RESMI BEKERJA DI HOTEL

687 Kata
kembali ke tempat kos! dina membuka bingkisan dari bu retno, sepasang bikini khas bule, yang terdiri dari beberapa tali, lalu kain khas bali yang saaannngggat.. tembus pandang, sebenarnya apa fungsi semua ini??? pajangan? hiasan? tidak mungkin untuk di pakai manusiakan??? "itu bagus banget buat kamu dek, bra nya juga kayaknya pas sama ukuran kamu" kak seli menjelaskan dengan kedua tangannya membuat bulatan yang sangat aneh "sel.. apa sih? ambigu banget?? nggak jelas kamu, dina itu masih kecil jangan di ajarin yang nggak bener dong" ucap helen "lho kok aku, kan bu retno yang beli hadiahnya" sementara bu retno hanya tertawa helen, mira dan seli giliran membuka hadiah dan benar saja milik mereka isinya lebih mengejutkan, piyama tidur dengan corak khas bali tembus pandang, atau itu juga hiasan berbentuk piyama?? yang pasti mereka menghabiskan malam dengan tawa riang gembira, meski bingung harus memuji atau mencaci, kan tidak baik menolak pemberian orang lain dan juga tidak sopan mencaci orang yang lebih tua mengawali hari dengan senyuman, dina melangkah dengan gagah berani memasuki ruang kerja bu lana, pak toro selaku supervisor juga hadir, agendanya adalah tanda tangan kontrak sandrina mahesa untuk dua tahun kedepan "pagi din" sapa pak toro "selamat pagi pak toro" "sudah siap? untuk lebih sibuk dan sibuk lagi?" dina mengangguk mantap, pekerjaan ini sudah sangat lama dia nantikan, harus melewati bermacam macam rintangan, dan kini semua menuai hasil seperti yang dia inginkan "sangat siap pak, mohon bimbingannya untuk seterusnya pak" pak toro mengagumi keuletan dan kedisiplinan dina dalam bekerja, house keeping bukan departmen yang mudah, selain lelah karena harus mengutamakan kekuatan otot mereka juga sering dibandingkan dengan deparment yang lain tentu saja butuh kesabaran ekstra tanda tangan kontrak berjalan dengan lancar, di ruang house keeping para senior dina sudah menanti dengan perasaan cemas, melihat dina muncul dengan senyum lebar dengan segera mereka memberikan pelukan hangat "yeeiii, selamat bergabung ya non" ucap agus menepuk bahu dina lembut "makasih bang, mohon bantuannya ya" dina membungkuk hormat di susul tawa tio, agus dan pak toro "ya sudah, hari ini kamu bantu natan di lantai 4 ya" pak toro memberikan arahan, lalu dina bergegas menuju lantai 4 dina memang paling akrab dengan tio, agus, tutik dan natan, sementara yang lain sebatas teman kerja saja, baik dina atau mereka hanya menjalin hubungan baik, lingkungan seperti itu juga mudah sekali terbawa arus, jika tidak berhati hati, rasa iri, cemburu, bahkan dikucilkan bisa terjadi sewaktu waktu dina menelusuri seluruh lorong di lantai 4, terlihat troli terparkir di depan kamar 418 tak lama kemudian natan keluar membawa sheet kotor dan memasukkannya ke keranjang kain "kak natan" yang di panggil pun menoleh "dina... kamu bantu bantu disini?" bukti jika jantungnya masih normal yaitu dengan berdetak begitu kencang "dina bantu kak natan di lantai 4 ya?" oh, ada tamu lain rupannya. "halo anissa, iya aku bantu kak natan, kamu juga bantu disini?" "iya, maunya sih gitu na, tapi pak toro suruh bantu di lantai 5 sama kak tio, duuuh males banget, kak tio suka banget nyuruh ini itu, sebel" kalau si tio dengar pasti di suruhnya makin parah, tio paling tidak suka orang lelet "iya, yang sabar ya nis" dina melangkah masuk, "aku bantu apa kak?" natan lalu mengarahkan dina untuk melanjutkan pekerjaannya mengganti sheet sementara dia membersihkan kamar mandi, nissa meninggalkan lantai 4 menuju lantai 5 untuk melanjutkan pekerjaannya sunyi menghampiri dina, selain membicarakan pekerjaan natan sangat pendiam, sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 14.02 "din, kamu mau langsung lanjut apa istirahat dulu, sebentar lagi bu asti datang" "lanjut aja kak, aku tunggu bu asti sambil beres beres" "ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya" PLONG! akhirnya penderitaan dina berakhir bersamaan dengan jam pulang natan, yang membuat gadis belia itu begitu nerves dan gugup lalu jantungnya berdebar begitu kencang adalah sikap dingin natan sejak dia mulai bekerja pria yang sempat membuat hati dina meleleh itu menunjukkan jati dirinya, pendiam, tegas dan sangat menjaga jarak, berada di dekat natan dia seperti bakteri yang keberadaannya harus di jauhi dan di hindari, dina sangat senang saat tau shiftnya berbeda dengan natan setelah menjadi karyawan kontrak meski hari ini dia harus sabar menghabiskan satu jam berharganya dengan perasaan kacau
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN