Chapter 10

1357 Kata
Flashback "Poko," terdengar suara seorang wanita paruh baya memanggil Popy. Popy berbalik, seketika senyumnya melebar. "Tante Mali, tante Mali." "Hehehe..." Mali tersenyum ke arah Popy. "Kamu ingin ke ruangan kerja Ben?" Mali bertanya. Popy mengangguk malu-malu. Mereka tidak sengaja bertemu di depan pintu perusahaan Ben. "Tante Mali juga mau ke ruangan Ben?" Popy bertanya antusias ke arah Mali. Mali mengangguk, lalu dia ragu-ragu ingin memberitahukan sesuatu kepada Popy. "Apa tante bisa bicara denganmu sebentar?" Mali bertanya ke arah Popy. Popy mengangguk. "Di mobil saja." Mali mengajak Popy ke mobilnya. Mereka berdua berjalan memasuki mobil Mali. "Poko..." Mali membuka suara ke arah Popy. "Ya, tante?" Popy menyahut. "Itu...apa Poko dengar sesuatu tentang perusahaan Ben?" Mali bertanya ragu-ragu ke arah Popy. Popy mengerutkan keningnya. "Dengar sesuatu tentang perusahaan Ben, apa itu tante?" Popy bertanya bingung. Mali melunturkan senyumnya. "Poko tidak tahu?" Mali bertanya hati-hati. Popy menggeleng. "Memangnya ada apa tante?" Popy penasaran. Mali ragu-ragu apakah memberitahu Popy ataukah tidak, tetapi Mali berpikir bahwa ia harus memberitahu Popy mengenai situasi antara Ben dan juga paman Popy. "Itu mengenai Farikin's Food memutuskan kontrak hubungan kerja sama sepihak dengan perusahaan Ben." Ujar Mali pelan. "Hah?! Farikin's Food? Perusahaannya om Busran maksud tante Mali?" Mali mengangguk. "Sudah hampir dua minggu ini Ben tertekan karena beberapa perusahaan memutuskan kerja sama mereka dengan perusahaan Ben, mereka juga menarik dan membatalkan dana investasi ke perusahaan Ben." Ujar Mali serius. Popy memandangi Mali dengan tatapan serius. "Ehm...maksud tante...selain Farikin's Food, juga ada Anggara Investation dan Naran Investation..." lanjut Mali pelan. Popy terlihat berpikir, lalu dia mengangguk, mengerti maksud Mali. "Poko ngerti kok tante Mali." Ujar Popy riang ke arah Mali. "Eh? Poko ngerti?" Mali memandang kaget ke arah Popy. Popy mengangguk. "Poko nanti bisa bujuk om Busran buat lanjutin kerja sama mereka dengan perusahaan Ben lagi." Ujar Popy meyakinkan. Mali terbelalak. "Benarkah?" Popy menggangguk. "He'em, kalau soal Anggara dan Naran Investation, nanti Poko coba bilang ayah Ran." Lanjut Popy berpikir. Mali terlihat tersenyum, namun untuk sesaat senyum itu luntur. "Tapi...tapi nanti Ben tidak akan setuju," "Eh? Kenapa Ben tidak setuju?" Popy bingung. "Ben pasti tidak mau merepotkan kamu, dia mengkhawatirkan--," "Tante Mali tenang saja, Poko tidak akan bilang Ben kok," Popy tersenyum meyakinkan. Mali terlihat ragu-ragu sesaat, namun ketika melihat Popy yang meyakinkan, Mali mengangguk juga. "Poko mau ke ruangan Ben sekarang kan?" Mali bertanya. Popy mengangguk antusias. "Tante Mali juga kan? Ayo barengan saja," ajak Popy. Mali mengangguk sambil tersenyum. "Ya, tante mau ke ruangan Ben, tapi kamu juga mau ke ruangan Ben, jadi...tante Mali nggak jadi deh," "Eh?! Kok nggak jadi?" bingung Popy. Mali melihat kotak makan siang yang berada di tangan Popy. "Pasti mau bawa makan siang ke Ben kan?" Popy mengangguk malu-malu. "Mau ngajak makan siang bareng Ben, soalnya kemarin-kemarin Poko ngajak makan siang Ben, Bennya sibuk, kerja terus." Jawab Popy dengan ekspresi cemberut. Cuk "Oh!?" Mali mencubit hidung Popy. "Biar tante Mali kasih tahu kamu sesuatu, sini." Popy mendekatkan kupingnya ke arah Mali. "Ben itu sebenarnya suka sekali ketika Poko ngajak dia makan siang bareng," bisik Mali. "Benarkah?" Popy tersenyum sumrigah. Mali mengangguk lalu dia beribisik lagi. "Dia juga suka sarapan bareng Poko, cuma hanya Ben itu yah malu buat bilang langsung ke Poko." Popy tersenyum riang. Dia menggigiti jari telunjuknya karena terlalu senang. "Berarti selama ini Ben juga suka sama Poko?" Popy bertanya dengan penuh harap. Mali mengangguk. "Iya dong, bohong kalau dia bilang dia nggak suka." Popy berjingkrak-jingkrak senang. "Ehm..." Popy cepat-cepat memperbaiki  ekspresinya. Mali tersenyum geli ke arah Popy. "Tunggu apa lagi? Ayo bawain makan siang Ben." Popy mengangguk. "Dadah tante Mali." Popy turun dari mobil Mali dan berlari-lari kecil ke arah lift. Ting "Selamat siang mbak Sasha," Popy tersenyum riang. "Selamat siang nona." Popy berjalan penuh semangat ke arah ruang kerja Ben. "Kakekku menyetujui pemindahan sahamnya ke Ruiz, atas namamu," "Tetapi tetap dengan syarat yang beliau ajukan," "Pertunangan kita harus segera dilakukan dalam bulan ini--," "Selamat siang Ben." Flashback end ♡♡♡ "Loh, Poko nggak turun makan malam?" Laras mengerutkan keningnya ketika tidak melihat cucu kesayangannya di meja makan. Iqbal dan yang lainnya juga mengerutkan kening mereka. "Mungkin kak Poko masih di kamar nek," sahut Liham yang baru saja meraih piring. "Panggilkan Poko, Sri! Itu tolong panggil Poko," Laras menyuruh Sri, asisten rumah tangga Basri untuk menganggilkan Popy. "Baik nyonya." Sri mengangguk patuh lalu dia berjalan naik ke lantai dua. Tiga menit kemudian Sri turun dengan tangan kosong. "Loh, Poko mana?" Laras bertanya ke arah Sri. "Nyonya, itu non Poko tidak menyahut panggilan saya dari tadi," jawab Sri. "Sudah saya ketuk-ketuk tapi tidak nyahut, saya panggil juga tapi tidak menyahut." Lanjut Sri. Moti memandang ke arah Randra. "Apa Poko lelah dari kampus?" Randra melirik ke lantai dua, lalu dia melirik ke arah Liham. Liham yang melihat arah lirikan ayahnya cepat-cepat meletakan piringnya. "Tadi siang kak Poko tidak ke kampus." Jawab Liham cepat-cepat. Randra mengerutkan keningnya. Laras juga terlihat sama. "Bukannya tadi kamu bilang nanti siang ini Poko ke kampus, kamu tidak lihat?" Liham mengangguk. "Liham tidak lihat nek." "Tadi Liham tunggu-tunggu juga kak Poko nggak muncul-muncul." "Ujang dimana?" Randra melirik ke arah Sri. "Ada di garasi tuan," jawab Sri. "Panggil dia kesini!" pinta Randra. Sri mengangguk lalu berjalan memanggil Ujang. Tak lama kemudian Ujang berjalan ke arah ruang makan. "Saya tuan Randra, ada apa yah?" Ujang bertanya. "Tadi Poko kemana?" Randra bertanya to the point. "Tadi non Popy pergi ke kantornya tuan Ben," jawab Ujang. "Tapi setelah keluar dari kantornya tuan Ben, non Popy diam, tidak bicara, berjalannya pelan, tunduk kepala." Lanjut Ujang. Randra seketika mendatarkan wajahnya. Ujang yang melihat ekspresi tuannya, mengigil takut. Dia melanjutkan ceritanya dengan menunduk. "Saya tanya mau ke kampus tapi non Popy hanya menggeleng, jadi saya asumsikan bahwa non Popy mau pulang saja ke rumah." Ujar Ujang. "Karena saya takut jangan sampai non Popy sakit seperti satu minggu yang lalu." Randra melirik sekali lagi ke arah lantai dua. Sret Randra berdiri dari kursi dan berjalan ke arah lantai dua. Moti terlihat cemas ketika mendengar penuturan Ujang. Laras pun juga sama, dia khawatir jika cucunya akan sakit, namun ketika melihat Randra berjalan naik ke lantai dua, Iqbal memberi kode bahwa Laras di ruang makan saja. Tok Tok Tok Randra mengetuk pintu kamar Popy. "Poko, ini ayah Ran," Randra memanggil putrinya. "Ayah Ran masuk," Sek Sek Pintu itu terkunci. Tok Tok Tok "Poko, ini ayah Ran, ayo buka pintunya," Randra memanggil Popy lagi. Satu menit kemudian tidak ada sahutan. "Ssshh..." Randra menghembuskan napas frustasi. "Poko--," Tak Tak Ceklek Hap "Sssshhh," Popy membuka pintu dan langsung memeluk Randra di depan pintunya. Randra terkaget ketika Popy memeluknya tiba-tiba. "Sssshhh," Popy menahan sesuatu. Randra tersadar. Randra ingin mengapit wajah anaknya agar dia bisa melihat wajah Popy, namun Popy menolak mengangkat kepalanya. "Ssshhhh..." Popy menarik cairan yang akan keluar dari hidungnya. Randra yang mendapat penolakan dari putrinya hanya memeluk balik sang anak. "Ada apa? Hm?" tanya Randra lembut. Ketika suara lembut Randra memasuki pendenganrannya, Popy menggertakan rahangnya menahan sesuatu. "Ssshh..." Popy menggeleng sambil menahan sesuatu. "Poko...ayo bilang ke ayah Ran, kalau ada masalah." Ujar Randra. "Ssshhh! Sssshh! Ssshh!" tubuh Popy bergetar menahan tangis yang akan keluar. Popy tetap menggeleng. "Poko, ada apa? Ada masalah apa?" Randra bertanya, dia mengusap-ngusap punggung putrinya yang gemetar menahan tangis. "Sshh! Sshh! Sshh! A-ayah R-ran hik! Hik! Hik!" Popy termehek-mehek. "Poko," Randra menyentuh wajah anaknya, dia menaikan wajah putrinya itu agar saling bertatapan dengannya. "A-yyah Ran! Hik! Hik! Hik! Po-k-ko m-mau min-nta sesuatu," Popy memandang Ran dengan mata merah dan ingus turun dari lubang hidungnya. "Poko, siapa yang membuatmu begini, ada apa? Beritahu ayah Ran," Randra menahan mati-matian emosinya di depan sang putri. Popy menggeleng. "Ayo bilang, tidak apa-apa, ayah Ran tidak akan marah kepadamu," ujar Randra. Popy tetap menggeleng. "A-yyah Ran! Hik! Hik! Hik! Po-k-ko m-mau min-nta sesuatu, ap-pa boleh? Hik! Hik!" Popy sesenggukan, dia berusaha menahan suara tangisnya agar tidak membesar. Randra yang melihat kondisi sang anak menjadi stres. Terlihat dia sedang menahan amarahnya. "Si Ben sialan. Itu pasti dia, tidak ada yang akan membuat putriku begini kalau bukan anak Mali yang sialan itu." Batin Randra murka. "Ssshh...huh," Randra menetralkan emosinya demi sang anak di depannya. Dia mengangguk perlahan. "A-ayah Ran, bisa ayah Ran b-bilang sama om Busran, kalau jangan batalin k-kerja samanya dengan perusahaan B-ben?" Popy menahan tangisnya. "Benar, itu dia lagi." Batin Randra marah. "Ay-yah Ran...hik! Hik! Hik!" Randra mengangguk singkat. "Baik, ayah Ran akan berbicara dengan om Busran," ujar Randra, dia menggertakan giginya marah. "Janji?" Randra mengangguk lagi. "Janji." Hap Popy memeluk erat ayahnya. "Sshh! Sshh! Ssh!" "Apa Poko nyusahin ayah Ran?!" Pum Pandangan Randra membeku. Slash "Ran, Momok nyusahin Ran yah?" Slash "Momok udah nyusahin Ran kan?" Slash "Mulai sekarang Ran nggak usah datang lagi ke sini!" "Ran nggak usah datang-datang lagi ke sini, Ran nggak usah ngurusin Momok lagi, Ran--hiks! Hiks! Hiks! Ran pulang aja, biarin-hiks! Hiks! Hiks! Biarin Momok disini aja," "Momok tahu Momok cacat! Momok tahu Momok selalu nyusahin Ran! Momok tahu Momok nggak berguna!" "Momok juga sering ngompol ditempat!" "Momok malu-maluin Ran, Momok udah bikin malu Ran! Momok cacat! Momok cacat! Momok cacat!" Bugh Bugh Bugh Slash "Itu kan...Momok nyusahin Ran lagi...," Slash Napas Randra memburu, dadanya turun naik, panas mengampiri dadanya. Ingatan, kenangan yang tidak ingin dia ingat lagi, jeritan dan tangisan Moti kembali mengampirinya, kenangan hampir tiga puluh tahun lalu mendatanginya. Randra mengeratkan kuat rahangnya. "Alexander Benjamin Ruiz, aku akan selalu mengingatmu." Batin Randra. ♡♡♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN