9

1365 Kata
Devano kembali dengan pakaian yang diberi oleh Dea. "Dev, gua mau ngomong," ujar Aiden. "Yaudah ngomong aja," ucap Devano. "Gua sama Dea cuma nikah kontrak, jadi aku minta tolong Kamu jaga rahasia ini. Termasuk status pernikahanku sama Dea," jelas Aiden. Devano bengong mendengar ucapan Aiden. "Jadi aku harus sembunyiin kalau kamu udah punya istri?" tanya Devano. "Ya, kesemua orang," jawab Aiden. "Ogah! gila ya !," tolak Devano "Please Dev. Aku gak mau kalau Wendy sampai tau," ujar Aiden. "Gila, trus ngapain nikah sama Dea?" tanya Aiden. "Biar gua bisa nikah sama Wendy, aku gak dapat restu orang tua buat nikah sama Wendy," jawab Aiden. "Bener-bener gak waras otakmu Den, gak habis pikir aku sama Kamu. Trus kamu gimana De? kok mau sama Aiden," tanya Devano. "Sama-sama ambil keuntungan si," ujar Dea. "Wahh gila-gila," ucap Devano. "Gua minta tolong sama kamu ya Dev," ujar Aiden. "Ogah lah, males banget jaga rahasia kayak gini," ujar Devano,"bisa-bisanya Kamu kayak gini." "Ayo lah Dev, ini pertama kalinya gua minta tolong sama Kamu," melas Aiden. "Masalahnya permintaan tolongmu ini dalam hal keburukan Den, gak sanggup aku kalau nyimpen rahasia kayak gini," ujar Devano."Kamu juga Dea, bisa-bisanya mau nikah kontrak," sesal Devano. "Aiden maunya gitu Dev, aku nurutin Aiden juga ada alasannya, kalau yang nyuruh buat sembunyiin pernikahan ini itu pure dari Aiden, aku si bodoamat," jelas Dea. "Bodo ah! aku mau balik," ujar Devano. "Lah," saut Aiden. "Bodo!" ucap Devano dan berlalu pergi meninggalkan Aiden dan Dea. "Tas sama handphone lu!" teriak Aiden pada Devano. Devano pun balik lagi membereskan barang-barangnya, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Dev," panggil Aiden. "Diem lu!" sewot Devano lalu pergi. Aiden menghela nafas melihat kepergian Devano, dia memijat-mijat kepalanya dan duduk disamping Dea. "Mau dipijitin?" tawar Dea. "Mau, kepala aja," jawab Aiden. "Duduk dibawah sini," ucap Dea. "Kok dibawah?" tanya Aiden. "Biar aku mudah mijitnya," jawab Dea. "Disini aja lah," ujar Aiden. "Sulit tau, badanmu tinggi Den," jawab Dea. "Oke," ujar Aiden lalu duduk dibawah kursi, Dea mulai memijit kepala Aiden. "Enak banget De, keknya lu pantes deh kalau jadi tukang pijit," ujar Aiden yang menikmati pijitan Dea. "Hm." "Beneran loh, gabohong," ujar Aiden. "Aiden, aku pengen beli motor," ujar Dea. "Kan udah ada mobil De, tinggal milih digarasi," "Aku pengennya motor," ucap Dea. "Panas kalo motoran," ucap Aiden yang makin menikmati pijitan Dea. "Tapi aku lebih suka motoran," kekeh Dea. "Yaudah beli aja," ucap Aiden. "Boleh?" tanya Dea. "Boleh," jawab Aiden. "Makasih Aiden,"ucap Dea bahagia, makin semangat mijit kepala Aiden. "Kalau mau beli apa-apa, langsung beli aja De, gaperlu ijin," jelas Aiden. "Oke," ujar Dea "Belinya mau aku anterin? sekalian berangkat liat bioskop," tanya Aiden. "Boleh," jawab Dea. "Oke, kalau gitu kita berangkat sore aja," ajak Aiden. Jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Aiden mengetuk pintu kamar Dea. tok tok tok... "De, udah siap belum?" tanya Aiden didepan pintu. "Udah," ucap Dea membuka pintu. Aiden melihat Dea dari atas kebawah lalu keatas lagi. "Ya ampun Dea, dilemarimu gaada baju yang bagusan dikit apa? ini kan baju tadi siang," ujar Aiden, yang melihat Dea memakai kaos oversize, celana jeans hitam, dan sandal japit dengan rambut dikuncir kuda. "Enak aja, ini baju baru ganti tau," jawab Dea. "Kok sama kayak tadi siang, minggir!" ucap Aiden nyelonong masuk kamar Dea, dan mengobrak-abrik lemari Dea. Semua baju yang ada dilemari memang hampir sama semua, oversize dan celana kolor, Aiden menggelengkan kepalanya lalu berpindah ke walk in closet. Dia memilah-milah baju. "Pake ini De," ujar Aiden dengan memberikan dress selutut. "Ya ampun Aiden, kita cuma nonton bioskop ngapain make dress segala?" "Lahh ketimbang make baju kek gembel gini," ujar Aiden. "Ya ampun Aiden. Aku milih baju sendiri aja," ujar Dea. Dea mengambil blouse cream. "Kamu mau liat aku ganti baju disini?" tanya Dea pada Aiden. "Boleh?" goda Aiden. "Boleh," jawab Dea dan bersiap-siap membuka kaosnya. Aiden buru-buru membalikkan badannya, Dea tersenyum melihat tingkah Aiden. "Udah Aiden," ujar Dea yang sudah mengganti bajunya. "Oke, ayo," ujar Aiden berlalu pergi meninggalkan Dea. Mereka pun turun ke lantai bawah. Ketika pintu lift terbuka bik Asih sudah menunggu mereka dengan senyumannya. "Selamat sore Tuan, Non," sapa bik Asih. "Sore Bik, pak Lastro udah siap?" tanya Aiden. "Sudah Tuan," jawab bik Asih. "Toni?" tanya Aiden. Toni adalah sopir baru untuk Dea. Umur Toni 21 tahun sama seperti Rara dan Sinta, sama-sama mahasiswa tapi beda universitas dengan Rara dan Sinta. "Lagi sama Pak Lastro Tuan," jawab bik Asih. "Suruh pulang aja Bik," ucap Aiden. "Baik Tuan," jawab bik Asih. "Oke, kita pergi dulu ya Bik," Pamit Aiden. "Iya Tuan, hati-hati Tuan," ujar bik Asih. Dea dan Aiden pun berangkat. "Mau motor apa De?" tanya Aiden pada Dea ketika sampai didealer motor. "Yang ini aja," ucap Dea dengan menunjuk salah satu motor. "Ini aja?" tanya Aiden. "Iya," jawab Dea. "nggak pengen yang itu aja?" tanya Aiden sambil menunjuk motor yang harganya tiga kali lipat dari motor yang ditunjuk Dea. "Enggak, Ini aja," jawab Dea. "Bagusan itu loh De," bujuk Aiden. "No, ini aja," tolak Dea yang kekeh dengan pilihannya. "Okey, Ambil yang ini aja mbak," ucap Aiden pada mbak-mbak SPG disana. "Iya pak, silakan kesebelah sini" ucap mbak SPG. Dea mendengar mbak-mbak SPG mengenai rincian sepeda motor miliknya. Aiden mengurus pembayaran motor. Setelah selesai Dea dan Aiden menuju bioskop. "Mau pop corn sama minum?" tanya Aiden. "Mau," jawab Dea. "Tunggu sini dulu ya," ucap Aiden. "Okey," jawab Dea. Dea duduk dan melihat sekelilingnya, banyak sekali couple disitu. Tiba-tiba Dea mengingat kenangan ketika dia nonton berdua dengan tunangannya Airon. Rasa rindu tiba-tiba hadir dalam benaknya. Aiden sudah duduk disampingnya, lalu mengobrak-abrik tas nya. "Nih tiketnya, nanti kasih in kepenjaganya ya, biar aku yang bawa minum sama popcornnya," ujar Aiden. Dea hanya menganggukkan kepalanya. "Habis nonton mau kemana De? Makan?" tanya Aiden. Dea hanya menganggukkan kepalanya. "Mau makan apa?" tanya Aiden lagi. "Nasi goreng, yang dipinggir jalan tadi," jawab Dea. "Yang mana?" tanya Aiden. "Yang dipinggir jalan tadi, nanti aku kasih tau," ujar Dea. "Nyari ditempat makan aja ya De, kotor kalau dipinggir jalan," jawab Aiden. "Gamau, pengen yang dipinggir jalan," tolak Dea. "Aku gabisa makan dipinggir jalan De," "Bisa Aiden, dicoba dulu. Harganya juga lebih murah kalau dipinggir jalan," "Aku gak semiskin itu De. Aduh kamu ini gimana sih," 'Astaga aku lupa kalau Aiden memang bukan orang miskin!' batin Dea. "Bukannya gitu, aku pengen aja makan dipinggir jalan. sensasinya beda kalau makan dipinggir jalan sambil liat motor lalu lalang," jawab Dea. "Serah deh, aneh banget kamu in De, dikasih yang enak malah milih yang kayak gitu," ujar Aiden. "Kayak gitu gimana?" tanya Dea. "Ya kan biasanya cewek kalau makan mau yang tempatnya nyaman, kekinian, instagramable, la kamu malah milih yang dipinggir jalan, tadi pas beli motor dikasih yang mahalan gak mau malah milih motor yang murah," jawab Aiden. "Ya trus?" tanya Dea. "Beda aja, biasanya gak gitu kan. Cewek mau barang-barang branded, makan ditempat mewah, suka shopping, style fashionnya bagus, cantik. Lah Kamu?" "Hm, aku gak cantik ? gak kekinian, buluk?" "Ya cantik, buluk aja sih," "Wahh lemes banget ya mulutmu. Aku gini aja dah cantik, apalagi kalau aku dandan," "Ya makanya dandan, biar gak malu-maluin lah," "Aku malu-maluin?" tanya Dea, yang jadi kesal."Udah lah, jadi badmood banget," "Sorry," sesal Aiden merasa bersalah. Dea diam, "De," panggil Aiden. "Diam Aiden, jangan bikin makin badmood," jawab Dea. Beberapa menit kemudian pintu bioskop terbuka, Dea dan Aiden memasuki ruang bioskop. Sepanjang film diputar, Dea hanya diam. Aiden semakin bingung karena Dea diam saja. Setelah film selesai Dea keluar terlebih dahulu. "De, tunggu, ngapain sih buru-buru," ucap Aiden. "Aku pengen cepet pulang," ucap Dea. "Masih marah?" tanya Aiden, Dea hanya diam."Mau shopping gak?" tanya Aiden. "Nggak," jawab Dea. "Shopping aja ya? kamu mau apa?" tanya Aiden. "Aku gak mau Aiden," ucap Dea berusaha menahan amarahnya. "Tas mau? itu ada yang bagus tas nya," bujuk Aiden. "Aku gak mau Aiden," jawab Dea. "Make up? Baju? kamu mau apa? atau mau semua nya?" bujuk Aiden. "Aiden!" teriak Dea tanpa sadar. Dea benar-benar kesal, dan berlalu pergi begitu saja. Aiden memegang tangan Dea. "De, please berhenti marah-marahnya," ucap Aiden "Aku mau pulang sekarang," ucap Dea. "De," panggil Aiden yang berusaha membujuk Dea. "Sebelum aku jadi gila disini," ucap Dea kesal. "Oke, kita pulang," ujar Aiden. Aiden lupa kalau kondisi psikis Dea masih naik turun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN