"Farikin's Seafood melanjutkan kerja sama dengan kita lagi?" Silvio memandang Ben serius.
Ben mengangguk.
"Anggara Investation dan Naran Investation juga melanjutkan dana investasi mereka kembali,"
"Kamu sudah tahu apa yang terjadi kan?" Silvio bertanya ke arah Ben.
"Mereka punya hubungan erat dengan Basri,"
"Pemimpin Farikin's Seafood yang sekarang ini adalah adik ipar dari tuan Basri." Silvio melanjutkan ucapannya.
Ben mengangguk.
"Ya."
"Sejak kapan kamu menyinggung Basri?"
Ben menggeleng.
"Tidak tahu."
"Kita tidak pernah mengadakan kerja sama antara Ruiz dan Basri, tapi kamu menyinggung mereka," ujar Silvio.
Silvio memandang baik-baik putranya, dilihatnya wajah sang anak, lingkaran mata hitam, wajahnya pun tak sesegar biasanya.
"Apa ini ada hubungannya dengan nona muda Basri--,"
"Tidak ada hubungan apa-apa dengan dia," Ben menyela ucapan ayahnya, dia mengepalkan kuat kepalan tangannya.
"Ooh...tidak perlu disembunyikan, papa sudah tahu bahwa selama beberapa tahun ini putri Basri itu tergila-gila padamu--,"
"Tidak ada hubungannya dengan dia,"
Silvio masih memandang serius ke arah Ben.
"Ben bilang tidak ada hubungannya dengan dia."
Silvio mengangguk mengerti.
"Lalu bagaimana dengan nona Tinar--,"
"Tidak akan pernah ada pertunangan diantara kami, aku bisa menstabilkan perusahaanku sendiri tanpa bantuan dari seorang gadis." Ucap Ben dingin.
Silvio mengangguk mengerti.
"Kakeknya menelepon papa, menanyakan mengenai waktu pertunangan, papa juga tidak menyangka bahwa nona Tinar menyukaimu," ujar Silvio.
"Ben mampu mengurus urusan pribadi Ben sendiri,"
"Ben keluar."
Sret
Tak
Tak
Sret
Sebelum keluar dari ruang kerja Silvio, Ben berhenti.
"Aku tidak menyukai dia."
Ceklek
Pintu ruang kerja ayahnya tertutup, Silvio hanya memandangi kepergian putranya dengan diam.
Ben berjalan cepat ke kamarnya.
"Ben." Mali memanggil Ben.
"Ben lelah." Sahut Ben lalu masuk ke kamarnya.
Mali mengangguk singkat, ia juga melihat wajah kuyu anaknya.
♡♡♡
Flashback
"Kamu ingin Farikin's Seafood melanjutkan kembali kerja sama dengan Ruiz Food Company?" Busran memandang Randra heran.
Randra mengangguk.
Busran melirik ke arah Dwi Putra Anggara dan Naran Taranta.
"Dan...Anggara dan Naran juga?"
Randra mengangguk.
"Ya."
"Tapi aku pikir kamu ingin memulai perang dengan Ruiz," ujar Dwi.
"Benar, baru dua minggu yang lalu kamu ingin memulangkan mereka ke tanah asal mereka, kenapa sekarang berubah pikiran?" Naran angkat bicara.
"Aku punya batas kesabaran dan garis bawah, dan kalian sudah tahu itu."
Ujar Randra.
"Ini bukan berarti aku akan melupakan dan memaafkan apa yang dia lakukan untuk putriku, aku akan selalu mengingat ini." Lanjut Randra.
"Jadi...apakah ini permintaan putrimu?" Dwi memandang serius ke arah Randra.
"Laki-laki sialan itu bisa mengelabui putriku, tapi dia tidak bisa mengelabuiku, heum. Aku yang lebih dulu merasakan pahit dan manis kehidupan ini, aku telah merasakan banyak pengalaman hidup, entah itu biasa-biasa saja, manis, dan juga kelam."
Tiga orang teman Randra memandangi dia dengan diam.
Flashback end
♡♡♡
"Jadi Poko lagi?" Gea melirik ke arah suaminya.
Busran mengangguk.
"Ya, putrinya itu terlalu berharga untuk dipermainkan, lihat saja anak Mali itu,"
"Aku heran, Poko tidak pernah menyalahkan anak bau itu mengenai seluruh perlakuannya terhadap Poko, ikut hati siapa dia?" Busran terlihat kesal, dia sangat kesal dengan Ben.
"Ikut siapa lagi kalau bukan kakakku?" Gea memandang Busran.
Busran memandang ke arah Gea.
"Memang kakakmu dia mm...maksudku yah aku tahu dulu kalau kakakmu memaafkan orang yang--,"
"Aku tidak ingin mendengar masa lalu dan nama orang itu." Wajah Gea tiba-tiba berubah jelek.
"Ah! Salah bicara." Batin Busran.
Hap
"Maaf," Busran memeluk istrinya.
♡♡♡
Flashback
"Maaf nona Tinar, apa yang diharapkan oleh kakek anda tidak akan pernah terjadi." Ben melihat ke arah Syarastya dengan dingin.
"Apa maksudmu?" Syarastya memandang ke arah Ben dengan waspada.
"Tidak akan ada pertunangan di antara kita." Ujar Ben.
"Apa? Bagaimana ini bisa? Ben, perusahaanmu membutuh--,"
"Aku bisa mengatasi sendiri urusan perusahaanku tanpa bantuan darimu." Sela Ben.
"Tapi saham Tinar empat puluh--,"
"Aku tidak akan menerima sedikitpun saham dari Tinar," sela Ben jengkel.
"Apa? Tapi tadi kau tidak menerima dia--,"
"Dia adalah urusanku, anda tidak berhak ikut campur. Silakan pergi."
"Apa?" Syarastya panik.
"Kau tadi menolak nona Basri itu kau mengusirnya baru saja,"
"Ya, dan sekarang aku mengusir anda, silakan pergi dari sini."
Flashback end
Braaakk
"Aaakkkkhh!"
"Sshh! Shh! Sshh!" Syarastya bernapas kasar.
"Kenapa jadi begini? Kenapa bisa berubah?!"
"Aaaakkkhh!!"
"Tia, ada apa?"
"Jangan mengangguku!"
"Tia kamu--,"
"Pergi!"
Bruuk
Kretak
Kaca rias itu pecah berserakan.
♡♡♡
"Tante Gea kemana?"
"Mama lagi ke kantor." Bushra menjawab pertanyaan Popy.
"Oh, tante Gea kerja terus yah." Ujar Popy.
"He'em, sudah lama jadi sekretarisnya papa." Balas Bushra.
"Nggak bisa dipisah, di rumah ada, di kantor ada, dimana-mana ada," ujar Popy.
"Hehehehe, ya begitulah, pasangan." Bushra menimpali.
"Hoy!"
"Astaga! Kak Gaishan! Suka banget bikin kita kaget." Bushra terkejut ketika Gaishan mengagetkan mereka.
"Lagi apa sih? Gosip-gosip siapa?"
Gaishan duduk di sebelah Bushra.
"Mau tahu aja." Cebik Bushra.
"Hem...begini nih kalau urusan gosip." Balas Gaishan.
"Halo."
"Eh?!"
Bushra dan Popy menoleh ke arah suara itu.
"Kak Ibas."
Nibras berdiri tersenyum ke arah Bushra dan Popy.
"Sedang santai?"
Bushra dan Popy mengangguk.
"Boleh gabung?"
Bushra dan Popy mengangguk lagi.
Nibras berjalan duduk di samping Popy.
"Tumben kak Ibas datang ke sini? Ada apa?" Bushra melirik ke arah kakak sepupunya.
"Oh, ada urusan pekerjaan dengan om Busran." Jawab Nibras.
Bushra dan Popy manggut-manggut.
"Papa belum pulang, ini baru jam empat." Ujar Bushra.
"Ya, tapi sedikit lagi, om Busran dalam perjalanan." Nibras memandang ke arah Popy.
"Kau sakit?"
"Eh? Poko?" Popy menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Ya, kamu." Nibras tersenyum geli.
"Nggak kok, Poko nggak sakit," ujar Popy cepat-cepat.
"Halah bohong, jelas-jelas kamu--hmmpp!"
"Hiss! Mulut ember," Popy cepat-cepat membungkan mulut Gaishan.
"Hehehe," Nibras tertawa geli ke arah Popy dan Gaishan.
"Begini saja, bagaimana kalau kita keluar dan mencari udara segar di luar?" Nibras mengusulkan ke arah Popy.
"Ya! Kebetulan aku ingin pergi menemui om Farel, hei Bus! Kita ke rumah kakek yuk?!" Gaishan mengajak adiknya.
"Eh? Sekarang?" Bushra bertanya.
"Setelah aku selesai berbicara dengan om Busran, kita pergi." Nibras tersenyum ke arah Bushra dan Popy
♡♡♡
"Kakek! Nenek Lia! Nenek Lia!" Gaishan mencari-cari kakek dan neneknya.
"Tuan Gaishan, silakan duduk, saya akan memberitahu nyonya besar, beliau dan tuan besar sedang di taman," ucap kepala pelayan.
"Oh, tidak usah, aku saja yang pergi." Gaishan berjalan ke arah taman.
"Nenek, nenek Lia," Gaishan celengak-celenguk.
"Nenek Lia, ini Gaishan." Gaishan berjalan mencari neneknya.
"Oh pinggangku..." terdengar suara serak seorang wanita lansia.
"Oh, nenek Lia, nenek disana rupanya." Gaishan mendekati neneknya.
"Ada apa Gaishan?"
"Hak! Kakek, bikin kaget Gaishan aja." Gaishan mengusap-ngusap d**a kirinya, dia terkaget karena mendengar suara kakeknya.
"Heum! Ada apa?" Agri memandang tajam ke arah cucunya.
"Hehehe, Gaishan cuma pengen peluk nenek Lia aja kok."
"Heum, bocah bau." Agri mendengus.
"Aiisshh, sudah tua masih saja cemburu dengan cucu sendiri." Batin Gaishan.
Sret
"Oh...oh...pinggangku..." Lia memegang pinggang tuanya.
"Sayang mari aku bantu, jangan terlalu banyak bergerak." Agri bantu menahan tubuh Lia berdiri.
Sret
Lia berbalik dan melihat Gaishan.
"Oh...suamiku, siapa ini?" Lia bertanya heran.
"Nenek ini aku--,"
"Dia Gaishan, cucu kita." Jawab Agri memotong ucapan Gaishan.
"Ck! Masih sama." Batin Gaishan.
"Oh ya ampun, aku melupakanmu. Ah...mari masuk ke dalam saja..." Lia berjalan masuk ke arah dalam rumahnya, terlihat Agri sedang merangkulnya.
"Ssshhh..." Gaishan mengikuti kakek dan neneknya dari belakang, perjalanan dari taman ke dalam rumah memakan waktu beberapa menit, dikarenakan Lia dan Agri berjalan seperti siput.
Sret
Sret
"Ah nenek Lia."
Tak
Tak
Tak
Hap
"Oh...siapakah ini?" Lia memandang ke arah Bushra yang memeluknya.
"Ini Bushra, cucu kita." Jawab Agri.
"Oh...ya ampun aku melupakanmu." Lia manggut-manggut.
"Uh nenek, kau masih cantik saja, ayo duduk." Puji Bushra.
"Oh benarkah?"
"Ya, benar." Bushra tersenyum ke arah neneknya.
"Kakek juga masih tampan." Bushra menyegir ke arah Agri.
Lelaki berusia 84 tahun itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja.
Mereka duduk di ruang tamu, Lia melihat dua orang yang sedang duduk di kursi sofa.
"Oh...cucuku Nibras, siapa gadis cantik ini?" Lia bertanya ke arah Nibras.
"Nenek, ini Popy, dia datang kemari dengan Nibras dan Gaishan."
"Ooh..." Lia manggut-manggut.
"Rupanya kau sudah ingin menikah lagi." Lanjut Lia.
"Eh!?" Popy memandang bingung ke arah Lia.
"Hehehe," Nibras tersenyum malu ke arah Popy, lalu dia mendekat ke arah Popy.
"Tolong mengertilah, nenekku sudah tua,"
Popy manggut-manggut tanda mengerti.
"Oh...ada tamu, tunggu sebentar, aku akan membuatkan teh untukmu, anak manis." Ujar Lia hendak berdiri dari kursi.
"Sayang, duduklah nanti pelayan yang akan membuatkan mereka teh." Agri mencegat sang istri.
"Oh...ya ampun aku melupakan pelayan."
"Oh aku sudah banyak melupakan orang-orang." Lanjut Lia teduh.
Agri tersenyum manis ke arah Lia.
"Tidak apa-apa sayang, yang penting jangan melupakanku."
"Oh...benar, yang penting jangan melupakanmu, suamiku." Ujar Lia.
Glek
Twek
Empat orang yang ada diruang tamu memandang ke arah Agri dan Lia cengo.
"Oh, mana tehnya?" Lia bertanya ke arah pelayan.
"Sedang disiapkan nyonya besar." Jawab pelayan sopan.
"Oh itu lebih baik...ah! Aku lupa memberitahumu bahwa daun tehnya aku simpan di tempat sampah di pinggir kolam renang, tadi aku minum teh disitu."
"Eeohh?!" Popy membulatkan matanya sempurna.
"Ppft!" Nibras, Gaishan dan Bushra menahan sesuatu yang akan keluar dari tenggorokan mereka.
"Baik nyonya besar." Sahut pelayan sopan.
"Oh...dan...ada kue yang enak di tempat sampah di dapur, aku menaruhnya disitu tadi." Lia mengingatkan pelayan lagi.
"Baik nyonya besar." Pelayan itu mengangguk.
Popy memandang ke arah Lia, dia menjatuhkan rahang bawahnya tanpa sadar.
Sret
Nibras mendekat ke arah Popy.
"Nenekku punya kebiasaan mencari makanan di tempat sampah, tapi kau tenang saja, semua tempat sampah di rumah ini bersih dan sehat-sehat makananya." Bisik Nibras meyakinkan Popy.
Twet
Popy melirik Nibras, sedang mencerna penjelasan pemuda itu.
"Hehehe..." Nibras tercengir.
"Suamiku, gadis ini cantik...oh Ibas...inikah calon istrimu?" Lia menilai Popy.
"Eh?" Popy terkaget.
Sedangkan Nibras dan yang lainnya menggaruk kepala mereka bingung, entah mau jawab apa.
"Ehem..." Agri berdehem.
"Oh...nenek ini...ya..." Nibras ragu-ragu, dia melirik ke arah Popy.
"Oh...suamiku," panggil Lia teduh ke arah Agri.
"Ya, sayang?" Agri menyahut.
"Aku menyukai gadis ini, dia manis, cocok dengan Ibas, cucu kita." Ujar Lia ke arah Agri.
Agri mengangguk menyenangkan istrinya.
"Ya, aku juga menyukai yang kau suka."
"Oh...suamiku, beruntung ada kau disini." Lia memandang sayang suaminya.
Hap
Agri memeluk Lia.
Twet
Empat orang yang ada di ruangan itu memandang Agri dan Lia cengo lagi.
"Oh...ya ampun...pinggangku sakit...mungkin aku terlalu lama menunduk di tempat sampah di taman tadi," ujar Lia menahan pinggangnya.
"Nanti aku akan memijatnya, tidak apa-apa, ada aku." Balas Agri mengusap-ngusap pinggang istrinya.
"Oh...beruntung ada dirimu." Lia bersyukur lagi.
"Sebaiknya kita ke kamar saja, aku akan memijat pinggangmu." Usul Agri.
"Ah! Ya benar, ayo." Sahut Lia.
Sret
Agri membantu Lia berdiri dari kursi sofa.
"Oh kalian, silakan lanjutkan acara kalian, aku dan suamiku akan kekamar dulu." Ujar Lia.
"Baik nek." Sahut Gaishan.
"Hati-hati di tangga." Ujar Bushra.
"Lilis, Arti, ikut." Nibras menyuruh dua pelayan perempuan mengikuti Agri dan Lia di belakang mereka.
Agri dan Lia menaiki anak tangga perlahan.
Sret
Di anak tangga kedua, Lia berhenti, dia melihat ke arah suaminya.
"Suamiku, bukankah Gaishan itu anak dari Busran putra kita?" Lia bertanya.
"Ya, Gaishan adalah anak dari putra kita, Busran."
"Oh ya aku ingat, istrinya cantik." Lia manggut-manggut.
Tak
Tak
Sret
Dua anak tangga, Lia berhenti lagi, pelayan yang mengikuti mereka juga ikut berhenti.
"Suamiku, Rafa itu anak dari putraku Busran juga?"
"Bukan, Rafa itu adalah anak dari Rafi, putra bungsu kita." Jawab Agri lembut ke arah perempuan 74 tahun itu.
"Oh...aku ingat sekarang, Rafi putra bungsu kita menikah dengan Cici Cila, oh ya ampun...aku melupakan mereka lagi."
"Tidak apa-apa sayang, yang penting jangan melupakanku." Agri tersenyum sayang ke arah Lia.
Lia manggut-manggut.
"Ah, kau benar suamiku,"
Tak
Tak
Sret
Dua anak tangga, Lia berhenti lagi, Agri pun ikut berhenti, dan pelayan yang mengikuti mereka di belakang juga ikut berhenti, mereka terlihat sangat sabar menunggu pembicaraan kedua tuan tua mereka di atas anak tangga.
"Suamiku aku punya berapa anak?"
"Lia sayang, kita berdua mempunyai tiga anak laki-laki." Jawab Agri sabar.
Lia manggut-manggut.
"Ah benar, kenapa kita tidak punya anak perempuan, suamiku?"
"Lia, yang diberi Allah hanya anak laki-laki." Jawab Agri tersenyum.
Lia manggut-manggut.
Tak
Tak
Tak
Tiga anak tangga, Lia berhenti lagi.
"Suamiku, aku lupa memberitahumu, minyak yang biasa kau pakai untuk memijat dan mengurutku aku simpan di tempat sampah ruang tamu, tidak sengaja aku bawa tadi."
"Tidak apa-apa, ada minyak urut yang lain lagi." Jawab Agri mengusap-ngusap bahu istrinya.
Lia manggut-manggut.
Tak
Tak
Sret
Lia berhenti, Agri juga berhenti.
"Suamiku, sudah berapa lama aku tidak bertemu dengan anak-anakku? Oh...sudah beberapa tahun,"
"Lia sayang, empat bulan yang lalu kita berkumpul bersama anak-anak kita."
"Oh ya ampun, sudah terlalu lama rupanya."
"Ya, sudah terlalu lama." Agri menyahut.
Tak
Tak
Tak
Sret
Di akhir anak tangga Lia berhenti.
"Suamiku, sudahkah aku memberitahumu bahwa kamar kita ada di lantai satu?"
"..."
Beberapa detik kemudian.
"Tidak apa-apa dikamar sebelah sini saja," jawab Agri lembut.
"Oh ya benar...ya ampun...aku melupakannya lagi, bagaimana ini." Lia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Lia, yang penting tidak melupakanku." Ujar Agri.
Lia manggut-manggut.
"Ya benar, yang penting tidak melupakanmu."
"Oh beruntungnya aku memilikimu,"
Cup
Agri mengecup dahi sang istri.
"Aku yang beruntung memilikimu, Lia."
Ceklek
Pintu kamar tertutup, suara pasangan lansia itu tertelan di balik pintu.
Sedangkan kedua pelayan yang mengikuti pasangan lansia tadi berbalik turun ke lantai satu.
Twet
Twet
"Ee...jangan heran, kakekku sangat mencintai nenekku." Nibras tersenyum ke arah Popy.
Popy manggut-manggut.
"Benar, kakek Agri sangat mencintai nenek Lia." Timpal Gaishan.
"Ya." Bushra mengangguk.
"Kak Ibas, berapa umur kakek dan nenek kak Ibas?" Popy bertanya.
"Oh umur, kakek tahun ini berumur delapan puluh empat tahun kalau nenek berumur tujuh puluh empat tahun."
Popy manggut-manggut.
"Pantas saja pikun-pikun."
"Hehehe," Nibras tersenyum.
"Kakek tidak punya saudara, hanya sepupu tapi beberapa dari mereka sudah duluan menghadap Yang Maha Kuasa, hanya beberapa orang saja yang masih sehat, satu adik sepupu kakek Agri yang merupakan Nabhan juga, yang lainnya sepupu perempuan anak dari nenek Maya di Jerman, kalau nenek punya tiga orang kakak laki-laki dan satu orang saudara perempuan." Ujar Nibras.
"Tapi semua saudara laki-laki nenek Lia juga sudah tidak ada, hanya nenek Meisha yang masih hidup, tapi sekarang nenek Meisha tidak disini, beliau mengikuti kakek Odwin ke London dua puluh tahun yang lalu." Lanjut Nibras.
Popy manggut-manggut.
"Poko ingin seperti kakek Agri dan nenek Lia, hidup sampai tua bersama dan saling mencintai."
Popy tersenyum ke arah Nibras.
♡♡♡