“Maaf, jam segini baru pulang.” kata Mayra saat Raka sudah berada di hadapannya. Lelaki itu menatapnya dalam, seperti ada harapan yang sempat surut terpancar di wajahnya. Tanpa pikir panjang, Raka menarik pinggang Mayra dan memeluknya erat – erat. Mayra yang tidak siap dengan situasi itu hanya pasrah berada di pelukan Raka yang sungguh hangat.
“Aku kira kamu nggak bakalan ke sini,” kata Raka, suaranya terdengar parau.
“Sekarang kan aku sudah jadi istri sah kamu, aku juga punya kewajiban untuk menjalankan peranku sebagai istri” perkataan Mayra membuat hati lelaki itu luluh seketika. Raka melepas pelukannya lalu mengelus rambut Mayra yang sudah lama ia kagumi. Ia memandang lekat wajah ayu itu. Meskipun begitu, Mayra masih saja menolak fakta bahwa Raka mempunyai perasaan padanya.
“Ayo masuk..” ajak Raka yang langsung diiringi anggukan Mayra.
“Kok kamu masih pake baju itu?” tanya Mayra sembari berjalan menuju pintu masuk.
“Males ganti baju,” jawabnya asal. Bukannya tidak mau jujur, tapi ia tidak mau Mayra tahu betapa galaunya dia seharian menunggunya yang tidak kunjung membalas chatnya.
Diraihnya daun pintu sesaat setelah langkahnya mendekati pintu bercat putih. Raka mempersilahkan Mayra masuk terlebih dahulu.
“Di mana kamarmu? Aku mau ambil baju untukmu” tanya Mayra sembari meletakkan tasnya di sofa ruang tengah. Lama ia menunggu jawaban dari Raka. Ternyata lelaki itu terdiam memandang Mayra yang menoleh ke arahnya. Rambutnya yang terkibas pelan dan menampakkan lehernya yang jenjang mampu mencundangi jiwanya. Lututnya bergetar, sepertinya ia sudah tidak sanggup menahan cinta yang segera ingin diluapkan. Sayangnya, ia tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan cinta dalam bahasa tubuh. Ia takut Mayra menolak untuk disentuh atau bahkan melakukan hubungan intim. Tapi, bagaimanapun juga, wanita di hadapannya itu sudah menjadi istrinya. Ia berhak atas itu semua.
“Kenapa kamu diem aja, Raka? Kamu marah sama aku karena aku pulang malam – malam begini?” Mayra berjalan keluar kamar Raka dengan membawa baju ganti untuknya.
“Iya aku salah, seharusnya aku nggak usah datang ke studio tadi siang,” tukas Mayra dengan nada bawel khasnya. Mulutnya yang manyun membuat lelaki itu tambah gemas. Perlahan Mayra meraih kancing baju Raka paling atas. Dibukanya kancing itu satu per satu, membuat jiwanya semakin menggelora. Tanpa aba – aba, Raka meraih kedua tangan Mayra, membuat wanita itu sedikit terkejut. Kemudian mata mereka saling bertemu. Jantung lelaki itu berdebar begitu hebat, bahkan Mayra pun bisa merasakannya. Dengan mencoba meyakinkan diri dalam hati, Raka meraih tubuh Mayra dan menggendongnya ke kamar. Tentu saja ia tidak siap.
“Raka?!” seru Mayra. Wajahnya memerah, sementara tangannya sedikit berontak karena merasa tidak nyaman. Namun apa daya, lengan kekar Raka yang mendekap erat tubuhnya sama sekali tak terpengaruh oleh tangan kecil wanita itu yang mencoba melawan.
Raka menurunkan Mayra di atas king bed kamarnya dengan sangat hati – hati. Tubuh Mayra terlihat kecil saat terkungkung oleh d**a Raka yang bidang dan lebar. Mata mereka kembali bertemu, terutama Raka, yang melekatkan kedua bola matanya pada mata syahdu Mayra. Jantungnya semakin berdegup kencang saat pandangannya jatuh pada bibir basah Mayra yang begitu menggoda. Perlahan, Raka mendekatkan kepalanya. Waktu terasa berhenti saat bibir lelaki itu mendarat pada bibir basah Mayra. Ahh.. ternyata bibirnya lebih lembut dari dugaannya. Tubuhnya bergetar merasakan bahasa cinta yang tak pernah ia lakukan. Lalu, tanpa ragu ia mengulum bibir Mayra yang ternyata disambut oleh lidah lembut wanita pujaannya. Seperti dialiri listrik bertegangan tinggi, tubuh lelaki itu menggeliat merasakan kenikmatan tiada tara. Jantungnya berdetak luar biasa cepat, membuatnya hampir tidak kuat melanjutkan babak selanjutnya. Namun, di lain sisi, ia juga tidak sanggup menahan hasratnya yang semakin menggelora. Di tengah perasaan yang makin menggebu, tangan kekarnya dengan pelan membuka kancing atas dress Mayra. Tidak disangka, Mayra dengan sigap menahan tangannya lalu melepas ciumannya.
“Kamu melakukan ini karena nafsu atau..”
“Aku cinta kamu, May.. sungguh.. sejak pertama kali melihatmu di lapangan sekolah, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu..” Maytra terdiam, kedua tangannya yang masih melingkar di leher Raka dilepaskan begitu saja. Sementara Raka tak hentinya mengatur nafas yang masih memburu.
“Terus, kenapa kamu nggak mengungkapkan perasaanmu dari dulu?” alis matanya bertaut, matanya menyeledik raut wajah Raka yang tampak menyesali masa lalu.
“Aku sudah berusaha tapi..” mata teduhnya terlihat sayu. Kepalanya menunduk.
“Tapi apa?”
“Aku takut ditolak,” Raka menghela nafas dalam – dalam setelah sekian detik menahan jawaban yang tercekat di tenggorokan. Sementara itu, Mayra tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Lesung pipinya mencekung indah di bawah wajahnya.
“Aku merasa aneh aja, kita baru bertemu dua minggu yang lalu setelah sepuluh tahun tidak pernah bertemu, dan sekarang, aku tidur di kamarmu.. pasti ada alasan kuat mengapa waktu itu kamu yakin banget menawarkan diri jadi.. suami sementara..” jelas Mayra. Raka tersipu malu, namun matanya tidak bisa berbohong bahwa ia sedang menikmati wajah ayu itu dari jarak sangat dekat.
“Jadi selama sepuluh tahun, kamu memendam perasaan padaku? Kok bisa sih?” tanya Mayra, sesaat ia mendorong tubuh Raka perlahan, lalu menggeser tubuhnya ke samping Raka.
“Karena kamu cinta pertamaku..”, jawab Raka mantap, tubuhnya menghadap samping agar bisa melihat Mayra lebih jelas, sementara jari jemarinya mulai membelai lembut lengan Mayra yang begitu mungil.
“Masa sih?” Mayra menautkan alisnya, sembari sesekali tersenyum. Antara tersanjung atau masih tidak percaya. Sebab puluhan lelaki yang pernah pacaran dengannya dulu tidak pernah mengatakan hal semanis itu.
“He’em..” tukas Raka yakin. Jarinya yang kekar tidak bisa berhenti membelai lembut kulit Mayra yang begitu mulus.
“Terus.. ciuman barusan itu ciuman pertamamu?” tanya Mayra lagi.
“Iya,” jawab Raka. Suara bas khasnya terdengar seksi di telinga Mayra.
“Bohong..” Mayra menolak jawaban itu. Sementara lelaki itu hanya tersenyum.
“Memangnya kenapa?” tanya Raka, wajahnya tersipu melihat alis Mayra yang bertaut begitu menggemaskan.
“Ya kamu kayak udah lama nggak mencium wanita,” kata Mayra, matanya berkedip menggoda Raka, membuat syahwat lelaki itu muncul kembali.
“Bukan begitu..”
“Terus..? Gimana?”
“Besok aku ceritain,”
“Besok pagi – pagi aku harus ke studio..” jawab Mayra, sesaat kemudian ia menguap tanda kantuk sudah menyerang.
“Enggak.. besok kamu harus ikut aku ke Bali, aku udah bilang sama asistenmu, Aris, biar kamu diizinkan ambil cuti selama 5 hari” ujar Raka. Binar wajahnya tak sabar menunggu reaksi Mayra. Dan ternyata reaksi kaget Mayra yang ditunggu – tunggu membuat gejolak jiwanya naik satu level.
“Enggak mau.. aku mau.. mau..” wanita itu hampir seperti orang mengigau saking dahsyatnya rasa kantuk menyerang. Tak lama kemudian ia tertidur. Raka tersenyum bahagia melihatnya. Lalu ia mengelus wajah lembut Mayra dan mencium keningnya sebelum mematikan lampu tidurnya.
***
“May.. bangun, May.. udah jam enam, ayo siap – siap.” Raka berbisik ke telinga Mayra. Wanita itu menggeliat dan meregangkan tubuhnya. Sayup – sayup ia melihat Raka yang sudah mengenakan kaos warna hitam yang membuat otot lengannya terlihat menonjol.
“Memangnya pesawatnya jam berapa?” tanya Mayra, tubuhnya terasa berat diangkat.
“Jam delapan.. ini aku buatin omelet buat sarapan,” ujar Raka, kedua tangannya meletakkan meja kecil berisi sepiring omelet dan orange juice. Mayra tertegun menyadari perlakuan Raka yang begitu spesial. Beda dengan Rio yang begitu kasar dan manipulatif. Tidak ingin berlarut pada pikirannya, ia pun segera meneguk segelas orange juice dan menyantap omelet dengan lahapnya.
“Makasih ya, Ka..” ujar Mayra. Senyumnya menungging yang dibalas anggukan Raka. Segera ia menghabiskan omelet yang masih hangat di hadapannya dengan cepat. Sesekali ia menoleh jam alarm di samping lampu tidur. Ahh.. waktunya semakin mepet. Setelah sepiring omelet ludes tak tersisa, Mayra beranjak menuju kamar mandi.
“Aku mandi dulu..” kata Mayra sambil berdiri beranjak dari tempat tidurnya. Namun tiba – tiba Raka meraih lengan Mayra lalu mendorongnya ke dinding berlapiskan wallpaper berwarna kuning keemasan. Sontak saja Mayra kaget bukan main. Namun, saat melihat mata teduh Raka yang begitu serius, ia menyadari bahwa lelaki itu sedang menumbuhkan suasana romantis. Raka menatapnya lebih dalam dari sebelumnya, perlahan kepalanya mendekati telinga kiri Mayra dan mulai membisikkan sesuatu.
“Boleh nggak aku ikut?” tanyanya lembut. Seketika udara yang menguap dari mulut lelaki itu membuat bulu kuduk Mayra merinding.
“Iihhh.. udah jam segini, aku mau cepet – cepet mandi,” ujar Mayra sembari mendorong d**a bidang lelaki itu. Tanpa pikir panjang ia bergegas masuk ke kamar mandi dan menutup pintu agak keras.
Raka menggeleng – gelengkan kepalanya dan menertawai diri sendiri. Ia tidak menyangka bisa melakukan hal seperti itu. Padahal ia adalah cowok introvert yang suka canggung di hadapan lawan jenis. Apalagi jika lawan jenis itu adalah pujaan hatinya.