Chapter 18

1601 Kata
"Mm...sshh..." Popy membuka matanya, gadis 22 tahun itu baru saja bangun dari tidur. "Dikamar...ayah dan yang lainnya mungkin sudah pulang dari pertemuan..." gumam gadis itu. Namun, Popy mengerutkan keningnya. "Apa tadi mimpi..." Flashback Tok Tok Tok Ceklek "Miss, this is the warm milk you asked before." Pelayan perempuan memberikan seceret kecil s**u hangat ke arah Popy. (*Nona, ini s**u hangat yang anda minta.) "Thank you." Ujar Popy. Pelayan itu mengangguk sopan lalu tersenyum. Ceklek Popy menutup kembali pintunya. Tak Tak Tak Sret Popy berjalan dan duduk di pantry kecil ruang hotel yang mereka pilih. Crreeett Sryuup Popy menuang s**u hangat ke gelas dan meminumnya. "Mungkin Poko capek aja kali yah kan tadi pagi sampai siang bareng Cassy keliling kota." Popy meneguk lagi s**u hangat itu sampai tak tersisa. "Em? Apa ini?" Popy mengerutkan keningnya. Popy baru menyadari bahwa ketika pelayan memberikan ceret kecil tadi kepadanya, ada juga sesuatu yang terselip, tapi dia tidak tahu apa itu. "Gulungan kertas?" Popy meraih gulungan kertas itu, ukurannya kecil hanya seruas jemari telunjuk. Sret Popy membuka gulugan kertas kecil itu. 'Aku juga menyukaimu' Satu kalimat yang Popy baca di kertas itu. Lalu matanya melirik ke sudut kertas yang paling bawah. 'Tempat parkir, Ben.' Dag Dag Dug Bunyi detakan jantung Popy, gadis dua puluh dua tahun itu terpaku ke arah kertas yang baru saja dia baca. Dag Dug Dag "Ben..." gumam gadis itu. "Menyukai...ku..." Sret Tak Tak Tak Ceklek Tanpa alas kaki, gadis berambut merah bata itu keluar dari ruang hotel. "Ben..." "Ben..." Popy melirik ke atas lift. "Baru lantai sepuluh..." gumam Popy di dalam lift. Ting Sret Tak Tak Tak "Huh! Huh! Huh!" Popy melihat ke segala arah ruang parkir bawah tanah yang bisa dia lihat. Sret Sret Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari-cari sesuatu. "Ben..." Tak Tak Tak Hap "Hak!" "Popy..." Pelukan dari belakangnya. Sret Popy berbalik namun pandangan matanya kabur, lalu perlahan tertutup. "Ben..." Flashback end Sret "Ben," Popy bergumam nama Ben, lalu dia bangkit dari tempat tidur, Popy bahkan membuang selimut yang menutupinya. "Popy..." Sret Popy berbalik ke belakang, suara Ben memanggilnya. Pria 29 tahun itu sedang berdiri di dekat pintu. Ben baru saja memasuki pintu kamar dan dia menutupnya, lelaki itu melihat bahwa Popy telah bangun. Senyum tipis terlihat dari bibirnya, lalu lama-kelamaan senyum itu melebar. Tak Tak Sret Sret Ben berjalan maju dua langkah, Popy mundur ke belakang dua langkah. Sret Ben berhenti berjalan, dia memandangi Popy. "Huh...huh...huh..." napas gadis dua puluh dua tahun itu tak beraturan ketika dia memandang ke arah Ben. Mereka memandang selama setengah menit. Bola mata Popy melirik ke segala arah dimana tempat dia berada. Kamar luas, ranjang king size, permadani, ruang yang elegan. "Dimana ini?" batin Popy. "Ini bukan kamar hotel Poko." Popy memandang ke arah Ben yang sedang berjalan maju. Tak Tak Sret Sret Popy mundur, melihat penolakan Popy padanya, Ben terlihat panik. Senyum lebar tadi hilang. "Popy..." "Ini aku, Ben." "Ya, Poko tahu, kamu Ben." Balas Popy. "Poko mau pulang," ujar Popy. Wajah Ben berubah cemberut. Lelaki itu menggeleng. "Kita...kita..." "Poko mau pulang," Popy mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Popy--," "Ben, Poko mau pulang, jangan dekat-dekat Poko lagi--," "Popy--," "Ben sendiri yang bilang kalau Poko seperti murahan--hhmmpph!" Tak Tak Sret Bruk "Ahmmmpphh!" gadis dua puluh dua tahun itu membulatkan matanya. "Aahmmpp!" Sret Sshh Ben, pria dua puluh sembilan tahun itu menarik paksa tubuh Popy dan menyedot bibirnya. Buk Buk Buk Popy memukul-mukul bahu dan badan Ben. Namun pria itu tak merespon. Buuuk Sret Tubuh mereka berdua jatuh di atas ranjang, Ben menindih Popy. "Mmpph-aahh! Huh! Huh! Huh!" Ben melepaskan ciumannya, Popy menghirup napas sebanyak-banyaknya. "Huh! Huh! Huh!" deru laju napas Ben. Pria itu memandang lurus ke bawah matanya, mata birunya beradu dengan manik mata coklat Popy. "Popy, huh! Huh! Huh!" "Poko mau pulang," Popy tersadar, dia membalas pandangan Ben di atasnya. Ben menggeleng. "Popy, kita pergi, ok?" ujar Ben. "Ha?" "Maksud Ben?" Popy bingung dengan ucapan Ben. "Aku menyukaimu Popy, aku suka kamu!" telapak tangan kanan Ben menyentuh pipi kiri Popy. "Bohong! Hiks..." Popy menahan isak. "Aku menyukaimu, dari dulu, dulu sekali, sudah lama." Ujar Ben serius. Gleng gleng Popy menahan tangis yang keluar dari tenggorokannya. "Ben bohong, Ben bohong," "Aku tidak bohong." Balas Ben yakin. "Kalau selama ini Ben suka juga dengan Poko, Ben nggak akan abaikan Poko terus-terus, Ben nggak akan ninggalin Poko di setiap Poko ketemu dengan Ben, kalau Ben suka sama Poko, Ben nggak mungkin abaikan Poko ngajak Ben makan siang terus, kalau Ben suka sama Poko, Ben nggak akan nolak sarapan yang Poko bawa, kalau Ben suka sama Poko, Ben nggak mungkin cuek dan jutek sama Poko." Sreett Popy menjauhkan dirinya dari Ben, gadis dua puluh dua tahun itu mendorang tubuh Ben dari atasnya. Sret "Hiks! Hiks! Ben Jahat! Bener kata Gaishan, Ben itu orang jahat! Ben itu orang Jahat! Jangan dekat-dekat Poko! Poko mau pulang!" gadis itu berteriak lantang ke arah Ben. "Popy," "Poko mau pulang! Poko mau pulang! Ayah Ran! Bunda! Poko mau pulang!" gadis yang telah tersakiti hatinya itu berteriak histeris ke segala arah di dalam kamar itu. "Popy--," "Apa! Ben jahat! Ben jahat! Jahat! Hiks! Hiks!" Popy terisak kuat. "Ben itu pembohong! Pembohong! Kenapa bilang suka sama Poko hah?! Ada nona Tinar! Ben yang suka nona Tinar kan? Ya kan? Ben bohong! Ben suka nona Tinar kan? Bukan Poko!" Popy berteriak marah ke arah Ben. "Ben mau tunangan dengan dia kan? Ya kan? Ben pembohong! Pembohong! Pembohong!" Sret Hap "Lepas! Poko mau pulang!" teriak Popy. "Ben jahat! Penjahat! Ben bohong! Pembohong!" "Ya, aku pembohong." Ben memeluk erat Popy. Sret "Leepaass! Jahat! Jahat!" "Ya. Aku jahat." Ujar Ben. Sret Ben meraih wajah Popy yang memerah karena marah, frustasi dan kekecewaannya selama ini, selama empat belas tahun dia menyukai Ben, selama tujuh tahun bertahan mengejar cinta Ben. Namun yang hanya gadis itu dapatkan adalah sikap tak acuh dari Ben. "Hiks! Hiks! Hiks! Poko mau pulang..." gadis itu terisak di pelukan Ben. "Aku memang pembohong. Aku berbohong padamu, ya. Pembohong." Ujar Ben. "Selama empat belas tahun aku berbohong kepada semua orang, aku berbohong kepada ayah dan ibuku, aku berbohong kepada ayah dan ibumu, aku berbohong kepada saudara-saudaramu, dan aku juga berbohong kepadamu." Ujar Ben dalam. "Aku mengabaikanmu, aku berbohong pada diriku sendiri bahwa selama empat belas tahun ini, aku tidak menyukaimu." "Tapi tidak bisa, setelah bertemu denganmu, gadis cilik yang datang kerumahku dengan dress sepaha merah marun, aku mengingatnya! Setiap malam!" Popy terpaku, dia tak berbicara, matanya melirik ke arah mata Ben yang sedang frustasi. "Popy, tahukah kamu, aku malu pada diriku sendiri, aku malu pada semua orang!" "Aku, remaja lima belas tahun punya fantasi dan mimpi yang menjijikan kepada gadis kecil berumur delapan tahun!" "Hah!" Popy tercengang ketika mendengar pengakuan Ben. "Selama empat belas tahun, Popy. Empat belas tahun kamu terus datang dan masuk ke dalam mimpiku." "Dari empat belas tahun sampai sekarang, bayangan kecil dirimu, gadis cilik dari empat belas tahun yang lalu selalu masuk ke dalam mimpiku." Suara Ben frustasi. Sret Ben melepaskan wajah Popy. Pak Pak Pak "Tidak bisa keluar gadis kecil itu dari kepalaku!" Pak Pak "Haaa! Ben!" Popy berteriak ketika melihat Ben memukul kepalanya di dinding. Pak Pak "Tidak bisa keluar! Apa aku p*****l? Aku penjahat! Aku penjahat!" Pak Pak "Haa! Ben! Jangan! Jangan!!" Pak Pak Sret Hap Popy menarik Ben menjauh dari dinding kamar dan memeluknya erat. "Hiks! Hiks! Hiks! Jangan! Jangan! Hiks! Hiks! Mmmmppp!" Popy menahan tangisnya. "Aku penjahat!" Gleng gleng Popy menggeleng kuat. "Nggak! Ben bukan penjahat!" "Aku penjahat! Aku penjahat! Kamu benar, aku penjahat!" Gleng gleng Popy menggeleng kuat. "Nggak! Ben bukan penjahat! Poko ada disini, pukul Poko saja, jangan kepala Ben," gadis itu terisak. "Fantasi yang aku impikan, itu dengan gadis kecil, gadis kecil itu kamu, kamu, kamu Popy, aku tidak tahu apa yang terjadi dengan ingatanku, kamu sudah berubah tidak lagi berpenampilan seperti gadis kecil empat belas tahun yang lalu," Ben memasukan wajahnya ke ceruk leher gadis yang selama empat belas tahun ini selalu membayanginya. "Tapi bayangan kamu tidak pernah berubah, selalu saja aku bermimpi dengan kamu yang berumur delapan tahun, aku penjahat kan? Penjahat!" Gleng gleng Popy menggelengkan kepalanya kuat. Tangannya mengusap-ngusap kepala Ben. "Ben bukan penjahat, Ben bukan penjahat," Popy berguman kalimat-kalimat itu. "Gadis kecil itu, gadis kecil itu datang menghampiri aku, aku malu pada semua orang, aku p*****l!" Ben frustasi. "Poko yang salah, Poko yang salah, itu salah Poko." Popy menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Ben. Gadis dua puluh dua tahun itu tidak pernah tahu akan perasaan dan tekanan yang dimiliki Ben sejak lama. "Hiks! Poko yang buat Ben begini, Poko yang buat Ben begini." Guman Popy berulang-ulang. Sret "Ah...Ben...darah." Popy melihat jemarinya yang dia usapkan ke kepala Ben, darah memenuhi ubun-ubun pria itu. Sret Popy mengapit wajah Ben dengan kedua telapak tangannya. "Darah, Ben..." ♡♡♡ Sret Popy meletakan kembali alkohol dan yang lainnya ke dalam kotak kesehatan. Matanya kembali melirik ke arah Ben. Kepala pria dua puluh sembilan tahun itu terlihat mengenakan kapas pembalut luka. Sret "Hakmmmpph!" Sshh Shh Shh Lama ciuman Ben bersarang di bibir Popy, pria itu menindih Popy yang ada di bawahnya. Sret "Ah Ben," Popy terkaget, Ben menciumnya kuat, tangan lelaki itu membuka restleting belakang dressnya. "Ben-hmmpp!" Sret Ben menurunkan leher dres hitam yang dipakai Popy, terlihat ceruk leher yang indah, putih dan bersih. "Huh! Huh! Huh!" napas pria itu memburu, panas, seperti terbakar sesuatu. "Ben-hhmmpp!" suara Popy tertahan. Ciuman itu turun ke arah lehernya. Popy seperti bisu, dia tidak berani bergerak. Sret Sret Sshhh Sshh Tangan pria dua puluh sembilan tahun itu mengusap tubuh Popy. Sret "Aa! Jangan..." Popy terkaget ketika tangan kiri Ben memasuki dres yang ia pakai. "Jangan..." suara gadis itu bergetar takut. "Ben...itu dosa..." suara Popy luar biasa bergetar. Sret Ciuman Ben di leher Popy terhenti, begitu juga dengan tangan Ben yang memasuki dres Popy. Sret Ben memberi jarak antara tubuhnya dan Popy, hanya beberapa centimeter. Mata Popy berair, lalu sudut mata gadis itu meluncurkan setetes air mata. "Apa kau mencintaiku?" suara serak Ben terdengar. Jantung Popy dag dig dug ketika mendengar pertanyaan Ben. Lalu dia mengangguk pelan. Sret "Dosa...Ben...itu dosa..." Ben berhenti ketika ingin melanjutkan niatnya. "Ini...tidak boleh..." "Ini dosa...Ben...dosa..." gumam Popy bergetar. Ben memandangi Popy lama. "Dosa...ini dosa..." batin Ben mengulang ucapan Popy. Ben terpaku dengan pikirannya selama beberapa saat. "Dosa...ya, ini dosa," gumam Ben di atas tubuh Popy. Sret Sret Ben memperbaiki dres yang dipakai Popy, dia menarik kembali restleting dress itu agar tertutup. Sret Sret Ben memperbaiki rambut gadis merah bata itu. Lalu Ben membawa tubuh Popy ke pelukannya. Mereka berbaring di atas ranjang itu tanpa bergerak. Setelah beberapa lama mereka terdiam, Ben yang memeluk Popy membuka suara. "Besok setelah kapal ini berlabuh, kita akan menikah di Kuala Lumpur," "Ha?!" Popy terkaget. "Ini...ini kapal pesiar?" Ben mengangguk. "Menikah? Di Kuala Lumpur?" Ben mengangguk. "Tapi ayah Ran dan yang lainnya bagaimana?" "Popy..." panggil Ben pelan. "Ya?" sahut Popy. "Apakah kamu percaya bahwa ayahmu akan menerima dan merestui aku denganmu setelah selama ini melihat perlakuanku padamu?" Gleng Gleng Popy menggeleng. "Apakah kamu akan percaya jika seluruh keluargamu, saudaramu dan keluargamu yang lain akan menerima aku setelah mereka melihat perlakukanku padamu selama tujuh tahun ini?" Gleng gleng Popy menggeleng. "Apakah kamu percaya bahwa tante dan om kamu yang lainnya akan menerima aku bersama denganmu?" Gleng gleng Popy menggeleng. Sret Ben memeluk erat Popy. "Kamu tahu, keluargamu tidak mungkin menerima aku menjadi menantu mereka," ujar Ben. "Ini adalah jalan satu-satunya..." lanjut Ben. "Kawin lari." ♡♡♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN