Acara pesta pameran itu telah dimulai setengah jam yang lalu. Berbagai lukisan dan seni budaya ditampilkan, Fashionable Group dan Gaishan's Entertaiment juga mengundang pihak pemerintah, pihak dari kementerian kebudayaan juga hadir. Mereka juga terlihat antusias dengan pameran ini, temanya pun menarik. The Sweet Gardening. Sebanyak dua puluh model dari kedua perusahaan itu tampil dengan baju dari desainer tanah air yang berbakat, para desainer itu merupakan beberapa orang siswa sekolah menengah dan mahasiswa. Program ini juga untuk meningkatkan bakat anak negeri untuk yang lebih baik.
Model wanita mengenakan pakaian petani, ada yang mengenakan kain khas jawa, ada juga yang mengenakan kemben khas Jawa dan membawa beberapa sayur, desain gaunnya sangat indah dan cukup kreatif. Selain pakaian khas Jawa, pakaian khas daerah lainpun di pamerkan, seperti daerah Bali, Sumatera, Kalimantan.
Sedangkan model laki-laki mengenakan beberapa pakaian tradisional dipadukan dengan ornamen yang bertemakan kebun.
"Wah! Waoooww!" Popy memandang takjub ke arah panggung.
"Woohooo! Apa itu? Cantik sekali!" Popy menunjuk ke arah seorang model yang sedang berjalan di atas panggung, model perempuan itu memakai pakaian modern bersulam brokoli dan memakai topi berbentuk tomat merah.
"Waooww!" Popy tidak henti-hentinya mengeluarkan suara kagumnya ketika model-model di atas panggung juga berganti-ganti baju dan aksesoris.
Tak terasa pertunjukan itu sudah hampir dua jam, ketua Fashionable Group dan pemimpin Gaishan's Entertaiment maju ke depan memberi beberapa harapan mereka.
"Saya, Gaishan Raffasya Nabhan, pemimpin Gaishan's Entertaiment mengucapkan banyak terima kasih kepada para hadirin yang telah hadir di acara pameran perusahaan kami yang diadakan oleh Fashionable Group dan Gaishan's Entertaiment." Gaishan berdiri di atas mimbar.
"Seperti yang sudah para hadirin lihat, teman pesta pameran ini bertema The Sweet Gardening."
Klik
Muncul gambar seorang gadis yang memakai topi dan kain bali, lengan kirinya menenteng keranjang anyaman bambu, tangan yang lainnya sedang menerima rangkai bunga mawar hitam dan beberapa krisan campur. Tangan pria yang memberi bunga itu terlihat seperti terhubung dengan tangan gadis yang berhadapan dengan pria itu.
Latar belakang yang menampilkan kebun di belakang mereka menambah suasana manis di kebun, nilai tambah dari beberapa jenis sayuran yang duduk rapi di keranjang anyaman gadis itu.
"Wow!"
"Oh my God!"
"Itu kain bali?! Oh!"
"Kau lihat topi itu? Itu topi piknik!"
"Hei! Mereka berdua terlihat cocok!"
"Ouwh! Rambutnya merah bata?"
"Apakah model itu orang Irlandia? Atau Skotlandia mungkin? Rambut itu milik mereka."
"Hei! Bukankah itu tuan muda Nabhan?"
Peserta pesta pameran berseru kagum, ada yang tersadar bahwa model pria yang memberikan bunga di layar tersebut adalah tuan Muda Nabhan. Tuan muda Nabhan memperlihatkan senyum alami dan tulus ketika memandang gadis di depannya.
"Oh! Kak Ibas! Kak Ibas! Itu Poko! Hak! Gaishan beneran masukin fotonya Poko dan kak Ibas di acaranya!" Popy berseru kaget ke arah layar.
Sret
Sret
Sret
Suara Popy tidak kecil, dia menuai banyak perhatian, mata para tamu memandang ke arahnya.
"Ouhhmpp!" Popy menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
Dia tersenyum malu.
"Itu gadis yang dilayar,"
"Dia juga ada di pesta ini."
"Dia...sepertinya aku pernah melihatnya..."
"Gadis di layar itu sama seperti gadis di samping tuan Nabhan."
"Ah! Nona muda Basri!"
Sret
"Kak Ibas, Poko mau ke kamar mandi, mau pipis."
Tak
Tak
Tak
Popy berjalan cepat-cepat ke arah luar kerumunan tanpa menunggu respon Nibras.
Tak
Tak
Tak
"Huh...huh...huh..." Popy menghembuskan napas lega ketika memasuki kamar mandi wanita.
"Aduh...Poko kok jadi gugup yah,"
"Huumm...Poko jadi pengen pipis beneran, hisss!"
Tak
Tak
Klik
Popy memasuki bilik toilet, terlalu gugup membuatnya ingin pipis.
Klik
Tak
Tak
"Huh..."
Suurrsshhh
Popy membilas tangannya.
"Fuh!"
Cuk
Cuk
Popy mencubit-cubit kecil pipinya.
"Tenang...itu cuma gambar...kan banyak orang juga yang ada di kebun itu, bukan cuma Poko, tadi juga kelihatan Ari yang lagi cabut wortel, yah meskipun hanya belakangnya saja sih..." Popy berusaha menenangkan gugupnya.
"Iya...itu cuma foto...Gaishan-ish! Gaishan ah! Suka ngambil foto sembarangan!"
Tuk
Tuk
Tuk
Popy melompat-lompat gugup.
Setelah beberapa saat Popy keluar dari toilet perempuan setelah dia yakin bahwa rasa gugupnya telah hilang.
Sret
"Eh!?"
Hap
"Ahhmp!"
Tak
Tak
Sret
Mata Popy membulat ketika matanya beradu dengan mata tajam seorang laki-laki yang membungkam mulutnya dengan tangan.
"Ahmmpp!"
Ben memandangi Popy dengan emosi bercampur aduk. Pria 29 tahun itu tak tahan ketika dia melihat gambar Popy dan Nibras di tayangkan di layar atas panggung.
Lama mata mereka beradu pandang di dalam toilet wanita yang tadi dimasuki oleh Popy.
"Mmm!" Popy berusaha mengeluarkan kata.
Tangan pria 29 tahun itu masih menutup bibir Popy.
Sret
"Huh! Huh! Huh!"
Popy mengambil napas.
Dia memandang ke arah Ben.
"B-ben...huh...huh...huh..."
"Popy..." terdengar suara sendu dari bibir Ben.
Lelaki keturunan Spanyol itu memegang kedua bahu Popy ke dinding toilet.
"Huh...huh...huh...Ben..." suara Popy bergetar gugup.
Glek
Air liur yang turun ke tenggorokan Popy sukar.
"Kau...itu..." Ben terlihat linglung, entah apa yang ingin dia ucapkan. Rangkaian kata yang tadinya sempat dia susun untuk Popy, hilang seketika.
"Ben..."
"Popy...kenapa dia bisa sedekat itu denganmu?" akhirnya pertanyaan yang keluar dari bibir Ben.
Sret
Popy tak sengaja meremas kuat jas yang dipakai oleh Ben. Remasan itu dirasakan oleh Ben. Pinggang pria 29 tahun itu terasa seperti terjepit sesuatu. Tangan Popy disana.
"Huh...huh...glik," Popy menelan susah air ludahnya.
"Kenpa...kenpa dia--,"
Brak
Sret
"Ah!" Popy berseru kaget ketika sesorang membuka pintu kamar mandi dan memisahkan tangan Ben dari bahunya.
Bugh
"Kau--arrgg!" Ben terkaget ketika sebuah pukulan menghadap wajahnya.
"Huh! Huh! Huh!" Nibras menatap nyalang ke arah Ben.
"Ahmp!" Popy membungkam mulutnya, dia terkejut ketika Nibras memukul wajah Ben tepat di bagian pipi kiri Ben, pria yang empat belas tahun disukainya.
"Sshh..." Ben meringis, dia menyentuh pipi kirinya.
"Ben! Kak Ibas--,"
"Aku berjanji membawamu kembali ke kediaman Basri tanpa kekurangan apapun, termasuk melindungimu dari laki-laki yang ada di depanmu." Nibras memandang tajam ke arah Popy.
"Kak Ibas itu, Ben...ah! Pipi Ben-,"
"Popy, sadar. Dia adalah laki-laki yang telah menyia-nyiakan keberadaanmu selama ini, dia tidak pernah menghargai dirimu. Kau harus sadar, orang ini tidak pantas di sebut pria sejati."
Sret
Tak
Tak
Tak
Nibras menarik tangan Popy keluar dari toilet perempuan.
"Ah! Ada pria!"
"Oh astaga! Mereka keluar bersama dari toilet wanita," kaget seorang wanita.
Tak
Tak
Sret
"Ah! Ada laki-laki lagi!"
Nibras dan Popy keluar dari pesta pameran itu, mereka berjalan menuju lift.
"Kak Ibas mau kemana? Pestanya belum selesai,"
"Hampir jam sembilan, aku harus mengantarmu pulang, itu perjanjianku dengan ayahmu."
♡♡♡
"Kak Ibas, Poko masuk dulu--,"
"Apakah kamu bisa menyukai pria lain selain dia?" Nibras memandang ke arah Popy dengan harapan.
Popy yang membuka pintu mobil menjadi terhenti. Gadis 22 tahun itu tak menjawab pertanyaan Nibras.
"Popy, bisakah kamu melupakan dia?"
"Poko agak lelah..." lirih gadis itu.
"Sshh..." desah gadis itu.
"Aku akan membawamu masuk,"
"Tidak perlu kak Ibas, Poko bisa sendiri,"
"Tapi aku ingin menemui ayah--,"
"Sudah larut." Sanggah Popy.
"Baik, istirahatlah," Nibras mengangguk.
♡♡♡
"Tuan muda!"
Tak
Tak
Tak
Ben berjalan cepat memasuki rumahnya tanpa melirik ke arah pelayannya yang kaget.
Tak
Tak
Tak
"Ben," Mali memanggil sang anak.
"Acara pestanya sudah selesai?"
Tak
Tak
Tak
Ben berjalan tak melirik ke arah Mali.
Mali yang tak mendapat respon sang anak menjadi heran. Dia berjalan mendekati Ben. Silvio terlihat meletakan sebuah majalah bisnis berbahasa spanyol ketika melihat putranya berjalan tanpa ekspresi.
"Ben-ah! Kenapa dengan wajahmu?!" Mali terkaget ketika melihat wajah lebam anaknya.
"Ben, siapa yang--,"
Tak
Tak
Tak
Tak
Tak
Brak
Klik klik
Ben menaiki tangga cepat dan menutup pintu kamarnya.
Mali berdiri tegak dia berusaha mengejar anaknya, namun tidak bisa, Ben terlalu cepat.
"Ben!" Mali berseru.
Tak ada sahutan.
Sret
Mali menoleh ke arah Silvio.
Silvio yang mendapat lirikan istrinya menggeleng tanda tak tahu.
Tak
Tak
Bruk
Ben memasuki pintu penghubung antara kamar dan ruang kerjanya.
Bruk
Ben membuka kasar laci meja kerjanya, dia mengeluarkan sebuah buku tebal.
Tuk
Sret
Ben meletakan buku itu di atas meja kerjanya.
Ben memandangi buku itu lama.
Slash
Jemari Ben membalikan lembar buku itu. Terlihat lukisan seorang gadis kecil tersenyum cerah di lembaran buku itu.
"Popy..." suara Ben bergetar.
Shh
Jari-jari Ben menyentuh lukisan itu, gadis di buku lukisan itu terlihat menggunakan dress merah marun setengah paha. Tersenyum cerah sambil mengaitkan kedua tangannya.
"Popy..." suara bergetar Ben keluar lagi.
"Popy..."
Sret
Ben memeluk lukisan itu.
Flashback
"Mom, what are you doing?"
(*Ibu, apa yang sedang kamu lakukan?)
"Ben, someone will come here, to our house!" Mali tersenyum antusias ke arah putranya yang memasuki masa remaja.
(*Ben, seseorang akan datang ke sini, ke rumah kita.)
"Who?"
(*Siapa)
"Owh! You'll find out later, and i'm sure you will like it, i saw the picture, she is very sweet." Mali tersenyum girang.
(*Owh! Kau akan tahu nanti, dan aku yakin kamu akan menyukainya, aku melihat gambar, dia sangat manis.)
Wanita itu sedang mendekorasi rumahnya agar terlihat indah, meskipun pada awalnya memang sudah indah.
Dia baru saja menerima telepon dari Moti, adik dari teman lamanya bahwa putri satu-satunya akan datang berkunjung ke rumahnya dengan sang ayah. Moti menceritakan kepada Popy bahwa dia juga punya teman di Spanyol, namanya Mali.
Mali sangat antusias dengan kedatangan Popy, sebab ini pertama kalinya Mali bertemu Popy.
"Wah..." Popi menjatuhkan rahang bawahnya.
Gadis cilik delapan tahun itu menatap penuh takjub ke arah seorang remaja muda di depannya.
"Tante Mali! Tante Mali! Kakak ini ganteng!" seru Popi.
Mali tersenyum lebar.
"Ben, come here son, this is Poko," ucap Mali ke arah remaja muda itu.
(*Ben, kesini nak, ini Poko.)
Remaja yang di sebut 'Ben' itu hanya menaikan sebelah alisnya sebelum mendengus dingin ke arah Popy lalu berlalu pergi.
"Hei! Alexander Benjamin Ruiz! Come here!" Mali mengeraskan urat lehernya berseru ke arah sang putra sulung.
"Grrr!" geram Mali.
(*Hei! Alexander Benjamin Ruiz! Kesini!)
Slash
"Tante Mali! Tante Mali! Kakak tadi pergi," gadis cilik yang mengenakan dress merah marun setengah paha itu tersenyum cerah sambil mengaitkan kedua tangannya.
"Oh tenang saja Ben sedang ada sesuatu, nanti dia akan kesini lagi." Mali tersenyum manis ke arah Popy.
"Benarkah?"
"Benar," Mali mengangguk.
"Apa Poko menyukai Ben?"
Glung glung
Popy menggangguk kuat.
"Tentu saja! Poko suka Ben!" Gadis delapan tahun itu sangat bersemangat.
Hap
"Ah...manisnya...mmccuuah!" Mali memeluk Popy dan mengecup pipi gadis cilik itu.
"Huh...huh...huh..."
Seorang remaja laki-laki mengintip dari balik dinding.
Slash
"Ah...Ben...huh...humpp!"
Suara gadis kecil tertahan.
"Ah!"
Seorang remaja laki-laki bangun dari mimpinya.
"s**t! Huh! Huh! Huh!" napas kasar remaja itu memenuhi kamarnya.
"It's a dream,"
(*Sial, itu sebuah mimpi.)
"Ben, we will move to Indonesia in a month, oh! You will meet the sweet girl who came to our house at that time, she is already a big girl, I wonder what she looks like, even though I have seen the photo." Mali tersenyum antusias.
(*Ben, kita akan pindah ke Indonesia dalam sebulan, oh! Kamu akan bertemu dengan gadis manis yang datang ke rumah kami pada waktu itu, dia sudah menjadi gadis besar, aku bertanya-tanya seperti apa tampangnya, meskipun aku telah melihat foto itu.)
Pemuda 22 tahun itu menundukan kepalanya di meja makan, sebelum sendok nasi memasuki mulutnya, terlihat senyum kecil pemuda itu.
Slash
"Ah...uh...Ben...uhmph!"
"Popy..."
"Ah!"
Pemuda 22 tahun itu terbangun dari mimpinya.
"Mimpi lagi, aarrgg!" frustasi pemuda itu.
Slash
"Ah! Poko terlihat lebih cantik, oh lihat dia, sudah bertambah tinggi, tahun ini sudah berumur lima belas tahun," Mali memandangi ponselnya, terlihat foto dirinya dan seorang gadis remaja berambut merah bata tersenyum ke arah kamera.
Sret
Seorang pemuda 22 tahun mengepalkan kuat kepalan tangannya di dalam saku celana yang dia pakai, terlihat bahwa wajah pemuda itu memerah menahan malu.
Slash
"Ben, ini buat Ben, Poko bikin sendiri loh, khusus buat Ben!"
Sret
Bruk
"Eh! Eh! Kenapa dibuang di tempat sampah!?" gadis lima belas tahun itu cemberut ke arah pemuda yang berusia dua puluh dua tahun.
Slash
"Ben, Poko mau bilang kalau...kalau Poko suka sama Ben...."
Slash
"Ambil barang-barang sialanmu ini dan pergi dari sini, kau menjijikan." Ujar seorang pria tampan berparas bule.
"Tapi...tapi itu buat Ben--hik!"
"Popi Aira Basri!!" teriak lelaki berusia dua puluh sembilan tahun itu ke arah seorang gadis dua puluh dua tahun berambut merah bata.
Flashback end
"Popy..."
♡♡♡