Hari pun berlalu dan jumplah kita pada hari Senin. Hari yang selalu menjadi keluhan setiap orang karena menjadi akhir dari kesenangan mereka di akhir pekan. Tapi tidak juga, untuk beberapa orang yang rajin. Sama seperti hari ini, Irene sangat menunggu-nunggu saat dia kembali bersekolah. Dia sudah membuat keputusan dan akan segera melaksanakannya.
Seusai upacara, Irene dan beberapa teman sekelasnya berjalan menuju kelas mereka. Gadis itu sudah menyiapkan mentalnya saat untuk jam istirahat nanti. Ya, dia berencana untuk menyatakan perasaannya kepada Kevin. Perasaannya sudah tak bisa dibendung lagi dan membutuhkan kepastian dari cowok itu. Dia yakin, Kevin pasti menerima perasaannya.
‘Aku dan kak Kevin sudah kenal sejak kecil. Emangnya, apa alasan dia menolakku? Setelah ini, tidak ada yang akan mengganggu Kak Kevinku lagi!’ batinnya percaya diri.
“Rene, loe kamaren dansa sama siapa pas Prom? Soalnya, gue malah kepentok sama si Rey!” Lani bertanya soal siapa temannya berdansa saat prom kemarin.
“Gue… gak tahu! Soalnya, dia pake topeng sih!” bohong Irene sengaja. Dia tidak mau Lani merasa cemburu padanya kalau tahu kemarin dia berdansa dengan Dean. Lani masih cinta sama Dean dan sebagai teman, dia harus menjaga perasaan Lani.
“Iya ya! Padahal, gue ngarepnya bisa kepentok sama Dean. Emang sih, gue dateng bareng Joe, tapi itu cuma formalitas!” Benar dugaan Irene kalau Lani memang ingin berdansa dengan Dean. Dia merasa lega tak memberi tahu hal yang sebenarnya pada Lani. Dia sama sekali tidak mau mengurangi jumlah temannya. Soalnya ada pepatah, mencari satu teman itu gampang tapi mencari seribu musuh itu mudah.
“Eh, btw loe tahu si Marsha dansa dengan siapa?” Lani mulai membicarakan Marsha.
“Sama siapa emang?” Irene tentu saja ingin tahu. Soalnya, gak mungkin dia dansa dengan Kevin yang saat itu ada di panggung sendirian.
“Gue denger sih sama anak kelas B! Gak kenal sih! Tapi sayang banget ya, padahal dia sudah sempat naik kuping karena datang bareng Kak Kevin, eh malah kepentok sama yang lain.” Lani memberi tahu soal trending topik soal Marsha yang hanya awalnya saja bersama dengan Kevin. Mendengar itu, Irene terkikik kecil merasa Marsha belum ada apa-apanya dibanding dirinya.
Saat akan masuk ke kelas, sekilas Irene melihat Kevin yang sedang berbicara dengan sedemikian asyiknya bersama Becca. Dia memandang tak suka lalu dengan cepat masuk ke kelasnya. Dia semakin bertekad untuk meminta kejelasan kepada Kevin nanti! Dia yakin, cowok itu bisa dan mau menerima perasaannya. Cintanya tulus dan begitu setia selama ini. Perasaannya bukan main-main! Irene bisa jamin itu!
Ya sepeti biasa, pelajaran segera dimulai. Tapi bagi Irene, waktu terasa begitu lama menuju jam istirahat. Dia sudah tak sabar untuk menyatakan perasaannya. Dan pemikiran demikian agak mengganggu konsenterasi Irene saat ini. Benar juga yang pernah dikatakan papanya soal perasaan cinta yang bisa mengganggunya soal pelajaran.
‘Ah! Kalau semuanya sesuai rencanaku, tidak akan seburuk itu kok! Aku akan semakin semangat menunjukkan diriku sebagai pacarnya Kak Kevin dengan prestasi yang luar biasa! Supaya para gadis itu semakin sadar diri siapa saingan mereka. Termasuk, Rebecca juga!’ batin Irene masih merasa cintanya tak akan mengganggunya dalam pelajaran. Dia masih menyangkal lebih jelasnya.
Takl lama, jam istirahat yang ditunggu-tunggu datang juga. Bunyi bel itu bagaikan angin segar bagi semua murid termasuk Irene. Dengan sigap, dia langsung berdiri dan beranjak keluar. Dia akan menghampiri Kevin di ruang OSIS. Tapi, sebuah tangan menahannya.
“Rene, kamu mau kemana?” Itu Dana yang sedang menahannya.
“Emang kenapa?” Irene bertanya balik.
“Aku mau minta maaf soal Prom kemarin karena udah ninggalin kamu sendiri. Aku lupa kalau kamu introvert dan sama sekali gak asik. Kamu pasti nyaris mau pulang kemarin ya?” Dana meminta maaf soal prom kemarin.
“Gak apa! Lagian, acara itu sama sekali gak seburuk itu! Seengganya, ada seseorang yang mengembalikan mood-ku! By the way, loe dansa sama siapa?” Irene menerima permintaan maaf Dana sambil bertanya balik soal siapa teman dana berdansa semalam.
“Oh, anak kelas B yang namanya Rebecca. Yang kemarin hampir ikut olimpiade kemarin! Ternyata, dia cantik sekali,” puji Dana soal Becca. Mendengar soal Becca, mood Irene kembali down lagi. Dia sama sekali tak ingin mendengar soal Becca maupun Marsha, yang baik-baiknya. Dia kesal karena mereka membuat Kevin jadi tidak melihatnya.
“Jadi loe suka sama dia, gitu?” tanya Irene sewot.
“Memuji gak harus selalu suka kok! Lagian, ada seseorang yang aku sukai. Okelah kalau begitu, aku harus makan siang! Kamu mau ngantin Si Lani udah duluan sih,” jelas Dana sambil menepuk kepala Irene lembut.
“Paan sih? Siapa yang loe suka? Gue kepo, nih?” Irene tentu saja kepo.
“Wah! Seorang Irene bisa kepo? Kalau begitu, biarin aja kamu kepo sampai mati hehehehe!” cengir Dana tanpa menjawab dan menuntaskan ke-kepoan temannya itu.
“Dasar pelit! Wek!” kesal Irene sambil menjulurkan lidahnya.
Setelah sedikit berbincang dengan Dana, dia melanjutkan langkahnya menuju ruang OSIS. Dan kebetulan sekali, Kevin sedang berada di sini. Sendirian! Irene merasa Tuhan sedang mendukung rencananya kali ini. Perlahan, Irene masuk ke ruang OSIS untuk menghampiri Kevin.
“Kak, boleh aku bicara sebentar sama kakak?” Irene bertanya dengan nada lembut dan memasang wajah semanis mungkin.
“Oh, tentu saja boleh! Mau bicara apa, Rene?” Kevin langsung menyahutnya dengan senyuman super charming yang lagi-lagi membuat Irene berdebar. Senyuman semakin terukir di bibir tipis gadis itu.
‘Ayo bicara, Irene! Aduh! Kenapa jadi gugup gini?’ Irene langsung gugup seketika. Padahal, dia sudah menyiapkan mental sejak dari rumah. Pas sudah di hadapan orangnya, dia seakan tak bisa berkata-kata dan lidahnya tertahan.
“Kenapa diam, Rene? Kamu ada masalah atau ada yang mengganggu kamu?” Kevin menatapnya khawatir dan menghampiri Irene. Cowok itu langsung mendekati gadis itu dan meraih kedua sisi bahu gadis itu. Cowok itu sedikit menunduk untuk mempertemukan tatapan mereka.
“Kamu seperti ketakutan,” ujar Kevin lagi membuat Irene semakin deg-degan.
“A-aku…” Irene masih gugup.
“Kenapa?” tanya Kevin lagi.
“Kak! Sebenarnya, aku menyukai kakak! Maukah kakak menerima perasaan Irene?” Irene mengucapkan kalimatnya dengan cepat tanpa berani membalas tatapan Kevin.
Mendengar itu, raut wajah Kevin yang tadinya khawatir berubah menjadi terkejut. Dia melangkah mundur dan membuat jarak dengan Irene. Sebenarnya, pernyataan cinta dari para siswi adalah hal yang biasa didengarny. Dia akan selalu menolak halus mereka karena merasa belum waktunya berpacaran. Beda kasus kalau Irene yang menyatakan ini.
Kevin bukan orang bodoh! Dia tahu kalau Irene sudah menyukainya sejak dulu. Gadis itu diam-diam memerhatikannya dan selalu memandangnya penuh harap. Tapi jujur, Kevin hanya menganggap Irene sebagai adik perempuannya. Dia memang menyayangi Irene, dan dia sadar kalau kasih sayangnya itu membuat Irene bergantung padanya. Dan memang, Kevin sama sekali tak terpikir untuk pacaran.
‘Apa yang harus aku katakan?’ Kevin membatin bingung dan takut menyakiti perasaan Irene.
“Irene,” panggil Kevin membuat Irene mendongakkan kepalanya untuk menghadap cowok itu.
“Ya kak!” sahut Irene cepat.
“Berapa usia kamu sekarang?” tanya Kevin lagi padanya.
“E-enam belas!” jawab Irene cepat untuk mengatasi kegugupannya.
“Itu usia yang masih terlalu muda untuk mengikatkan hati pada seseorang! Ada baiknya, kamu fokus dengan pendidikanmu sekarang. Dan cinta akan menjadi pelengkap setelah kamu meraih semua cita-citamu. Maaf ya, tapi kakak belum bisa menerima perasaanmu. Saat ini, prioritas kakak adalah menggapai prestasi dan tak ada waktu untuk memikirkan soal asmara,” jelas Kevin membuat harapan Irene sirna.
Jantung gadis itu seakan berhenti berdetak saat mendengar penolakan Kevin yang terus terang. Tidak! Irene gak bisa menerima ini. Dia… sangat ingin berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Tapi, dia tidak mau menangis di hadapan Kevin! Dia tidak mau menunjukkan kelemahannya kepada Kevin.
“Be-begitu ya, Kak? Ba-baiklah! Saya makan siang dulu!” pamitnya sambil menahan tangisnya.
“Irene!” panggil Kevin merasa bersalah. Irene langsung pergi tanpa ingin berbalik. Matanya sudah sangat berkaca-kaca dan tak tahan untuk menangis. Cinta tidak bisa dipaksa, bukan?
Irene terus berlari sampai berada di taman sekolah. Dia duduk di tengah taman sambil menangis sejadi-jadinya. Tapi, dia berusaha tak mengeluarkan suaranya. Masih ada orang di sini, dan hanya mengelap semua air matanya yang mengalir. Hatinya sakit dengan kenyataan kalau selama ini Kevin sama sekali tak memiliki perasan yang sama dengannya.
Ah, Kevin memang tidak langsung bilang ‘tidak’, cowok itu hanya bilang ‘belum bisa’. Irene merasa digantung di sini. Semua ini sama sekali tak sesuai dengan harapan Irene yang berpikir kalau Kevin akan menerimanya tanpa ragu. Ternyata, cowok itu punya fokus lain.
“Dasar Irene bodoh! Bagaimana aku bisa menampakkan wajahku di hadapan kak Kevin setelah ini?” Irene merutuki kebodohannya itu. Dia pasti bakalan awkward jika bertemu dengan Kevin di lain waktu. Tapi mau bagaimana lagi, waktu mana bisa diputar. Kalau bisa, Irene akan menunggu sampai Kevin yang duluan menyatakan perasaan padanya. Namanya juga penyesalan, selalu datang diakhir. Kalau datang di awal namanya pendaftaran.
“Oi! Kok sendiri aja!” panggil seseorang sambil duduk di sebelah Irene. Mendengar ada seseorang di sini, gadis itu langsung mengelap air matanya cepat sambil mengangkat kepalanya.
“Loe? Kenapa ada di sini?” Irene malah bertanya lagi pura-pura tidak terjadi apa-apa. Dia menyembunyikan kesedihannya dari semua orang. Jujur sih, dia malu kalau orang tahu dia baru saja ditolak.
“Mata loe merah! Ini gue ada tisu!” Cowok itu langsung mengeluarkan tisu dari sakunya sambil memberinya kepada Irene.
“Maksudnya apa nih?” tanya Irene sambil sedikit pilek efek menangis.
“Loe abis nangis! Gak usah bohong! Nangislah sepuasnya, baru setelah itu loe bakalan lega!” ujarnya tanpa basa-basi.
“Dean…” panggil Irene pada cowok itu yang ternyata adalah Dean.
“Hm?” sahut Dean.
“Makasih! Hueee!!!” Irene berterima kasih sambil menyambung tangisnya. Dia meraih tisu dari Dean dan menangis sesuka hatinya. Syukurnya, hanya Dean yang ada di sini. Irene sama sekali tak sungkan menunjukkan ekspresinya kepada Dean. Entahlah, rasanya bersama Dean dia sangat nyaman. Setelah puas menuangkan segala kesedihannya, Irene menarik napas panjang supaya dia bisa lega.
“Jadi… loe mau telling- telling something gitu?” tanya Dean ingin tahu alasan Irene nangis.
“Kenapa gue harus kasih tahu sama loe? By the way, apaan tuh sapu lidi?” tanya Irene sambil menunjuk sebuah sapu yang dipegang oleh Dean.
“Ahahaha! Gue dihukum dan disuruh menyapu taman sampai jam istirahat!” jawab Dean sambil tertawa dengan santainya.
“Kenapa?” tanya Irene ingin tahu alasan Dean dihukum.
“Karena telat! Gue terlalu asyik nonton Naruto sampai selesainya PDS ke-4 baru mau tidur,” jelas Dean membuat Irene mengernyit bingung. Dia sama sekali tidak mengerti maksud Dean.
“Loe kenapa kayak bingung gitu? Singkatnya, gue begadang karena nonton anime!” Dean memperjelas maksudnya. Dia baru ingat kalau orang yang bukan wibu gak bakal mengerti istilahnya.
“Ternyata, loe beneran wibu?” tanya Irene gak percaya.
“Kenapa? Salah?” kesal Dean langsung dicap Irene sebagai ‘wibu’ dengan wajah tak bersahabat.
“Enggak sih! Kan gue cuma nanya, aku tahu kok kalau wibu itu sentimen. Hehehehe!” Irene tanpa sadar sedikit tertawa melihat wajah kesal Dean saat dikatain ‘wibu’ olehnya.
“Tadi nangis, sekarang ketawa! Jangan-jangan loe stress!” ujar Dean membuat Irene langsung manyun seketika.
“Oh! Jadi, loe pengen gue nangis terus?!” kesal Irene karena Dean mengatakan dia ‘stres’.
“Hahahaha! Canda kok! Gue lebih suka kalau loe ketawa daripada nangis! Wajah ceria loe lebih cantik walau nangis lucu juga,” tawa Dean membuat Irene memanyukan bibirnya. Dia bingung dengan maksud Dean berkata demikian. Sebenarnya, dia bagusnya ketawa atau nangis? Kan bingung!
“Kalo nyapu jangan nanggung! Sekalian bersihkan taman rumah gue juga!” Irene mengalihkan pembicaraan.
“Iya! Nanti gue dateng ke rumah loe, bukan buat nyapu tapi jadi calon menantu eaaa!” Dean mulai sedikit menggoda Irene.
“Calon menantu? Menantu siapa?” tanya Irene lagi.
“Menantu Om Hanendra!” jawab Dean tanpa ragu. Mendengar itu, Irene langsung menggembungkan pipinya dan menatap kesal pada Dean. Di saat seperti ini, sempat-sempatnya Dean menggoda dirinya.
“Hilihh! Gue sih gak mau jadi sama loe,” ketus Irene soal candaan Dean. Irene juga gak benar-benar ketus kok! Biasalah, kayak berbincang ringan untuk candaan doang.
“Lah? Kok GR? Gue kan gak bilang mau sama loe? Mungkin aja, gue sama adik loe,” Dean masih gak mau kalau membuat Irene terbelalak.
“Ih! p*****l! Kamu mau sama bocah kayak Genie?!” tanya Irene dengan nada melengking.
“Eh, beneran punya adik ya? Pasti adik loe lebih cantik! Kakaknya judes soalnya!” ejek Dean lagi membuat Irene kembali menatapnya kesal.
“Ishh! Apaan sih? Gue merasa lebih cantik kok! Asal tahu aja ya, Genie itu lebih judes dari pada gue!” Irene tak mau kalah tapi reaksinya itu membuat Dean tertawa.
“Apaan loe ketawa?” sungut Irene melihat tawa Dean yang merasa menang sudah mengisengi dirinya.
“Gue ngerasa loe bakal cemburu kalau gue sampai jadian ama adek loe! Iya kan! Cemburu ya? Hahahhahahha!” Dean super PD sambil ketawa lagi.
“Ke-PD-an amat! Kebiasaan!” kesal Irene tanpa sengaja mencubit lengan Dean.
“Aucchh! Sakit Rene! Pedes amat cubitan loe!” keluh Dean merasa kesakitan saat dicubit sama Irene. Tersadar sudah seenaknya mencubit Dean, Irene langsung saja melepas cubitannya. Irene merasa sangat bodoh karena lancang mencubiti Dean.
“So-sorry! Bukan maksud! Reflex!” Irene langsung meminta maaf karena refleksnya yang menurutnya agak kelewatan.
“Iya… gak sakit kok! Gue cuma pengen liat muka menyesal loe aja! Hehehehe…” cengir Dean membuat Irene yang udah agak menyesal jadi pengen cubit, nimpuk atau nampol.
“Jangan marah-marah, zeyenk! Nanti cepat keriput!” Dean mengoda Irene lagi supaya mukanya gak cemberut.
“Iya! Sudahlah! Lanjutkan hukuman loe! Gue cabut ke kantin dulu ya!” Irene berdiri sambil beranjak ke kantin. Tapi, sebelum benar-benar jauh dari taman, Irene berbalik dan tersenyum kepada Dean.
“Makasih buat semuanya, Dean!” Irene tak lupa berterima kasih kepada Dean. Seenggaknya, hatinya sudah lebih lega saat Dean menghiburnya. Dia tidak terlalu memikirkan kesedihannya karena ditolak Kevin untuk saat ini.