Pagi hari Dea sarapan bersama Aiden. Meraka memakan makanannya dalam diam, karena Aiden sibuk membalas chat dihandphone miliknya, sedangkan Dea sibuk mengunyah makanannya. Aiden buru-buru menyelesaikan sarapannya.
"De aku berangkat ya, kalau ada apa-apa hubungi aku, atau suruh aja Bik Asih. Berangkat ya Bik, bye De," pamit Aiden dan berlalu pergi.
"Iya Tuan," jawab bik Asih.
Dea hanya diam. Bik Asih nampak khawatir melihat Dea yang semakin murung, padahal Dea tidak terjadi apa-apa dengan Dea. Bik Asih terlalu mengkhawatirkan Dea. Bik Asih mengkode anak buahnya untuk mengambilkan vitamin dan beberapa kue.
Dea masih sibuk dengan makanannya, salah satu pelayan mendorong troli berisi banyak macam kue. Bik Asih menghidangkan semua kue itu didepan Dea.
"Ngapain Bik?" tanya Dea.
"Semua kue ini untuk Non, biar moodnya membaik," ujar bik Asih.
"Ya ampun Bik, aku gasuka yang manis-manis," ujar Dea.
"Non mau snack?" tanya bik Asih.
"Nggak, aku mau balik kekamar," tolak Dea.
"Tapi Non," ucap bik Asih yang kebingungan.
"Bye," ucap Dea dan berlalu pergi. Semua mata tertuju pada kepergian Dea yang kian menjauh dari pandangan.
"Heh kasihan banget Non Dea," ujar Lina salah satu pelayan.
"Iya," saut Rara, "Baru aja nikah, eh udah ditinggal aja."
"Sstt gaboleh gibah," peringat bik Asih. Mereka langsung mengunci bibirnya.
Didalam kamar Dea hanya bengong, bingung mau ngapain, mencari kegiatan yang sekiranya akan membuat kegabutannya yang hakiki menghilang. Akhirnya dia memutuskan untuk menjelajahi walk in closet miliknya. Melihat ada beberapa stel baju renang membuatnya ingin berenang. Dia mengganti bajunya dan memakai handuk kimono. Dia bergegas menuju kolam renang, ketika pintu lift terbuka, dia melihat bik Asih yang berada didepan lift.
"Nona mau berenang?" ucapnya dengan tersenyum.
"Ya," jawab Dea.
"Apa ada yang Nona perlukan?" tanya bik Asih.
"Enggak, berhenti khawatirin aku," tolak Dea dan berlalu pergi.
"Hehh...." bik Asih menghela nafasnya karena dicuekkin Dea.
"Rara Sinta siapin makanan sama jus jeruk, Lina Nina coba kalian cari balon bebek yang besar warna pink digudang belakang," perintah bik Asih
Dea melepas handuk kimononya, lalu melakukan pemanasan agar terhindar dari hal yang tidak diinginkan. Belum selesai Dea melakukan pemanasan, segerombol pelayan mendatanginya. Ada yang membawa pelampung berbentuk flaminggo besar, beberapa snack dan minuman. Dea tidak menggubris mereka, dan langsung masuk kedalam kolam, berenang kesana kemari. Semua pelayannya melihat dengan apa yang dilakukan Dea.
"Non Dea cantik banget ya meskipun gak memakai make-up," bisik Lina.
"Iya, daripada mbak Wendy, bukannya Non Dea itu lebih unggul?" saut Nina.
"Bener, tapi kenapa tuan masih sama mbak Wendy ya, padahal kan udah jadi suami Non Dea," saut Santi. Ada empat pelayan disana, ditambah bik Asih jadi ada lima.
"Kenapa ya?" tanya Rara, "padahal Non Dea-"
"Apa kalian juga memikirkan apa yang aku pikirkan?" tanya Lina.
"Sstt..!! Kalian ini suka banget ya bergosip," ucap bik Asih.
Mereka terdiam ketika mendapat teguran dari bik Asih. Dea berhenti berenang dan memutuskan untuk tiduran dikursi santai. Bik Asih menghampiri Dea,
"Non-"
"Bik, berhenti khawatirin aku, aku bakal bilang kalau emang aku butuh sesuatu. Please tinggalin aku sendirian. Jangan banyak tanya sebelum moodku memburuk," ucap Dea. Bik Asih langsung mengundurkan diri dan mengajak semua pelayan untuk masuk kedalam rumah. Dea menatap langit yang berlukiskan awan stratus sambil memakan kentang goreng dan jus jeruk.
"Sedikit cuek ya?" tanya Nina ketika mereka sedang berjalan menuju kedapur.
"Bukan cuek, tapi memang sepertinya tidak nyaman kalau kita ikutin terus-terusan," ujar Rara.
"Iya sih, pasti risih juga," saut Sinta.
Disisi lain, bik Asih sedang membukakan pintu untuk tamu. Ternyata itu Devano sahabat Aiden.
"Pagi Bik, Aidennya ada?"sapa Devano.
"Pagi Mas Devano, emm, Tuan lagi tidak dirumah Mas. Tapi ada Non Dea istrinya Tuan," jelas bik Asih.
"Istri?" ucap Devano kaget. Kedua alisnya mengangkat setinggi langit, matanya melotot.
"Iya Mas," jawab bik Asih.
"Sejak kapan Aiden punya istri. Aiden udah nikah?" tanya Devano tidak percaya.
"Sudah Mas, kemaren lusa nikahnya," jelas bik Asih.
"Beneran?" tanya Devano.
"Beneran Mas, ya ampun gapercaya banget sama Bibik," ujar bik Asih.
"Trus sekarang istrinya lagi dimana?" tanya Devano.
"Lagi berenang Mas," jawab bik Asih.
"Bisa panggilin nggak Bik? aku kok penasaran," ucap Devano. Dia tidak percaya jika Aiden sudah menikah, dan dengan perempuan yang tidak dikenalnya sama sekali. Itu membuatnya makin penasaran, nama yang disebutkan juga sangat asing ditelinganya.
"Bisa Mas, bentar ya. Silakan duduk dulu Mas, saya panggilin Non Dea dulu ya," ucap bik Asih lalu pergi menghampiri Dea.
"Non, ada Mas Devano temannya tuan. Ingin ketemu Non Dea," jelas bik Asih pada Dea.
"Harus banget ya Bik?" tanya Dea yang ogah-ogahan ketemu Devano.
"Mas Devano udah nunggu Non," ujar bik Asih.
"Suruh nunggu, aku mau mandi dulu, kalau gasabar suruh pulang Bik," jawab Dea dan langsung pergi kekamarnya.
Bik Asih kembali keruang tamu menghampiri Devano.
"Non Dea masih mau mandi dulu Mas, katanya kalau gasabar nunggu Mas Devano suruh pulang," jelas bik Asih.
"Aku tunggu aja Bik," jawab Devano.
"Iya Mas, Bibik buatin minum dulu ya Mas, kayak biasanya kan?" tanya bik Asih.
"Iya Bik," jawab Devano. Bik Asih bergegas pergi, dan Devano sibuk dengan handphonenya.
Devano : Den, aku lagi dirumahmu.
Aiden : Ngapain? gaada siapa-siapa dirumah.
Devano : Ada istrimu tuh. Sans
Aiden : Tau darimana?
Devano : Ada deh.
Aiden : Jangan macem-macem.
Devano : Terserah aku lah. Cantik juga istrimu.
Aiden : Anjing lahh. Pulang sana !
Devano : Ogah! baru ketemu juga.
Devano terkekeh membaca balasan pesan Aiden.
Lina menyajikan minuman untuk Devano.
"Makasih ya," ucap Devano.
Beberapa kali Aiden menelpon Devano, telpon kelima akhirnya dijawab oleh Devano.
"Pulang gak !?"
"Baru juga main," jawab Devano santai.
"Anj, dimana Dea?" tanya Aiden.
"Lagi mandi,"
"Habis ngapain kalian?" tanya Aiden.
"Rahasia, Bye!" Devano memutuskan sambungan teleponnya dengan Aiden. Aiden masih berusaha menelpon Devano dan beberapa kali mengirim pesan. Devano hanya menatap layarnya hingga panggilan dari Aiden tidak muncul lagi dari notifikasinya.
"Ada apa ya?" tanya seseorang pada Devano, Devano mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa orang itu. Devano merasa takjub ketika melihat perempuan itu matanya berbinar ketika melihatnya, handphonenya tiba-tiba terjatuh. Devano kaget.
"Ah! aku cuma pengen nyapa aja. Apa aku ganggu?" jawab Devano seraya mengambil handphonenya.
"Enggak si," jawab Dea. Bik Asih menghampiri Dea dan menghidangkan minuman untuknya.
"Kenalin aku Devano temannya Aiden," ucap Devano dan mengulurkan tangannya kepada Dea. sejenak Dea melihat uluran tangan itu,
"Dea," jawab Dea dan menerima jabatan tangan Devano.
"Kapan nikahnya sama Aiden? kok gak undang-undang," tanya Devano.
"Empat hari lalu, emm.. acaranya cuma ngundang kerabat terdekat saja, jadi memang gak ngundang orang lain," jawab Dea.
"Ohh," respon Devano dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Pandangannya tidak bisa lepas dari wanita yang ada didepannya.
"Silakan diminum, keburu dingin nanti," ucap Dea.
"Ah. Iya-iya," jawab Devano dan buru-buru meminumnya, "Aa!" teriak Devano ketika lidahnya menyentuh Air panas dicangkirnya, tanpa sengaja kemejanya ketumpahan kopi. Dea kaget mendengar teriakan Devano.
"Kenapa?" tanya Dea.
"Panas," ucap Devano.
"Bajumu ketumpahan kopi," ujar Dea. Aiden buru-buru mengambil beberapa lembar tisu dan mengelap bajunya.
"Ahaha.. gapapa, ini salahku sendiri kurang hati-hati," jawab Devano.
"Bik," panggil Dea pada bik Asih.
"Ya Non?" tanya bik Asih menghampiri Dea.
"Emm.. tolong cariin baju ganti buat Devano," ujar Dea.
"Iya Non," jawab bik Asih.
"Aduh jadi ngrepotin,"
"Gapapa," ucap Dea dengan tersenyum.
"Beruntung banget Aiden," ujar Devano. Dea mengerutkan kedua alisnya.
"Ah lupakan. sorry, gajelas," ucap Devano.
"Kenal Aiden sejak kapan De?" tanya Devano.
"Seminggu yang lalu," jawab Dea.
"Seminggu?"
"Iya," jawab Dea.
"Trus langsung nikah?" tanya Devano tidak percaya. Dea menganggukkan kepalanya.
"Kok cepet," ujar Devano. Dea hanya mengangkat kedua bahunya.
Tiba-tiba datang Aiden dengan tergopoh-gopoh.
"Devano!"
"Paan?"
"Pulang gak?"
"Lah, baru juga ngobrol sama Dea," jawab Devano.
"Ngapain sih," ujar Aiden yang nampak kesal.
"Main Den," jawab Devano.
Bik Asih menghampiri Dea.
"Ini Non," ucap bik Asih. Dea memberi kode untuk menyerahkan baju itu pada Devano.
"Devano mending ganti baju dulu deh," ucap Dea.
"Ahh iya, bentar ya," ucap Devano lalu bergegas kekamar mandi. Aiden memelototi Devano.
Aiden duduk disamping Dea.
"Udah lama Devano disini?" tanya Aiden.
"Lumayan," jawab Dea,
"Hahh," Aiden menghela nafasnya.
"Katanya pulang malam?" tanya Dea.
"Gajadi," jawab Aiden.
"Kenapa?" tanya Dea.
"Wendy lagi diluar kota, ada job," jawab Aiden.
"Oh,"
"Nanti malem mau nonton gak? Ada dua tiket nganggur," ujar Aiden.
"Boleh," jawab Dea.
"Oke ntar malam kita nonton," jawab Aiden. "Emm De, kalau status pernikahan kita disembunyiin gimana menurutmu?" tanya Aiden hati-hati.
"Terserah," jawab Dea.
"Maaf ya,"
"Gamasalah," jawab Dea.
"Em.. habis ini aku mau ngasih tau Devano biar dia gak nyebar luaskan pernikahan kita," ujar Aiden