Chapter 11

1631 Kata
"Ran," "Hm?" Randra menyahut panggilan pelan sang istri. "Poko...Poko..." jemari Moti meremas telapak tangan Randra. Sret Randra mengeratkan pelukannya pada sang istri, cukup lama Randra memeluk istrinya di atas ranjang, mereka sedang berbaring. "Itu...Poko dan Ben..." "Poko akan baik-baik saja, Poko adalah putri kita, dia anak yang kuat, tidak pernah sakit, selalu ceria, gembira dan tidak pernah bersungut lelah." Ujar Randra meyakinkan sang istri di pelukannya. Moti mengangguk. "Putriku cantik, dia manis siapa yang tidak mau dengannya?" lanjut Randra. Moti menggangguk lagi. "Ya...Poko anak yang manis..." Lalu Moti menutup matanya dipelukan Randra, perempuan 48 tahun itu tertidur lelah. "Aku tidak akan pernah melupakan ini, Ben." Batin Randra. ♡♡♡ Tiga hari kemudian. "Apa?!" Ben berdiri dari kursi kerjanya. "Farikin's Seafood meminta maaf dan ingin melanjutkan kembali kerja samanya?" Sasha mengangguk membenarkan. "Pihak Anggara dan Naran Investation juga mengonfirmasi bahwa sebelumnya adalah kesalahpahaman saja." Sasha menjawab. Ben terlihat mengerutkan keningnya kuat. Pria 29 tahun itu terlihat agak kuyu, kantung matanya menghitam, kentara sekali bahwa ia tidak tidur nyenyak dalam beberapa hari ini. Ben terlihat berpikir, dia berdiri cukup lama, entah apa yang sedang dia pikirkan. Beberapa saat kemudian Ben tersadar dari lamunannya, "kau boleh keluar, beritahu ke seluruh eksekutif Ruiz Food Company bahwa kita akan mengadakan rapat lagi hari ini." "Baik tuan," Sasha mengangguk lalu dia keluar dari ruang kerja Ben. Sepeninggal sekretarisnya, Ben terlihat linglung, pikirannya melayang entah kemana lagi. "Popy..." gumaman kecil itu keluar dari bibir Ben. ♡♡♡ "Popy tidak kuliah lagi hari ini," Casilda melirik ke arah Liham. Liham mengangguk muram, dia sedang menyeruput minumannya. "Mungkin minggu depan." Sahut Liham. Casilda manggut-manggut. "Apa dia sakit lagi?" Liham menghentikan sementara suapan sendok yang akan memasuki mulutnya. Ting Bunyi singgungan sendok makan dengan piring, Liham meletakan kembali sendok makan yang tadi akan memasuki mulutnya. "Ssshhh..." helaan napas Liham. "Entahlah..." "Hm?" Casilda mengerutkan keningnya bingung. "Maksudmu, kamu tidak tahu apakah Popy sakit atau tidak?" "Kalian kan serumah, saudara juga." Lanjut Casilda. Liham menggaruk ubun-ubunnya. Dia tidak tahu harus menjelaskan apa pada Casilda, apakah dia harus bilang bahwa Popy patah hati karena masalah percintaannya, ataukah Popy terlihat sakit ketika dia melihat kakaknya kemarin. Sret Sshh Liham mengusap wajahnya. "Ada apa?" Casilda bingung dengan tingkah Liham. "Apakah kau ingin bertemu dengan kakakku?" Liham bertanya ke arah Casilda. Casilda mengangguk tanda ia mau bertemu dengan Popy. Liham mengangguk. "Mungkin kalian akan sama-sama mengerti, sesama gadis." Ujar Liham. ♡♡♡ "Bunda, Liham pulang." Liham terlihat memasuki ruang keluarga, dia terlihat sedang mencari-cari ibunya. Moti yang berada di taman sedang menggunting rapi daun bonsai, berbalik. "Bunda di taman, ada apa Ham?" Tak Tak Tak Liham berjalan ke arah taman belakang rumah mereka, dia mengedarkan pandangannya, terlihat Ayun, anak dari asisten rumah tangga Basri sedang memegang keseimbangan kursi roda sang ibu. Tak Tak Cup "Hm, ada apa?" Moti melirik ke arah Liham yang mengecup pipinya. "Bun, ada teman Liham dan kak Poko datang, yah...teman satu kelas." Ujar Liham. "Oh? Teman datang yah?" Moti melirik ke arah belakang Liham. "Mana? Bunda nggak lihat," "Cassy, ayo sini!" panggil Liham ke arah dalam rumah. Tak Tak Tak Tak berapa lama kemudian Casilda berjalan mendekat ke arah Liham dan Moti. "Selamat sore tante, saya Casilda Möch, kami teman satu kelas." Casilda tersenyum memperkenalkan dirinya. "Oh?!" Moti mengedip-ngedipkan matanya ke arah Casilda lama, dia memandangi wajah gadis 18 tahun itu dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. "Rambut pirang...putih kulitnya...bisa bahasa Indonesia...hm..." Moti berganti lirikan ke arah Liham. "Bukan orang Indonesia Bun," ujar Liham. "Saya orang Jerman, nenek dari ayah saya orang Indonesia asli, jadi saya bisa bahasa Indonesia juga." Casilda tersenyum. "Oohh..." Moti manggut-manggut. "Eh!? Tadi kamu bilang siapa namamu?" Moti tersadar. "Nama saya Casilda Möch, tante." Jawab Casilda. Moti terlihat berpikir, dia mengerutkan keningnya. "Kayak pernah dengar nama itu...tapi dimana yah...Moch..." Moti mengingat-ngingat. Casilda terkaget ke arah Moti. "Tante pernah dengar keluarga saya?" "Hm..." Moti terlihat berpikir. "Ayah saya dulu sekolah menengah atas di sini, tante. Ayah saya baru saja setengah tahun yang lalu pindah ke Indonesia dengan ibu saya, tetapi mereka tidak menetap karena ayah saya akan ke Berlin lagi," ujar Casilda. "Jerman...oh! Ada dulu teman tante Momok yang namanya mas Aran, orang Jerman, oohh iya, baru ingat, itu mas Aran Moch, hehehehe Momok jadi lupa kan, udah lama, mas deutsch." Moti mengingat nama Aran lalu dia menyengir ke arah Casilda. Casilda membulatkan matanya. "Tante tahu ayah saya juga? Nama ayah saya Aran Möch, tante." "Oh?? Kamu ini anaknya mas Aran toh? Ya ampun...yang ganteng itu? Hahaha, cantik yah kamu." Moti tersenyum ke arah Casilda. Casilda juga balas tersenyum ke arah Moti. "Jadi tante kenal?" Moti mengangguk. "Yah kenalah, masa nggak kenal sih, dulu tante yang nemuin dompet ayah kamu waktu sekolah, eh...sekarang nemuin anaknya disini, cantik lagi." Moti tersenyum cerah. "Ooohhh..." Casilda memandangi Moti dengan takjub. "Begitu yah?" Moti mengangguk. "Sekarang kamu kuliah satu kelas dengan Poko?" Casilda mengangguk. "Iya tante, satu kelas." "Datang kesini ingin lihat Poko kan? Soalnya dia juga sudah beberapa hari ini tidak kuliah," Moti bertanya ke arah Casilda dengan muram. Casilda mengangguk. "Benar tante, Cassy datang kesini buat mau ketemu Popy." "Oh yah sudah, Poko ada di kamar, Liham, antar Casilda ke kamar Poko." Pinta Moti. "Ok, bun." "Cassy ayo." Liham dan Casilda berjalan menjauh dari Moti. ♡♡♡ "Jadi kapan kamu mau kuliah lagi?" Casilda sedang tiarap di atas kasur Popy sambil menongka dagunya. "Besok aja, eh...senin depan saja baru Poko kuliah lagi," jawab Popy sambil tiduran. Casilda manggut-manggut. "Sshh...dengar cerita kamu, buat aku ag-gak marah sih." Casilda menatap Popy. Popy hanya duduk bersandar di kepala ranjang. "Sebenarnya dia juga salah disini," Casilda melanjutkan ucapannya. Popy melirik ke arah Casilda. "Kalau memang dia tidak menyukai kamu, seharusnya dia mengatakannya padamu jauh-jauh hari, maksudku begini, kamu kan sudah mengejarnya selama tujuh tahun, dan tujuh tahun itu bukan waktu yang sedikit, kalian berkenalan saja sudah empat belas tahun," Casilda melanjutkan ucapannya. "Selama kamu mengajaknya makan siang dan membawanya sarapan, dia bisa memberitahumu baik-baik bahwa dia tidak menyukaimu, bukan hanya diam saja seperti itu, mengabaikanmu, bahkan tidak menyahut panggilanmu," Popy hanya terlihat diam. "Selama ini dia tidak pernah bilang padamu bahwa dia tidak menyukai kamu kan?" Casilda memandang ke arah Popy. Popy mengangguk. "Itu yang menjadi masalahnya, dia tidak pernah bilang bahwa dia tidak menyukaimu, jadi kamu terus mendekatinya, tetapi dia juga tidak mengancammu untuk menjauh darinya, bahkan dia pernah menerima sarapan yang kamu bawa padanya, itu yang memberi tanda bahwa kamu punya harapan untuk bisa mendapatkan hatinya." "Ibunya bahkan mengatakan padamu bahwa dia juga sangat senang ketika kamu mengajaknya makan siang dan membawakannya sarapan," lanjut Casilda. "Tetapi dia marah padamu ketika kamu mengatakan bahwa kamu ingin mentransfer sahammu kepadanya, Popy..." Casilda memandang serius ke arah Popy. "Mungkin kamu telah tidak sengaja menyakiti harga dirinya," "Hah?!" Popy menelan ludahnya. Casilda mengangguk. "Memang laki-laki akan tersinggung jika ada perempuan yang lebih kuat darinya, seperti begini...dia mungkin agak malu menunjukan kelemahannya padamu, bagaimana yah...ah begini, dia mungkin ingin menyelesaikan sendiri masalahnya tanpa harus kamu campur tangan, karena dari ceritamu padaku, dia itu sudah terbiasa mandiri dari dulu, pintar dan juga cerdas." Popy terlihat menggigit sudut bibir bawahnya. "Jadi...jadi Poko salah? Poko menyinggung perasaan Ben?" ujar Popy parau. "Hm..ya, itu menurutku." Angguk Casilda. "Apa Poko harus ke Ben dan minta maaf pada Ben?" "Hah?!" Casilda terlihat bingung. "Yah...kalau menurutku...minta maaf itu bagus, mungkin bisa meleburkan suasana kaku di antara kalian." "Tapi bagaimana dengan nona Tinar, Poko dengar kalau mereka akan bertunangan, kalau Poko ke sana, apa Ben mau melihat Poko lagi? Ben malahan tidak mengusir nona Tinar dari ruangannya, hanya Poko." Ujar Popy. "Ee...kalau masalah itu aku tidak tahu harus berkata apa." Ujar Casilda. "Ssshh...huh..." Popy menarik napas lesu. ♡♡♡ "Ck! Itu kan aku bilang, si Ben itu orangnya jahat, begini baru kamu sadar." "Ck! Kak Gaishan apa-apaan sih." Bushra memandang kesal ke arah kakaknya. Gaishan melirik ke arah Popy. "Ssshh...huh..." "Poko, ada banyak laki-laki di dunia ini, jutaan, milyaran malah, si Ben itu hanya merupakan sebagian kecil dari jumlah laki-laki yang ada di dunia ini." Gaishan duduk di samping Popy. "Poko, hei, lihat aku." Gaishan membalikan bahu Popy ke arahnya. "Mungkin si Ben itu bukan jodoh kamu--," "Tapi Poko suka sama Ben sudah lama, dari pertama Poko pergi ke rumah Ben yang di Spanyol, Poko suka sama Ben." Ujar Popy. "Sshh..." Gaishan menarik napas. "Poko, sini Gaishan bilang ke kamu. Biarpun kamu suka sama Ben udah empat belas tahun, biarpun kamu ngejer-ngejer Ben sudah tujuh tahun, tapi kamu tidak bisa paksakan hati orang lain ke kamu." "Tapi tante Mali bilang kalau Ben juga senang kalau Poko ajak makan siang," sanggah Popy cepat. "Senang belum tentu dia suka sama kamu, coba pikirkan, kalau memang selama ini si Ben itu senang sekali kamu ajak makan siang dan sarapan bareng kamu, dia nggak akan jutek dan cuek ke kamu, udah lama Poko, udah lama dia jutek dan cuek-cuek sama kamu, tujuh tahun itu bukan waktu yang singkat kamu ngejar-ngejar dia, seharusnya kalau dia suka sama kamu, dia akan memperlakukan kamu dengan baik." Ujar Gaishan. Popy terlihat diam. "Tapi--," "Apa yang tapi-tapinya? Kalau si Ben itu suka sama kamu, dia nggak akan perlakukan kamu seperti ini, kamu ditinggalin di pinggir jalan, biarin kamu ngejar-ngejar mobilnya macam dikejar maling, tinggalin kamu di depan banyak orang, itu karyawannya lihat kamu jadi bahan tontonan, dia bahkan nggak ada hormat dan menghargai usaha kamu." Sela Gaishan dongkol. "Poko, Gaishan bilangin ini, belum tentu orang yang kita suka dari kecil sampai gede itu adalah jodoh kita, siapa tahu aja kamu ngejagain jodoh orang lain, ada juga kok kejadian nyata, mereka saling suka dua puluh lima tahun malah, eh tapi nggak jodoh, jodohnya mereka orang lain." Ujar Gaishan. Popy terdiam, dia menelan susah air ludahnya. "Poko, Gaishan tahu, patah hati itu sakit, rasanya nggak enak, apalagi orang ini udah kamu suka selama bertahun-tahun, tapi kamu juga harus tahu, waktu bisa memudarkan dan meringankan rasa sakit dan patah hati kamu." Ujar Gaishan. Popy tidak menanggapi, dia hanya mendengarkan ucapan nasehat dari Gaishan. "Siapa tahu kamu ketemu dengan laki-laki yang lebih baik daripada Ben, kamu manis, cantik, masih muda. Siapa yang tidak mau sama kamu?" ujar Gaishan berapi-api. "Siapa tahu aja besok atau lusa ada yang suka sama kamu, dia itu lebih baik daripada si Ben itu, bisa hargai perempuan, cantai perempuan, perlakukan perempuan dengan baik, Poko mau nggak dapet laki-laki yang seperti itu?" tanya Gaishan. Popy terlihat berpikir, lalu dia mengangguk. "Itu! Bagus kan, dia juga suka sama kamu, hargai semua usaha kamu, sayang sama kamu, perhatian, Poko mau kan, jadi untuk apa buang waktu kamu, sia-siain waktu kamu ke orang yang nggak nganggap kamu apa-apa." Ujar Gaishan. Popy terlihat berpikir, dia mencerna ucapan sepupunya. "Ssshhh...hm." popy mengangguk kuat. "Gaishan bener, ada orang lain yang bisa melihat dan menghargai usaha Poko nanti," Popy memandang ke arah Gaishan. Gaishan tersenyum kuat ke arah Popy. ♡♡♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN