Chapter 14

1804 Kata
Sret Glik "Sshhh! Sshh! Sshh!" Terdengar napas keras seseorang di dalam mobil. Sret Setir mobil yang dikendarinya diremasnya kuat, terlihat bahwa dia sedang menahan sesuatu di dalam dirinya. "Sshh! Sshh! Shh!" Matanya menatap nyalang ke arah mobil yang baru saja keluar dari dalam gerbang rumah mewah. Sudah sebulan ini mobil itu keluar masuk dengan bebas di kediaman Basri. Glik Bunyi gemeletuk gigi orang yang berada di dalam mobil itu. "Sshh! Ssh! Shh!" napas kasar yang dia hirup dan buang menandakan bahwa dia terlihat frustasi. "Popy..." suara yang keluar dari mulutnya. "Apa yang harus aku lakukan?" "Kenapa aku melakukannya?" "Kenapa, kenapa hari itu aku--" Brak "Aarrgg!" Bunyi pukulan setir di depannya disertai suara kesalnya. Sudah sebulan ini, Ben, pria yang ada di dalam mobil itu tidak tidur nyenyak, setiap malam dia bermimpi bahwa seseorang mengambil baju, sepatu dan bahkan barang-barangnya. Entah apa arti mimpi itu, setiap dia bangun, dia akan teringat dimana hari ketika dia berteriak marah dan kesal ke arah seorang gadis, gadis yang sudah empat belas tahun ini membuatnya menjadi pribadi yang tertutup. Semenjak pertemuan pertama dia dan gadis itu, dia menjadi seperti tidak normal, mimpi yang memang normal dimiliki semua laki-laki puber di masa remaja juga menghampirinya, namun objek mimpi itu menjadi gadis yang baru saja ditemuinya di rumahnya. Gadis kecil, gadis cilik, gadis yang menurutnya bahkan belum terlihat seperti gadis-gadis remaja teman sebayanya, masih anak-anak. Di usianya yang ke 15 tahun, gadis yang lebih muda 7 tahun darinya itu menjadi objek mimpinya setiap malam. Ben, remaja kala itu menjadi malu pada dirinya, dia malu jika ada yang tahu bahwa seorang gadis kecil yang menjadi objek mimpi indahnya setiap malam. Setiap ibunya membahas nama gadis itu, dia menahan wajah merah dan malunya, ingatannya terlintas lagi dimana pertama dia memimpikan gadis itu. "Apa yang harus aku lakukan?" "Apa yang harus aku lakukan?" Kalimat itu keluar beberapa kali, satu bulan ini dia menjadi linglung, tidak berselera makan, tidur tidak nyenyak bahkan bekerjapun dirasakannya susah. "Popy..." suara itu bergetar. "Popy..." "Popy..." ♡♡♡ "Popy," "Hm?" Popy menyahut panggilan Nibras tanpa melihat ke arahnya, dia sedang melihat-lihat ke arah luar mobil yang dia naiki. Macet, selalu terjadi di kota besar yang dia tinggali. "Ada yang kak Ibas mau bilang," "Hm? Apa kak?" Popy menoleh ke arah Nibras. "Begini...malam minggu nanti akan ada acara pameran yang diselenggarakan oleh perusahaan Gaishan, kamu...sudah tahu kan?" Popy mengangguk. "Poko tahu, Gaishan juga udah bilang ke Poko soal pameran itu, ayah Ran juga dapat undangannya, VIP lagi, tapi ayah Ran nggak pergi, dikasih ke Alan." Ujar Popy. Nibras mengangguk mengerti. "Ya. Kak Ibas juga dapat undangannya, VIP juga, tapi ada masalah." Ujar Nibras. Popy mengerutkan keningnya. "Hm? Masalah?" Nibras mengangguk. "Masalah apa kak? Salah penulisan nama yah di undangannya?" Nibras menggeleng, dia tersenyum geli ke arah Popy, mana mungkin di undangan yang penting begitu terjadi penulisan nama, apalagi sepupunya sendiri yang mengadakan pameran itu. "Bukan itu Popy, masalahnya yaitu kak Ibas nggak ada pasangan wanita ke sana." Ujar Nibras. "Hooh!? Harus datang dengan pasangan wanita yah? Berarti Alan harus datang dengan perempuan juga dong?" Popy membulatkan matanya. Nibras tersenyum. "Begini, nggak ada yang mau datang dengan kak Ibas ke pesta pamerannya Gaishan, jadi...kak Ibas mau minta tolong sama kamu," "Minta tolong apa kak Ibas?" "Minta tolong kamu datang dengan kak Ibas ke pesta pamerannya Gaishan, mau kan?" Nibras memandang berharap ke arah Popy. Popy menggaruk-garuk kepalanya. Dia bingung. "Kalau misalnya Alan mau datang dengan Poko ke pesta itu gimana? Kan Poko-nya cuma ada satu," "Ahmpppfft!" Nibras menahan tawanya. "Popy, Alan nggak akan datang ke pesta itu dengan kamu," "Hah?! Terus dengan siapa?" "Alan akan datang ke pesta itu dengan orang lain," ujar Nibras, lalu dia mendekat ke arah Popy. "Dia juga punya pacar," bisik Nibras. "Hoh! Jadi Alan punya pacar? Kok Poko nggak tahu sih? Ah dasar si Alan, main pacaran sembunyi-sembunyi lagi, awas yah, Poko bilangin ayah Ran baru tahu rasa dia." Popy kesal berapi-api. Nibras tersenyum geli. "Jadi bagaimana? Bisa kan?" "Hm..." Popy terlihat berpikir. Selama sebulan ini Nibras selalu punya kesempatan untuk datang makan siang dengannya, begitu juga waktu pulang dari kampus, meskipun jadwal pulang kampus Popy tidak sama seperti jadwal kantor Nibras, entah kenapa Nibras selalu saja punya waktu. Sudah sebulan juga Nibras mengantar pulang Popy ke rumahnya, Popy sedang mempertimbangkan keputusannya. "Kak Ibas baik, selalu ngajak Poko makan siang, ngantarin Poko pulang ke rumah, yah meskipun ada mobil Liham juga, tapi Liham selalu bilang ada urusan." Batin Popy berpikir. Popy saja yang tidak tahu bahwa disaat dia menaiki mobil Nibras pulang ke kediaman Basri, Liham selalu mengikuti mereka dari belakang, Nibras tahu itu namun dia hanya tutup mulut. "Em...tapi kalau ayah Ran nggak ngijinin gimana? Kan di undangannya mulai jam tujuh tapi nggak tahu pulang jam berapa. Kalau pulang larut malam gimana? Poko takut ayah Ran nggak setuju." Ujar Popy ke Nibras. Biiipp Bunyi klakson mobil di belakang mobil Nibras. Nibras menginjak gas dan mobil maju perlahan, beberapa detik kemudian, macet lagi. Nibras menoleh ke arah Popy. "Nanti kak Ibas yang minta ijin ke ayah kamu, tapi kamu mau kan pergi bareng kak Ibas?" "Hm...ok, Poko mau, yang penting ayah Ran ngiijin aja." ♡♡♡ "Saya ingin meminta ijin anda untuk datang bersama Popy di pesta pameran yang akan di adakan oleh Fashionable Group dan Gaishan's Entertaiment pada malam minggu ini," Randra memandang serius ke arah Nibras, pria 50 tahun itu menaikan sebelah alisnya. "Jaminan apa yang tuan muda Nabhan ajukan agar aku bisa mengijinkan putriku pergi bersamamu ke sana?" Glek Nibras berusaha menelan ludahnya, sesungguhnya cukup menegangkan berbicara dengan tuan Basri di depannya ini, pengalaman hidupnya bahkan kemahirannya dalam dunia bisnis sangat diketahuinya. "Diriku, jaminannya adalah diriku sendiri, aku akan menjaganya seperti aku menjaga diriku sendiri." Randra menaikan sebelah alisnya, bibirnya membentuk sudut senyum kecil. "Anda yakin bahwa putriku sama berharganya dengan diri anda?" Nibras mengepalkan tangannya. "Memang putri anda tidak sama berharganya dengan diri saya, tetapi selama saya masih bernapas, saya akan berusaha melindungi putri anda," ujar Nibras. Randra masih memandangi Nibras serius. Cukup lama dia diam. "Dari pintu rumah Basri saya akan kembalikan Popy dengan utuh tanpa kurang apapun, saya berjanji." Lanjut Nibras. Tuk Tuk Tuk Bunyi ketukan jari telujuk Randra di atas meja kerjanya. Tuk Tuk Tuk Bunyi ketukan itu berhenti. "Tidak ada koktail, tidak ada wine, tidak ada alkohol jenis apapun, tepat jam sembilan malam aku sudah melihat putriku di hadapanku." ♡♡♡ "Ayah Ran, bunda, nenek Laras, Poko pergi dulu yah dengan kak Ibas," ucap Popy pamit ke arah tetua Basri. Laras mengangguk. "Pulangnya jangan malam-malam yah, ingat dipesta begitu pasti ada banyak alkohol atau apalah itu, jangan sentuh, lihat pun nggak boleh." Laras mewanti-wanti. Popy mengangguk mengerti. "Nenek Laras tenang aja kok, Poko tahu, itu haram kata bunda, hehehe." "Huh..." Laras lega. "Poko, mari." Panggil Moti. Sret Popy menunduk di hadapan kursi roda ibunya. Sret Moti membetulkan leher gaun biru dongker yang dipakai putrinya. Tak lupa juga Moti membetulkan anak rambut yang agak berantakan akibat tertiup angin. "Anak bunda Momok selalu manis dan cantik." Ujar Moti. Popy tersenyum. Cup Popy mengecup ibunya. Sret Popy berdiri dan mengecup Laras dan Randra, lalu mereka masuk ke mobil Nibras. Mobil itu berjalan keluar dari gerbang rumah Basri. "Mama Laras lebih senang dengan tuan muda Nabhan itu, dia lebih baik, lebih peduli dan dia kelihatannya memang suka sekali dengan cucu mama Laras." Pandangan Laras masih ke arah gerbang rumahnya. Moti dan Randra melihat Laras, lalu mereka saling melirik. "Huuh! Coba saja kalau selama tujuh tahun ini objeknya diganti saja dengan dia, pasti cucuku tidak akan menderita." "Heum, bocah bau." ♡♡♡ Tak Tak Tak Hap "Kak Ibas, untung aja pintu liftnya belum ketutup yah," Popy bernapas lega, dia menarik cepat Nibras memasuki lift karena hampir saja lift itu akan tertutup. Nibras tersenyum. "Jangan buru-buru, masih ada waktu." Popy hanya manggut-manggut, rangkulan tangannya masih bersarang di lengan Nibras. Pemuda itu tidak berniat melepaskan tangan Popy. "Huh...lantai berapa--," Popy terpaku ketika dia melihat ke samping kirinya. Sret Jemari Popy tak sengaja meremas kuat lengan Nibras. Nibras yang merasakan remasan itu menoleh ke arah kirinya. "Popy ada apa?" "Apa kamu takut naik--," Ucapan Nibras terhenti. Rupanya yang berdiri di sebelah kiri Popy adalah Ben. Perusahaan Ben juga mendapat undangan pameran yang diadakan oleh Fashionable Group dan Gaishan's Entertaiment. Ben juga pergi ke pameran itu, namun dia tidak terlihat pergi dengan siapa-siapa. Popy yang berada di tengah antara Ben dan Nibras menjadi kaku. Glek Popy susah menelan air ludahnya. Glik Bunyi gemeletuk gigi-gigi Ben. Mata pria 29 tahun itu terpaku pada rangkulan Popy di lengan Nibras. Popy yang menyadari tatapan Ben menjadi gemetar. "B-ben..." suara itu bergetar. Sret Nibras memindahkan tubuhnya di tempat Popy, dia bertukar tempat tanpa ada yang memberitahu. Ting Pintu lift terbuka di lantai 20. Sret Tak Tak Tak Nibras memegang tangan Popy lalu mereka berjalan ke arah balroom hotel. Ben terlihat terpaku untuk sesaat, namun ia tersadar, dia berjalan maju di belakang Popy dan Nibras. Sesampainya di dalam pesta, terlihat Gaishan dengan beberapa orang sedang  menyapa tamu. Gaishan menoleh ke arah datangnya Popy dan Nibras, dia tersenyum cerah. "Kalian datang, selamat datang di--," Gaishan seketika bisu. Dia tidak bisa mengeluarkan suaranya ketika dia melihat Ben di belakang Popy dan Nibras. "Ben." Batin Gaishan. Setengah menit Gaishan terpaku kalau bukan seorang kolega bisnis di sampingnya menyapa Nibras dan Ben. "Tuan Nabhan, anda sudah datang, selamat datang di pesta pameran kami," pria empat puluh tahun itu tersenyum ke arah Nibras. Nibras mengangguk. Lalu pria itu melirik ke arah Popy. "Ini...ini adalah..." "Nona Popy, nona muda Basri." Jawab Nibras. "Ah! Rupanya ini nona muda Basri, anda terlihat sangat cantik." Pria itu tersadar bahwa pasangan wanita yang dibawa oleh tuan muda Nabhan adalah nona muda Basri, putri satu-satunya Randra Adilan Basri yang ada di keluarga Basri. Dia memperbaiki pakaian yang dikenakannya agar terlihat rapi. "Silakan duduk tuan," Nibras mengangguk. Lalu dia meraih lengan Popy dan berjalan ke tempat duduk mereka. "Tuan Ruiz, selamat datang di pameran kami, silakan duduk, mari ada pelayan yang akan mengantar anda ke tempat duduk anda." Ben mengangguk singkat, matanya masih melihat ke arah Popy dan Nibras berjalan. Popy dan Nibras duduk di kursi mereka, meja itu bundar dan formasi kusinya melengkung terdapat empat orang di satu meja. Sret Popy melirik ke arah orang yang baru saja duduk di sebelahnya. "Alan." Alan tersenyum, dia berusaha menjaga citranya di depan orang-orang. "Alan juga duduk disini?" Alan mengangguk. "Ya, aku akan mewakili ayah, aku satu meja dengan tuan muda Nabhan." Alan melirik ke arah Nibras. Nibras yang melihat lirikan Alan hanya mengangguk. Popy melirik lagi ke arah sebelah Alan. "Itu...oh! Poko tahu itu pasti pacarnya Alan yah?" "Ahkhem!" Alan terbatuk, dia tersenyum ke arah kakak perempuannya. "Woho! Ini toh pacarnya Alan, wah...cantik," puji Popy. Gadis di sebelah kiri Alan tersenyum manis ke arah Popy dan Nibras. "Halo, saya Finisa Lisa Jovian, senang bertemu anda nona Basri." Finisa memperkenalkan dirinya kepada Popy. Popy mengangguk antusias. "Saya Popy Aira Basri, senang bertemu denganmu, nona Jovian." "Ah! Aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" "Panggil saja saya Nisa." Finisa tersenyum. "Halo Nisa, panggil saya Poko." "Em...ya..." Nisa tersenyum sambil melirik Alan, pacarnya. Nibras hanya memandang ke arah Finisa, gadis yang bersama Alan itu adalah anak dari sepupu kakeknya, Farell Jovian. Dia sudah mengetahui hubungan Alan dan Nisa. Sret "Pacarnya Alan cantik yah kak Ibas," Popy berbisik ke arah Nibras. Nibras berbisik balik ke arah Popy, "tapi tidak semanis dan cantik dirimu." "Ah...kak Ibas bisa aja," Popy tersenyum malu-malu. "Benar, pacar Alan tidak secantik dirimu." "Biar kak Ibas beritahu sebuah rahasia, dia lebih tua tiga tahun dari Alan." "Hak!!" Popy melototkan matanya ke arah Alan dan Nisa. Finisa dan Alan yang mendengar bisikan Nibras pada Popy, mereka hanya bisa tersenyum kikuk. "Eoh...padahal Poko masih muda," ujar Popy. "Masih fresh." "Pfftt!" Nibras menahan tawanya. Nisa yang mendengar ekspresi saudara jauhnya itu menahan kedongkolannya. "Nibras Arelian Nabhan, pria menyebalkan." Batin Finisa dongkol, dia meremas-remas jemarinya serentak, pandangannya jengkel ke arah sepupu sebayanya itu. Sedangkan Nibras hanya tersenyum damai ke arah Finisa. Glik Sret "Ssshh! Sshh! Ssha!" Napas Ben memburu, dia tak bisa lagi menahan kecemburuannya. Ya, cemburu. Kata itu pantas disematkan pada dirinya. "Popy..." ♡♡♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN