Melihat jam dipergelangan tangannya, membuat langkah Arslan semakin cepat, yang membuat Tifanny sendiri sulit untuk menyamakan posisi di belakang pria itu. Tangannya kanannya yang membawa bingkisan buah dan tangan kirinya yang membawa sebuket bunga, jujur Tifanny kewalahan akan itu. Tapi mau bagaimana lagi, ini perintah Arslan! Ya, mereka saat ini berjalan di lorong rumah sakit. Arslan sendiri berniat menjenguk anak koleganya yang dikabarkan melahirkan Caesar dan mengalami pendarahan. Dan untuk bingkisan ditangan Tifanny, adalah buah tangan untuk anak koleganya. Ya, meskipun Arslan enggan untuk ke rumah sakit, tapi mau bagaimana lagi. Tidak enak juga jika berdiam diri saja saat tahu keluarga rekannya berada di rumah sakit. "Tifanny, nomor berapa kamar inap nya?" tanya Arslan tanpa meno

