"Apa?"
"Liham, kamu kalau bercanda jangan sekarang deh, nggak lucu." Bilal dongkol setengah mati, mereka menunggu Liham memanggil Popy sudah satu jam, namun dua bersaudara itu belum juga muncul.
Tak
Tak
Tak
Brak
Bilal mendengar suara langkah kaki, bukan langkah kaki, tepatnya suara lari adiknya dari seberang telepon.
Bilal bingung, dia melihat ponselnya dan mengerutkan keningnya.
"Kenapa sih?"
"Kenapa Bilal? Mana Poko dan Liham? Ini sudah satu jam, mereka kok belum ada juga?" Laras bertanya ke arah Bilal.
Liham menoleh ke arah neneknya.
"Em...itu nek.." Bilal tak yakin apakah harus membertahukan kepada Laras apa yang Liham beritahu padanya.
"Apa? Poko dan Liham mana?" Laras menanyakan Popy dan Liham lagi ke Bilal.
Bilal bingung, mau jawab apa, untuk beberapa saat dia menyusun kalimat yang tepat.
"Bilal, ini sudah satu jam Liham memanggil kakak kamu, tapi mereka belum datang juga," Iqbal menoleh ke arah cucunya.
"Itu kek, tadi Liham bilang ke Bilal kalau..." Bilal melirik ke arah Randra dan Moti, entah dia ingin memberitahukan pada orang tuanya tentang apa yang dikatakan Liham.
"Kalau...itu katanya--,"
"Ayah! Huh! Huh! Huh!"
Liham berlari cepat ke arah mereka dengan ngos-ngosan, kentara sekali bahwa dia lari tak berhenti, bahkan berada di dalam lift hotelpun tak berhenti bergerak gelisah, berdoa agar lift sampai di lantai restoran.
"Kak Poko, kak Poko nggak ada dikamarnya, huh...huh...huh..." Liham mengambil napas.
"Hah? Poko nggak ada dikamar bagaimana maksudnya?" Laras menoleh kaget ke arah Liham.
"Maksud kamu apa sih Liham? Tadi kamu sendiri kan yang bawa kak Poko ke kamar?" Alan bertanya.
"Liham, yang jelas kalau bicara," Iqbal menimpali.
"Ayah...kak Poko nggak ada di kamar, tadi jam setengah empat sore Liham dan Cassy ngantar kak Poko ke kamar, tadi waktu Liham manggil kak Poko, nggak nyahut, Liham cari ke balkon dan kamar mandi nggak ada, Liham telepon juga hp kak Poko ada di kamar, terus...huh...huh...huh..." Liham menjelaskan, dia kewalahan karena napasnya.
"Lalu Liham cari di sekitar lantai hotel tapi nggak ada, Liham tanya juga di setiap staf hotel yang Liham temui, tapi kak Poko nggak ada, Liham pikir kak Poko udah turun makan disini," Liham menjelaskan sambil mengepalkan kuat kepalannya.
Sret
Randra berdiri seketika dari tempat duduknya, sedangkan Moti terkejut.
"Ran, itu Poko..." Moti memandang ke arah Randra.
"Kau disini dulu, aku akan pergi menemui menejer hotel ini," Randra menyentuh bahu sang istri.
Moti mengangguk mengerti.
Sepeninggal Randra, Moti dan anggota keluarga Basri yang lainnya sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
"Tenang, mungkin Poko sedang jalan-jalan di sekitar hotel ini, disini kan fasilitasnya bagus," Iqbal bersuara.
Laras dan yang lainnya mengangguk.
Lima belas menit mereka menunggu Randra, terlihat pria 50 tahun itu berjalan mendekati mereka diikuti oleh beberapa orang di belakangnya.
"Ran," Moti melihat ke arah Randra.
"Poko mana? Kok nggak ada?" Moti melirik ke belakang Randra.
Seketika wajah suaminya itu berubah jelek, setelah melihat kamera cctv hotel, dia melihat bahwa putrinya memang bersama Liham dan Cassy pada jam setengah empat sore, setelah Popy masuk ke dalam kamar, Liham dan Cassy berbalik dan menaiki lift, setelah beberapa saat seorang staff hotel mengetuk pintu kamar ruang menginap mereka membawakan s**u hangat yang Popy minta, gadis itu merasa agak lelah, namun setelah beberapa saat Popy keluar dari ruang hotel mereka tanpa alas kaki, terlihat dari kamera cctv bahwa Popy turun sampai ke lantai parkir, setelah di tempat parkir bawah hotel, jejak Popy menghilang.
"Mrs. Basri, sorry for this uncomfortable, we will handle this problem soon," terlihat seorang pria asia paruh baya menunduk menyesal ke arah Moti.
(*Nyonya Basri, maaf untuk ketidaknyamanan ini, kami akan segera menangani ini segera.)
Moti mengerutkan keningnya.
Dia melirik ke arah Ran.
"Ran...maksudnya apa?"
Randra yang mendapat pertanyaan istrinya menutup mata dan menarik napas, lalu dia menunduk di hadapan Moti.
Sret
Randra memegang kedua bahu istrinya, dia berusaha menetralkan emosinya, entah dia mau bilang apa ke arah istrinya.
Lama ia menyusun kalimat di dalam pikirannya.
"Moti..." suara Randra terdengar dalam, dia berusaha agar tidak menakuti istrinya.
"Ya? Ran, ada apa?" Moti memandang penasaran ke arah Randra.
"Ini...ini belum diketahui apakah...ini...pen-nculikan atau...tidak," seperti beban berat yang menimpa jantungnya ketika Randra mengatakan kata 'penculikan', di akhir kalimatnya dia berharap bahwa itu tidak benar-benar terjadi.
"Ap-pa?" Moti terpaku ke arah Randra.
Manik matanya beradu dengan suaminya.
"Ini...ini belum diketahui apakah...ini...pen-nculikan atau...tidak," kalimat Randra terulang di kepalanya.
"Penculikan..." batin Moti mengulang.
"Penculikan...penculikan..."
Slash
"Momok kenapa sih larang-larang bunda sama yang lainnya ke kantor ayah?!"
Slash
"Bunda! Bunda jangan pergi! Kak Cika! Ayo bilang bunda balik lagi!" Moti menjerit-jerit.
"Diam Momok!"
Slash
"Ini hari penting ayahmu! Kau kenapa begini?!"
"Beri bunda alasan--,"
Ciiittt
"Akh!"
"Aaa! Itu mereka! Itu mereka!"
Tak
Tak
Tak
Brak
Bugh
Bagh
Krek
Krak
"Aaa!"
"Hmp!"
Cisss ciss ciss
Slash
Tangan Moti memegang kuat telapak tangan Randra.
Sret
"Huh! Huh! Huh!" napas perempuan empat puluh delapan tahun itu mulai memburu.
Randra menyadari kelainan istrinya.
"Moti, Moti, hei! Tenang, aku disini."
Randra berusaha menenangkan istrinya.
Slash
"Kita ketahuan! Polisi sudah tahu tempat ini!"
Moti mengingat seruan salah seorang pria.
"Tunggu komando dari bos,"
"Hmmmppp!"
Slash
Moti mengingat kembali memorinya 30 tahun yang lalu.
Slash
"Bunuh mereka!"
Suara wanita itu memasuki memorinya sekali lagi.
"Tapi bos--,"
"Ini intruksi bos, polisi sedang kemari!"
"Baik,"
"Mmpphh! Mmmppphhh!"
Slash
Moti menggeleng-geleng.
"Huh! Huh! Huh!" napas ibu empat anak itu memburu.
"Ibu! Gea! Gilan! Kak Cika! Huh! Huh! Huh!"
"Moti, ini aku, hei, sayang, ayo bernapas, tenanglah," Randra berusaha menahan rasa paniknya.
"Bunda," Alan dan dua adiknya mendekati ibu mereka.
Sedangkan Iqbal dan Laras terlihat hendak berdiri dari tempat duduk mereka.
Slash
"Bawa gadis ini ke luar dan bunuh semuanya!"
Tak
Tak
Tak
"Polisi datang!" seru mereka.
"Bawa gadis itu!"
Sret
Sret
Sret
"Hmmppp!"
Moti menggeleng histeris, ia memegang dadanya.
"Huh! Hah! Ah! Ah!"
"Moti!" Randra benar-benar panik ketika Moti menggeleng dan berteriak histeris.
"Momok hanya punya satu anak perempuan! Momok hanya punya satu anak perempuan! Aaaaaaa! Poko! Poko! Ran! Ran! Poko!" Moti, perempuan empat puluh delapan tahun itu menjerit histeris ke arah sang suami.
"Aah! Aah!" Moti memegang dadanya, dia merasakan rasa sakit seperti di tusuk pisau.
Jantungnya ditikam pisau. Ya, itu yang dia rasakan sekarang.
"Ran! Ran! Poko! Culik! Mereka culik! Aaaakh! Pisau! Bunda! Ayah!" Moti berteriak histeris.
"Moti!" Randa memgang kuat sang istri.
"Moti sadar!"
"Tidak akan terjadi apa-apa!"
Slash
Sret
Sret
Sret
"Tangkap mereka!"
Dor
Dor
Sret
Sret
"Hmmmmppphhh!"
Slash
Moti mengingat ketika mulutnya dibungkam, mengingat kembali bunyi tembakan-tembakan anak buah ayahnya.
Slash
"Jangan mendekat!"
Slash
"Pisau!" Moti meracau sembarangan.
Slash
Sret
Tak
Tak
Tak
"Kau sudah terkepung!"
"Sial,"
Tak
Tak
"Sudah kubilang jangan maju!"
Slep
"Hik!"
Slash
"Aaaakkh!" Moti berteriak histeris ketika mengingat benda dingin berupa pisau yang menyayat lehernya.
Moti mengingat darahnya turun deras dari lehernya.
Slash
"Moti!"
Dor dor dor dor dor dor dor
Braaak
Bruukk
"Moti!"
"Moti! Bertahan! Kita akan ke rumah sakit!"
Slash
Moti mengingat suara Aran yang panik di dalam memorinya.
"Huh! Huh! Huh! Haak! Haaaak!" udara disekitar Moti terasa kosong.
"Moti!"
"Bunda!"
"Moti!"
"Hak...Po...ko..."
Sret
Pandangan perempuan 48 tahun itu gelap.
"Bunda!" Alan dan dua saudaranya histeris ketika melihat mata merah berair ibu mereka tertutup seketika.
"Moti!"
"Sayang! Bangun!" mata pria 50 tahun itu merah.
"Aaahh dadaku..."
Bruk
"Nenek!"
♡♡♡
Bruk
Sret
"Ah...huh...huh..huh..."
Agil memegang d**a sebelah kirinya, dia meringis sakit.
"Agil, ada apa?" Riandri yang berbaring di ranjang, bangun dan menghampiri suaminya di sebelahnya, setelah suaminya mengangkat telepon itu, tak berapa lama suaminya menjatuhkan ponsel lalu memegang d**a.
Sret
"Agil," Riandri mendekat.
"Aahh...Momok...aduh...Rian-ndri..." Agil berbalik ke arah Riandra sambil menahan d**a kirinya.
Riandri yang melihat suaminya, membulatkan matanya.
"Agil! Tenang! Hei!"
"Momok...bund-da...ay-yah..."
Slash
"Tidak!"
"Ayah!"
"Bunda!"
"Aaaakhhh! Jangan! Jangan!"
Slash
Agil mengingat ketika dia berteriak agar peti mati sang ayah tidak diturunkan.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Ayah! Bunda! Haaaaa! Apa yang kalian lakukan!? Lepaskan aku!"
Slash
Napas pria 50 tahun itu memburu.
"Aaaa! Kenapa begini? Ayah! Bunda! Jangan pergi!"
"Aaaa!"
"Hiks!"
"Aaaaa!"
"Aaaa! Jangan! Jangan! Jangan! Jangan! Tidaaaaakkk!" Agil histeris.
Slash
Jeritan dan teriakan histeris keluarganya ketika mengingat pemakanan kedua orang tuanya, 30 tahun yang lalu.
"Aaahh...Momok...Poko...ad-dduh...dadak-ku...sak-kit..."
Bruk
"Aaaaahhhh! Agil!" Riandri berteriak ketika suaminya ambruk menimpa dirinya sambil memegang dadanya.
"Ari! Alam!"
"Bawakan tas kesehatan mama!"
"Agil!" Riandri berteriak.
Tak
Tak
Tak
Tok
Tok
Tok
Brak brak brak
"Ma! Mama! Ini Alam!"
Alam lari cepat ke arah kamar orang tuanya setelah mendengar teriakan sang ibu.
"Ma! Buka!"
"Ari! Alam! Alat kesehatan mama! Dobrak saja pintunya!" Riandri berteriak.
"Papa kamu!"
Brrrruuaaakk
Pum!
Tak
Tak
Tak
"Huh! Huh! Huh!"
Alam masuk setelah mendobrak pintu kamar orang tuanya, beberapa detik kemudian Ariansyah datang menenteng tas kesehatan ibunya.
Mereka melihat ibu mereka sedang memeriksa sang ayah. Lalu Riandri terlihat syok, dia menoleh ke arah Ari dan Alam.
"Bawa ke rumah sakit sekarang, serangan jantung!"
♡♡♡
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan dari luar pintu kamar.
"Nyonya, ada telepon dari tuan Ghifan, dari Singapur." Suara Atik dibalik pintu, dia memegang telepon rumah tanpa kabel.
"Ehhmm..." Gea yang hampir tertidur lelap, membuka matanya.
"Nyonya, tuan Ghifan bilang ini penting," Atik memanggil Gea lagi.
"Uuh..." Gea melirik ke arah suaminya, terlihat Busran sudah tertidur lelap, lalu dia melirik ke arah jam tidur di arah nakas.
"Jam sebelas, ada apa Ghifan telepon jam segini...uuuhhh..." Gea bangun dan turun dari ranjang.
Sret
Tak
Tak
Tak
Ceklek
"Ada apa? Ghifan bilang apa?" Gea bertanya ke Atik dengan suara serak baru bangun tidur.
"Ini nyonya, tuan Ghifan telepon, katanya penting, tapi tidak bilang ke saya, ingin langsung berbicara ke nyonya." Jawab Atik.
"Mm, mari." Gea mengangguk mengerti lalu dia mengambil telepon yang diberikan Atik.
"Halo, Ghifan, ada apa?"
"Ma, tante Momok masuk rumah sakit jam delapan malam tadi, beliau terkena serangan jantung...lalu...lalu...Poko...Poko diculik orang tidak dikenal,"
Brak
Gea menjatuhkan telepon yang dia pegang.
Glik
Tak lama kemudian matanya tak berkedit.
"Nyonya," Atik mengambil telepon yang dijatuhkan oleh Gea.
"Poko diculik orang tidak dikenal." Suara Ghifan tergiang.
Slash
"Bos bilang harus singkirkan kalian,"
Slep
"Aakhh!"
"Gilan!"
Sret
Sret
Slep
"Aakhh!"
"Hmmpp!"
Bruk
Bruk
Slep
Slep
"Aakhh!"
"Gilan! Tidak!"
Bugh
Brak
"Hmmmpphhh!"
"Aaa! Jangan! Jangan lagi!"
Slep
"Akh!"
"Gea!" Nulani histeris.
Slep
"Akh!"
Brakk
Pum
"Tidak!"
Slep
Slep
"Aaarrghh!"
"Bunuh mereka!"
Dor
"Aakh!"
Sret
"Nulan!"
Dor
"Akh!"
Bruk
Brak
"Polisi datang! Keluar!"
Tak
Tak
Tak
Slash
"Nyonya!"
"Tolong!" Atik panik.
Sret
"Ah! Ha! Gea!" Busran terbangun paksa dari tidurnya.
♡♡♡