"Segera ajukan proposal kerja samamu dengan Nabhan Corporation, om akan mendanai pembuatan film yang akan kamu tembak." Farel berbicara ke arah Gaishan di ruang tamu.
Gaishan mengangguk.
"Baik om, besok Gaishan akan rapat bersama yang lain."
Farel manggut-manggut.
"Dan bagaimana pameranmu? Bukankah om dengar pameran itu perusahaanmu dan Fashionable Group yang mengadakan?"
"Ya, benar om. Perusahan Gaishan berkolaborasi dengan Fashionable Group, mengingat bahwa perusahaan Gaishan baru saja dibangun belum lama ini, jadi kita membutuhkan sponsor dan mitra yang cocok, Fashionable merupakan mitra kerja yang cocok." Gaishan menjelaskan.
Farel memandang serius ke arah Gaishan.
"Gaishan, kamu tahu kan? Dunia hiburan itu kotor, tidak bersih, banyak orang-orang berakting menutupi yang sebenarnya,"
"Gaishan tahu om, tapi Gaishan berusaha agar bisa sebersih mungkin dari dunia hiburan yang lainnya."
Jelas Gaishan paham.
Pria 53 tahun itu mengangguk mengerti.
"Jangan terlalu bebas, ingat bahwa kamu juga punya saudara perempuan, om tidak melarang jika kamu menyukai salah satu gadis di perusahaanmu atau di salah satu perusahaan hiburan yang lainnya."
"Tapi lihatlah yang seperti nenek dan ibumu," lanjut Farel.
Gaishan mengangguk.
"Baik om, Gaishan selalu ingat nasehat om."
Farel mengangguk puas. Lalu ia melirik ke arah Bushra, Popy dan Nibras yang sedang tertawa, mereka sedang membahas diskusi mereka sendiri.
"Itu nona muda Basri, sepupu kamu."
Gaishan mengangguk.
"Om dengar dari nenekmu bahwa dia adalah pacar Nibras."
"Ekhem!" Gaishan terbatuk.
"Itu...eem...itu kesalahpahaman." Ujar Gaishan kikuk.
Farel mengangguk, tapi dia masih memandangi tiga orang yang sedang berbicara di sana dengan teliti.
"Mungkin saja tidak." Ujar Farel.
"Nenekmu sudah terlanjur menyukai dia."
Glek
Gaishan menelan ludahnya.
♡♡♡
"Eh?! Gaishan kok ninggalin Poko sih?" Popy menahan kekesalannya.
"Aku yang akan mengantarmu pulang," Nibras tersenyum ke arah Popy.
"Hah? Kak Ibas mau nganterin Poko pulang? Tapi nanti Poko ngerepotin kak Ibas." Ujar Popy.
Cuk
"Auh...jangan di cubit hidung Poko."
"Tidak merepotkan sama sekali, ayo!"
♡♡♡
"Kak Ibas, berhenti aja di depan gerbang rumah, nanti Poko turun lalu jalan sendiri masuk ke sana." Popy menunjuk ke arah gerbang rumahnya.
"Masuk saja ke dalam gerbang, jangan kamu turun disini, bahaya." Nibras menanggapi.
"Bahaya apanya sih kak Ibas? Itu kan udah dekat rumah Poko."
"Bahaya kalau kak Ibas nggak turunin kamu langsung ke depan pintu rumah kamu, ayah kamu." Nibras tersenyum geli ke arah Popy.
"Ahm..." Popy menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Mobil Nibras berhenti di depan pintu rumah Popy, sebelum Popy membuka pintu mobil, dia sudah melihat ayahnya berdiri tegak di depan pintu.
"Aduh...ayah Ran di depan pintu." Popy meringis.
"Itu kan, untung saja kau mendengarku tadi, kalau tidak aku mungkin ditendang ayahmu." Nibras tersenyum.
"Tunggu sebentar, kak Ibas akan membuka pintu mobilnya."
Popy menggeleng.
"Nggak usah kak Ibas, Poko bisa sendiri."
"Jangan melawan, ada ayahmu." Nibras menyela, dia turun dari jok kemudi dan cepat-cepat berjalan ke arah jok penumpang depan membukakan pintu mobil untuk Popy.
Brak
Nibras menutup kembali pintu mobil setelah Popy keluar.
"Ayah Ran, ayah Ran."
Tak
Tak
Hap
Popy memeluk ayahnya.
"Ayah Ran, tadi Poko nggak keluyuran kok, suer, tadi Poko pergi ke rumah Bushra di anterin mang Ujang, terus kita ke rumah kakek dan neneknya Gaishan dan Bushra, ada kak Ibas juga, ya kan kak Ibas?" Popy cepat-cepat menjelaskan.
Nibras mengangguk.
"Benar, Popy tidak kemana-mana selain yang dia sebutkan."
Randra mengangguk mengerti, dia menunduk ke arah Popy.
"Masuk ke dalam, bunda dan nenekmu sedang menunggumu."
Popy mengangguk.
"Ok."
Tak
Tak
Tak
"Assalamualaikum, bunda, nenek Laras, Poko ada di sini,"
Suara itu perlahan-lahan mengecil.
Randra memandang ke arah Nibras yang masih berdiri beberapa meter darinya.
"Jam delapan malam, sudah cukup larut, silakan tuan muda Nabhan kembali ke kediamannya."
Nibras tersenyum kecil, lalu ia mengangguk.
"Baik, saya permisi."
Sebelum Nibras berbalik dia menoleh ke arah Randra.
"Anda tenang saja, saya akan memperlakukan Popy dengan baik."
Sret
Randra yang ingin masuk ke dalam rumah, kembali menoleh ke arah Nibras.
"Hem!" Randra tersenyum sinis ke arah Nibras.
Nibras yang melihat ekspresi Randra, hanya tersenyum kecil, lalu ia memandang serius ke arah Randra.
"Saya bukan Alexander Benjamin Ruiz, saya adalah Nibras Arelian Nabhan, tuan muda dari Nabhan Corporation and Resort, kami, lelaki Nabhan selalu memegang janji kami, tidak pernah melanggar."
Randra memandang serius ke arah Nibras, setelah beberapa detik dia mengangguk singkat.
"Saya akan ingat janji ini." Ucap Randra, lalu sebelum dia berbalik, dia melirik ke arah Nibras.
"Terima kasih telah mengantar putri saya pulang."
Tak
Tak
Tak
Randra berjalan ke dalam rumahnya.
Nibras yang mendengar ucapan terima kasih dari Randra hanya tersenyum. Lalu dia naik ke mobil dan pulang ke kediaman Nabhan.
♡♡♡
Flashback
"Tidak perlu basa-basi."
"Ya, saya menyukai adik, saudara perempuan kalian, Popy Aira Basri."
Alamsyah, Ibrahim, Gaishan, Alan dan Ghifan memandang serius ke arah Nibras.
"Kami tidak melarangmu menyukai saudara perempuan kami." Alamsyah menanggapi.
"Tapi anda juga harus tahu, saudara perempuan kami, dia memiliki orang yang dia sukai juga." Lanjut Alamsyah.
Nibras menelan kasar ludahnya.
"Dan kami tidak menyukai perlakuan lelaki itu kepada saudara perempuan kami," lanjut Alamsyah.
Nibras membelalakan matanya.
"Laki-laki sialan itu adalah sumber mala petaka bagi saudara perempuan kami, dia terlalu menghargai dirinya mahal." Alan menoleh ke arah luar.
Nibras melirik ke arah Alan.
"Empat belas tahun saudara perempuanku menyukainya, dan tujuh tahun saudara perempuanku mengikutinya seperti ekor, tapi dia selalu mengabaikan saudara perempuanku." Lanjut Alan.
Nibras terdiam, dia mendengar baik-baik ucapan Alan.
"Ingin sekali aku retakan kepalanya, tapi sayang, Popy selalu menyukainya." Wajah Ibrahim berubah jelek ketika mengingat pria yang disukai oleh adik sepupunya.
Sedangkan Gaishan dan Ghifan hanya mendengus dingin.
"Alexander Benjamin Ruiz." Alan menoleh tajam ke arah Nibras.
Flashback end
Sret
Nibras memegang erat setir mobil, dia mengingat percakapan antara dia dan saudara-saudara Popy seminggu yang lalu.
"Kita lihat, siapa yang tersenyum di akhir."
Brak
Nibras menutup pintu mobilnya, lalu dia berjalan memasuki rumahnya.
"Ibas,"
Sret
Nibras berhenti, "ya, papa." Dia menoleh ke arah ayahnya.
"Dari mana?"
"Ibas baru pulang mengantar Popy ke kediaman Basri." Jawab Nibras.
Farel mengangguk, "baik, papa masuk ke kamar, kamu istirahat." Farel hendak menaiki tangga.
"Oh...pinggangku,"
Sret
"Ibu," Farel menoleh ke arah ibunya.
Tak
Tak
Tak
Cepat-cepat dia berjalan ke arah ibunya, memegang lengan ibunya.
"Ibu, sudah tidak awal lagi, mengapa ibu belum tidur?" Farel bertanya lembut ke arah sang ibu.
Lia menoleh ke arah anaknya.
"Oh, Farel anakku, aku sedang mencari seseorang." Ujar Lia dengan suara rentanya.
"Ibu mencari siapa? Katakan pada Farel, nanti Farel yang mencarinya, ayo ibu istirahat."
"Sayang, siapa yang kau cari?" Agri berjalan mendekat ke arah istrinya.
Sret
Agri melepaskan rangkulan Farel dari lengan istrinya, lalu dia menggantikan rangkulan Farel tadi.
Glek
"Ayah tidak pernah berubah. Masih saja suka cemburu." Batin Farel, lelaki 53 tahun itu.
"Pfft!" Nibras membungkam tawanya ketika melihat wajah makan hati sang ayah.
Lia menoleh ke arah suaminya.
"Oh, suamiku, aku sedang mencari anak manis yang tadi, oh...kemana dia pergi?"
"Anak manis?" Farel mengerutkan keningnya bingung.
Lia mengangguk.
"Ya, anak manis. Oh sudahkan aku memberitahumu bahwa Nibras akan menikah?" Lia menoleh ke arah Farel.
"Ahm...em..." Farel terlihat kikuk, entah mau menjawab apa.
"Sayang, kau sudah memberitahu Farel tadi waktu di meja makan." Agri memandang sayang ke arah Lia.
Lia mengangguk.
"Oh ya ampun, aku melupakannya lagi, bagaimana ini."
"Tidak apa-apa, yang penting jangan melupakanku." Ujar Agri lembut ke arah Lia.
Lia manggut-manggut.
"Ya benar, yang penting jangan melupakanmu."
Glek
Farel dan Nibras menelan ludah mereka serentak ketika melihat interaksi antara Lia dan Agri.
Pasangan tua itu sedang memperlihatkan adegan cinta mereka.
"Beruntung aku memilikimu, suamiku."
Cup
Agri mengecup dahi Lia.
"Aku yang beruntung memilikimu, Lia."
Hap
Lia dan Agri saling merangkul.
Gleng gleng
Farel dan Nibras menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Oh...dimana gadis itu?" Lia bertanya.
"Nenek, Ibas sudah mengantar pulang Popy ke rumahnya." Jawab Nibras selembut mungkin.
"Oh? Apakah dia tidak tidur disini?"
"Nenek, Popy tidak tidur disini, dia punya rumah sendiri." Nibras menjelaskan.
"Tapi bukankah kalian akan menikah?"
"Ekhem!" Nibras terbatuk, dia melirik ke arah kakeknya, entah mau menjawab apa, takut menyinggung perasaan sang nenek.
"Em...ibu, Ibas...maksud Farel dia...nanti gadis tadi akan datang lagi ke rumah ini," Farel berkata canggung.
Lia manggut-manggut, lalu dia menoleh ke arah Agri.
"Rupanya begitu, mereka memang akan menikah, suamiku."
Hap
Agri memeluk Lia, dia mengangguk menyenangkan wanita yang sudah 54 tahun itu menjadi istrinya.
"Sayang, ayo tidur, ini sudah tidak awal lagi."
Lia mengangguk.
"Ya, sudah malam. Ayo."
Lia dan Agri berjalan pelan memasuki kamar mereka yang berada di lantai satu.
"Oh! Suamiku, sudahkah kamu memijat pinggangku?"
"Sayang, aku sudah memijat panggangmu sore tadi, nanti aku pijat lagi."
"Oh ya ampun, aku melupakannya lagi, bagaimana ini."
"Tidak apa-apa, yang penting jangan melupakanku."
"Ya benar. Yang penting jangan melupakanmu. Oh beruntungnya aku memilikimu."
Cup
"Aku yang beruntung memilikimu, Lia."
Lalu mereka masuk ke kamar.
Glek
Tak
Tak
Tak
Farel berjalan cepat-cepat ke arah dapur, tak berapa lama kemudian dia berjalan cepat dari arah dapur merangkul lengan seorang perempuan.
"Mas apa-apaan sih main tarik-tarik aku? Pelan-pelan dong jalannya." Ujar wanita itu kesal.
"Ini darurat, tidak bisa pelan-pelan."
Tak
Tak
Tak
"Mas! Naik tangganya jangan-hei! Jangan tarik-tarik!"
Brak
Klik
Klik
Bunyi pintu kamar disusul suara kunci pintu.
"Ck! Bikin makan hati saja!" Nibras berjalan naik ke arah kamarnya sambil meratapi nasibnya.
"Nasib bujang, ternyata seperti ini."
♡♡♡