"Poko dimana? Dia sudah pulang dari puncak kan?" Laras bertanya ke arah Moti yang sedang minum air.
"Poko tidur dikamar," jawab Moti.
Laras manggut-manggut.
"Tidak kuliah? Ini kan hari senin," Laras melirik ke arah Liham yang sedang sarapan.
"Sudah Liham bangunin nek, tapi kak Poko bilang nanti siang saja baru kuliah," Liham melihat sang nenek.
"Haah...ya sudahlah tidak apa-apa, ini kan baru minggu keempat kalian kuliah, Poko masih punya banyak waktu." Laras pasrah dengan kemauan sang cucu perempuan.
"Apa kemarin malam kalian begadang?" Randra bertanya ke arah Alan.
Alan menggeleng.
"Tidak ayah, kita tidurnya pas jam sembilan." Jawab Alan, padahal Alan sendiri tidur jam 12 malam.
Randra mengangguk tanda mengerti.
"Nanti Ujang yang akan mengantar Poko ke kampus, kamu duluan saja Liham."
Liham mengangguk mengerti.
"Nenek dengar kalian menginap di puncak vila milik Agri Nabhan yah?" Laras memandang ke arah Alan.
Alan mengangguk.
"Iya nek, di sana. Itu usulan Gaishan."
"Padahal kan vila milik Basri juga ada," celetuk Laras.
"Yah, gimana ya...sebenarnya kita sudah berencana mau buat acara di puncak, kalau vila milik Basri kan dekat pantai, jadi agak berbeda." Alan beralasan.
"Halah beda apa, jelas sama-sama vila kok." Laras mencibir.
Alan dan dua saudaranya menelan keras ludah mereka.
"Anak muda, nek." Batin mereka.
♡♡♡
Tok
Tok
Tok
"Masuk."
Ceklek
"Maaf tuan, pihak dari India Food telah datang," Sasha memberitahu Ben.
Ben yang sedang membaca laporan file mendongak.
"Suruh masuk ke sini, surat pernyataan sudah kamu cetak?"
Sasha mengangguk.
"Sudah tuan,"
Setengah menit kemudian muncul pria paruh baya berusia 59 tahun dan dua orang asisten dan sekretarisnya memasuki ruang kerja Ben.
"Seperti yang sudah kita bahas di hari sabtu yang lalu, bahwa hari ini kami akan medandatangani surat pernyataan dan transfer saham India Food kepada Ruiz Food Company."
Ben mengangguk.
"Mari kita mulai,"
Setelah urusan mereka selesai, pria paruh baya itu pamit.
"Saya permisi tuan Ruiz,"
Ben mengangguk ke arah pria paruh baya yang beberapa hari lalu mendatangi kantornya.
Sepeninggal pria paruh baya tadi, Ben kembali bekerja di tempatnya, pria 29 tahun itu terlihat serius membaca dan menganalisa laporan bulanan perusahaannya, lalu dia mumbubuhkan tanda tangannya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk,"
Ceklek
"Tuan, nona Tinar sedang menunggu anda."
Ben mendongak ke arah Sasha.
"Suruh masuk."
"Baik tuan."
Ceklek
Tak lama kemudian Syarastya masuk ke ruang kerja Ben.
Mereka duduk bersebelahan.
"Kakekku menyetujui pemindahan sahamnya ke Ruiz, atas namamu," Syarastya melihat ke arah Ben dengan serius.
Ben balas melirik Syarastya datar.
"Tetapi tetap dengan syarat yang beliau ajukan,"
"Pertunangan kita harus segera dilakukan dalam bulan ini--,"
"Selamat siang Ben." Terdengar suara seorang gadis.
Ben dan Syarastya melihat ke arah dimana Popy berada.
Gadis 22 tahun itu masih terlihat mempertahankan senyum cerah dan semangat seperti biasanya.
"Popy," Ben bersuara.
Tak
Tak
Tak
"Ben, kita makan siang bareng yuk." Popy memandang penuh harap ke arah Ben.
Syarastya yang mendengar ajakan Popy pada Ben menjadi jengkel.
"Ini Poko juga bawakan makan siangnya, ada ayam kecap, nasi, sayur, eh ada cokelat juga, ini Poko sendiri loh yang siapin khusus buat Ben." Ujar Popy bersemangat.
Ben memandangi Popy lama.
Popy yang menunggu jawaban Ben menjadi was-was. Entah kenapa hari ini hatinya menjadi was-was dan tidak enak, seperti ada firasat yang ingin memberitahunya sesuatu.
"Hum, nona muda Basri, apa yang kau lakukan disini? Maaf, tapi kamu mengganggu waktu kami," ujar Syarastya jengkel ke arah Popy.
Popy yang mendengar ucapan Syarastya mengerutkan keningnya.
"Aku mengajak Ben untuk makan siang bersamaku, jika Ben tidak keberatan itu berarti aku tidak mengganggu waktu kalian."
"Aku sudah makan, silakan pergi." Sedetik setelah ucapan Popy, Ben mengeluarkan suaranya.
Popy menoleh ke arah Ben.
"Loh, tapi ini kan baru jam dua belas lewat sepuluh menit,"
Ben masih memandanginya datar.
"Aku sedang sibuk."
"Huh..." Popy menghembuskan napas.
Dia melirik bergantian ke arah Ben dan juga Syarastya. Lama dia memandangi mereka.
"Ben..." Popy bersuara pelan, dia ingin sekali mengatakan sesuatu.
"Jika tidak ada urusan, silakan pergi, pintunya disana," Ben menunjuk ke arah pintu kerjanya.
"Ben...sebenarnya Poko mau bilang..." ujar Popy ke arah Ben.
"Jangan buang-buang waktu kami nona Basri," Syarastya jengkel.
Popy tidak menghiraukan ocehan Syarastya, dia memandangi Ben.
"Ben, Poko mau bilang kalau...kalau Poko suka sama Ben..."
Dag
Dag
Dug
Ruangan itu sunyi seketika.
Terdegar bunyi jantung seseorang, berdetak dengan diluar batas normal.
Ben menelan susah air ludahnya, dia memandang takjub ke arah Popy yang baru saja mengakui perasaannya.
Syarastya yang mendengar ucapan pernyataan suka Popy ke arah Ben menjatuhkan rahang bawahnya.
"Sudah lama...pertama Poko lihat Ben waktu di Spanyol, tante Mali memanggil Ben waktu itu..." ujar Popy ke arah Ben.
Ketika dia masuk ke ruang kerja Ben, dia mendengar percakapan antara Ben dan Syarastya. Popy berusaha mempertahankan senyumnya, dia mengusap dadanya dan memotong ucapan Syarastya agar tidak melanjutkan ucapan gadis itu.
Popy ingin sekali mengatakan kalimat ini, kalimat bahwa dia menyukai Ben, empat belas tahun yang lalu.
Dia juga berharap bahwa Ben akan menjawab kalimat yang sama, yaitu Ben juga menyukainya.
Selama tujuh tahun dia mengejar Ben, bukan main usahanya selama ini, ditolak Ben makan siang dan sarapan berkali-kali, itu wajar, dia tak mengambil hati, pikirnya ada waktu esok lagi untuk mengajak Ben makan siang dan sarapan dengannya.
Ben ingin membuka suaranya tapi seperti terkunci, pengakuan Popy di depannya membuat ia tak tahu harus membalas apa, terlebih lagi ada seseorang yang sedang melihat dan mendengar pengakuan Popy padanya.
"Ben..." Popy terlihat berharap.
"Nona Basri, maaf, tapi anda memang benar-benar sudah keterlaluan kali ini," Syarastya angkat bicara.
"Anda memang tidak tahu malu, apakah anda tidak melihat selama ini saya dan tuan Ruiz bersama? Dimana mata anda?" lanjut Syarastya.
"Tuan Ruiz tidak menyukai anda." Ujar Syarastya.
"Siapa bilang Ben tidak menyukaiku? Ben pasti menyukaiku juga." Popy menoleh ke arah Syarastya.
"Hem!" Syarastya memandang sinis ke arah Popy.
"Terlalu banyak bermimpi." Sinis Syarastya.
"Kapan aku bilang aku pasti akan menyukaimu?" Ben memandang ke arah Popy.
"Ben, tante Mali bilang..." Popy menelan ludahnya.
"Tante Mali bilang, bilang kalau Ben juga suka sama Poko." Ujar Popy yakin.
Sret
Sret
Popy menyodorkan kotak makan siang ke arah Ben.
"Ben, ini, Poko udah bawain Ben makan siang,"
"Setiap hari Poko datang ngajak Ben makan siang bersama, ajak Ben buat sarapan bersama, Ben..." Popy tidak tahu lagi ingin berbicara apa.
Dia begitu gugup di depan Ben sekarang.
"Itu...ini..." Popy tergagu.
"Tante Mali bilang sebenarnya Ben senang kalau Poko bawakan Ben sarapan dan ngajak Ben makan siang."
"Kapan ibuku mengatakan itu padamu?" Ben bertanya ke arah Popy.
Popy menelan air ludahnya gugup.
"Ben...Ben mau kan makan siang bareng Poko?"
"Kapan ibuku mengatakan itu padamu?" Ben bertanya sekali lagi ke arah Popy.
Popy menggeleng, dia takut memberi tahu Ben tantang Mali yang menemuinya sebelum dia datang ke perusahaan Ben.
"Aku tanya, kapan ibuku mengatakan bahwa aku juga menyukaimu?" Ben bertanya kuat ke arah Popy.
"Ben, nanti Poko bilang ke om Busran kalau kerja sama antara perusahaan Ben dan perusahaan om Busran akan jalan lagi, terus nanti Poko bilang juga ke om Dwi dan om Naran," ujar Popy cepat-cepat.
Ben membelalakan matanya ke arah Popy.
"Ben, nanti Poko bilang ke ayah Ran juga buat nanti kerja sama dengan perusahaan Ben." Ujar Popy ke arah Ben kuat. Ia berusaha meyakinkan Ben.
"Nanti, nanti kalau Ben mau Poko bilang ke ayah Ran transfer saham Poko atas nama Ben--,"
Slash
Brak!
"Ambil barang-barang sialanmu ini dan pergi dari sini, kau menjijikan." Ujar seorang pria tampan berparas bule.
"Hak!" Popy terkaget ketika Ben meraih kotak makan siangnya dan membanting kotak makan siang itu menghantam meja sofa.
Krak
Bunyi retakan kaca dari meja sofa.
"Tapi...tapi itu buat Ben--hik!"
"Popi Aira Basri!!" teriak lelaki berusia dua puluh sembilan tahun itu ke arah seorang gadis dua puluh dua tahun berambut merah bata.
"Aku tidak butuh rasa kasihanmu!"
"Kamu pikir aku akan menyukaimu ketika kamu menyodorkan dirimu padaku dan memberiku sahammu?!" Ben terlihat marah, dia menatap nyalang ke arah Popy.
"Maksudmu kamu ingin membeliku?!"
Popy kelabakan.
"Bukan, Ben, Ben salah paham." Ujar Popy cepat.
"Hem, lalu apa yang baru saja kau katakan? Kau mempermainkan aku?"
Popy menggeleng kuat.
Matanya memerah, dia berusaha menahan agar air matanya tidak tumpah.
"Bukan, bukan seperti itu. Ben, Poko tadi dengar dia bilang bahwa kalian ingin tunangan lalu transfer saham--,"
"Popy Aira Basri!" Ben berteriak lantang, terlihat urat lehernya menebal.
"Kau ingin mempermalukan aku di depan ayah dan pamanmu? Kau ingin menunjukan kekuatanmu?"
"Ini urusanku, aku menyukai siapa, aku ingin bertunangan dengan siapa, termasuk menikah dengan siapa itu hidupku, kau tidak berhak ikut campur."
"Ben..." suara Popy bergetar.
"Kau sudah terlalu dimanjakan oleh keluarga Basri."
"Ben..."
"Keluar dari sini, aku bilang padamu, keluar dari sini," ujar Ben dingin.
Tubuh Popy gemetaran, dia tidak pernah melihat Ben seperti ini, tubuh pria pujaannya itu bergetar menahan sesuatu yang akan keluar, entanlah itu apa, marah, frustasi atau yang lainnya.
Sret
Popy menunduk dan meraih kotak makan siang yang dibanting Ben, dia terlihat membersihkan sisa-sisa makanan yang tumpah dan berserakan, tak lupa juga sebatang cokelat yang patah akibat bantingan dari Ben.
Sret
Popy berdiri, terlihat Popy menggertakan giginya kuat, menahan sesuatu agar tidak keluar dari tenggorokannya.
Tak
Tak
Tak
Ceklek
Popy berjalan pelan keluar dari ruang kerja Ben. Berharap bahwa Ben akan memanggilnya dan mengatakan bahwa dia hanya bercanda dengan apa yang dikatannya. Namun, setelah Popy berdiri di depan pintu lift, dia tiada mendengar suara Ben ataupun panggilan Ben padanya.
♡♡♡