Kenyamanan

2129 Kata
          Setelah di hukum, Dean baru diizinkan masuk ke kelas oleh Pak Ranto. Masalahnya simple aja kok, dia terlambat saat upacara sudah dimulai. Dia gak terlambat sendiri kok, ada beberapa anak lain juga. Hanya saja, dia yang diberi hak istimewa untuk membersihkan taman dengan sapu lidi. Kalau sudah bersih, barulah bisa masuk ke kelas. Dan sayangnya, Dean mampu membersihkan taman yang luas itu sampai jam istirahat.             Sepanjang jalan ke kelas Dean hanya bisa menggerutu sendiri karena merasa sekolah ini sangat berlebihan. Menurutnya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sejujurnya, dia gak niat sekolah karena masih ngantuk, tapi karena sang ibu tanpa lelah membangunkannya, akhirnya dia sekolah dengan berat hati. “Ah, tapi gak masalah juga! Gue bisa papasan dan berbincang dengan Irene. Setiap masalah pasti ada hikmahnya,” gumamnya sambil senyum sendiri mengingat Irene yang tadi bercerita dan bercanda tawa dengannya. ‘Tapi, tadi dia menangis karena apa ya?’ Dean mulai berpikir karena teringat Irene yang menangis saat dia temui di taman tadi. “Oi, bro? Dari mana aja?” Jogi tiba-tiba menepuk punggungnya. “Gue telat dan kena hukum,” jawab Dean dengan nada datar. Siapa juga yang gak malu kalo dihukum? Bagaimanapun, Dean ada ego sedikit, walaupun b**o hehehe… “Jadi kamu dihukum? Kamu pasti gak dengar pengumuman dari Guru Fisika tadi berarti,” ujar Becca kepadanya. “Emang kenapa? Lusa ulangan? Ah, s**l! Nilai Fisika gue selalu F! Nyokap gue pasti bakalan ngamuk lagi!” gumam Dean karena berpikir bakalan ada ulangan dari pelajaran yang sangat dia tak sukai. “Bukan b**o! Kita kerja kelompok untuk proyek Fisika! Lumayan, buat nilai tambah!” sosor Marco berbalik menghadap Dean. “Kerja kelompok? Gue sekelompok sama siapa?” tanya Dean penasaran dengan siapa teman sekelompoknya untuk mengerjakan proyek Fisika. “Gue!” Jogi tunjuk tangan membuat Dean menatap ragu. Kenapa? Karena mereka sama aja begonya. “Gue juga!” Marco menunjuk dirinya sendiri membuat Dean semakin pesimis bisa menyelesaikan kerja kelompok ini. ‘Dah lah! Isinya b**o semua!’ pasrah Dean dalam hatinya. “Aku adalah ketua kelompoknya.” Suara Becca bagaikan angin segar buat Dean. Matanya berbinar bahagia saat mengetahui bahwa dia sekelompok dengan Becca. Siswi terpintar di kelas ini! Kalau ada Becca, dia bisa tenang! “Syukurlah, loe sekelompok sama kita! Entah bagaimana jadinya kalau hanya kita bertiga yang sekelompok!” Dean meraih tangan Becca dan menatapnya penuh harap. Becca yang menerima tatapan itu langsung salah tingkah dan langsung tersenyum kikuk berusaha melepaskan tangan Dean. “Ups! Sorry! Gue kesenangan habisnya. By the way, kapan proyeknya dikumpul?” tanyanya lagi. “Lusa!” jawab Jogi dan Marco bersamaan. “What?! Lusa? Itu guru pikir kita robot? Malah gue kagak tahu apa-apa!” keluh Dean saat mendengar kalau proyek kelompok yang baru saja diberikan harus diselesaikan lusa. “Emang loe kagak pernah tahu apa-apa sih,” sindir Jogi dibalas tatapan kesal oleh Dean. “Tenanglah teman-teman, aku sudah meng-handle semua pekerjaan aku di OSIS dan fokus dulu untuk tugas ini. Katanya, kalau nilai kerja kelompok kita ini bagus, bakal ada nilai tambah untuk ujian tengah semester,” jelas Becca berusaha menenangkan teman-temannya itu.             Jujur aja, satu kelas X-B sangat mendambakan untuk kerja sekelompok dengan Becca. Tapi guru mengerti, kalau Becca harus membantu murid yang kurang pintar dan konon katanya g****k di kelas ini. Maka, beliau memasukkan Becca ke kelompok Dean dan kawan-kawan supaya bisa membantu para beban kelas ini. Sebenarnya, Becca harus bekerja keras untuk mengatur kelompok kerjanya sekarang. “Ya udah! Langsung aja kita kerjain di rumahku sepulang sekolah! Gimana Becca?” tanya Dean menawarkan untuk kerja kelompok di rumahnya. “Boleh aja! Hari ini, kebetulan shift kerjaku di café sedang kosong.” Becca mengangguk sambil mengiyakan ajakan Dean.             Setelah berbagai perbincangan singkat, bel selesainya jam istirahat berbunyi dan menandakan jam pelajaran sudah di mulai lagi. Semua murid di SMA NUSA BANGSA langsung kembali ke kelas dan mengambil posisi di bangku mereka masing-masing. Halnya sama seperti di kelas X-A, Irene saat ini sedang memerhatikan guru Bahasa Inggrisnya yang sedang menjelaskan pelajaran.             Irene selalu jadi nomer satu di kelas ini. Bisa dibilang, anak-anak kelas X- A separuhnya adalah anak-anak yang berprestasi. Persaingan sangat ketara di kelas ini, sampai-sampai terjadilah kelompok khusus anak-anak pintar yang menyingkiran murid yang kurang berprestasi. Sebenarnya Dana juga adalah saingannya Irene, hanya saja, gadis itu terlalu berambisi sampai mampu mengalahkan Dana. Bisa dibilang, Dana selalu mendampinginya saat mendapat juara umum di SMP.             Tapi syukurlah, karena berteman baik, mereka selalu bersaing dengan sehat. Baik Irene dan Dana sama sekali tak pernah saling menjatuhkan satu sama lain. Itulah yang membuat keduanya masih berteman baik sampai sekarang. “Bulan depan, ada lomba pidato Bahasa Inggris untuk tingkat kota, ada yang berminat untuk daftar?” Miss Diana mengumumkan soal lomba pidato kepada murid kelas X-A. “Saya berminat Miss!” Irene langsung tunjuk tangan tanpa ragu. “Okay! Ada yang lain? Irene memang sangat berminat soal perlombaan ya! Miss kagum sama kamu!” puji Miss Diana karena Irene sangat aktif dalam setiap lomba dan olimpiade. “Saya juga mau ikut, Miss!” Marsha mengangkat tangannya sambil memandang remeh kepada Irene. “Okay! Marsha juga! Ada lagi?” Miss Diana mencatat nama mereka sambil bertanya siapa lagi yang mau mengikuti lomba ini. “Saya juga mau Miss!” Dana mengangkat tangannya dan dibalas anggukan oleh Miss Diana. “Okay! Kalau ada yang mau mendaftar lagi, nanti datang ke ruang guru ya? Memang yang Miss banggakan dari kelas ini adalah kalian yang sangat berminat soal pelajaran, tidak seperti kelas sebelah,” sindir Miss Diana soal kelas sebelah yang seangkatan dengan Kelas X-A. Jangan ditanya, mereka juga sudah tahu kelas mana yang dimaksud oleh Guru Bahasa Inggris mereka ini. Bukan Miss Diana aja, tapi semua guru selalu mengeluh soal kelas B yang murid pintarnya tak sampai lima orang. Hanya ada murid yang bermodalkan kekayaan orang tuanya. “Baiklah, kalian boleh beres-beres untuk pulang! Jangan lupa selesaikan PR yang Miss berikan! Bersainglah untuk maju ya!” Miss Diana memotivasi murid-muridnya sebelum pulang.             Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi yang merupakan angin segar bagi seluruh murid. Irene sama sekali tak peduli kalau Marsha menjadi saingannya dalam lomba pidato. Lagian, Irene percaya diri kalau kemampuan berbahasa Inggrisnya jauh lebih baik daripada Marsha. Nilainya juga tak pernah lengser di kelas. Dia yakin, kalau juara umum untuk semester ini akan disabet olehnya.             Saat berjalan menuju parkiran sekolah untuk menunggu papanya, Irene melihat Dean yang sedang kebingungan sendiri. Tentu saja, dia agak kepo dengan apa yang terjadi sama cowok itu. Irene langsung berinisiatif menghampirinya. Namanya juga teman, pastilah ingin tahu soal keadaannya, bukan? “Kenapa loe? Kayak bingung gitu?” tanya Irene saat sudah di dekat Dean. “Eh? Irene? Gue agak laper karena belum makan dari tadi pagi. Nah, sialnya dompet gue ketinggalan karena buru-buru tadi pagi. Terus, bensin motor gue pake habis segala lagi! Apes banget gue kan?” Dean memberi tahu alasan kebingungannya dengan sejujur-jujurnya. “Iya bener! Loe apes banget!” Irene sedikit terkikik. “Mau ngetawain atau mau bantu nih?” tanya Dean kesal karena Irene hanya menertawakannya. “Sorry! Soalnya apes loe gak nanggung sih! Nih! Gue pinjemin uang dulu,” ujar Irene sambil meminta maaf sambil mengambil dompetnya yang ada di dalam tas. Gadis itu mengambil uang beberapa ratus ribu sambil memberikannya kepada Dean. “Oi! Ini kebanyakan, Rene!” Dean merasa uang yang diberikan oleh Irene sangat kebanyakan. Karena yang dia butuhkan saat ini adalah bensin untuk motornya. “Pake aja lah!” Irene sama sekali gak merasa keberatan. Dan lagi, gadis itu mengeluarkan sebungkus roti dari tasnya. “Sekalian nih! Makan siang dulu sana! Nanti pingsan di motor terus kelindes truk bisa mati loe!” Irene menyodorkan sebungkus roti untuk Dean. Cowok itu tersenyum senang sambil menerima roti dari Irene. Gadis di hadapannya ini memang sangat baik meskipun wajahnya agak judes. “Makasih banyak, Rene! Besok gue balikin duit loe ya.” Dean berterima kasih sambil mengatakan bahwa besok uangnya Irene langsung dikembalikan. “Iya! Bunganya dua kali lipat ya!” iseng Irene membuat Dean agak terbelalak. “Wah! Wah! Lintah darah!” Dean menggeleng-gelengkan kepalanya menanggapi keisengan Irene. “Lah? Loe kan orang kaya! Uang segitu pasti cuma receh sama loe,” balas Irene dibalas kekehan oleh Dean. “Apaan? Yang kaya bokap gue! Gue apalah selain ampas tahu!” Dean menyangkal kalau dia kaya. Lagian dia bener sih, kalau yang kaya itu bokapnya. “Hahahahaha! Iya ya, okelah kalau begitu! Gue balik duluan ya! Siluet mobil bokap gue dah kelihatan,” pamit Irene sambil melambaikan tangannya kepada Dean. Cowok itu membalas lambaian tangan Irene tanpa berhenti tersenyum. Saat bersama Irene, rasanya Dean selalu merasa ada kebahagiaan tersendiri. Sebenarnya, bukan Dean aja! Irene juga merasakan hal yang sama. Setiap mereka bertemu, rasanya ada sebuah kenyamanan di dalamnya.             Tanpa mereka ketahui, Becca memandang sendu melihat kebersamaan mereka. Dia bisa melihat cahaya kebahagiaan di mata Dean saat bersama Irene. Pancaran cahaya yang tak pernah dilihat Becca selama ini. Hatinya terasa sakit melihat keduanya begitu akrab dan saling nyaman satu dengan yang lainnya. Dia memutuskan untuk bersembunyi sambil menunggu mereka bubar. “Becca! Kenapa melamun? Entar keburu sore! Marco sama Jogi udah jalan duluan!” panggil Dean membuat Becca agak terkejut. Ternyata, Dean tahu dia berada di sini sedari tadi. Becca langsung berjalan ke arah Dean dan cowok itu langsung memberikannya helm. “Kamu mau bonceng aku?” tanya Becca ragu-ragu. “Loe mau jalan kaki?” balas Dean bertanya balik. “Aku takut kalau kamu bawa motor! Kayak keserupan!” jawab Becca menolak halus. “Enggak lagi! Gue janji pelan-pelan hehehe! Tapi, kita isi bensin dulu ya di dekat sana!” Dean berjanji untuk tidak membawa motor sambil mengebut. Akhirnya, Becca mengangguk sambil memakai helm yang diberi oleh Dean.             Setelah itu, Dean naik ke motornya dan Becca ikut naik diboncengannya. Sebenarnya, motor besar seperti ini sangat merugikan bagi cewek, soalnya badanya bakalan condong ke si cowok. Tapi, Becca memilih memegang besi motor supaya tidak jatuh. Dan memang benar, Dean tidak mengebut kali ini. Jujur saja, dia berharap Dean hanya berlaku manis padanya. Namun hal itu hanya tinggalah harapan karena Dean terlihat sangat bahagia da mencintai orang lain. Irene adalah gadis beruntung itu.             Becca hanya diam di belakang Dean karena teringat soal hal itu. Tak lama, mereka sampai di rumahnya Dean. Becca yang baru masuk, agak terperangah dengan besar rumah Dean. Dia langsung merasa sadar diri untuk menyukai Dean saat tahu kalau mereka berasal dari kasta yang berbeda. Dean ternyata adalah Pangeran mahkota dan dia hanyalah seorang upik abu. “Selamat datang, Becca! Ini kali pertamanya kamu ke rumah aku kan? Yuk masuk! Anggap aja kayak rumah sendiri!” Dean sudah memarkir motornya lalu mengajak Becca masuk. “Oi, Bro! Rumah loe gede amat kayak istana!” kagum Jogi sambil memandang rumah keluarganya Dean. “Halah! Biasa ajalah! Ini rumah bokap gue! Masuk! Jangan sungkan ya! Minta minum dan cemilan apa pun yang kalian mau!” Dean dengan murah hati mengajak temannya masuk ke rumahnya.             Sesampainya di dalam, Dean mengambil roti yang diberikan oleh Irene sebagai makan siangnya. Padahal, di meja makan tersedia banyak makanan yang lebih lezat, tapi di mata Dean, roti itu sangat lezat dibanding yang lainnya. Teman-temannya langsung memandang aneh ke arah Dean. “Emang roti seenak apa sih? Lebih enak ayam perasaan,” singgung Jogi. “Ini roti dari bidadari!” balas Dean membuat Jogi dan Marco saling menatap dan bingung. Kalau Becca, sudah tahu roti itu dari Irene. Dia hanya diam karena melihat Dean sudah sangat jelas mengistimewakan Irene di dalam hatinya. “Itu dari si Irene anak berprestasi seangkatan kita?” tanya Marco teringat kalau Dean sering memerhatikan Dean yang sepertinya sangat menyukai Irene. “Hehehe! Tahu aja loe!” jawab Dean jujur. Untuk apa juga bohong? Dean bakalan sangat bangga kalau menjadikan Irene sebagai pacarnya. Gadis itu cantik, baik dan pintar pula! Mana ada yang gak suka sama dia. “Pantesan!” ujar Jogi lagi mengerti kenapa Dean terlihat sangat menyukai roti itu. “By the way, ayo makan siang dulu! Abis ini kita belajar! Makan aja sebanyak mungkin, tapi awas sampe pingsan! Ntar, gak jadi belajarnya,” suruh Dean supaya temannya makan siang.             Jogi dan Marco langsung tanpa ragu menyantap makanan lezat yang tersedia meja makan itu. Becca juga ikut makan perlahan-lahan dan dengan sangat ayu. Sebenarnya, dari segi penampilan Becca juga sangat cantik tapi dalam artian berbeda. Istilahnya, Becca itu cantiknya lebh ke Asia sedangkan Irene lebih ke arah Eropa-Asia. Kayak perpaduan gitu! Tergantung cowoknya lebih suka tipe yang mana. Tapi dah jelas kan, kalau Dean lebih ke Irene. “Dean? Orang tua kamu mana?” tanya Becca setelah menyelesaikan makan siangnya. “Oh! Papa pulang malam dan mama sibuk di luar. Ntar lagi juga pulang,” jawab Dean seadanya dan diangguki oleh Becca. “Dean! Kamu sudah pulang? Kamu bawa teman?” Suara sang ibu terdengar dari sana. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN