"Apakah Ben sudah bangun?" Mali bertanya ke arah salah satu pelayan.
"Tuan belum terlihat keluar dari kamarnya, nyonya," jawab pelayan itu.
Mali terdiam, tadi malam Ben pulang dari pesta pameran yang diadakan oleh Fashionable Group, Fashionable Group dulu merupakan kolega bisnis Ruiz Food Company. Pipi kiri putranya membiru dan bengkak, pasti terjadi sesuatu di pesta itu.
Mali melirik ke arah suaminya yang sedang mengunyah roti sandwich.
"Kau pasti sudah tahu apa yang terjadi di pesta pameran tadi malam, beritahu aku."
Srup
Silvio belum menjawab, dia menyeruput s**u hangatnya.
Lalu dia balas melirik ke arah Mali.
"Masalah pribadi." Jawab Silvio singkat.
"Hem, masalah pribadi apa? Beritahu aku."
Sret
Mali duduk dan memandang serius suaminya di meja makan.
Silvio berhenti mengunyah sandwichnya, dia meletakan sandwich itu kembali ke piringnya.
"Itu yang aku tahu, selebihnya tidak."
"Bohong, aku tahu informanmu bukan cuma hanya menejer Indro dan beberapa eksekutif Ruiz Food Company lainnya, sekretarisnya pun termasuk informanmu." Mali melirik tajam ke arah Silvio.
Kali ini, Silvio memandang serius ke arah istrinya.
"Dari--,"
"Tidak perlu tanya darimana aku tahu ini, itu tidak penting, yang ingin aku tahu adalah apa yang terjadi di pesta itu tadi malam." Sela Mali.
"Hal kecil dengan seseorang,"
"Jangan mempermainkan aku, Silvio, kita sudah menikah selama tiga puluh tahun, aku tahu tabiatmu, aku tahu semua yang ada dan yang terjadi di keluarga Ruiz."
"Aku tahu mereka, aku juga tahu pendidikan yang kau terima ketika muda, tapi Ben adalah putraku, tinggalkan saja Ruiz itu lebih baik--,"
"Amor!"
(*Cinta)
Silvio menyela ucapan Mali, pria 52 tahun itu terlihat sedang menetralkan emosinya.
Sret
"Kau jangan lupa sarapan, aku akan pergi menemui mitra bisnis kita menggantikan Ben,"
Cup
Sret
"Hump!" Mali menghindar dari kecupan sang suami, bibir suaminya menyentuh rambutnya.
Sret
"Ahmpph!"
Buk
Buk
Buk
Sret
Silvio melepaskan ciumannya dari bibir sang istri. Mali memukul-mukul bahu sang suami agar melepaskannya.
Tak
Tak
Tak
Silvio berjalan menjauh dari arah ruang makan tanpa rasa bersalah atau malu.
Wajah Mali memerah bagikan tomat, dia menutupi wajahnya, Silvio mencium dirinya didepan beberapa pelayan yang bekerja di rumahnya.
♡♡♡
"Poko, bagaimana pestanya tadi malam, apakah meriah?" Laras bertanya antusias kepada sang cucu ketika sarapan.
Ting
Popy tak sengaja menjatuhkan sendok yang berisi nasi goreng ke piring.
Sret
Popy melirik ke arah Laras.
"Hm, pestanya keren, Gaishan pintar banget nyusun acara begituan," Popy mengangguk antusias
Sedangkan Alan hanya menundukan kepalanya di meja makan, dia tidak memandang ke arah keluarganya.
Tadi malam, setelah Nibras mengantarkan Popy pulang, Alan juga pulang dari pesta setelah mengantar pulang Nisa, pacar yang tiga tahun lebih tua darinya. Lalu setelah itu dia langsung pulang dan Randra sudah menunggunya di ruang kerjanya.
Wajah Randra jelek ketika dia mengetahui bahwa, Ben, laki-laki yang membuat putrinya patah hati itu menemui dan menyentuh Popy.
"Semeriah apa sih pesta disana? Bunda kok penasaran?" Moti tersenyum ke arah Popy.
"Banyak pakaian bagus-bagus bun, mereka juga bawa-bawa sayur, hehehehe." Popy tersenyum ke arah Moti.
"Emm begitu yah, bunda juga pengen lihat, tapi sayang tidak bisa terlalu lelah," Moti manggut-manggut.
Sret
Randra memberikan s**u yang biasa diminum sang istri dari kecil.
"Nanti kita akan pergi ke Singapur, kalau kamu ingin pergi, kita satu keluarga akan pergi ke sana,"
"Benarkah? Ran nggak bohong kan?" Moti memandang antusias ke arah Randra.
Randra menggangguk.
"Ada acara pertemuan bisnis besar disana, jadwalnya satu bulan dari sekarang, kita akan ke sana satu minggu sebelum acara dimulai, apakah kau mau?"
Glung glung
Moti mengangguk antusias.
"Tentu saja Momok mau kesana, kita semua kan?"
Randra mengangguk.
"Iya, sekeluarga."
Hap
Moti memeluk suaminya.
"Sayang Ran."
"Mmcuah!"
"Ehm," beberapa anggota keluarga Basri berdehem.
Moti melirik ke arah mereka.
"Hehehe."
"Poko juga mau pergi ayah, Singapur kan?" Popy bersuara.
"Benar, Singapur." Randra tersenyum ke arah Popy.
"Yeee!"
♡♡♡
"Ibas cucuku, aku dengar dari ayahmu kalau kau pergi ke pesta bersama calon istrimu?" Lia sedang menyuapkan bubur ayam ke dalam mulutnya, makanan kesukaan dari muda hingga tua, selalu tersedia di kediaman Nabhan.
"..."
Nibras yang sedang melamun di depan meja makan tak mendengar pertanyaan neneknya.
Tak mendapat respon cucunya, Lia bertanya lagi.
"Wahai Ibas, cucuku, ada apakah denganmu?"
"..."
"Wahai Ibas, cucuku-uhuk! Uhuk!" Lia tersedak bubur ayamnya.
Sret
"Sayang, minum dulu." Agri mengusap-ngusap punggung istrinya, dia mengambil serbet dan membersihkan sisa bubur yang menempel di bibir Lia. Lalu dia mengambil segelas air teh yang biasa diminum istrinya.
Twek
"Ibas!"
"Hak! Kakek!" Nibras terkaget ketika mendengar suara tajam kakeknya.
"Ahmmp...itu..." Nibras tergagu, entah dia ingin berkata apa, sejujurnya dia tidak mendengar sedikitpun pertanyaan dari neneknya. Pikirannya melayang ke arah pesta tadi malam yang dia datangi dengan Popy.
Agri memandang tidak suka ke arah Nibras. Karena Nibras, istrinya tersedak bubur ayam.
"Em...ibu, makanlah hati-hati-ahmp!" Farel yang mendapat tatapan tajam ayahnya menelan kembali kalimatnya.
"Sial, kenapa Ibas bisa tuli hari ini." Batin Farel dongkol.
Jihan Kamala, sang istri dari Farel, mencubit paha sang suami.
Cuk
"Auhmp!" Farel mendesis sakit, lalu cepat-cepat dia menutup mulutnya.
Jihan memberi peringatan kepada suaminya melalui tatapan yang berarti. "Jangan buka suara kalau menyangkut ibu."
"Aku juga tahu." Batin Farel membalas peringatan sang istri, seperti dia dan istrinya terhubung satu sama lain.
♡♡♡
'Business meeting in Singapore, please come and join, we hope
Dear. Mr. Alexander B. Ruiz.'
Sret
Ben menutup undangan VIP yang ada di tangannya.
Sret
Dia terlihat meraih ponselnya, butuh sekitar satu menit, panggilan internasional itu terhubung.
"Sam, am I disturbing your time?"
(*Sam, apakah aku menganggu waktumu?"
Ben menoleh ke arah arlojinya, menunjukan pukul lima sore.
"Oh Ben, of course not, do you need anything?" terdengar suara sahutan di seberang telepon.
(*Oh Ben, tentu saja tidak, apakah kamu membutuhkan sesuatu?)
"Yes, i need your help,"
(*Ya, aku butuh bantuanmu.)
"What is it?"
(*Apa itu?)
"I want you to do something there for me, do you mind?"
(*Aku ingin kamu melakukan sesuatu disana untukku, apakah kau keberatan?)
"Whatever it is, it's okay,"
(*Apapun itu, itu baik-baik saja.)
Beberapa saat kemudian Ben mengakhiri panggilan teleponnya. Dia membuka kontak telepon dan terlihat menelepon seseorang lagi.
Setelah satu menit, panggilan internasional terhubung.
"Hola Ben,"
(*Halo Ben)
Terdengar sahutan diseberang telepon.
"Rodriguez, ¿estoy molestando tu tiempo?"
(*Rodriguez, apa aku mengganggu waktumu?)
"Claro que no, no puedo ayudarte, amigo?"
(*Tentu saja tidak. Ada yang bisa saya bantu, teman?)
Balas orang diseberang telepon.
"Si, necesito tu ayuda, Rodriguez."
(*Ya, aku butuh bantuanmu, Rodriguez.)
Suara serius Ben mengalir dari tenggorokannya.
♡♡♡
"Kamu akan pergi ke Singapur?" Casilda mencomot kentang goreng.
Popy mengangguk.
"Ya, kami satu keluarga, ayahku sudah berjanji pada bunda." Balas Popy, dia menyeruput minuman bersoda di depannya.
Sruup
Casilda manggut-manggut.
"Ayahku juga mendapat undangannya, VIP, sama seperti yang diterima ayahmu,"
Popy dan Liham memandang ke arah Casilda dan mengangguk serentak.
"Tidak heran."
"Ya...ayahku juga pengusaha, Möchs Waffe sudah terkenal hampir enam puluh tahun, bahkan itu sebelum kelahiran ayahku." Casilda mengunyah sisa kentang goreng terakhir.
Liham dan Popy manggut-manggut.
"Kapan kalian akan ke Singapur, pertemuannya dua minggu lagi," Casilda menyeruput jus lemonnya.
"Satu minggu sebelum acara dimulai kami akan ke Singapur," Liham menjawab.
"Uhuk! Srupp! Liham, tambahkan aku soda lagi." Popy melirik ke arah gelas Liham.
"Minta yang baru saja ke pelayan." Sahut Liham.
Popy mengangguk, dia memanggil pelayan.
"Awal sekali," sahut Casilda.
"Kak Poko dan bunda yang paling antusias, mereka ingin berlibur di Singapur, setelah itu ayah akan mengadakan pertemuan antara orang-orang terkuat dalam bisnis dan pengusaha," Liham mengunyah pizza.
Casilda manggut-manggut.
"Dua hari sebelum acara, aku dan kedua orang tuaku akan berangkat."
"Baik, kita akan bertemu di Singapur," Liham mengangguk ke arah Casilda.
"Oh, Poko ingin pergi ke Gardens by the Bay, disana ada taman umum modern di lahan reklamasi," Popy menimpali ke arah Liham dan Casilda setelah dia mendapatkan sodanya.
"Oh Pulau Sentosa juga bagus, disana ada pantai Palawan menara Tiger Sky, oh! Singapore Flyer juga bagus, bisa naik bianglala setinggi seratus enam puluh lima meter," Poko sedang memikirkan tempat yang akan di kunjungi ketika pergi ke Singapur nanti.
"Kalau aku ingin pergi ke Marina Bay, dua tahun lalu aku dan ibuku pergi ke sana, yah...main golf." Casilda menimpali.
"Hmm..." Popy berpikir.
"Mungkin Poko juga bisa coba main golf disana, hehehehe."
♡♡♡
"Ran,"
"Hm?" Randra menyahut panggilan sang istri tanpa menoleh, pria 50 tahun itu sedang melipat pakaian Moti yang dipilih oleh Moti sendiri.
"Apakah semua persiapan sudah siap? Besok kita jadi ke Singapur kan?" Moti bertanya.
"Tentu saja besok kita pergi ke Singapur, semuanya sudah siap." Randra menjawab.
"Tapi tadi katanya Bilal balik lagi ke kampus, katanya ada kegiatan penting mahasiswa dan dosen, Bilal jadi pergi kan?"
"Bilal meminta ujian tengah semesternya duluan, selain itu pihak fakultas juga meminta beberapa biodata dan surat persetujuan orang tua dan juga dekan, bahwa dia akan pergi sesuai dengan tanggal yang tertera." Randra masih melanjutkan melipat pakaian istrinya.
"Lalu kartu keluarga yang tadi sore Bilal minta? Itu juga termasuk yah?"
Randra mengangguk.
"Ya, dia mendapat rekomendasi dari dekan fakultas hukum untuk menjadi mahasiswa pertukaran internasional di Den Haag, mereka akan memulai pertukaran awal semester tahun depan."
"Jadi seluruh informasi mahasiswa dibutuhkan." Lanjut Randra.
Moti manggut-manggut.
"Begitu yah...sshh...anak-anak Momok semua pintar-pintar, Alan saja lulus dengan pujian, masih muda lagi umurnya, lalu ada Bilal yang pintar banget, bisa menjadi mahasiswa pertukaran internasional, lalu Liham juga, SMP hanya dua tahun, tahun ini dia lulus dengan nilai tertinggi..." ujar Moti.
"Cuma...cuma Momok aja yang nggak punya apa-apa, tidak ada anak Momok yang ikut Momok," Moti terlihat lesu.
Randra tersenyum geli.
Hap
Dia memeluk istrinya.
"Eh?! Poko...Poko...dia ikut Momok kayaknya, huuff!"
"Hahahaha!" Randra tertawa geli.
"Tentu saja Poko mengikutimu, Poko kan juga anakmu,"
"Tapi jangan anggap remeh Poko, putri kita itu juga cerdas, dari kecil sudah bisa beberapa bahasa, yah karena terbiasa bepergian bersamaku." Randra memeluk sang istri.
"Hu'um, Poko bisa banyak bahasa, Poko pintar kok, berarti disini cuma...cuma Momok aja yang...iiisshh!"
"Hahahaha!" Randra tertawa geli.
"Ran buta! Buta! Buta!"
"Hahahahaha!"
♡♡♡
"Akhirnya! Kita sampai juga di bandara Changi." Popy bernapas lega.
Dia baru saja turun jadi pesawat pribadi milik Basri di bandara Changi, Singapura.
"Huueekk!"
"Ish! Liham! Jangan muntah disini!" Popy yang menikmati kesibukan bandara Changi melirik jijik ke arah adik bungsunya.
Liham tak menanggapi kakak perempuannya, dia sibuk mengusap-ngusap perut dan dadanya.
"Ck! Ck! Ck!" Bilal berdecak ke arah adiknya.
"Katanya mau kuliah di Cambridge seperti ayah, naik pesawat saja mabuk." Bilal mencibir.
"Besar mulut," celetuk Alan.
"Cuma satu jam lebih kok."
♡♡♡
"Ayah Ran! Ayah Ran! Poko mau ke Gardens by the Bay, yah! Yah! Yah?"
Randra mengangguk.
"Habiskan dulu sarapannya lalu kita pergi,"
"Umm sayang ayah Ran." Popy tersenyum girang.
"Hehehe, cucu nenek Laras ini semangat sekali," Laras tersenyum ke arah Popy.
Popy mengangguk antusias.
"Iya dong nenek Laras, kan seharian kemarin kita istirahat, jadi sekarang Poko mau ke beberapa tempat di sini, mau ke pulau sentosa, kebun binatang singapura, eh terus Poko juga mau ke Universal Studios,"
Iqbal dan Laras manggut-manggut mendengarkan ucapan sang cucu.
♡♡♡
Beberapa hari telah berlalu sejak Popy dan keluarga pergi ke Singapur, dua hari sebelum acara pertemuan dimulai, Casilda tiba dengan ayah dan ibunya. Popy sangat antusias pergi ke berbagai tempat ditemani oleh Casilda, pasalnya tidak ada teman perempuan yang ada, hanya empat orang saudara laki-lakinya, Alan, Bilal, Liham, dan Ghifan yang mewakili ayahnya pergi ke pertemuan itu.
"Owh! Popy, kamu terlihat menakjubkan memakai gaun hitam ini." Casilda membulatkan matanya takjub ke arah Popy.
"Benarkah?" Popy tersenyum antusias.
"Bunda sendiri yang memilih gaun ini untuk Poko, bunda bilang ini cocok kalau Poko yang pakai."
"Mm...gaun merah yang Casilda pakai juga bagus," Popy memuji Casilda.
"Matamu ternyata punya penilaian bagus." Casilda tersenyum ke arah Popy.
"Oh sweety, you look so awesome, i like your dress," Elizabeth memuji Popy. (*Oh sayang, kamu terlihat sangat mengagumkan, aku suka pakaian kamu.)
"Aunty Lily, you look so pretty tonight, ohm...i am sure, uncle Aran will be jealous if there are someone look at you so long." Popy memuji ibu Casilda.
(*Tante Lily, kau terlihat sangat cantik malam ini, ohm ... aku yakin, paman Aran akan cemburu jika ada seseorang yang melihatmu begitu lama.)
"Owh sweet lips," Elizabeth tersenyum ke arah Popy.
(*Owh bibir yang manis.)
"Huh...banyak orang disini, bahkan papaku tidak kelihatan," Casilda melihat ke seluruh ruang acara.
"Tempat ini sangat luas."
Elizabeth dan Popy mengangguk.
"Ayah Ran dan bunda juga tidak ada disini lagi, ada banyak orang yang menyapa ayah Ran," Popy membalas ucapan Casilda.
Casilda mengangguk.
"Owh Mrs. White, long time no see you, how are you?" Elizabeth bertemu dengan seorang kenalan lamanya.
(*Owh, Nyonya White, lama tidak bertemu denganmu, apa kabar?)
"Oh Mrs. Möch, nice to meet you here," balas kenalan Elizabeth.
(*Nyonya Moch, senang bertemu denganmu disini.)
"Huh...sebaiknya kita pergi ke tempat lain saja, mama akan berbicara banyak dengan istri-istri pengusaha disini." Casilda mengajak Popy.
Popy mengangguk.
"Ok,"
"Mom, we will go to the other place in this room,"
(*Bu, kita akan pergi ke tempat lain di ruangan ini)
"Ok, but not far away," sahut Elizabeth.
(*Ok, tapi jangan jauh)
"Ok."
"Ayo." Casilda meraih tangan Popy, mereka berjalan ke arah lain di tempat pertemuan itu.
"Banyak orang yang datang disini, om Farel tadi juga ada, Poko lihat tadi datang bareng tante Jihan." Ujar Popy.
"Oh, orang tua dari pria yang selama sebulan makan siang denganmu?" Casilda bertanya.
Popy mengangguk.
"Ya. Tapi itu sudah lama, sudah sebulan ini Poko nggak bertemu kak Ibas lagi."
"Kenapa?"
"Em..." Popy terlihat cemberut.
"Masalah sebulan yang lalu?"
Popy mengangguk.
"Poko jadi nggak enak kalau mau ketemu dengan kak Ibas."
Casilda menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Penakut,"
"Hisshh," Popy mendelik ke arah Casilda.
"Hahahaha, jangan marah. Sorry, orange juice please." Casilda memberhentikan pelayan laki-laki yang lewat, dia mengambil segelas jus jerus.
"Want to try this sampagne, miss?" tanya pelayan laki-laki itu.
(*Ingin mencoba sampanye ini, nona?)
"No, just orange juice," Casilda tersenyum ke arah pelayan laki-laki itu.
(*Tidak, hanya jus jeruk.)
"Oh, ok. Two glasses of orange juice for two beautiful ladies."
(*Oh, ok. Dua gelas jus jeruk untuk dua gadis yang cantik.)
"Uuhh, thanks," ujar Casilda.
(*Uuhh, terima kasih)
"You're welcome."
(*Sama-sama)
Pelayan laki-laki tadi tersenyum lalu berjalan ke arah tamu yang lain.
"Ini," Casilda memberikan gelas jus jeruk ke Popy.
Popy menerima gelas itu dan meminumnya.
Tak berapa lama kemudian mereka di tempat itu, terlihat beberapa pria mendekati mereka.
"Excuse me ladies, may we get acquainted?" tanya seorang pria berambut pirang ke arah Casilda, lalu dia juga tersenyum ke arah Popy.
(*Permisi nona, bisakah kita berkenalan?)
"Can I guess that this lady is Irish or Scottish?" pria itu melirik ke arah Popy.
(*Dapatkah saya menebak bahwa wanita ini orang Irlandia atau Skotlandia?)
Dua orang teman pria yang bertanya ke arah Casilda ikut mendekat.
Casilda menaikan sebelah alisnya.
"Oh, but your face is not European," pria itu menilai penampilan Popy.
(*Oh, tapi wajahmu bukan orang Eropa.)
"So pretty, and sexy, i want to know more about you," pria itu tersenyum menggoda ke arah Popy.
(*Sangat cantik, dan seksi, saya ingin tahu lebih banyak tentang Anda.)
Casilda melirik sinis ke arah beberapa pria di depannya, dia menaikan sebelah alisnya.
"Believe me, don't come near us, or these gentlemen will regret it."
(*Percayalah, jangan mendekati kami, atau tuan-tuan ini akan menyesalinya.)
"Ouh! Are you sure miss pretty blonde?" seorang pria lain bertanya.
(*Ouh! Apakah Anda yakin nona pirang yang cantik?)
"Let me introduce, this is young Miss of Basri, daughter of the ruler of the Basri group, maybe some equipment or all electronic equipment in your house is Basri's production, and I am the daughter of Aran Möch, the sole owner of Möchs waffe. Oh, and I'll tell you again, maybe Basri and Möch will not accept your cooperation in the future. That's all, excuse me gentlemen." Casilda meraih tangan Popy dan berjalan menjauh dari tiga pria yang menghampiri mereka tadi.
(*Mari saya perkenalkan, ini adalah Nona muda dari keluarga Basri, putri penguasa kelompok Basri, mungkin beberapa peralatan atau semua peralatan elektronik di rumah Anda adalah produksi Basri, dan saya adalah putri Aran Möch, satu-satunya pemilik Möchs waffe. Oh, dan saya akan memberi tahu Anda lagi, mungkin Basri dan Möch tidak akan menerima kerja sama Anda di masa depan. itu saja, permisi tuan-tuan.)
"Oh God! I make big mistake,"
Salah seorang dari mereka bertiga tersadar.
(*Oh Tuhan! Aku membuat kesalahan besar.)
"Hahaha, mereka terlihat kaget, rasakan itu, heum!" Popy mendengus.
"Ya, mungkin saja mereka baru menyesal." Casilda tersenyum lebar.
Tak
Tak
Tak
Sret
Popy berhenti.
"Kenapa?" Casilda menoleh ke arah Popy.
"Poko ngantuk, mungkin tadi kita terlalu lama jalan-jalan keliling mal dan taman Merlion, jadi Poko agak lelah,"
"Kalau begitu kau istirahat saja, aku akan menelepon Liham, nanti kita berdua akan mengantarmu ke kamar." Casilda mengusulkan.
Popy mengangguk.
"Belum jam empat sore, Poko udah ngantuk, masih lama juga acaranya, sampai jam 8 malam, huff..."
♡♡♡
"Poko dimana?" Moti bertanya ke arah Liham.
Mereka sedang makan malam di restoran hotel, Randra dan keluarganya memilih mengundurkan diri pada jam 6 sore ketika pertemuan baru empat jam diadakan, dikarenakan kondisi Moti yang harus istirahat.
Mereka sedang makan malam, namun Popy tidak kelihatan.
"Tadi jam setengah empat Liham dan Casilda ngantar kak Poko ke kamar, tadi kan Liham udah bilang ke bunda dan ayah." Liham menjawab.
Moti manggut-manggut.
Sedangkan Laras dan suaminya memilih tidak menghadiri pertemuan antara pengusaha-pengusaha top dunia, mereka sudah tua, jadi duduk santai menikmati layanan hotel ternama di Singapur.
Alan dan Bilal sudah memulai makan malam mereka.
"Panggil Poko," Randra menyuruh Liham.
"Baik ayah." Liham berdiri dari kursi restoran dan berjalan ke arah lift.
"Poko kan lelah Ran, seharian Poko dan Cassy keliling kota," ujar Laras.
Randra hanya manggut-manggut.
Sementara itu Liham mengetuk-ngetuk kamar kakak perempuannya. Suite keluarga yang mereka pesan sangat mewah, Liham sudah beberapa menit berdiri di depan pintu kamar kakaknya.
Tok
Tok
Tok
"Kak Poko, bangun, ayo makan malam, ayah Ran panggil." Liham memanggil sang kakak.
Setengah menit kemudian tak ada sahutan.
Tok
Tok
Tok
"Kak Poko, bunda manggil, ayah Ran juga."
Setengah menit kemudian hening.
"Ck! Tidur atau apa ini? Nggak bangun-bangun."
Ceklek
"Oh, nggak terkunci."
Liham masuk ke dalam kamar hotel kakaknya.
"Kak Poko," Liham mengedarkan pandangannya, namun ia tak melihat Popy.
"Hm? Dimana orangnya, ada barang-barangnya, sepatunya ada kok," Liham mengerutkan keningnya, dia berjalan kerah balkon, tidak ada orang. Lalu dia masuk dan mencari di kamar mandi.
"Tidak ada juga," gumam Liham.
"Kemana...oh! Jangan-jangan kak Poko lagi jalan-jalan di sekitar hotel kali, ah! Aku telepon aja."
Liham meraih ponselnya, dia menelepon Popy.
Beberapa detik kemudian panggilan terhubung.
Drrt drrt
"Eh?" Liham menoleh ke samping kiri, di atas nakas ada ponsel kakaknya.
"Nggak bawa ponsel?" Liham berdecak.
"Ck!"
"Huuff, harus cari sampai dapat kalau nggak bisa diamuk ayah."
Tak
Tak
Tak
Setengah jam kemudian Liham kembali lagi ke kamar hotel mereka, namun hasilnya masih sama, nihil.
Liham sudah mencari disekitar lantai hotel dimana mereka menginap, dia juga sudah menanyakan kepada setiap staf hotel yang dia temui, namun tak ada.
Sret
Dia melirik arloji mahalnya.
"Jam setengah delapan..." gumam Liham.
Tes
Setetes keringat jatuh dari dahinya menempel ke kaca arloji itu.
"Setengah jam belum ada di kamar hotel...mengantuk dan lelah...jam setengah empat masuk ke kamar...tidak bawa ponsel..." gumam Liham.
Tak
Tak
Tak
Lalu dia berjalan cepat ke dalam kamar hotel kakaknya.
Sret
Sret
Tak
Tak
Tak
Dua menit kemudian, peluh benar-benar menutupi baju yang dia pakai, Liham merasakan firasat buruk. Jantungnya berdetak cepat.
"Barang-barang semua ada, semua sandal dan sepatu kak Poko ada, sendal hotel masih ada, sudah hampir satu jam tidak ada," Liham menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
"Sshh...huh, tenang, pasti kak Poko udah turun makan, huh!"
Sret
Liham meraih ponselnya, hendak menelepon Alan.
Drrt drrt
'Bilal calling'
"Oh Bilal, halo--,"
"Mana kak Poko, kamu dan kak Poko belum datang juga, ini sudah satu jam, ayah, bunda, dan kita semua tungguin kalian," Bilal dongkol diseberang.
"Apa?!" Liham membulatkan matanya.
"Kak Poko belum ada di situ?"
"Kalau udah ada dari tadi, kita semua udah selesai makan malam." Jawab Bilal dongkol.
Brak
"Halo! Halo! Liham! Ham! Liham! Dengar nggak sih kamu?"
Liham buru-buru mengambil ponselnya yang terjatuh.
"Kak Bilal," panggil Liham tidak yakin.
"Apa? Lama banget."
"Kak Poko nggak ada disini."
"Nggak ada di situ gimana? Jelas-jelas tadi kamu bilang, kamu sendiri yang ngatar kak Poko ke kamar, kan kamu bilang kak Poko ngantuk,"
"Kak Bilal,"
"Hm?"
"Kak Poko sepertinya...hilang..."
"Apa?"
♡♡♡