"Dia bukan gak suka vi, sebenernya mami Shinta mau kamu kerja disini karna pas lihat foto kamu dia tertarik. Tapi setelah aku fikir lagi aku batalin bawa kamu kerja disini.. mami marah besar waktu itu..tapi gapapa yang penting kamu gak kerja disini."
"iya sih in, aku gak mau kalo kerjanya seperti ini.. maafin aku ya in udah maksa kamu.."
"gapapa Vi, kamu gak puas yah aku bawa kesini tapi gak sesuai dengan apa yang harusnya terjadi... sorryy...."
"aku yang harusnya makasih kamu udah ajak aku jalan jalan ke kota.. Jaga diri kamu baik baik ya, cepet pulang ke kampung.. Disana banyak lapangan kerja buat kita kerja bareng."
"iya ntar kalo aku udah kaya aku pulang hahaha.."
Sementara itu, keluarga Sevia tengah mempersiapkan pertemuannya dengan Hariz, anak Majikan Bapaknya pemilik Konveksi tempat Bapak bekerja..
Hariz adalah sosok pria yang sangat mencintai Sevia, usianya lima tahun lebih dewasa .
Sevia menerima Hariz karna Bapak ingin nelihatnya menikah sebelum ia meninggal, karna Bapak sering sakit sakitan..
Namun Sevia hanya menyukai Hariz karena ketampanannya, suka memberi uang dan perhatian namun ia belum mencintainya sepenuh hati..
"maaf Pak, Ade belum siap nikah ,, Ade mau kerja dulu, gapapa ade tidak lanjut kuliah yang penting aku bisa mandiri.. Nanti kalau udah ada yang menurut Ade cocok, aku siap nikah secepatnya..". Jawab Sevia sambil menunduk dihadapan Bapak yang tengah terbaring itu..
"De, Bapak ngerti ade masih ingin main main, kerja ngabisin uang.. Tapi Bapak khawatir dengan pergaulan kamu waktu masih sekolah kemarin.. Berantem lah, motor motoran sampai malem..pacaran.. Kamu itu anak perempuan satu satunya.. Bapa gak mau kamu salah langkah kedepannya, mangkanya Ade bapa halalkan dengan Hariz, dia anak baik baik punya usaha sendiri. kurang apa dia De?.."
jawaban Bapak membuat Sevia makin sedih, namun tetap ia tak ingin buru buru dinikahkan..
Sevia berusaha membujuk Bapak agar menginzinkan nya bekerja di kantoran..
"Ade bisa jaga diri Pak, lagian aku kerja di kota di kantoran, kantor investasi bisnis nya orang orang kaya.. ade juga tinggal di kosan rame rame cewek semua"..
"Bapak setuju kalo ade mau kerja di kantor, Bapak hanya khawatir kamu jauh dari Bapak.. kalau kamu nikah kan gak usah kerja. Ade tinggal disini sama suami ade.."
"ya udah Bapak jangan Khawatir, ade kan udah menerima Hariz.. tapi belum nikah ya Pak.."
"iya iya..yang penting kalian udah ada ikatan, jika ade mencintai Hariz boleh lanjut ke pernikahan. Tapi jika kamu ragu kedepannya itu terserah kamu.. Bapak tidak akan Ade karna ade yang menjalani.."
"makasih Bapak udah berikan yang terbaik, mudh mudahan apa yang ade tentukan kedepannya adalah yang terbaik buat hidup aku, Pak.."
Malam harinya, Hariz mengajak Sevia dinner dan belanja di mall..
Hariz menunjukkan keseriusan nya pada Sevia namun tidak dengan Sevia yang enggan membahas masa depan..
"Vi, apa kamu senang jalan sama aku?".. tanya Hariz sambil menikmati hidangan dinner di tempat yang indah..
"iya aku seneng aja,, Aa gimana?" jawab Sevia dengan raut wajah datar..
"aku senang kalo kamu senang Vi, kamu tau nggak aku tuh seneng banget tiap jalan sama kamu, apalagi sekarang kamu adalah pacar Aa..Semoga suatu hari nanti kamu jadi pasangan aku selamanya.."
"aku belum siap nikah a.. aku masih ingin menikmati masa muda dengan jalan jalan shopping dan main main.."
"iya aku ngerti prinsip kamu saat ini, tapi aku yakin tidak lama lagi kamu mau nikah sama aku, karena kerja itu melelahkan, dan sendiri itu membosankan.."
"dih, kata siapa ,aku bisa lewati itu semua. aku mau menikah dengan orang yang paling aku cintai dan laki laki yang paling mencintai aku sepenuh hatinya.."
"hemm,,oke aku akan buktiin kalo aku sangat mencintai kamu lebih dari mencintai diri aa sendiri.."
"lihat nanti aja, A. Via masih butuh waktu.."
Mereka pun pulang dengan beberapa belanjaan di bagasi mobil nya yang dibelikan Hariz untuk Sevia..
Dalam hati, Sevia bergumam
"Hariz orangnya emang baik, apakah pantas jika aku tidak menerimanya,,?sedangkan orangtuaku sangat menyukai Hariz... ok, tenang Vi.. dia mengerti hatimu dan sabar menunggu sampai kapan pun.."
~~~(dalam hati Hariz)
"lihat nanti Sevia, akan kubuktikan keseriusanku padamu jauh dari lubuk hatiku, demi Tuhan aku mencintaimu sampai kamu balik mencintaiku... Gak ada wanita lain yang luluhkan hatiku selain kamu, kamu istimewa Sevia.."
~~POV Sevia
Namun ditengah pendekatan ku dengan Hariz, kesetiaan ku diuji dengan hadirnya mantan kekasih yang ku cintai waktu sekolah dulu,, ia adalah Zulfan kakak kelas dan juga Mantan kekasihku sewaktu SMK dan terpisah karna Zul ikut bisnis orangtuanya di Bali..
kini Zulfan kembali dengan pesona baru dan perasaan yang masih sama..
kami bertemu di jalan saat aku jatuh dari motor matic dan terserempet mobil..
"iiihh nyebelin mobil kurang ajar, butut, belagu banget sih kabur lagi .. aaduuh motor aku terguling, aawww saakiit.."
ucap ku yang terjatuh tertindih motorku sendiri..
datanglah Zulfan yang tidak sengaja lewat di tengah jalan yang sepi..
"kenapa neng kok bisa jatuh... ayo saya bantu bangunin motornya dulu ."
aku yang kaget sebab yang menolong adalah Zulfan..
"Zul,, kamu kok disini?" . Tanya ku sambil berdiri..
"iya . tadi aku lihat motor kamu terserempet mobil.. mangkanya aku nolongin.. kenapa ?"
"bu.. bukan.. maksud aku kamu udah kembali ke kota ini? ka..kapan..kok ga ngabarin?.."
aku bahagia saat melihat cinta pertamaku kembali...
"udah, kaki kamu berdarah ayo duduk dulu disana biar aku obatin.."
Zul menuntun ku ke kursi di pinggir jalan.. dn mengobati luka..
"aaduh . pelan pelan ih sakit ."ucapku lirih saat Zul menyiram lukaku dengan air mineral lalu mengobati nya dengan obat merah dan perban..
"iya ini udah beres kok.. kamu mau minum apa Vi, aku bawain dulu bentar.."
kami duduk di kedai pinggir jalan lalu tiba tiba hujan deras dan gemuruh petir.. tidak mungkin untuk kami pulang apalagi aku masih ingin melihat Zulfan..
"Zul, sejak kapan kamu tinggal lagi disini?" . tanyaku untuk memulai percakapan dengannya..
"aku baru datang hari ini, kebetulan mau buka cabang usaha disini. Pas mau jalan ,aku lihat kamu dijalan jadinya terlambat deh padahal yang punya Ruko udah nungguin.."
"oh gitu, maaf ya Zul harusnya kamu udah nyampe daritadi.."
"gapapa, lagian masih jauh juga kalo lanjut pun hujan kan ."
"iya sih Zul, kamu kenapa gak ngabarin aku kalo kamu mau kembali kesini?? kamu tau aku selalu nunggu kamu dari dulu.."
"ngapain aku ngabarin kamu lagi? bukannya kamu udah tunangan dibelakang aku?".
"kamu tau ini darimana.. kamu ingat kan semenjak pisah jarak, gak pernah ada kata putus diantara kita.."
"viaa..viaa...ya jelas aku tau lah, udah viral di grup alumni kan.. kamu tau?? kamu tunangan sama orang lain, itu udah cukup buat aku.. Kita PUTUS saat itu juga.."
ucapnya dengan raut wajah sinis dan kecewa atas sikapku menerima Hariz..
"Tapi kamu gak tau Fakta sebenarnya yang terjadi Zul, aku bisa jelasin apa alasan nya.. aku terpaksa Zul".
"udahlah Vi, jangan gitu. kamu kira aku bodoh apa? kalo kamu gak suka sama dia kamu ga akan terima dia.. Apalagi posisinya kamu LDR sama aku..Pantas, nomormu kamu ganti dan susah dihubungi, bahkan sosial media aku pun kamu blokir.. setelah aku cari tau, akhirnyaaa..."
"maafin aku Zul, waktu itu aku emang kecewa sama kamu karna kamu cuek banget jarang ada waktu buat aku sekedar Chatting atau VC oun susah. Terus aku lihat ada mantan kamu yng selalu kamu balas komentar dia dengan kata kata hangat.. sampai bicarain pertemuan lah, telfonan terus lah, sementara aku ??"
belum selesai bicara, Zul menutup mulutku dengan tangannya dan berkata
"stop, jadi karna mantanku itu? yaampun dia anaknya partner kerja Bapak aku kebetulan saat itu mereka ke Bali sambil bicarakan bisnis, udah gitu dia pulang lagi, Gak lebih.. Pas aku mau ngabarin kamu, hari itu nomor kamu gak aktif sampai saat ini.. dan akun Ig udah di blok.. Secepat itu ya kamu lupain aku dan menerima pinangan oranglain.."
"Zul, waktu itu aku kalut, cemburu, pas aku lihat postingan si Nadya dia lagi di pantai sama keluarga kamu."
"ya mangkanya aku mau jelasin kamunya ngilang, udahlah Vi jangan dibahas lagi.. Bye the way, selamat yah Vi semoga kalian langgeng.. Bye, aku mau pulang dulu ujan udah reda.."
Zulfan pergi meninggalkanku sendiri di kedai itu saat hujan telah reda.
"Zulfan?? kamu mau kemana aku belum selesai ngomong, ih ."
Sikap Zulfan yang masih kekanak-kanakan itu masih melekat hingga sekarang, ia pergi meninggalkan ku .. saat aku mau mengejar nya ,pemilik warung menanyakan tagihan yang belum kami bayar..
"eh eh.. neng tunggu pesanannya belum dibayar totalnya empat puluh ribu baso sama jusnya. "
."hadeeehhh ini bocah malah kabur lagi.. iya udah ini mbak maaf ya.."
Aku pun pulang je kosan dan setelah itu kami tidak bertemu lagi secara langsung..
walau terkadang Zulfan sering melihatku disekitar 'Galeri Shop' atau ruko tempatnya bekerja yang jaraknya tidak jauh dari Kantor tempat ku bekerja di Kota ini . Namun aku belum menyadari Galeri nya Zulfan berdekatan denganku..