Vina menutup mulut tanda tak percaya. Ia tidak menyangka, Mayra yang ia kenal sebagai wanita baik tega memanfaatkan sahabatnya sendiri. Matanya berkaca – kaca, benih benci kepada Mayra mulai menguasai hatinya. Sementara Mas Bram memegang kepalanya dan manatap prihatin kepada adiknya. “Tega banget wanita itu! Apa dia nggak tahu kalau kamu menyukainya dari dulu?!” gertak Vina, kekesalan di hatinya tidak terbendung lagi. Ia merogoh tas gucci-nya dan meraih ponsel. Segera ia menelepon Mayra. Raka yang menyadarinya langsung merebut ponsel Vina. “Apaan sih! Biarkan aku ngomong sama dia! Enak aja dia manfaatin kamu!” tangan Vina mencoba meraih ponselnya kembali yang kini sedang digenggam Raka. “Aku sendiri yang memintanya, bukan Mayra” Vina berdiri terpaku di hadapan Raka. Tubuhnya bergidik me

