Saat mendengar suara sang ibu, Dean langsung berbalik. Bukan dia saja sih, yang lain juga langsung berusaha menjada sikap mereka di depan mamanya Dean. Tak lama, sang nyonya rumah datang dan masuk sambil melihat beberapa anak remaja dengan seragam SMA. Wanita paruh baya itu terlihat sangat elegan walau ada kerutan halus di wajahnya.
“Siapa aja teman kamu ini? Kenalan dong sama tante,” sambut Elly ramah kepada teman-teman putranya itu.
“Saya Jogi, tante!” Jogi langsung menyalam mamanya Dean dengan sopan.
“Saya Marco, tan!” Dilanjutkan dengan Marco juga.
“Saya Becca, tante.” Becca juga menyalam Elly dengan sopan.
“Kalian ada kerja kelompok ya?” tanya Elly ramah kepada mereka semua.
“Iya tante!” jawab ketiganya bersamaan.
“Aduh! Kompak banget! Semangat ya, belajarnya! Dean, kamu harus belajar dengan benar!” Elly menyemangati mereka semua sambil sedikit mengingatkan Dean untuk belajar dengan serius.
“Hehehee! Okay, Ma!” cengir Dean sambil mengiyakan perkataan mamanya.
“Tante mau ke dalam dulu. Nanti tante balik lagi ya!” pamit Elly sambil berjalan memasuki kamarnya. Dia baru saja pulang dari arisan bersama teman sosialitanya. Biasalah, pekerjaan nyonya besar apalagi coba kalau bukan berkumpul-kumpul. Emang gak semua sih, hanya saja, mamanya Dean termasuk yang ke situ.
“Oke, makan siangnya sudah selesai! Kita segera kerjakan projek kita ya!” Becca memulai kerja kelompok mereka. Ya, dengan cepat Dean dan kawan-kawan mengangguki Becca.
Setelah itu, Becca membagi-bagi tugas teman sekelompoknya itu. Dia bukannya tak mau mengerjakan semuanya. Tapi, kalau Dean dan kawan-kawan langsung dapat instan, bagaimana mereka bisa maju? Becca ingin membantu supaya mereka ada kemajuan, bukan nilainya saja yang angkanya tinggi. Tetap saja, Becca terus membantu mereka kalau ada yang tidak mengerti.
“Becca kalau yang ini gimana? Apa aku harus jelasin semua nanti pas presentasi?” tanya Dean pada Becca soal bagiannya dalam projek fisika ini.
“Okay! Aku akan jelasin bagian kamu!” Becca langsung menjelaskan soal projek yanga akan dikerjakan oleh Dean. Selama menjelaskan, Dean bolak-balik mangut-mangut sambil sedikir menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba gatal karena agak bingung. Tapi, Becca masih sabar menjelaskannya kepada Dean. Gadis itu selalu tersenyum saat berada di dekat Dean walau kondisinya Dean sedang kebingungan soal pelajaran.
Dan interaksi Dean bersama Becca tak luput dari perhatian Elly. Setelah turun dari kamarnya, dia melihat dengan jelas kalau Becca seperti menyukai putranya itu. Kalau Jogi sama Marco sedang fokus dengan tugas mereka. Mereka juga gak peduli soal Dean dan Becca. Menurut mereka, kedua orang itu hanya teman, karena sudah jelas Dean menyukai Irene, bukan Becca.
***
Kediaman Hanendra
“Menurut mama gimana kalau Irene ikut lompa pidato Bahasa Inggris?” Irene menanyakan pendapat mamanya soal lomba yang akan dia ikuti.
“Baguslah! Kamu sudah menang olimpide matematika se-Indonesia! Nama kamu akan smeakin diingat kalau kamu menambah prestasi di sekolah itu! Semangat, Irene!” Ruth langsung menyemangati putrinya. Dia sangat bangga karena putrinya ini selalu meraih prestasi terbaik di sekolahnya.
“Kak Irene aja yang mama dukung,” kesal Genie sambil memanyunkan bibirnya.
“Jangan iri dong, sayang! Ini papa yang dukung kamu!” hibur Othman pada putri bungsunya.
“Kalian itu sama-sama mama dukung, kok! Kalau Genie juga sering mama semangatin kalau mengikuti lomba menggambar!” Ruth berkata supaya para putrinya ini tak merasa kalau ada yang pilih kasih dalam keluarga ini.
“Ya… ya… ya! Tapi, mama bilang hobiku aneh!” kesal Genie lagi.
“Aneh lah! Kamu sering mengurung diri di kamar! Terus pasang poster gambar-gambar gak jelas! Dasar wibu!” sosor Irene menyudutkan adiknya.
“Suka-suka aku dong!” Genie merasa tersudutkan oleh kakak perempuannya ini. Memang sih, prestasi Genie di bidang akademik tak sebrilian kakaknya, tapi kalau soal menggambar animasi atau apa pun, jangan ditanya. Genie bahkan mampu menggambar detail wajah manusia dengan benar. Lagian, udah hukum alam di Negara ini kalau yang pintar itu adalah orang yang pandai matematika. Kalau yang lain skip aja!
“Udah! Jangan bertengkar! Kalau diterusin bisa berantem kalian!” Ruth melerai halus kedua putrinya ini. Terkadang dia heran, mereka bisa kompak banget dan terkadang saling menyudutkan. Ya, namanya juga saudara! Ada aja kelakuannya.
“Oh iya, akhir pekan ini kita keluar yuk!” ajak Othman pada keluarganya.
“Kemana, Pa?” tanya Irene dengan nada semangat.
“Keliling kota,” jawab sang ayah.
“Mau!” Irene berujar penuh semangat.
“Gak lah! Aku mau di rumah aja!” Genie malas kalau cuma jalan-jalan sekita kota. Bukannya malas sih, dia lebih suka mengurung diri di kamarnya sambil melihat semua anime dan menontonnya secara marathon. Udah kebiasaan seorang wibu sebenarnya.
“Semua wajib ikut! Dah lama kita gak keluar,” titah Ruth sebagai final dibalas anggukan malas oleh Genie. Keluarga ini begitu sederhana, bukan? Mereka memang berasal dari keluarga kaya raya. Hanya saja, mereka sangat mengutamakan kehangatan satu sama lain di dalamnya. Karena harta yang paling berharga adalah keluarga.
***
Mansion Wijaya
“Sudah selesai belajarnya?” tanya Elly saat melihat anak-anak sudah pada beres-beres.
“Sudah tante, lusa kita tinggal presentasi,” jawab Becca sambil tersenyum ramah.
“Kalau kalian pada tinggal di mana nih?” tanya Elly pada teman-temannya Dean.
“Kalau saya di perumahan di pusat kota tan, gak jauh dari sini sih!” jawab Jogi.
“Saya di perkomplekan khusus TNI, tan! Soanya papa saya tentara hehehe,” cengir Marco pada Elly dan dibalas anggukan olehnya.
“Kalau Becca?” tanyanya kemudian pada Becca karena belum ada jawaban dari gadis itu.
“Kalau saya di kontrakan di dalam g**g, tan.” Becca menjawab walau dia agak sedikit malu. Bagaimana tidak, yang lainnya tinggal di kawasan elit dan dia hanya di tempat yang tak selevel dengan mereka. Dan lagi, yang bertanya adalah seorang wanita yang tinggal dalam sebuah istana, yakni mamanya Dean.
“Kenapa malu gitu, sih? Mau tinggal di mana pun kalian semua tetap tinggal di dalam rumah, bukan? Kalian semua harus berteman dengan baik ya!” Elly berusaha sedikit menghibur Becca walau dia tak sepenuhnya menyambut Becca karena tahu anak itu tak selevel dengan keluarganya.
“Kalian diantar sama supir aja ya!” kata Elly supaya anak-anak itu gak pada repot.
“Saya naik motor, tan!” tolak Jogi halus. Ya, gak mungkin dia meninggalkan motornya begitu saja!
“Iya Tan, saya juga!” Marco sama pula.
“Saya naik angkot aja, Tan!” Becca juga merasa tak enak.
“Aku anterin aja gimana, Becca?” tawar Dean langsung.
“Sudahlah, Becca biar diantar sama supir ya! Dan kamu Dean, masuk ke kamar untuk kerjain PR!” perintah Elly dan diangguki oleh Dean. Dia tersenyum pada semuanya lalu masuk ke dalam. Seperginya Jogi dan Marco, Elly menghampir Becca sebelum diantar supirnya pulang.
“Nak, tante gak masalah kalau kamu berteman sama Dean. Tapi kalau untuk lebih, jangan ya! Dean masih muda dan tante gak mau dia jadi gak fokus belajar. Kamu juga harus fokus dan gapai cita-cita kamu. Siapa tahu, kalau kamu berhasil nanti, hidupmu bisa berubah,” kata Elly tersirat peringatan kepada Becca. Gadis itu mengagguk dan merasa hal itu sebagai motivasi buatnya.
“Okay! Antar dia sampai ke rumahnya ya, Pak!” perintah Elly menyuruh supirnya.
Sebenarnya, Elly gak suka kalau sampai putranya pacaran dengan gadis yang tak selevel dengan keluarga mereka. Bisa dibilang, dia agak sombong dan tak ingin seseorang dari kalangan bawah mengeruk harta keluarganya. Memang sih, belum tentu Becca dan Dean pacaran, tapi dia sama sekali gak terima kalau hal itu terjadi. Karena jelas di matanya tadi kalau Becca seperti menaruh harapan pada putranya. Dan hal itu bakal berbahaya kalau sampai Dean jatuh hati pada Becca.
Setelah itu, Elly masuk ke rumahnya sambil menyusul Dean ke kamarnya. Dia ingin menggali isi hati putranya itu. Dia mau tahu, apa yang sedang jadi prioritas Dean saat ini. Kalau bisa sih, Elly mau putranya meningkatkan prestasinya. Dia mau memamerkan anaknya kepada semua teman sosialitanya.
“Dean! Kamu main game lagi?” tanya Elly saat mendapati Dean malah sibuk dengan laptopnya.
“Eh, mama! Becca udah balik kan, Ma? Kebetulan, besok ga ada PR tuh,” balas Dean sambil menutup laptopnya.
“Gitu ya? Kalau boleh mama tahu, gimana sekolah kamu?” tanya Elly soal sekolah Dean.
“Sekolah? Gimana ya, Ma? Biasa aja sih! Seneng-seneng aja!” jawab Dean seadanya.
“Ada gak yang bikin kamu semangat ke sekolah?” tanya Elly lagi.
“Semangat? Apa ya? Jujur nih ya ma, aku gak suka belajar, apalagi PR, terus ujian, semuanya terasa membosankan. Tapi yang bikin asik itu sih temen-temennya. Mereka gak sombong-sombong gitu! Kayak Becca, dia itu pintar tapi baik banget!” jelas Dean sambil memuji Becca yang baik. Ya baiklah! Namanya juga Dean selalu dibantu sama Becca. Dan Becca melakukan itu selain karena solidaritas, dia juga menyukai Dean secara diam-diam.
“Kamu… suka sama Becca?” Elly bertanya karena takut kalau sampai putranya suka sama Becca saat ini. Kenapa? Karena biasanya, anak remaja itu keras kepala. Kalau dilarang malah semakin melunjak.
“Suka? Apaan sih, Ma? Aku sama Becca cuma teman sekelas!” jawab Dean santai dan terlihat dengan jelas kalau dia sama sekali tak ada rasa suka kepada Becca.
“Oh, Mama pikir, ada yang kamu sukai di sekolah. Teringat, kamu pernah pacaran pas SMP. Tapi ingat ya Dean, kamu boleh pacaran kalau bisa dapat peringkat utama. Kalau enggak, mama gak setuju!” Elly mengingatkan persetujuan mereka dulu.
“Aduh, Ma! Kalau syaratnya begitu, Dean bisa jomblo seumur hidup! Bagaimana kalau peringkat satu dari belakang aja?” Dean mulai tawar-menawar dengan mamanya.
“Lah? Kok gitu? Mana bisa! Kamu itu harus sekolah yang benar! Mau jadi apa kamu nanti? Kalau nilai kamu parah, gimana mau dapat kerja?” kesal Elly karena putranya merasa sangat tak mementingkan prestasinya di sekolah.
“Kan ada perusahaan papa. Nanti Dean tinggal jadi bos!” jawab Dean ringan seringan kapas.
“Kamu pikir semudah itu? Kalau kamu gak bisa dapat nilai yang bagus, mana mau papa kasih perusahaannya sama kamu! Kamu itu harus punya ilmu untuk memimpin! Jangan mau enaknya aja!” sewot Elly mendengar jawaban anaknya itu.
“Tanda tanganku bagus kok, Ma!” ujar Dean lagi.
“Terus apa hubungannya?” tanya Elly tak mengerti maksud putranya.
“Kalau jadi bos, tanda tangannya harus bagus supaya bawahannya segan. Mana tahu dia kalau kita dulu gak ranking di sekolah!” jawab Dean santuy sekali. Elly hanya bisa geleng-geleng mendengar penuturan anaknya ini. Dia pikir dunia luar itu segampang itu? Elly jadi menyesal memanjakan Dean sejak kecil. Tapi syukur juga sih, Dean hak terlibat pergaulan bebas di luar sana. Masih ada positifnya meski banyak ngeselinnya anak satu ini.
“Cita-cita kamu apa, Nak?” Elly mencoba memotivasi anaknya supaya mau meraih cita-citanya.
“Cita-cita? Hmm… aku nak jadi orang kaya, Ma!” jawab Dean sumringah membuat ibunya mendengus kesal.
“Orang kaya gak ada yang instan, Nak! Maksud mama pekerjaan apa yang kamu impikan?” tanya Elly lagi semakin mendetail.
“Pekerjaan yang cuma tanda tangan dan goyang kaki dapat duit, Ma! Kayak kerjaan papa.” Dean tersenyum menjawabnya membuat Elly semakin geleng- geleng. Ternyata, anaknya berpikir kalau papanya itu kerjanya cuma goyang kaki dan tanda tangan.
‘Dasar anak ini!’ rutuk Elly mencoba bersabar.
“Nanti kalau kamu semakin besar, kamu bisa mengerti kalau dunia orang dewasa itu ribet! Kamu gak bisa bicara semudah ini lagi! Dan satu lagi, tidak ada tempat bagi anak yang malas di dunia ini. Kalau mau jadi orang kaya harus rajin dan bijak!” Elly menasehati putranya supaya tak berpikiran dangkal lagi.
“Bill Gates aja mau merekrut orang malas, Ma!” tangkas Dean lagi.
“Sejak kapan?!” kesal Elly karena anaknya masih bersikeras rupanya.
“Katanya, orang malas itu sebenarnya kreatif,” cengirnya membuat kepala mamanya jadi cenat-cenut.
“Itu gak membenarkan kamu untuk malas, Dean.” Elly masih sabar ya. Anaknya memang susah dibilangi ternyata.
“Iya deh! Eh, tapi menurut mama, kalau cewek pintar mau gak sama cowok bodoh?” tanya Dean pada mamanya mengalihkan topik.
“Kalau menurut mama enggak bakal mau sih! Mama aja suka sama papa kamu bukan hanya karena gantengnya, tapi juga prestasinya.” Elly memberikan pendapat soal pertanyaan Dean.
“Tapi di film film banyak kok yang begitu?” Dean berusaha membenarkan pendapatnya. Karena faktanya, banyak di luar sana yang begitu.
“Tergantung ceweknya juga sih? Memangnya kamu suka sama siapa?” Elly akhirnya bertanya balik soal siapa gadis yang dimaksud anaknya.
“Ada deh!” Dean malah main rahasiaan sama mamanya.
“Oh, kamu mau pacaran diam-diam?” selidiknya.
“Mama kepo deh! Pokoknya, kalau dia datang nanti, Dean bakalan mengenalkannya sebagai calon menantunya mama dan papa. Eaaa!” jawab Dean sambil senyum-senyum. Langsung saaja, Elly meraih daun telinga putra tunggalnya itu dan memutarnya.
“Aduh! Aduh! Sakit, Ma!” keluh Dean.
“Masih kecil! Masih dibangunin sama mama, terus bajunya masih disiapin sama mama, sudah bilang mau bawa menantu? Dasar anak ini!” sewot Elly lalu melepas jewerannya pada Dean.
“Manusia bisa berubah dan menjadi lebih baik, Ma!” Dean merengut bak anak kecil.
“Oh, coba buktikan!” tantang Elly pada Dean.
“Ok, Dean akan buktikan kalau dia mau sama aku walau aku bodoh!” Dean menerima tantangan mamanya.
“Bukan yang itu!” kesal Elly karena Dean malah salah mengartikan tantangannya.
“Ada apa nih? Asyik sekali sampai papa gak ada yang sambut di depan.” Suara Eddy terdengar dari pintu kamarnya Dean.
“Sayang? Maaf ya, tadi aku terlau sibuk bicara sama anak nakal yang satu ini. Yuk, makan malam!” ajak Elly pada suaminya.
“Ma? Dean gak diajak?” tanya Dean kala ditinggal oleh kedua orang tuanya. Ya, walau akhirnya anak itu beranjak juga untuk ikut makan ke ruang makan.