminya itu tidak pernah belajar bertanggung jawab padahal usianya hampir menyentuh 30 tahun.
“Kenapa, May?” tanya Raka, alisnya bertaut melihat Mayra yang tampak kecewa.
“Aku harus ke studio sekarang. Ada klien yang minta produknya segera diiklanin.”
Rasa kesal menyelimuti hati lelaki itu. Tinggal 10 menit mereka akan sampai di rumah mewahnya. Hatinya kecewa, tapi yang membuat ia tambah kecewa adalah Mayra lebih memilih profesinya daripada dirinya sendiri.
“Oke aku anter ke sana, ya?” tanpa melihat Mayra, Raka segera mencari lahan luas di kiri jalan lalu memutar balik mobilnya. Awalnya Mayra merasa Raka tidak masalah dengan acara dadakannya. Namun saat ia menatap mata lelaki itu lebih dalam, ia tahu lelaki itu benar – benar kecewa.
***
“Tinggal satu produk ini terus kelar, kan?” tanya Mayra kepada Aris yang sibuk mengedit foto di laptop.
“Iya, Mbak..” balasnya singkat
“Oke kalo gitu aku pulang, ya..”
“Pulang kemana, Mbak?” tanya Aris menggoda, membuat Mayra tersipu malu.
“Kalian nggak bulan madu?” Aris mengernyitkan dahi sembari menutup laptopnya.
“Emm... aku rasa nggak perlu, lagipula Raka sibuk banget orangnya. Besok dia mau balik ke Bali.” tukasnya. Kedua tangannya sibuk merapikan peralatan videografi.
“Ya perlu lah, Mbak. Pengantin baru masa nggak honeymoon? Itung- itung healing lah, kan Mbak nggak pernah healing seumur hidup.. lagipula..” tiba – tiba Aris mendekati bosnya itu, matanya tajam menatapnya. Situasi pun berubah serius.
“Mas Raka itu orang baik, Mbak. Siapa tahu memang dia jodohmu, Tuhan ngasih jalan seperti ini mungkin biar Mbak bisa lepas dari Rio.” mata tajam Aris menusuk ulu hati Mayra. Wanita itu hanya tertawa tipis menanggapi perkataan Aris.
“Aku masih membutuhkan pekerjaan ini, Ris..” kedua mata Aris bergulir melihat Mayra. lalu menghela nafas dalam – dalam.
“Lagipula, kamu tahu sendiri, kan, konsekuensinya kalau aku nggak jadi rujuk sama Rio?”
“Iya.. aku tahu, Mbak.. tapi masa iya Mbak mau hidup di bawah tekanan Rio sama keluarganya? Aku tahu banget kamu gimana, Mbak. Aku tahu Mbak juga pengen punya keluarga yang bahagia.”
Dadanya sesak mendengar kalimat gamblang itu. Ia tahu, bagaimanapun juga tidak ada seorang pun yang berhak menyakitinya. Begitu pun dengan Rio dan juga keluarganya. tapi ia menganggap memang inilah takdirnya-menjalani hidup yang malang. Ditinggal orang tua kandung dan angkatnya, hingga menikah dengan orang yang salah. Rasanya memang ia tidak ditakdirkan hidup bahagia.
“Ngobrolnya besok lagi aja ya, Ris. Udah jam 11 nih, takut kemaleman..” tukas Mayra, sesaat kemudian Aris menarik tubuhnya menjauhi Mayra. Wajah lelaki itu lesu. Biarpun begitu, ia berusaha menghargai keputusan Mayra.
“Hati – hati ya, Mbak..” jawabnya. Mayra tersenyum lalu meraih tasnya dan bergegas memasuki mobil.
Wanita itu merenungi perkataan Aris di sepanjang perjalanan ke rumah Raka. Mungkin Aris benar, bahwa ia berhak hidup bahagia. Tapi ia tidak yakin, apakah dirinya bisa keluar dari jeratan keluarga Rio? Selama ini mantan ibu mertua dan Tamara menganggap dirinya masih berhutang budi pada mereka, sebab almarhum ayah Rio yang baik hati pernah memberikannya modal untuk memulai usaha secara cuma- cuma.
Namun, setelah perdebatan hebat antara dia dan Rio tentang bagi hasil keuntungan endorse, Tamara membuat aturan sendiri bahwa Rio berhak mengambil 60% keuntungan itu, hanya karena almarhum ayahnya memberikan modal yang jika dihitung, sudah lunas sejak bulan kelima Mayra menjadi selebgram. Ini sudah tahun keempat, bagaimana bisa mereka menganggap Mayra masih berhutang budi? Wanita itu tersenyum nyengir dalam lamunannya.
Mobil sedan putih berhenti pelan di depan rumah dua lantai bergaya eropa klasik. Jam menunjukkan pukul setengah 12 malam. Mungkin saja Raka sudah terlelap tidur jadi ia memutuskan memarkirkan mobilnya di badan jalan yang lumayan lebar. Segera ia membuka pintu pagar yang tidak dikunci dan betapa kagetnya ia saat melihat Raka duduk di anak tangga sembari bersandar lesu pada pilar teras yang besar dan masih mengenakan kemeja putih yang dipakai untuk ijab kabul tadi pagi. Raka terkesiap melihat Mayra datang, lelaki itu berdiri menghampiri Mayra dengan langkah terburu – buru.